
Ulya mengejar Naura yang berjalan tidak peduli.
"Naura, kenapa kamu sich?"
Naura mengambil tempat pojok dengan dongkol. Memesan es cream 2 mangkuk. Tanpa peduli dengan Ulya yang tampak lelah. Bukan olehnya sich .., tapi karena perjalanan jauh yang sejak kemarin dia jalani.
Sabar ... menghadapi bumil emang benar-benar menguji mental. Ulya segera mengambil kursi di sebelah Naura, memandangnya dengan senyum-senyum dan geleng-geleng kepala. 2 mangkuk es krim dalam waktu singkat habis tak bersisa.
"Dipesankan lagi?" tanya Ulya. Tapi dijawabnya dengan melengos tak mau menatapnya.
Setelah sekian lama. Baru menatap Ulya dengan marah dan kecewa.
"Mana es krimnya?" tanyanya dengan ketus.
Wow ... gini bumil lagi marah. Ulya mentertawakan Naura, tapi dalam hatinya saja. Andai ditampakkannya juga pasti perang dunia.
"Baiklah, tapi jangan marahlah sama kakak."
Ulya segera memesan 2 mangkuk es krim sekali lagi.
Sedangkan Naura menunduk bersungut tak peduli. Lalu membuang mukanya kembali.
Tak lama pesanan mereka datang. Segera Naura ingin mengambilnya. Tapi dihalangi oleh Ulya. Membuat Naura geram tapi tak bisa mengungkapkan. Dia hanya menatap tajam Ulya. Lama-lama dia menangis
"Kakak jahat. Nggak pernah cerita apa-apa ke Nur. Dan siapa itu Devra?"
Ulya mendengar kata-kata Naura hanya senyum-senyum. Lalu dia mengusap air mata Naura dengan lembut. Lalu dia menyodorkan sesendok es krim padanya.
"Makanlah, boleh ya kakak suapi."
Dua tiga sendok Naura menurut. Lama-lama malu juga. Mana di tengah keramaian pula.
"Sudah, Kak. Nur makan sendiri. Itu yang satu biar untuk kakak."
"Ikhlas?"
Naura hanya tersernyum. Lalu berlahan mulai menghabiskannya.
"Kamu mencurigai kakak?"
Naura menunduk sedih. Entah mengapa emosinya suka meletup-letup tanpa ia sadari. Untung kak Ulya sabar.
"Baiklah, kakak akan ceritakan siapa Devra itu."
Ulya menarik nafas panjang. Lalu menatap Naura yang masih menunduk sedih.
"Devra adalah gadis kecil yang manis."
Ulya menghentikan kata-katanya. Dia hanya mengaduk-ngaduk es krim yang ada di depannya.Seperti berat untuk cerita.
"Apakah dia putri kakak?"
"Ya."
"Berarti kakak sebenarnya sudah menikah?"
"Ya."
"Lalu, kenapa kakak melamar Nur."
"Karena kamu telah lama jadi bayangan hidup kakak ."
"Mengapa kakak tak mencari Naura?"
"Andaikan kakak bisa?"
"Maksudnya?"
Ulya diam, sambil meneruskan makan dengan enggan. Membuat Naura tergelitik untuk mencari tahu tentang kakak yang selama ini dikenalnya
"Apa karena itu, kakak pergi dari pertunangan kita."
__ADS_1
"Bukan. Karena saat itu sampai dengan saat ini kakak masih sendiri."
"Lalu?" Naura pun menghentikan menikmati es krimnya. Ada pertanyaan besar pada dirinya. Namun enggan mengungkapkan.
"Maksudnya?"
"Kakak berpisah begitu Devra lahir."
"Bagaimana mungkin."
Kakak yang dulu dia kenal, yang sepertinya masih sama, namun tak tahu bahwa ada cerita yang tak diketahui, setelah berpisah teramat lama.
"Seandainya kakak percaya pada kata hati saat itu. Mungkin sudah lama kita bersama ."
Ada guratan-guratan kesedihan pada raut wajah Ulya, kini mulai nampak. Kian lama kesuraman menyelimuti pancaran cahaya. Yang senantiasa bersinar ketika Naura memandangnya, berlahan sirna. Pergi bersama tetesan bening di ujung matanya.
"Naura, maafkan kakak. Kakakmu yang sekarang bukan kakakmu yang dulu lagi."
Kedua membisu. Masih dengan pikiran masing-masing. Sambil menghabiskan es krim yang kini mulai mencair.
"Kak."
"Hem. Ya, Naura."
"Sudahlah, kita jalani dulu apa yang ada."ujar Naura dengan sedih.
"Tapi, bolehkah kakak menunggumu."tanya Ulya.
"Naura tersanjung, tapi Naura takut."
"Kamulah yang bisa menjadi harapan untuk melanjutkan kehidupan."
"Kakak jangan berkata seperti itu."kata Naura sekali lagi dengan sedih.
"Saat ini aku hanya ingin menikmati hidupku, meski berat."
"Istri kakak?"
"Ya."
"Mungkin ini sudah jalan hidup kakak. Tidak hanya hati yang hancur tapi phisic kakak juga."
Naura ingin bertanya lebih lanjut, tapi diurungkan. Karena melihat Ulya yang terlihat semakin terpuruk.
"Maafkan Naura, Kak."
Ulya mengangguk dengan tersenyum.
"Kak, esnya mencair." kata Naura membuyarkan lamunannya.
"Gara-gara kamu sich?"
Naura hanya tertawa ringan.
"Sudah es krimnya?"
Dia mengangguk senang.
"Suatu hari nanti kamu akan tahu sendiri."kata Ulya sambil berdiri.
"Ayo kita balik."
"Oh ya, Kak. Nanti antarkan aku beli kue ya, untuk acara nanti malam."
"Oke."
Mereka meninggalkan rumah es cream itu dengan banyak pertanyaan namun tetap ceria. Menuju rumah makan di sebelahnya.
#
Banyak hal yang mungkin kita lihat indah, menyenangkan. Namun semua penuh coba jika menyelaminya. Entah akan menang atau terlempar dari arena, kita yang menentukan. Tapi satu jadi keyakinan dan jangan sampai sirna. Bahwa semua yang terjadi baik bagi kita. Bila kita senantiasa bersyukur dan bersabar.
__ADS_1
#
"Eh kalian dari mana saja." kata nyonya Efsun.
"Biasa tante, baby nya Naura minta es krim."
"Sudah?"
"Sudah, Ma."
"Mama sama daddy sudah hampir selesai makan. Kalian baru datang."
"Maafkan kami, Om." jawab Ulya.
"Nggak apa-apa, segeralah makan. Keburu dingin."
"Baik, Ma." jawab Naura sambil mengambilkan seporsi makanan di piring Ulya.
"Terima kasih untuk es krimnya ya."kata Naura sambil meletakkan piring itu di hadapan Ulya.
Ulya menerima itu tak percaya dan terbengong-bengong dibuatnya. Bingung juga menghadapi bumil. Sebentar marah, sebentar baik.
Ah terserahlah ....
Dia meletakkan kembali piringnya.
"Terima kasih, Naura."kata Ulya masih dengan sikap terkejutnya.
Sedangkan nyonya Efsun dan tuan Salim saling pandang, melihat tingkah laku putrinya.
Lalu dia mengambil satu piring penuh untuk dirinya, dan menikmatinya dengan tenang tanpa perduli mama dan daddynya yang memandangnya heran.
Ternyata satu piring tak cukup membuatnya kenyang. Tanpa ragu dia mengambil kembali nasi yang tersisa di mangkuk.
"Maaf Kak, aku habiskan masih lapar."
Ulya yang memandangnya sampai kenyang sendiri melihat porsi yang dilahap Naura.
"Masih kurang, boleh ini punya kakak." kata Ulya sambil menyodorkan piringnya yang masih tersisa separuh.
"Lha, nanti kakak makan apa?"
"Nggak apa-apa, kakak sudah kenyang."
Tanpa disangka Naura mengambilnya dan memakannya dengan lahap.
"Makasih, Kak."
Ulya menggangguk, senyum-senyum. Maklumlah, tiga mulut yang harus dipenuhi oleh Naura. Dirinya dan baby kembar yang ada di perutnya.
"Maafkan Naura, Nak Ulya." kata nyonya Efsun dengan rasa bersalah.
Ulya tersenyum lebar.
"Nggak apa, Tante."
Setelah semuanya bersih, baru Naura menghentikan aktifitasnya untuk makan.
Dan sekarang sudah kenyang penuh terisi. Dia hanya senyum kuda memandang mama dan daddynya yang memperhatikannya dengan heran.
"Sudah Dad. Naura sudah kenyang."
"Ya segitu. Masak nggak kenyang."celetuk daddy Salim.
Senyum Naura menjadi sirna. Dan kini matanya yang lebar melotot pada daddynya.
"Mam, daddy ...."
"Sudah jangan di perhatikan. Yang penting kamu dan bayimu."
"Nak Ulya, aku pesankan kotak ya, sebagai gantinya."
__ADS_1
"Terima kasih, Tante. Benar ... saya sudah kenyang."