
"Hai, Kak Andre." sapa Nur dengan geram pada Andre.
"Hai juga Nur. Gimana tadi sudah mencoba panjat pohon mangganya."
"Sudah, itu hasilnya di atas meja." jawab Nur dengan cuwek meski panas hati. Beruntung sudah memakai cadar dengan sempurna. Sehingga senyum bibir monyongnya tidak terlihat. Habis jengkel banget.
"Benarkah ini buah kamu yang petik, Nur."
Kurasa pertanyaan itu nggak perlu dijawab.
Menyebalkan. Sambil ketawa-ketiwi lagi. Mau kujitak tuh kepala yang nggak gundul.
Mengapa hatiku jadi berperang sendiri ya ....
"Benar, Kak. Sampai-sampai jilbabnya kotor."
Tuh, adik kakak kompak banget.
"Semoga Kak Andre suka." Jawabku. Lalu aku berlalu sambil menahan kesal nggak bisa balas ledekan mereka.
"Kenapa kamu Nur, kok pergi?"
"Nggak Kak. Mau ambil jilbabku. Mungkin sudah kering."
Ku biarkan mereka menikmati buah-buahan yang kupetik bersama saus sambal kacangnya.
Rupanya matahari sudah bergeser menjadi sedikit teduh.
Mungkinkah sudah menjelang asyar. Baiklah aku ambil wudhu dulu. Setelah itu sholat. Dan pulang ....
Oh ya aku lupa kalau masih pakai jilbabnya Rima. Akupun berjalan ke tempat jemuran. Alhamdulillah sudah kering. Bisa segera kupakai jilbab ini.
Sudah selesai semua. Saatnya untuk pamitan.
Kulihat Rima dan Andre masih asyik di meja makan. Nggak enak rasanya mau ganggu mereka. Biarlah kutunggu sambil melanjutkan bacaan novelku tadi.
"Lho Nur. Kamu kok sudah rapi, mau pulang?"
"Ya, Rima. Sudah sore. Takut ibu mengkhawatirkanku."
"Ya, baiklah. Tunggu sebentar, mau sholat asyar dulu."
"Oke."
"Kak, bisa antarkan kami?"
"Baik, nona-nona cantik."
Tumben Rima minta antar kak Andre. Biasanya menyupir sendiri. Kan dia bisa naik mobil?.
Rima beranjak dari tempat duduknya. Pergi ke kamarnya. Demikian juga dengan kak Andre. Dia juga menuju kamarnya sendiri.
Aku melanjutkan bacaanku hingga selesai. Tak lama kemudian kulihat mereka sudah kembali ke ruangan ini dengan pakaian yang rapi dan santai. Cepat sekali.
"Sudah semuanya."
"Ya, kak."
Bertiga kita menuju pelataran rumah. Di tempat itu telah terparkir mobil kak Andre. Kebetulan belum dimasukkan ke garasi.
"Ayo, Nur!" Ajak Rima
Nur mengiringi langkah Rima memasuki mobil nya Andre dengan riang dan tenang. Tanpa tahu kalau dari sejak Nur berjalan, sepasang mata Andre tak bisa melepaskan pandangan pada dirinya. Yang dia samarkan di balik kaca matanya.
Rima dengan tenang duduk di dekat kak Andre. Sedangkan Nur duduk di belakang mereka dengan santai.
__ADS_1
"Bagaimana, kita menuju kemana Nur?" Tanya Andre sambil menghidupkan mesin mobilnya. Melihat Nur dari kaca spionnya.
"Kalau boleh. Aku mau ke mall dulu ya ... Nur?"
Rima ini ada-ada saja. Seharusnya pertanyaan itu dia tujukan ke kakakku . Kok malah menyebut namaku. Maksudnya apa ya...
"Kalau itu aku nggak bisa jawab, Rima.
Tapi boleh. Tapi aku hanya nemenin kamu saja lho."
"Baru kali ini aku bisa jalan-jalan sama kakak." Ujar Rima sambil melirik kantong Andra. Disertai senyum bahagia.
Andre senyum-senyum mencium maksud tersembunyi dari Rima. Pasti soal kartu kredit yang dia punya.
"Ya. Maafkan kakak. Jàrang bisa memperhatikanmu."
"Sebagai gantinya kamu kali ini boleh belanja apa saja."
"Terima kasih, Kak." Teriak Rima.
"Bagaimana Nur, apa kamu tak keberatan bila mampir ke mall dulu"
"Nur telpon ibu dulu, agar mereka tak khawatir."
Tiba di mall Rima menarik Nur memilih baju yang sudah lama dia idamkan. Meninggalkan Andre yang melihat mereka dari jauh.
"Bagaimana menurutmu Nur?"
"Bagus."
Setelah itu Rima mendekati kak Andre. Mengengadahkan tangannya dengan manja.
Kulihat kak Andre mengeluarkan kartu kreditnya. Dan memberikan padanya. Dengan wajah senang Rima meninggalan Andre sendiri.
"Nur kamu nggak mau beli sesuatu?"
Nur menggelengkan kepala sambil tersenyum simpul tak berani menatap Andre yang kini menatapnya.
Entah mengapa sesaat yang lalu Nur sadar kalau Andre memperhatikannya. Dan itu. Menyebabkan dia salah tingkah dan tak enak hati.
"Nur, kita tunggu Rima sambil duduk di sana, bagaimana?"
"Baik, Kak."
Nur mengikuti langkah Andre menuju tempat duduk. Andre memesan minuman dingin. Berdua mereka menikmati minuman menunggu Rima yang sedang asyik berbelanja.
"Nur, bagaimana kuliahmu?"
"Sudah mau selesai, Kak Andre."
Wanita bercadar ini sungguh istimewa. Ingin aku menjadi tamu di hatinya. Tapi masihkah ada ruang untukku. Kapankah bisa kuungkap rasa ini padanya.
Dulu kamu masih terlalu kecil untuk ku miliki. Akankah setelah sekian tahun kamu mengerti kalau kamu adalah orang yang kunanti selama ini.
Mereka berdua duduk dalam diam. Kini Nur benar-benar gelisah karena Andre menatapnya.
"Kanapa Nur, kamu kok diam."
"Mengapa kakak menatapku seperti itu."
"Maafkan aku, kuperhatikan kamu seperti menyimpan suatu beban."
Aku tidak mengira kalau kak Andre memperhatikan sedetil ini. Hingga tahu apa yang kurasa saat ini. Ah ... tapi mungkin dia hanya main tebakan saja. Dan kebetulan tebakannya benar.
"Tak ada apa-apa, Kak."
__ADS_1
Sebenarnya aku ingin bercerita padanya. Sebagaimana dulu saat aku masih SMA.
Tak segan untuk berbagi cerita dengannya.
"Jangan bohong Nur. Kakak bisa merasakannya."
Nur menarik nafas panjang. Sejenak yang lalu, dia bisa sedikit melupakan sedih hatinya.
"Ceritakanlah pada kakak, sebagaimana dulu suka bercerita. Dan tak ada yang kamu tutupi dari kakak."
Kata-kata Andre membuat air mata Nur berlinang.
"Apakah adik kecil kakak sedang patah hati?"
Nur tertawa meski saat ini dia benar-benar sedang sangat sedih
.
"Kali ini Nur benar-benar bodoh, Kak."
"Mengapa Nur berkata demikian. Tak baik itu. "
Dari balik cadarnya Nur mengusap air matanya yang mulai meleleh.
"Ya, Kak."
"Coba ceritakan, siapa tahu akan ringan."
Nur hanya sesegukan kecil. Membuat Andre merasa iba. Tapi tak bisa berbuat apa-apa. Menunggu dan menunggu hingga tangis Nur berhenti sendiri.
"Minumlah!" Andre menyodorkan minuman Nur lebih dekat.
Dia menuruti perkataan Andre. Dengan berlahan dia melanjutkan minumnya. Sambil menyembunyikan wajahnya.
"Terima kasih, Kak."
"Sudah. Hapus air matamu. Rima sudah selesai belanjanya."
"Mana hpmu, nomormu pasti sudah ganti."
Nur memberikan hpnya pada Andre. Dengan cepat dia menuliskan nomornya ke dalam hp Nur.
"Aku tak suka lihat kamu menangis, aku lebih suka melihat kamu yang cuek dan sedikit jutek dari pada lihat air matamu."
"Ich ... Kak Andre. Nur tak suka ."
"Tapi suka juga Nur yang ceria dan baik hati."
Nur tertawa kecil.
"Kak Andre benar-benar pintar merayu."
"Iya, begitulah. Tapi tak tahu, orang yang kak Andre rayu nggak pernah mempan."
"Bagaimana dengan kak Yuniar."
"Sudah menikah sekarang."
"Ya, kak Andre kurang perhatian, mungkin."
"Ya, mungkin."
Rima yang sudah selesai belanja , datang dengan membawa banyak sekali belanjaan.
Entah berapa yang dia habiskan untuk itu semua. Mumpung kak Andre lagi baik hati. Jarang-jarang seperti ini.
__ADS_1