
Liburan ini pada mula tidak terencanakan sama sekali. Hanya ingin mencari suasana lain dari biasanya. Siapa tahu dengan itu, bisa mengubah suasana hati Naura sayang menjadi lebih segar dan tenang. Dan anak-anak bisa menemukan sosok ibu kembali.
Tak sangka, ini merupakan suatu anugrah yang luar biasa dari yang Kuasa untuk kami. Fasilitas yang kami dapatkan secara cuma-cuma dari abbah. Akmal kami temukan di awal perjalanan. Bertemu bapak dan kak Nadya. Menyaksikan prosesi lamaran Mustafa dan sahabatnya, Rima. Akhirnya bisa melepas cemburunya juga.
Belum lagi cerita yang selalu ditorehkan si kembar di setiap harinya. Sangat-sangat menyenangkan, melihat mereka bisa bermain gembira. Mengekspresikan emosi yang tersimpan dalam diri mereka dengan baik. Tapi melelahkan juga, harus mengikuti langkah mereka yang seperti tak kenal lelah. Tulang di badan ini serasa rontok semua.
Ya ... demikianlah, anak jaman now. Ada saja tingkahnya, yang bikin gemes dan kangen setiap saat. Mungkin karena itu pula papa Ulya, selalu buru-buru pulang kalau ada urusan. Atau mungkin karena ....
Satu yang bikin kesal, kalau ada yang menyeletuk. Siapa lagi, kalau bukan celetukannya kakanda tersayang plus-plus yang lain pula. Yang sudah mengenal diriku sebelum melahirkan mereka,
"Itu nurun siapa sih? ...."
Menyebalkan sekali. Bukannya nggak mau mengakui, tapi mengingatkan pada masa bandel-bandelku dulu. Dulu ... banget, saat masih imut binti lucu. Tapi sepertinya ... nggak gitu-gitu amat, seperti mereka. Ini lain dari pada yang lain.
Pertama, saat mereka menaiki ayam kalkun. Benar-benar membuat diriku terpana dan was-was. Kalau-kalau itu ayam sampai mati terbunuh, gimana .... Bikin heeechh .... hatiku. Ananda tersayang, itu bukan hewan tunggangan, bisikku di hati. Tersampaikan pada saat ciumanku mendarat di kedua pipi mereka.
Diberi nasehat, hanya senyum-senyum doang. Untunglah ayam kalkunnya blesteran burung onta (barangkali), gedhe-gedhe . Kuat menahan mereka. Tak sampai ayamnya sakit. Tapi, tetap saja Papa Ulya marahi mereka.
"Itu ayam sampai sakit, besar-besar harus jadi dokter, biar bisa nyembuhin mereka." ucap Ulya di tengah kemarahannya. Spontan bibir ini berucap, Aamiiiin .....
Itu marah ... atau marah ya ....
Itu baru di hari pertama di Indonesia. Semakin lama di sini, semakin banyak cerita. Ada-ada saja Akmal Akmal, si anak kembar.
Esoknya, kami diantar supir ke rumah mbak Nadya. Aku, Ifroh, Devra dan si kembar. Mas Ulya sedang ada urusan. Sore nanti baru akan menyusul kami.
Turun dari mobil, yang dituju bukanlah rumah, melainkan garasi. Entah apa yang jadi fakus mereka.
Diajak masuk nggak mau-mau juga. Dari pada ribut, kita menuju tempat itu. Ternyata oh ternyata ... 'Gledekan' ayah Farhan waktu di kampung dulu. Rupanya kendaraan pengangkut kayu itu sedang jadi benda yang harus mengalami proses urbanisasi dari kampung ke kota besar ini, keereeen .... Pasti ini karena keinginan si kembar juga, Noval dan Novi. Ternyata sama, nggak berbeda jauh dengan si kembar yang aku punya.
Akhirnya bukan tamu yang masuk ke dalam rumah. Melainkan tuan rumah yang harus keluar menemui tamunya.
"Ternyata kamu, Nur. Kukira siapa?" sambut Nadya dengan gembira.
"Asslamu'alaikum .... Mbak Nadya."
"Wa alaikum salam ...." jawabnya.
"Wah ini keponakan tante sudah besar-besar."
__ADS_1
Ingin Nadya segera memeluk keponakannya satu persatu. Tapi dihalangi Nur yang sudah sangat kangen padanya. Diapun segera memeluknya erat.
Rasanya aku ingin menangis saja, lihat mbak Nadya. Mbakku satu-satunya pengganti ibu yang kini telah tiada. Apalagi wajah dan gayanya, persis dengan ibu. Bikin hati ini makin hanyut dalam kenangan masa silam. Sehingga ritual teletabis kita diselimuti tetes air mata bahagia.
Air mata yang menetes, membuat mereka terenyuh juga. Dengan pandangan tanda tanya dan sendu, mereka menatapku. Seakan ingin bertanya, "Mama, mengapa kalian menangis."
Hanya saja, karena masih belum genap kalau berkata-kata, atau mungkin juga karena bingung harus mengatakan apa, sehingga tak ada sepotong katapun yang terucap. Tapi, raut wajahnya tampak sekali kalau banyak beriringan awan hitam, menyapu keceriannya. Benar-benar bertanda hujan akan turun.
Naluri seorang ibu mendekati 100% kebenaran. Begitu Naura dan Nadya menyelasaikan ritual teletabisnya, sontak mereka menangis bersama-sama dengan suara nyaring terdengar. Hingga mengagetkan Devra yang baru akan bersalaman dengan bibinya, kak Nadya.
"Ma, adik kenapa?" kata kakak yang sangat perhatian dan sayang pada adik.
"Tidak apa-apa, Sayang. sudah kasih salam belum sama Tante Nadya."
Dengan tersenyum, dia melanjutkan aktifitasnya yang sempat tertunda. Bersalaman dengan manis sambil mengucap salam.
"Assalamu'alaikum ..., Tante."
"Wa alaikum salam, Devra. How do you do."
"Baik. Pakai bahasa Indonesia saja, Tante. Sekarang aku sudah bisa kok."
"Wah, hebat. Diajari siapa?"
"Ya iyalah, Devra. Mereka pernah tinggal lama di sini."
"Benarkah. Mengapa nggak pernah cerita."
"Mau tante ceritakan?"
"Mau .... mau, Tante."
"Kita ke dalam, yuk!"
Sementara Devra asyik bercengkrama dengan tantenya. Nur dan Ifroh sibuk menenangkan si kembar yang masih dalam isak tangisnya. Meski sekarang tak sekencang waktu pertama mereka berteriak.
Apalagi saat mereka melihat kakak Devra tertawa gembira, lalu masuk ke dalam mengikuti orang yang bikin mamanya menangis, tadi.Ternyata orang itu baik, buktinya kakaknya tertawa bersamanya, pikir mereka. Membuat mereka berdua tenang, dan tidak menolak ketika Nur dan Ifroh meraih mereka dalam gendongannya.
Bahkan ketika sudah sampai di dalam rumah, merekapun tidak berontak. Mereka duduk dengan tenang dengan posisi tetap dalam gendongan. Lama kelamaan, mereka tertidur.
__ADS_1
"Nur, tidurkan di kamar Noval saja."
"Ya, Mbak." jawab Nur, sambil membawa keduanya ke dalam kamar yang ditunjuk kak Nadyanya.
"Tante, mana Noval sama Novi? tanya Devra.
" Masih sekolah."
"Kapan pulangnya?"
"Jam 2."
"Oh ....." sahutnya kecewa. Tapi Nadya pun tak bisa berbuat apa-apa.
"Devra bisa tiduran dulu, nanti kalau mereka datang, tante bangunkan." usul Nadya.
Tapi tak mendapatkan tanggapan dari Devra, malah dia berlari ke arah Naura yang sudah selesai menidurkan si kembar.
"Ma, sepi." kata Devra.
"Bagaimana kalau bantu tante masak?"
"Boleh, Tante." jawabnya senang.
Pada mulanya dia terlihat asyik, lama-lama bosan. Diapun berpamitan, menyusul si kembar. Tidur di kamar Novi, dengan sepengetahuan mamanya.
"Bisa bobok sendiri, Sayang?"
"Iya, Ma. Lagian kakak Devra sekarang sudah besar." jawabnya sambil menguap. Bertanda dia sedang ngantuk berat. Lalu menghilang dengan cepat.
Di tengah-tenga kesibukannya di dapur, Nur mersa aneh juga. Karena tak menemukan sosok orang tua yang dia rindukan.
"Mbak, kemana bapak?"
"Ikut pak Rt. Di sini pun bapak nggak bisa diam, selalu cari kegiatan."
"Oh .... aku kangen."
"Nanti sore, biasanya baru pulang."
__ADS_1
"Baiklah."
Untuk sementara cerita berhenti di sini dulu, Menunggu pemeran utama bangun dari tidur manisnya.