
"Bagaimana keadaan ibu, Bapak."
"Ibumu belum sadar. Sebaiknya kamu pulang Nur."kata pak Farhan
"Nggak Bapak, biar Nur yang tunggui ibu."
"Rumah sakit nggak baik buat ibu hamil, Naura." Ulya mencoba menjelaskan.
"Biarkan mbak Ika saja yang di sini."
Nur terlihat sedih, tak bisa menemani ibunya. Tapi memeng benar yang dikatakan kak Ulya.
Tiba-tiba hp mbok Iyem berbunyi. Setelah membukanya sebentar. Dia mendekati Naura.
"Den Ayu, bapak sudah datang."
Naura mengangguk sedih.
"Kembalilah, Nur. Aku nggak enak sama pak Sofyan." kata pak Farhan lembut, takut menyinggung perasaan putrinya.
"Bapak, maafkan Nur. Nggak bisa dampingi ibu."
"Ya, bapak mengerti. Sekarang pulanglah."
Nur mengangguk pelan. Tak sangka, pak Sofyan mengirimkan pak Doni untuk menjemput Naura dan juga istrinya, mbok Iyem.
"Ngapunten, Pak Farhan."
"Iya."
"Biar saya antar mereka, pak Doni. Saya yang ajak mereka. Saya juga yang harus antarkan."
Pak Doni mengerti dan mengangguk pelan.
"Tapi bisakah pak Doni mengantar mbak Ika pulang sebentar, untuk menghambil perlengkapan menginap di sini."
"Ya, nggak apa-apa. Ayok," ajak pak Doni. pada mbak Ika. Tak lama kemudian mbak Ika mengikuti pak Doni ke mobilnya.
Setelah keduanya menghilang, Nur berpamitan.
"Bapak, Nur pulang dulu."
"Ya Nur, jaga kandunganmu!"
"Injjih Bapak."
Nur mencium tangan bapak Farhan. Pak Farhan juga menghadiahi kecupan kecil di ubun-ubunnya. Lalu melepas Naura pergi.
"Terima kasih, Nak Ulya. Sudah mengantar kami ke sini."
"Hanya itu yang bisa saya lakukan, semoga cepat ada perkembangan, Pak Farhan."
"Amiiiin, semoga ..." jawab pak Farhan dengan penuh harap dan kecemasan.
Naura dan mbok Iyem segera mengikuti Ulya yang melangkah pergi menuju mobilnya.
Ulya yang kini duduk di belakang kemudi, sambil memandang Naura yang menunduk sedih. Membuat perasaannya terenyuh terbawa suasana. Lebih parahnya, dia kehabisan kata untuk menghiburnya.
Aku tak tahu mau bilang apa, Naura.
Mengapa cobaan yang kamu hadapi seakan tak pernah berhenti.
Aku hanya berharap waktu dapat berjalan cepat.
Hingga kita dapat segera bersama.
Wahai pemilik hati dan rasa
Yang membolak-balikkan hati dalam jiwa
Ku bermohon agar seiring waktu berjalan
Pertemukan dalam tautan nyata dan menentramkan
Ulya melajukan mobil dengan berlahan. Lalu menghidupkan tipe recorder. Memutar sebuah lagu. Yang berjudul, Qorrib Minni Suwayya (Nafsil Hanin)
🎶
نفصل حنين فيل بود و يذ كرول غوميملة
مائة شرطك قولي يوم نقسي لكلام
مقدار ساثومين روحي و غمد في ليلة
__ADS_1
اقبل ما فكر فيكاالغيظ و نام
والشوق بيبات يا هبيبف هضني في ساعات
وساعاتلوزاد السوق مينيمنش
لا نهار ولا ليل ملكسيف خيا لي باديل
و لازمن اياماكز يوم مبيو حشنش
الله يسلام
في عنيك اهلى كلام
قرب منى شويه شويه
قليي و قبليك سوا يتلاقوا
الدنيا انت ملته عليه
ده الحي اللى ما حدش داقه
قرب منى شويه شويه
ادما تقدر قرب تانى
الدنيا انت مليته عليه
واكانك مخلوج العاشاني
ولا حاجة ينسا ها وعودنا اللي احناوخدناها
حياتنا اللي احنا عشنا ها عليها بعيش
في سكوتي في كلامي عايش فكل ايامي عيننيك
فكلواحلامي مبنسبنيش
Aku masih memiliki kerinduan yang sama
dan mengingat kenangan indah kita
Sambil memandang fotomu setiap harinya
Aku merasa terbebani kerinduan yang teramat lama
Kemudian mencegahku untuk bisa tidur
Siang malam aku tak bisa mengusir bayanganmu
Tak satu hari pun engkau tak hadir di hadapanku
Allah, ya Salam
Dimatamu kutemukan keindahan
Mendekat lah sedikit demi sedikit
Jadikan hatimu dan hatiku menyatu
Engkau telah memenuhi duniaku
Inilah cinta yang tak seorangpun pernah rasakan
Mendekatlah sedikit demi sedikit
Sebisa mungkin mendekatlah
Engkau telah memenuhi duniaku
Seolah-olah dirimu diciptakan untukku
Dan tidak ada yang bisa menghapus janji kita
🎶
Naura mendengar lagu yang diputar jadi senyum-senyum sendiri. Orang lagi sedih diputerin lagu cinta. Nggak cocok banget. Ada apa denganmu kak Ulya ....
"Kak Ulya, lagunya romantis banget."
"Seperti lagunya orang yang sedang jatuh cinta."
"Tahu artinya?"
__ADS_1
"Nggak."
"Ya ... nggak tahu artinya."
"Aku hanya suka iramanya sama suaranya yang merdu. Itu saja, tak lebih. Untuk artinya, pernah sih, lihat sekilas. Tapi nggak paham-paham amat." jawab Nur mengelak.
"Kakak juga suka lagu itu, karena syahdu banget."
"Ya, bikin orang terbuai. Macam anak muda," jawab Nur tertawa.
"Emang kakak masih muda dan masih jomblo kok."
"Aishhh ... sudah pakai cincin tunangan, masih ngaku jomblo."
"Oh ya, kakak hampir lupa. Cuma tunangan kakak entah sekarang masih merasa atau tidak."
"Kok bisa?"
"Ya, begitulah."
"Minta ketegasan dong."
Ulya hanya senyum-senyum mendengar saran dari Naura. Andaikan kamu tahu siapa dia, bisiknya lirih ....
"Baik. Sekarang kakak boleh tanya?"
"Tentang?"
Tumben kata-katanya normal seperti dulu. Singkat, padat dan ngena ....
Dan pertanyaan dijawab pertanyaan.
"Seandainya ada yang menyatakan suka dan serius akan melamarmu, apa Nur menerima?"
Terlihat sinar matanya ceria dan berbinar, namun dia tertawa ringan. Lalu sambil mengelus perutnya menatap Ulya dengan senyum mengembang.
"Om Ulya yang masih jomblo tapi sudah tunangan. Gini ya .... Mama masih belum bisa jawab dan nggak kubolehkan menjawab."
"Wah, memangnya kenapa?"
"Takut kalau nggak memperdulikanku, padahal hatinya lagi sangat dekat denganku. Takut om nggak kebagian."
"Lalu, mamamu bisa terima orang lain, kapan?"
"Kalau aku udah lahir. Dan ini yang penting, sayang sama aku."
Naura ingin tertawa namun ditahan-tahan. Tak tega melihat Ulya terbengong-bengong sambil garuk-garuk kepala yang nggak gatal.
Tak tahan Naura manahan tawa, akhirnya lepas juga.
"He ... he ... he .... Kakak ini ada-ada saja."
"Tanya aja. Nggak boleh?"
"Kenapa juga tanya ke Nur, tanyalah yang bersangkutan langsung."
"Ya kalau sudah saatnya."
"Seandainya om bisa mengumandangkan adzan kamu lahir, om akan sangat bahagia sekali."
Kembali kesenduan menghiasi sinar matanya. Namun hanya sesaat, begitu tangannya menyentuh perutnya yang membulat meski belum tampak, sinar matanya kembali ceria.
"Kalau itu terjadi, aku akan sangat bersyukur dan berterima kasih, Kak Ulya."
"Jangan sedih, Naura. Kakak akan berusaha hadir saat kamu melahirkan nanti. Bagaimanapun itu pesan Andre ke kakak."
"Lalu dengan tunangan kakak?"
"Jangan kamu pikirkan. Dia sangat mengerti. Pada saatnya kamu akan tahu sendiri. Paling cepat saat kamu melahirkan. Paling lambatnya .... Kurasa tak terbatas. He ... he ... he ...."
Tak terasa perjalanan mereka telah sampai di halaman rumah pak Sofyan.
Ulya segera menghentikan mobilnya. Lalu mbok Iyem membuka pintu mobil dan keluar tergesa-gesa. Meninggalkan Naura dan Ulya.
Naura dan Ulya berjalan ke rumah utama dengan santai. Disana telah menunggu Rima. Terlihat dia tak sabar. Dia pun datang menghampiri Naura dengan gembira. Mereka berpelukan hangat.
"Nur, bagaimana keponakanku, Sehat?"
"Sehat."
Lalu dia melirik pada Ulya dengan wajah senang.
"Oh ya, kak Ulya. Ada oleh-oleh dari aku. Semoga kakak suka." kata Rima ketika kami sudah sampai di teras rumah utama.
__ADS_1