
Senja ini terasa sempurna dengan sinar saga di ufuk barat. Burung-burung bergerombol membentuk tarian di angkasa. Mengiringi jalannya sinar mentari yang segera menghilang. Mereka dengan tenang akan memasuki peraduannya dalam gua-gua yang hingga kini mungkin belum terjamah. Keindahan ini biarlah tetap demikian hingga esok entah sampai kapan.
Nur menatapnya dari cendela mobil yang terbuka. Menikmati indah senja dalam kegalauan yang kini makin terasa. Syair mengalir menghias angan. Mempuisikan kerinduan yang terajut telah lama terpendam. Namun kini harus terelakan hanya karena salah mengenalnya. Kakak maafkan Nur!...
"Nur ini belok ke mana?" tanya Andre yang menatap dari spion di depannya.
Membuat angannya terbangun dan gelagapan menjawabnya.
"Ke kanan, Kak."jawab Nur dengan gugup.
Entah mengapa perjalanan ini terasa sangat lama. Hingga membuat angan-angannya kembali mengembara tanpa tujuan. Tak terasa air matanya menggenang. Meski tertutup di balik cadar, namun Andre mampu menangkap kesedihan itu.
" Nur, kamu nggak apa-apa."
Sejenak Nur terdiam. Lalu tersenyum menatap sahabat dan kak Andre. Ah ... tak seharusnya aku menyesali apa yang terjadi. Hingga tanpa sengaja telah memberikan warna kesedihan pada mereka.
Akhirnya dia menyudahi pengembaraaan angan yang sejenak liar dan tak tentu arah. Dan sadar bahwa semua harus direlakan untuk berlalu. Tak baik menentang takdir yang sudah digariskan. Semua yang terjadi adalah baik bagi kita. Seulas senyuman mulai menghias bibirnya. Meski tak terlihat. Namun Andre mampu meraba dari pancaran sinar mata yang terlihat dari balik cadarnya.
Dari sebuah surau terdengar bunyi azan yang mulai berkumandang.Tanda bahwa yang penguasa hendak mamanggil hamba-hamba yang menyimpan rindu untuk segera bersua. Begitu azan berkumandang, siapa yang segera memenuhi, dialah pemenang dari cinta.
Haruskah aku terlambat untuk penuhi cinta. Karena saat azan berkumandang diriku masih di jalan yang lenggang. Sesaat itu telah membuat diriku menjadi gelisah.
Namun melihat upaya kak Andre yang sudah mengantarkanku, tak tega untuk mengeluh.Hingga diriku sampai juga di rumah.
Beruntung saat ku tiba, qomat belum dikumandangkan.
"Terima kasih kak, telah mengantar Nur sampai rumah."
"Sama-sama, Nur."
"Siapa, Nur?"
"Teman Nur, Ayah."
"Nak, ayo kita ke masjid."
"Injjih, Bapak."
Kak Andre menyambut baik ajakan Bapak untuk sholat jamaah di masjid.
Sedangkan Rima kuajak ke dalam untuk melaksanakan sholat di rumah saja.
Tak lama setelah sholat maghrib, kak Andre dan Rima berpamitan. Tapi ayah menahannya.
"Siapa namamu, Nak?"
"Kulo Andre, Pak."
”Emmm ... Kamu kakaknya Rima?"
"Injjih, Bapak?"
"Kalau Rima, bapak kenal. Apa kamu anaknya pak Sopyan."
"Leres, Bapak. Bapak kok saget tepang kalian papa?"
"Isin aku Nak. Bapakmu berhasil dadi orang sukses. Lha bapak dari dulu sampai sekarang hanya bisa macul ning sawah. Maklum bapak wes ra lanjutne sekolah wektu lulus SMP biyen."
"Tapi bapak saget nyekolah aken yugo bapak sampe kuliah. Hebat Bapak."
Pak Farhan tertawa, mendengar pujian yang dilontarkan oleh kak Andre.
"Bapak nggak kepingin mereka seperti bapak. Mereka harus lebih berhasil dari bapak. Meski mereka wanita."
__ADS_1
"Bapak luar biasa."
" Bapak, boleh kami wangsul?"
"Iyo ... Yo.... Ojo sungkan-sungkan dolan ning kene."
"Kulo remen sanget dipun ijini bapak, angsal dolan."
"Yo wes."
"Assalamu'alaikum , Bapak."ucap Andre
"Wa'alaikum salam."
Kak Andre dan Rima membalikkan punggungnya, berjalan berlahan meninggalkan rumah itu.
"Aku pulang dulu, Nur." kata Rima.
"Ya, Rima." balas Nur, mengantarkan mereka hingga kendaraan mereka hilang dari pandangan.
💎
3 bulan telah berlalu sejak kejadian itu. Dan kini sudah ujian skripsi dan sudah lulus, tinggal menunggu wisudanya. Kejadian saat itu tentu masih diingatnya.
Namun dia mencoba untuk menerima kenyataan bahwa mungkin kak Uya yang lama dinantikan mungkin takkan pernah datang.
Dan saat ini lebih baik fokus tentang apa yang akan dilakukan setelah lulus nanti.
Tak ada salahnya untuk mencoba saran Rima.
Ternyata memang banyak Universitas yang menawarkan program S2 dan itu gratis.
Waktu Nur mendapat pemberituan bahwa dia mendapatkan bea siswa dari universitas yang dia inginkan. Diam segera mengangkat telpon untuk memberitahukan kebahagiannya itu pada Nadya, kakaknya.
"Assalamu'alaikum ....Kak Nadya." sapa Nur
"Wa'alaikum salam ..."
"Mbak Nadya kok tahu sih, kalau aku pingin menghubungi?"
"Ada kabar apa, Dik. Kok pingin telpon Kakak."
"Kabar baik, Kak. Pengajuan bea siswa S2ku diterima. Baik yang di Yogja. Maupun yag ke Jepang."
"Hebat kamu, Dik. Selanjutnya kamu pilih yang mana?"
"Tak tahu, Kak. Menurut kakak, yang mana?"
"Kamu yang menjalani kok tanya kakak."
"Kakak kok telpon duluan. Memangnya ada apa?"
"Kamu, di suruh pulang sama ibu."
"Ada apa, Kak."
"Biasa, ibu lagi kangen kamu."
" Baik. Aku juga lagi kangen. Dan nunggu wisuda dari rumah saja."
" Kakak lagi di Jakarta ini. Nanti kakak jemput jam 2"
"Baik, aku siap-siap dulu."
__ADS_1
"Oke. Assalamu'alaikum ...."
"Wa'aikum salam."
Baru saja Nur menutup telponnya sudah ada panggilan lagi yang masuk lagi. Tertera di sana sebuah nama yang akhir-akhir ini tak lelah untuk menyapanya. Dengan setia mendengar keluh kesahnya. Sehingga berlahan Nur bisa sedikit melupakan kesedihannya.
"Assalamu'alaikum... Kak Andre."
"Wa'alaikum salam ... Bagaimana kuliahmu Nur?"
" Tinggal nunggu wisuda."
"Kapan."
"Bulan depan."
"Cepat sekali. Selamat ya..."
"Terima kasih, Kak Andre."
"Selanjutnya?"
"Tak tahu, Kak. Ini ada 2 bea siswa yang aku terima. Aku pilih yang mana ya?"
"Memangnya di mana saja?"
"Yogja dan Jepang. Menurut kakak baiknya di mana?"
"Menurut kakak sich. Baiknya married saja." jawab Andre sambil ketawa-ketiwi di ujung telpon.
"Ya, Kan. Kak Uya sudah menunggu."ledeknya.
"Kak Andre jangan ngedeki Nur terus. Nur benar-benar minta pertimbangan."
"Menurut kakak, baiknya. Jangan jauh-jauh dari bapak ibu Farhan. Jadi di Yogja saja. Kecuali kalau kamu sudah ada yang mengawal, pasti mereka setuju dimanapun kamu berada."
"Bener juga. Terima kasih."
" Ya ... Sudah , kakak mau nerusin pekerjaan."
"Tadi kenapa pakai telpon Nur segala?"
"Pingin saja. Kangen gitu lho, Nur."
"Kak Febri di kemanakan?"
Nich anak nggak peka amat. Pikirannya mungkin masih di kak Uyanya. Sabar ....
"Ada tuch di mejanya. Dah ... Nur ... Assalamu'alaikum..."
"Wa'alaikum salam. Jaga pandangan kalau nggak halal."
"Ya ... ya ... Adik kakak yang sholihah."
Di ujung telpon, Andre senyum-senyum bahagia. Ah .... Kenapa mesti kebayang kamu Nur.
Angannya sedikit mengambang sehingga tak menyadari Rima masuk.
"Kak Andre, hayo ngelamunin siapa, nanti aku bilang ke papa. Biar cepat dinikahkan."
"Boleh, ngadu saja ke papa. Kakak juga nggak keberatan."
"Siapa sich, Kak. Apa sekretaris kakak yang seksi itu?"
__ADS_1
"Kalau kamu mau, jadi adik ipar dia."