
Beberapa saat mereka dalam kesunyian, merasakan keadaan pesawat yang sedang tack off.
"Bagaimana, Ma."
Naura tersenyum tipis sambil melirik Akram yang sedang duduk di pangkuan Ulya, diam tak bergeming. Dengan sabuk pengaman yang mengikatnya.
"Tuch Akram ... sepertinya tegang."
Tampak sekali matanya membulat. senyumnya menghilang. Tapi juga menikmati. Namun begitu pesawat stabil, dia tertawa senang. Dan mulai bergerak bebas lagi, seperti ingin dilepaskan. Ulya meletakkannya di atas kabin pesawat, agar dapat bergerak dengan leluasa. Merangkak dan juga berjalan, meski masih tertatih-tatih.
"Pa. Ada dapurnya kan?"
"Ya, ada. Itu di belakang."
"Mau buatkan bubur Akram."
"Aku juga mau dibuat yang hangat-hangat." Ulya menimpali.
"Baiklah." jawab Naura.
Naura menuju dapur, diikuti Ifroh. Ternyata di sana sudah ada mbak yang berseragam.
"Ada yang bisa dibantu, Nyonya?"
Ternyata pesawatnya abah sudah lengkap dengan kru-krunya sekalian. Pilot, co pilot, pramugari bahkan yang bagian masak juga.
"Aku ingin bikinkan suamiku minuman jeruk manis."
"Anda memerlukan jeruk, Nyonya."
"Kurasa iya." jawab Naura.
"Atau kami yang buatkan?"
"Tidak."jawab Naura yang segera mengambil buah jeruk dari tangan wanita itu. Dan memerasnya menjadi satu minuman hangat untuk Devra dan papanya. Sedangkan bubur untuk Akram sudah disiapkan oleh Ifroh. Dan juga susunya.
"Bisakah kamu bantu aku bikin sesuatu untuk makan malam?"
"Bisa, Nyonya."
Naura segera mengeluarkan beberapa bahan makanan yang ada di almari pendingin.
"Tahu kan maksud saya."
"Beres nyonya. saya tahu apa yang anda kehendaki."
"Aku tinggal dulu."
__ADS_1
"Tak sampai 15 menit insya Allah akan selesai. Saya harap, Nyonya sabar menunggu."
"Dengan senang hati." jawab Naura berlalu pergi, dengan membawa napan yang berisikan apa yang dia buat.
Terlihat Ulya duduk santai di atas sofa, memandang intens ke arah leptop.
"Mas." kata Naura menyodorkan gelas yang berisikan air jeruk manis.
Rupanya dia masih saja sibuk bekerja meski sedang jalan-jalan. Kebiasaan yang tak bisa dia tinggalkan. Yang kadang bikin senewen Naura. Namun dia menyadari akan pekerjaan suaminya yang tak pernah ada habisnya.
Tapi ini semua sebagi wujud dari kasih sayang kepada keluarganya. Makanya Naura tak banyak menuntut.
Yang penting, dia tak meninggalkan tanggung jawabnya untuk menjaga Akram. Makanya, sesekali dia melihat Akram dan Devra yang sedang bermain bersama.
"Makasih Sayang. Aku minum ya ...." ujar Ulya tanpa mengalihkan pandangannya pada leptop. lalu memberikannya kembali pada Naura.
"Devra itu minumnya."
Dia segera mengambil gelas itu di atas meja yang ada di sana. Tanpa sadar diikuti oleh Akram dari belakang. Waktu meminumnya, Akram menggapai-gapai gelas itu, ingin tahu isinya. Mungkin juga ingin merasakan apa yang diminum kakaknya.
"Adik, jangan gitu lah. Nanti tumpah."kata Devra sambil menjauhkan gelas itu dari jangkauan Akram.
"Mik ... mik ..." ucapnya memohon dan tangannya terus ingin menggapai gelas itu.
"Baiklah. Duduk dulu."kata Devra yang seketika diturut oleh Akram. Dengan manis dia duduk menunggu gelas itu diberikan padanya.
"Hati-hati Dik." kata Devra sambil memberikan gelasnya. Akram menyambutnya dengan gembira. Dan segera meminumnya dengan berlahan, dibantu Devra.
"Kakak, kenapa diberikan ke adik?"
"Dia minta, Ma." jawab Devra sambil tertawa, karena Akram meminumnya dengan baik.
Naura mendekati mereka berdua, ingin mengambil gelas itu dari Akram. Tapi Akram memegangnya erat tak mau melepaskan. Meski Naura mengiming-imingi dengan gelas susu miliknya.
"Sudah ... biarkan saja. Nggak kan ada apa-apa." kata Ulya. Namun tak melepas pandangan dari leptop, meski ada keributan kecil yang terjadi di depannya.
"Tapi, Mas."kata Naura yang kini sudah berhasil melepas gelas dari mulut Akram. Tapi isinya sudah habis tak bersisa.
"Percaya dech."kata Ulya sambil melirik sejenak pada anak dan istrinya yang mempersalahkan hal yang kecil itu pikirnya.
Sementara itu, Akram yang mendapati gelas itu sudah habis isinya. Membiarkan gelas itu berada di tangan mamanya dan dia merangkak dengan sangat cepat menuju meja kecil yang ada di sisi papanya. Lalu berdiri berlahan menyusuri pinggir meja. Dan sampailah dia pada gelas yang dia tuju.
Belum sempat dia meraihnya, sudah ketahuan oleh Ulya.
"Hai ... hai, nggak boleh ... nggak boleh. Masih kecil, untuk Akram itu yang ada di mama."
"Mik ... mik ...."
__ADS_1
Tak ada tanggapan dari papanya. Membuatnya menangis keras. Naura hanya tersenyum lebar menyaksikan tingkah Akram yang menggemaskan. Lalu menghampirinya berlahan.
"Siapa yang nakal, Nak." hibur Naura.
"Pa ... Ma ... kael ...." dengan kata yang sepotong-porong, dia mencoba ungkapkan perasaannya. Membuat Naura makin lebar senyumnya.
"Iya, papa nakal ya ...."
"Oke-oke ... aku pindah sekarang. Ya ... mama yang baik, papa yang nakal."
Dia pun menuju ke ruang satunya hendak melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda oleh gangguan yang menyenangkan dari putranya.
Tak lama, pramugari bagian dapur menghampiri mereka.
"Nyonya, semua sudah siap."
"Makasih."
Naura segera menghampiri Ulya yang berada di kamar sebelah.
"Pa, kita makan dulu. Ingat kesehatan papa juga."
Ulya seolah-olah tak peduli, masih terus mengetik. Hingga membuat Naura gemas, dan menghampirinya.
"Pa, belum selesaikah?"
"Hem ...." jawabnya tanpa menoleh sedikitpun pada Naura. Dia masih serius menatap leptopnya.
"Begitu ngajaknya. Tak maulah ...." jawabnya menggoda. Yang membuat Naura kesal. Tapi dituruti juga isyarat, yang Ulya lontarkan lewat kata.
"Ya dech ... ya dech.'' kata Naura yang semakin dekat dengan Ulya. Bertepatan saat Ulya menutup leptopnya.
"Nach ... gitu dong, istri sholihahku,'' kata Ulya sambil menarik tubuh Naura hingga sangat dekat dengannya. Dan dapat menatap wajah istrinya dengan lekat. Dia membiarkan keadaan itu beberapa saat.
"Tak jadi ...." kata Ulya tiba-tiba, dengan melepas tubuh Naura yang hampir terjatuh dalam pelukan.
"Kita makan yuk." kata Ulya yang meninggalkan Naura berdiri terpaku.
Ini orang selalu bikin perasaan berdebar-debar dan senewen. Tapi akhirnya, diikuti juga langkah suaminya menuju ruang tengah. Dimana Devra dan juga Akram masih bermain-main.Yang ditemani mbak Ifroh.
Belum sampai mereka di meja makan, pramugari yang bertugas di depan menghampiri mereka.
"Mohon tuan dan Nyonya duduk dengan tenang. Karena cuaca yang kurang mendukung, kami akan melakukan pendaratan di bandara terdekat. Silahkan semuanya mempersiapkan diri."
Dari cendela pesawat, memang terlihat kilatan-kilatan petir yang menyambar. Sangat beresiko jika terus melakukan penerbangan.
Baik Naura, Ulya dan Ifroh mempersiapkan diri untuk itu.
__ADS_1
Ulya segera menyambar Akram untuk memangkunya kembali seperti saat berangkat. Sedangkan Devra kali ini bersedia untuk dipakaikan sabuk pengamannya oleh Naura. Setelah itu, baru Naura duduk di tempatnya dengan memakai sabuk pengamannya.
Tak lama terasa pesawat sedikit mengalami goncangan. Untunglah dari jauh sudah terlihat landasan pesawat untuk mereka bisa landding di sana ....