Mahabbah Rindu

Mahabbah Rindu
BAB 76 : Bercengkrama Bersama


__ADS_3

"Mama Papa nggak bisa ke sini, hanya pak Farhan dan keluarganya yang ke sini. Rencananya setelah resepsi mereka akan balik ke Indonesia."


"Alhamdulillah ...." teriak Naura senang. Sedang orang yang berada di sampingnya memasang muka mendung mendengar berita itu.


Tak sangka kalau Naura memperhatikannya.


"Mas, nggak suka ya ... kalau bapak datang."


"Siapa yang bilang seperti itu." jawab Ulya menghindar,"Suka kok."


"Lalu kenapa wajahnya suram banget."


"Mas hanya suntuk dan lelah.''


"Ngebohong tuch."


Ulya melirik Ahmad. Nich orang nggak bisa diajak kompakan. Untungnya Naura lebih percaya dirinya dari pada Ahmad.


"Boleh, mas dibuatkan jeruk hangat."


"Okey, kak Ahmad juga."


Langsung Ulya menyahut,"Untukku jeruk hangat manis, untuk kak Ahmad jeruk kecut tanpa gula."


"Weh ... curang. Untukku manis juga Naura. Untuk Mustofa air putih aja." jawab Ahmad sekenanya. Biar rata gitu lho ....


Mustofa senyum-senyum tak menyahuti candaan mereka. Toh tak mungkin kakak iparnya akan berbuat tak adil. pikirnya ....


Tapi ternyata dugaannya salah, Naura kembali hanya membawa 2 gelas minuman jeruk manis, sedang 1 gelasnya berisi air putih.


"Ya, Kakak ipar."


Yang disambut senyum-senyum oleh Ulya dan juga Ahmad.


"Kalau mau jeruk manis, minta sendiri sana sama bi Ummaimah." kata Naura.


Untunglah bi Ummaimah mendengar candaan mereka. Sehingga tanpa diminta oleh Mustofa, dia sudah mengantarkan satu gelas minuman jeruk padanya.


"Ini Tuan."


"Terima kasih, Bi."


"Sama-sama, Tuan."


Bi Ummaimah menggangguk dan berlalu dari hadapan mereka.


"Tumben kakak ke sini, ada apa?"tanya Naura.


"Mumpung di sini, mau ajak keluarga bapak Farhan ke kebun kakak. Kapan lagi bisa ajak mereka."


"Di mana kebun kakak?"


"Tak tahu ya ... dimana-mana kalau kakak punya kebun. Disitu juga suamimu punya tanah. Nggak di sana, nggak di sini selalu ketemu."


"Maksud kakak, jalan yang menuju sini itu kebun buah kakak."

__ADS_1


"Suamimu nggak kasih tahu?"kata Ahmad sambil melirik Ulya tajam,"Dasar adik ipar tak ada sopannya. Padahal kalau ada apa-apa dia ambil tanpa bilang-bilang."


"Benar gitu, Mas?"


He ... he ... he ... Ulya tertawa tanpa dosa.


"Sudah gitu, kalau sama kakak selalu pasang muka nggak enak. Benar-benar menyebalkan." kata Ahmad tanpa bisa dicegah.


Yang membuat Ulya melongo, tak berani lagi tertawa. Apalagi melihat mata indah istrinya yang membulat, melotot padanya, dia semakin merasa sayang, dan takut kalau-kalau Naura tak ada di sampingnya, bisa berabe ....


"Ya dech Kak, aku minta maaf."


"Makanya sama kakak ipar jangan jahil-jahil amat. Tak adukan ke adikku, baru tahu rasa nanti." bisik Ahmad di telinga Ulya, agar cepat paham.


"Assalamu'alaikum ...." bel otomatis berbunyi. Naura segera ke depan, di dapati nya papa mamanya serta keluarga pak Farhan berdiri membelakangi pintu.


"Alhamdulillah akhirnya semua bisa datang. Ma, mengapa bengong. Ayo masuk!''


Mereka bercengkrama di ruang tamu. Makin asyik lagi ketika bi Ummaimah membawakan makanan kecil dan minuman hangat.


"Kami nanti balik Naura."


"Lho nggak nginap, Pa Ma."


"Nggak bisa, Papamu ada urusan."


"Ya, baiklah. Kapan-kapan papa mama nginap ya...."


"Insya Allah."


"Nggak gitu sich, aku nggak nyangka kalau selalu tetanggaan sama Bahrul Ulya."kata mama Efsun.


Devra yang melihat rombongan tamu menghampiri mamanya. Alangkah senangnya ketika melihat Noval dan Novi ada diantara mereka.


"Noval, Novi, come here!''


Berteman selama beberapa hari membuat mereka mengerti bahasa masing-masing. Devra mengerti bahasa Indonesia, sedangkan Noval dan Novi mengerti bahasa Inggris.


"Ma, aku ajak adik ya ..."


"Boleh, jangan di gendong. biarkan di kereta."


Keduanya mengikuti Devra yang mengajaknya ke halaman belakang sambil mendorong kereta adik. Mereka menikmati anggur yang sudah di petik papa Ulya.


Kehangatan ini berlanjut ketika di meja makan. Bahkan hingga malam ketika mama dan papa Salim sudah pulang.


Sehingga membuyarkan angan-angan Ulya yang ingin berduaan dengan istri tercinta. Yang sudah dipendamnya sejak sebelum pernikahan. Tapi sekarang masih juga belum punya kesempatan. Ka ... si ... han ....😭


Selepas sholat isya', dia ingin merebahkan diri dalam kamar. Capek menghadapi ledekan Ahmad dan Hamdan. Ingin beristirahat dan hanya ditemani Naura.


Tapi ketika melirik Naura, dia masih asyik bersenda gurau dengan kak Nadya menemani krucil-krucil yang selalu bikin heboh seisi rumah. Hampir semua mainan yang Ulya sediakan, dia keluarkan dan mereka mainkan bersama.


Untunglah Naura memberikan peraturan jelas. Beresin dulu baru ambil mainan lagi. Sehingga nggak banyak mainan yang berceceran.


Akhirnya, dia berjalan menuju kamar dalam kesendirian. Dan menikmati rasa sepi sambil menatap langit-langit kamarnya.

__ADS_1


Lalu diambilnya sebuah buku, sebagai pengusir rasa sepinya. Hingga jam 10, Naura belum juga datang. Di tunggulah dengan sabar. Sampai akhirnya yang ditunggupun nongol di hadapannya.


"Sudah pada tidur semua?''


"Anak-anak sudah semua. Bapak dan kak Nadya juga sudah."


"Mereka?"


"Kak Ahmad, Mustofa dan kak Hamdan?''


''Ya. Siapa lagi?"


"Belum. Tak tahu tuch. Kelihatannya mereka asyik banget nonton sepak bola."


"Sepak bola?''


Ulya langsung memasang mata dan telinganya. Kalau sepak bola, itu tontonan kesukaannya.


"Siapa yang main."


"Entahlah, aku dengar ada nyebut nama Hambra dan Kemal, nggak jelas. Itu nama pemain atau kesebelasan sich."


"Benarkah?''


Ulya langsung berlari ke bawah bergabung dengan sesama pria tanpa menjawab pertanyaan Naura.


Menikmati kesebelasan kesayangannnya sedang berlaga. Melupakan penantiannya yang begitu lama.Giliran telah datang, ditinggal begitu saja.


Maka kini Naura menikmati kesendiriannya dengan ditemani guling. Yang mengantarnya bermimpi dengan tenang.


Usai nonton sepak bola, semua membubarkan diri ke kamarnya masing-masing, Termasuk Ulya yang berjalan dengan lesu ke dalam kamarnya. Karena kesebelasan kesayangannnya kalah. Setelah cuci muka dan gosok gigi, dia merebahkan diri di samping Naura yang tidur cantik.


Rasanya matanya kembali enggan untuk terpejam, apalagi mendapati wajah kekasihnya yang nampak semakin sempurna.


Dengan lembut dia sibak helai rambut yang menutupi wajahnya. Lalu mengecup lembut kening Naura dengan sangat lama. Hingga Naura mengeliat . Lalu tertidur kembali.


"Tidurlah, Sayang. Selamat malam."


Diapun tertidur nyenyak dengan memeluk kekasih halalnya.


🔷


Seperti biasa setiap menjelang fajar, sekitar jam setengah 3, dia akan terbangun. Karena jam sekian Akram dan Akmal biasa laper dan minta disusui. Dia segera ke kamar mereka yang ada di sebelah kamarnya.


Dan benar, Akmal dan Akram telah bangun. Tapi hanya bolak balik badan saja tanpa bersuara.Satu per satu, keduanya mendapatkan asi dan bobok lagi..


Lalu Naura meninggalkan mereka menuju dapur. Menyiapkan semua yang di perlukan untuk jalan-jalan di kebun kak Ahmad. Termasuk sarapan bersama di kebun nanti.


Mungkin hari ini akan sama sibuknya dengan hari kemarin. Karena satu lagi acara yang belum selesai dilaksanakan, Resepsi pernikahan yang akan dilaksanakan malam nanti.


...


...


....

__ADS_1


SELAMAT MEMBACA ....


Jangan lupa like dan votenya


__ADS_2