Mahabbah Rindu

Mahabbah Rindu
BAB 86 : Mencari Akmal


__ADS_3

Ulya benar-benar kacau mendengar berita itu. Khawatir kalau Akmal tak bisa ditemukan. Sambil memeluk Devra yang tangisnya mulai reda, dia berjalan ke arah lain dari Devra datang. Namun Langkah itu diurungkan. Mengingat Naura juga saat ini tak ada di tempatnya. Diapun balik lagi ke tempat semula. Membereskan perlengkapan.


Lalu dia menghubungi Ahmad dan Mustofa. Agar bisa datang ke tempatnya. Siapa tahu bisa membantu. Saat ini dia benar-benar memerlukan bantuan.


Selain mengkhawatirkan Akmal, dia juga mengkhawatirkan Naura, istrinya.


"Pa, mama dan adik kemana?" tanya Devra, membuatnya semakin galau.


"Sebentar sayang, kita tunggu di sini. Siapa tahu mama segera kembali." hiburnya.


"Kemana kamu, Yang." Gumannya dengan gelisah.


Pandangan Ulya mencari-cari di setiap sudut yang bisa dia jangkau dari tempatnya berdiri. Tiba-tiba dia teringat tuan Hani. Mungkin dia bisa dimintai pertolongan, sebelum Mustofa dan Ahmad datang.


Dia mengangkat hp,


"Tuan masih di taman?"


"Ya, ada apa?"


"Bisa ke sini sebentar."


"Kurasa bisa. Apa yang bisa saya bantu?"


"Mungkin anda menjumpai wanita bercadar yang menggendong bayi. Ajaklah ke sini!"


"Maksud tuan Ulya. Anda mencari istri tuan."


"Ya. Dia pergi mencari anakku Akmal yang tiba-tiba menghilang. Aku khawatir keadaan keduanya."


"Baik, Tuan Ulya."


"Sebentar, Tuan."


Dari jauh dia melihat wanita bercadar menggendong seorang bayi. Segera mengfotonya, dan mengirimkan kepada Ulya.


"Apa dia yang anda maksud, Tuan."


"Benar."


"Aku ke sana, jaga dia."


Ke duanya menutup handphonenya. Tuan Hani Terus mengawasi gerak Naura dari jauh. Sepertinya wanita ini sedang linglung. Diapun berjalan mendekatinya.


Sementara itu, Naura berjalan mengelilingi taman. Hampir tiap orang, dia tanya. Namun tak seorangpun yang mengetahui keberadaan Akmal. Hampir-hampir dia putus asa. Sehingga tangis Akram pun tak begitu diperdulikannya.


"Maaf ibu, anak ibu menangis."sapa tuan Hani yang tiba terlebih dahulu dari Ulya.


Baru dia sadar. Segera dia mencari tempat yang tersembunyi untuk menenangkannya.

__ADS_1


Air matanya tak berhenti menetes, mengungkapkan kegelisahannya. Yang membuat Akram gelisah pula dalam pengkuannya. Biasanya kalau menangis diberi ASI, dia akan terdiam. Ini malah menangis bertambah keras. Dan tak mau di susuinya lagi.


"Akram, saudaramu pasti mama temukan. Sekarang mimik dulu ya ...." hiburnya sambil menatap dan membelai babynya. Dan juga menghibur dirinya yang kini benar-benar rapuh.


Alhamdulillah, Akram pun menerima ****** yang dia berikan. Dan melahapnya hingga kenyang. Dan kembali tertidur dalam gendongan Naura.


Tak lama kemudian, Ulya datang dengan menggandeng Devra di sampingnya.


"Mama."teriak Devra, menghampiri Naura dengan mata yang masih sembab.


"Alhamdulillah, mama disini."


Diapun memeluk istrinya, dan membiarkannya menangis di pundaknya.


"Sudah, jangan menangis."hiburnya.


Setelah cukup lama, dia menumpahkan kegelisahannya, Naura menghentikan tangisnya. Dan mengusap sisa air matanya dengan ujung jilbabnya. Lalu Ulya membantu mengusapnya dengan kedua jari jempolnya.


"Mas, maafkan aku. Tak bisa menjaga anak kita dengan baik."


"Sudah-sudah, nanti papa cari Akmal."


Tanpa mereka sadari, Ahmad telah berdiri di belakang mereka. Dia hanya diam, menyaksikan keluarga adiknya yang sedang berduka. Belum tahu apa sebabnya. Yang dia tahu mengapa babynya Naura tinggal seorang. Mana yang seorang lagi. Ingin dia bertanya , tapi diurungkannya.


"Kak, Akmal kak."


"Ya, ada apa Naura?"


"Bagaimana bisa?" tanya Ahmad.


Namun hanya dijawab isak tangis oleh Naura. Hanya Devra yang menjawab dengan sangat rinci kejadian itu. Ahmad pun manggut-manggut.


"Maafkan, Kakak." ucapnya kemudian.


"Kak Ahmad. Bisa ajak mereka pulang. Aku cari mereka." Ahmad pun mengangguk.


"Kakak Devra sama mama pulang dulu ya ..... " kata Ulya.


Naura diam membisu, tak menyahuti perkataan suaminya. Mungkin sekarang pikirannya sedang blank. Sehingga tak respon.


"Sayang ...." ucap Ulya lembut sambil memeluknya pelan.


Naura pun tersadar.


"Ya, Mas."


"Pulang dulu sama Devra."


Diapun mengangguk dengan lemah.

__ADS_1


Dengan diantar Ulya, Naura dan Devra menaiki mobil Almad yang terparkir di pintu masuk taman.


"Sebentar, kalian tunggu dulu di sini. Aku ambil perlengkapan baby di dalam." kata Ulya.


"Ya."hanya Ahmad yang menjawab.


Ulya bergegas menuju tempat semula. Mengambil semua perlengkapan dengan setengah berlari menuju ke mobil Ahmad.


"Aku titip mereka. Jangan tinggalkan mereka dulu sebelum aku kembali."pesannya pada Ahmad sambil meletakkan barang itu ke dalam bagasi.


"Ya, aku harap Akmal segera ditemukan."


"Aamiiiin."


Sejenak Ulya menatap kepergian mereka. Lalu kembali menyusuri setiap sudut taman, dan bertanya pada orang yang ada di sana. Hingga tak terasa, maghrib menjelang. Baru dia menghentikan pencariannya.


Seandainya waktu bisa diputar. Tak ingin dia meninggalkan keluarganya. Untuk mengurusi pekerjaan, disaat harus menikmati hangatnya bercengkrama bersama.


Astagfirullah al Adzim ....


Berulang kali Ulya mengucapkan istighfar setelah menyelesaikan sholatnya. Mengingat akan kelalaiannya. Dalam menjaga amanah yang Kuasa titipkan padanya.


Setelah dirasa tak mungkin lagi dia mencari Akmal, dia kembali ke kediamannya dengan berjalan kaki. Sepanjang jalan dia hanya menundukkan kepala. Tak tahu apa yang akan dikatakan pada Naura.


🔷


flash back


Sore itu memang sangat cerah. Setiap orang ingin menikmatinya, dengan bersantai bersama keluarga.


Tapi tak demikian dengan sepasang suami istri yang baru saja keluar dari rumah sakit. Wajah mereka tampak sangat sedih.


Sudah sebulan ini dia harus bolak-balik ke rumah sakit. Pagi hari, harus mengantarkan istrinya ke rumah sakit, sore hari baru istrinya mau diajak untuk pulang.


Ini dimulai dengan peristiwa akan kelahiran putra mereka. Yang sudah 8 tahun ini mereka nanti kehadiran. Namun sayang, dia meninggal dunia, saat baru menghirup udara untuk pertama kalinya.


Bagi sang suami, hal itu sudah merupakan takdir yang harus mereka jalani. Dan berusaha berlapang hati menerima kenyataan itu. Tetapi tak demikian dengan sang istri. Dia masih belum rela atas kepergian putra mereka.


Dia masih beranggapan putra masih hidup. Hanya saja nggak boleh diambil dari rumah sakit. Maka tiap hari, dia meminta suaminya untuk mengantarkannya ke sana.


Sebenarnya sang suami sudah sangat lelah dengan tingkah istrinya. Sudah sering diberi pengertian, namun masih juga belum bisa menerima.


Entah mengapa, sore itu dia ingin mengajak istrinya ke taman, setelah menjemputnya dari rumah sakit. Sekedar menyegarkan pikiran mereka berdua. Moga-moga bisa jadi obat bagi istrinya.


Belum lama berjalan, mereka melihat baby kembar yang sedang berguling-guling dan merangkak di atas tikar, tak ada yang menunggu.


"Mas, ternyata putra kita di sini. Kenapa kamu nggak bilang sejak dulu." ujar wanita itu dengan hati berbunga-bunga dan mata berbinar -binar.


"Kamu suka bermain di sini Emir, mama kangen sama kamu. Kita pulang ya."

__ADS_1


Segera dia meraih bayi itu dalam pelukannya.


"Ayo, kita pulang. Nggak baik di luar." Candanya pada bayi yang ada dalam pelukannya


__ADS_2