Mahabbah Rindu

Mahabbah Rindu
BAB 51 : Malam Ini


__ADS_3

"Mama nggak boleh pergi, Devra nggak ingin ini hanya mimpi seperti hari-hari kemarin. Begitu Devra bangun, mama sudah tidak ada."


Aku melihat kak Ulya berbalik dan berjongkok di hadapan Devra.


"Sayang, mama tak akan pergi kok. Ayo ke kamar!" kata kak Ulya merayu. Tapi sepertinya Devra tak mau percaya begitu saja.


"Tidak, aku mau tidur kalau dipeluk mama." katanya merajuk.


"Apa sebaiknya malam ini, kamu tidur sini."


Ingin aku meluluskan permintaannya. Tapi segera berkumpul dengan keluarganya adalah hal kuinginkan saat ini.


"Aku tak tahu."


Ulya dapat merasakan kerinduan Naura pada keluarganya. Tapi dia tak kuasa pula untuk mencegah keinginannya putrinya.


"Devra, Papa hanya mau nganterin mama ke om Ahmad, ada perlu."


"Mama nggak boleh pergi, mama harus tetap di sini?" Ulya menatap Naura sekali lagi.


Akhirnya Naura mengalah. Dia langsung berjongkok memeluk Devra lembut serta membelai rambutnya.


"Baik, Sayang. Mama di sini, temenin kamu ."


Dia segera menarik tanganku menuju kamarnya meski dengan mata setengah terpejam.


Lalu naik ke ranjangnya tanpa di perintah.


"Mama, peluk Devra." ucapnya.


"Baik, Sayang."


Dia tidur dengan manis tak mau melepaskan pelukannya. Kasihan juga melihatnya. Kubiarkan tanganku menjadi bantalannya. Sedangkan tanganku yang lain membelai rambutnya.


Setelah sekian lama, terlihat dia tertidur pulas. Aku mencoba menarik tanganku pelan-pelan. Rasanya pegal juga. Aku mencoba bersandar di kepala ranjang. Sekedar melepaskan lelah.


Rasanya mata ini sulit terpejam. Meski sudah beberapa kali kucoba. Biasanya kalau capek akan cepat tertidur. Tapi ini aneh, malah aku sulit.


Mungkinkah karena ini bukan rumahku. Sehingga harus penyesuaian diri dulu. Meski tanpa ac, kurasakan udara di sini sudah cukup dingin. Apakah ini karena sudah akhir musim gugur.


Lama aku memandang gadis kecil yang kini tertidur pulas di dekatku. Dengan sesekali membelai rambutnya yang ikal.


Tiba-tiba aku dikejutkan oleh pintu yang terbuka. Ternyata kak Ulya sudah berdiri di tengah pintu.


"Kenapa?" sapa kak Ulya.


"Nggak apa-apa. Kak Ulya ngagetin Nur saja. "


"Nggak bisa tidur?"


"Ya."


"Mungkin kamu perlu menyegarkan tubuh dulu?"


"Sepertinya."


"Cuma aku nggak ada ganti."


"Devra sudah nyiapin semua untuk kamu."


"Benarkah?"

__ADS_1


"Buka saja almari itu!"


Berlahan aku turun. Hendak mengambil baju di tempat yang ditunjukkan oleh kak Ulya.


"Ma, jangan pergi." kembali Devra mengigau.


"Tidak Sayang. Mama hanya mau ke kamar mandi."bisikku sambil mengecup dahinya.


Setelah tenang kembali, aku segera menuju ke almari yang ditunjuk kak Ulya.


"Yang ada tulisan "mom'."


Aku tak mengira, gadis sekecil ini sangat perhatian dan amat menginginkan mamanya datang. Ada beberapa baju yang masih terbungkus rapi tertata di sana. Membuat aku tertegun sejenak.


"Benarkah ini untukku?"


" Benar. "jawab kak Ulya singkat. Lalu melangkah mendekatiku, yang masih terpaku di depan almari.


"Sudah pakai ini saja." usul kak Ulya, yang mengambilkan bungkusan baju yang senada dengan yang dipakai Devra saat ini.


"Kembaran nich, sama Devra." ujar ku.


"Kalian emang cocok." sahut kak Ulya sambil melirik putrinya.


Aku tak bisa menahan senyum, mengetahui jalan pikiran gadis kecil yang tertidur pulas di depanku. Sebegitu rindunya dia pada mamanya.


"Oke,di mana kamar mandinya?"


"Ini ke kiri, di situ tempatnya."


"Makasih."


Selesai dari kamar mandi, rasanya aku tergoda untuk menuju ke arah yang berbeda. Ke sebuah ruangan yang cukup luas. Dengan rak-rak buku di salah satu dindingnya. Serta sebuah piano di sisi yang lain. Mungkinkah ini ruang perpustakaan pribadi?


Aku menyalakan lampunya sejenak. aku dapati satu pintu di sisi lainnya. Rasanya aku penasaran dengan apa yang ada di balik pintu itu. Akupun melangkah ke arah pintu itu.


Ketika ku buka, aku mendapati balkon yang menghadap taman belakang rumah.


Sejenak kuterpaku memandang taman yang tertutup gelapnya malam. Hanya hiasan -hiasan lampu taman yang memberikan cahaya. Sehingga dapat terlihat meski samar.



Ku alihkan pandanganku pada hamparan langit yang indah oleh bintang-bintang yang bertebaran merata. Membawa anganku mengembara, tentang kampung halaman di Indonesia, yang belum sehari ini kutinggalkan.


Kurasa, ini adalah langit yang sama dengan yang kutemui sebelumnya.


Lama aku terpaku, sambil mensedekapkan kedua tangan di dada, agar rasa dingin tidak semakin menusuk.


"Naura, kenapa kamu di sini?" kata-kata lembut, menyadarkan khayal akan kerinduan ku pada kampung halaman.


Aku tersenyum tanpa menoleh padanya. Itu pasti kak Ulya.


"Pakailah ini. Agar tak kedinginan."


Tanpa menunggu jawaban dariku, Dia menghampiriku dan memakaikan jaket hangat dan switter di kedua pundakku.


"Sebentar." katanya sambil berlalu meninggalkanku seorang diri lagi.


Aku pakai swetter dengan sempurna untuk melindungi dari udara dingin yang turun bersama embun di malam ini.


Tak lama dia kembali dengan membawa dua cangkir sesuatu yang aku tak tahu. Sepertinya minuman hangat. Terlihat dari kepulan asap tipis yang keluar minuman itu.

__ADS_1


"Ayo kita minum coklat dulu." ajaknya sambil meletakkan 2 cangkir yang ternyata berisi coklat.


Dia mendekatiku, menyentuh pundakku dengan kedua tangannya.


"Ya. kakak yang bikin?"


Dia menggangguk.


"Lama aku tunggu kamu, tapi tak datang-datang." Dia membuka pembicaraan, setelah kami duduk di kursi,yang ada di balkon itu.


"Untunglah Devra tak mencarimu."


"Entahlah, Kak. aku tiba-tiba ingin ke sini."


"Kamu rindu keluargamu?"


"Iya."jawabku singkat, sambil menikmati coklat hangat.


"Itu rumahmu."


Dia menunjuk rumah yang tersembunyi dalam rimbun daun pepohonan tinggi.


"Benarkah. " tanyaku serius.



Aku belum bisa melihat dengan jelas rumah itu sebenarnya. Meski tak semegah rumah kak Ulya, tapi keasriannya aku suka.


Kak Ulya mengangguk sambil tersenyum.


"Ku kira bertetangga samping rumah, ternyata rumah kita saling membelakangi."


"Ya karena itu, kakakmu dan aku menjadi akrab."


"Kok bisa?"


"Ahmad suka berkebun. Tapi yang panen pasti Devra."


"Ya aku bisa bayangkan."


"Kamu mau aku antar lewat depan atau lewat belakang."


Pertanyaan aneh, membuatku tertawa.


"Kakak, ada-ada saja. Ya ... terserah Kakak. " jawabku ringan.


Kak Ulya beranjak dari tempat duduknya dan berdiri sambil tangannya memegang pagar balkon ini. Beberapa kali dia mengambil nafas panjang. Lalu bergumam lirih, tapi karena suasana malam ini begitu tenang. Membuat diriku mendengarnya juga.


"Semua tentang diriku sudah aku ceritakan padamu, Naura. Apa yang jadi putusan. Aku menunggu."


Ku beranikan diri mendekatinya. Dan juga mencoba mengutarakan jawaban yang lama kusimpan.


"Kak. Maafkan Nur yang nggak bisa memberikan jawaban segera. Tapi insya Allah aku menerima kakak sebagaimana kakak menerimaku."


"Benarkah, Nur."


"Insya Allah."


"Terima kasih, ya Allah." teriaknya.


Diapun berbalik menatapku teduh. Hanya kedua tangannya yang dia sandarkan di pundakku.

__ADS_1


__ADS_2