
"Mama Papa mesra kali." celetuk Naura. Membuat pipi mama mertuanya memerah. Semakin cantik dan mempesona meski sudah berumur. Dengan malu dia melepaskan pelukan suaminya.
Untunglah, lorong ini lagi sepi. Meski suami istri tapi agak gimana ... gitu. Malu ah ....
"Papa sudah dimaafkan?" ujar papa Sofyan menggoda.
Mama Erika hanya melengos senang. Sambil memainkan bola matanya.
Naura tak henti-hentinya tersenyum menahan tawa.
"Sudah ya, Ma. Marahnya diteruskan nanti lagi."
Dia menggenggam erat tangan istrinya agar amarahnya sirna. Mama Erika tersenyum berhasil menggoda suaminya.
Lalu dia menatap Naura dengan gembira sekaligus sedih.
"Naura, papa senang sekali kamu beri hadiah cucu kembar. Jaga baik-baik ya Nak!"
"Ya, Pa."
"Naura. Sekarang ikut papa. Ibumu terus mencarimu." Wajah pak Sofyan kembali sedih dan dingin.
"Kenapa dengan ibu, Pa?"
Papa Sofyan tak menjawab, justru dia melangkah agak cepat meninggalkan mama Erika dan Naura.
Di belokan lorong baru dia menyadari kalau mama Erika dan Naura belum bisa menyusulnya. Akhirnya dia berhenti, menunggu keduanya datang. Dia lupa kalau Naura sedang berbadan dua. Berjalan cepat, akan mempengaruhi janin yang ada di dalam kandungannya.
"Pa, kasihan Naura."
"Maafkan papa, Nak."
Diapun kini mempersilahkan istri dan menantunya berjalan mendahuluinya. Agar dia bisa mengontrol kecepatan jalannya.
🔷
Sesampai di ruangan ibu Farhan dirawat. Nur mendengar namanya disebut terus-menerus oleh bu Farhan.
Nur segera menghampiri ibunya. Meninggalkan Pak Sofyan dan istrinya yang memandangnya dari pintu.
Terlihat wajah bu Farhan putih bersih. Sepertinya, racun itu sudah tak ada di tubuhnya . Tapi terlihat nafasnya tersengal-sengal.
"Nur, kamu kah itu, Ndduk."
Nur menggenggam tangannya erat dan menciumnya dengan lembut.
"Nggeh Ibu. Ini Nur."
"Nur, bawa ibu pulang. Ibu nggak mau di sini."
"Nggak apa-apa Ibu. Biar ibu cepat sembuh."
"Aku sudah sembuh, Nur." kata bu Farhan yang bersikeras minta pulang.
"Nur bilang bapak dulu."jawab Nur sekenanya.
"Sekarang ibu tidur dulu, biar cepat sembuh."
Sepertinya bu Farhan menurut dengan apa yang dikatakan Nur. Tak lama matanya tertutup. Nafasnya kembali teratur.
__ADS_1
Nur masih duduk di samping bu Farhan. Tanpa henti membelai tangannya dengan lembut. Sesekali menciumnya dan juga mengusap wajahnya dengan kasih sayang.
Setelah diperhatikan bu Farhan tertidur nyenyak, Nur berlahan-lahan beranjak pergi.
Baru beberapa langkah, terdengar bu Farhan memanggil-manggilnya.
"Nur, jangan tinggalkan ibu. Ibu pingin pulang."
Segera dia kembali mendekati bu Farhan. Dan mengusap wajahnya serta mencium keningnya lembut.
Tangan bu Farhan tiba-tiba memegang erat tangan Nur. Dia membiarkan saja dan mengusapnya lembut. Kembali bu Farhan tertidur pulas.
Hingga maghrib keadaan tetap sama. Naura tak bisa lepas dari bu Farhan.
Papa dan mama Sofyan menunggunya dengan sabar. Meski terlihat jelas kekhawatiran mereka akan keadaan Nur yang mengandung cucu mereka. Takut kenapa-napa. Tapi mereka tak bisa berbuat banyak. Hanya bisa menunggu hingga bu Farhan bisa melepaskan Naura.
Akhirnya mereka pergi ke musholla Untuk laksanakan sholat secara bergantian. Naura juga ingin segera melaksanakannya. Tapi tangan bu Farhan yang memegangnya,enggan dia lepaskan. Khawatir kalau-kalau bu Farhan menjadi tak tenang.
Baru setelah mbak Ika datang, dengan hati-hati Nur melepaskan tangan ibunya. Meminta pada mbak Ika untuk menggantikan tangannya.
Sebelum meninggalkan bu Farhan, terlebih dahulu dia berpamitan. Dengan berbisik lirih di telinga bu Farhan.
"Ibu, aku sholat dulu."
Lalu dia pergi menuju musholla yang ada di area rumah sakit.
Baru sejenak dia selesai melaksanakan sholat. Aziz datang menjemputnya.
"Nur, Bu Farhan mencarimu."
"Ya."jawab Naura sambil melipat mukenanya dengan cepat. Mengikuti Aziz ke ruang dimana bu Farhan dirawat.
Di sana telah menunggu papa dan mama Sofyan, bapak dan mbak Ika. Semua mengelilingi bu Farhan yang nafasnya tersengal.
Nur melangkah dengan pasti dan tenang. Dia sadar betul dengan keadaannya dirinya yang sedang hamil. Maka dia tak mau tergesa-gesa.
Setelah dia duduk di samping ibunya dan menyentuh tangannya. Terlihat mata bu Farhan terpejam seiring nafas terakhirnya.
"Ibu ..."
Tak kuasa Naura menahan kesedihan. Hingga air matanya menetes tak terasa. Ini adalah kedua kalinya dia kehilangan orang-orang yang berarti dalam hidupnya.
Dia belum mau melepaskan tangannya dari menggenggam tangan ibunya, dengan terus terisak di sampingnya.
💗💗💗😢
Ibu ....
Engkau yang memberi warna hidupku
Kedamaian, keceriaan dan kebahagiaan
Masih kurasa rengkuhan kasih sayang yang kau beri dengan ikhlas hati
Tanpa menginginkan balas budi
Bahkan yang terindah adalah saat engkau perkenalkan dirimu sebagai ibu pada diriku
Yang tak tahu siapa sebenarnya aku
__ADS_1
Dari mana aku
Dan siapa keluargaku
Karena aku tahu aku berbeda dengan dirimu
Tapi tetap saja
Engkau akan berkata
Nur akulah ibumu
Dan engkau putriku
Bagaimanapun orang mengatakan apa padamu
Percayalah ibu selalu di sampingmu
Tak pernah lepas engkau selalu membelai rambutku
Mengecup dahiku mesra dengan untaian doa
Kala aku rasa suka, apalagi saat lara menyapa
Ucapmu memberikan ketenangan pada jiwa yang merana
Meski dengan canda
Ibu ....
Jika boleh berkata, "Jangan tinggalkan aku, Ibu."
Aku akan mengatakan itu
Tapi tak ingin aku menjadi penghalang bagi dirimu
Pada bahagia yang senantiasa kita cita
Maka ijinkan aku meneruskan bisikku di setiap waktu
رب اغفر لي ولوالديا وارحمهما كما ربياني صغيرا
"Ya Robbi , ampunilah diriku dan kedua orang tuaku. Sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangiku di waktu kecil."
💗💗💗😢
"Nur. Lepaskan ibumu, Nak."
Tangan pak Farhan melepaskan genggaman tangannya dari dari tangan istrinya dengan lembut. Sebelum dia mensedekapkan tangan istrinya dalam posisi yang benar.
Nur hanya menurut tak mampu menolak. Lalu dia mencoba berdiri. Namun tubuhnya terhuyung. Beruntung mama Erika dan papa Sofyan meraih tubuh Nur yang melemah karena kesedihan yang sangat.
Oleh rasa kehilangan yang kini kembali menyapanya. Setelah Andre, suaminya. Tak berselang lama bu Farhan, orang yang mengasuh dan membesarkan dari bayi hingga sebesar ini.
Mama dan papa Sofyan juga tak bisa menyembunyikan rasa sedihnya. Demikian juga mbak Ika maupun Aziz yang seharian ini setia menemani bu Farhan.
Lebih-lebih pak Farhan. ada merasa terpukul dan merasa kehilangan yang sangat. Karena orang yang sangat setia dan sayang padanya, menerima apa adanya dari dirinya, pergi untuk selamanya.
Kesenduan menyelimuti wajahnya. Bahkan air matanya terlihat menetes. Meski dia sudah berusaha untuk tegar.
__ADS_1
Dalam dekapan mama Erika, Naura mencoba menumpahkan rasa sedihnya. Mama Erika tak henti-hentinya membelai lembut kepalanya dan sesekali mengambil air mineral dan memberikannya pada Naura. Agar Naura bisa lebih tenang.
Sedangkan pak Sofyan lebih bisa menguasai diri. Dia ....