
Pak Farhan yang melihat istrinya tiba dengan wajah muram, dan juga Nur dengan muka sembab, masuk ke dalam kamar tanpa menyapa, bingung dan bertanya-tanya.
"Apa yang terjadi dengan kalian?"
"Biasa, tetangga kita yang syirik itu."
"Maksud bune, apa tho? ... Bapak kok nggak ngerti."
"Siapa lagi kalau bukan bu Retno. Ngomong yang tidak-tidak tentang Nur. Bikin panas hati saja."
"Berwudhulah, Bune. Agar amarahmu reda."
Belum sampai bu Farhan masuk, dari luar sudah terdengar teriakan si kembar Novi dan Noval.
"Assalamu'alaikum .... Kakek, Nenek."
Seketika wajah bu Farhan berubah ceria. Dia berbalik menyambut cucu-cucunya dengan gembira dan hangat.
"Wa'alaikum salam ...., Novi, Noval. Sini peluk Nenek."
Mendapat sambutan yang hangat, keduanya berlari, berebut untuk mendapatkan pelukan pertama.
"Kalian berangkat jam berapa. Sepagi ini sudah nyampek"
"Jam 02.00 malam."jawab Nadya lelah.
"Kebetulan mas Hamdan ada keperluan di Yogja. Ya ... sekalian mengantarkan kami." lanjutnya.
Dia berjalan ke arah kursi, menyadarkan punggung. Perjalanan mungkin tidak terlalu jauh. Tapi cukup membuat tubuhnya penat.
Nur yang mendengar keramaian, segera keluar kamar. Lupa belum membasuh muka.
Alangkah bahagia hatinya manakala kakak Nadya dan keponakan-keponakan sudah datang sesuai waktu yang dijanjikan.
"Peluk tante dong sayang." dia merentangkan kedua tangannya. Bersiap memeluk keduannya yang berlari mendekati.
"Tante benar-benar kangen dengan kalian. Bagaimana sekolah kalian?"
"Kemarin Novi dan Nova sudah selesai munaqosah juz 30."
"Lulus?"
"Lulus dong." jawab mereka serempak.
Kedatangan mereka benar-benar telah mengusir kegundahan yang sesaat lalu bersermayam dalam hati Nur.
"Nur kenapa matamu sembab?" kata Nadya ketika sadar bahwa mata Nur memerah, seperti habis menangis.
Nur tersenyum menatap kakak nya. Belum sempat mulutnya bicara. Bu Farhan sudah mendahului.
"Biasa tetangga depan rumah. Ada saja tingkahnya."
"Oh ... maksud ibu. Bu Retno."
"Siapa lagi," bu Farhan sepertinya ingin menumpahkan amarahnya. Kalau saja Nur tidak mencegahnya.
__ADS_1
"Sudah, Bu. Nur maafkan kok."
" Sana bersihkan badan kalian dulu. Tante mau masakin yang enak buat kalian."
"Yei ... asyik." teriak Noval dan Novi bersamaan. Mereka mengikuti umminya ke kamar mandi.
Sedangkan bu Farhan dan Nur pergi ke dapur, menyiapkan sarapan.
Tak butuk waktu terlalu lama untuk bisa menyiapkan semuanya di meja makan. Dan siap untuk di santap.
Semuanya kini sudah berkumpul di sekeliling meja makan yang cukup besar. Menikmati sarapan pagi bersama. Tak terkecuali ibu dan bapak Farhan.
"Nanti datangnya jam berapa Nur?"
"Insya Allah selepas isya'"
"Berarti masih cukup waktu kita menyambut kedatangannya."
"Mereka nggak banyak kok, Kak. Hanya berempat saja. Nggak mau ramai-ramai."
"Tapi kalau kita persiapkan itukan lebih baik."
"Iya, Kak."
Mengingat kak Hamdan juga harus segera pergi ke Yogja menyelesaikan urusannya. Nadya segera mengambil rantang untuk menyiapkan bekalnya. Tentu dengan masakan yang tersedia.
Mungkin ini yang buat mbak Nadya bisa masak. Habis kak Hamdan lebih suka bawa bekal dari rumah. Dari pada harus beli di luar. Padahal dulunya jangan di tanya ... he ... he ... he ....
"Ummi, abi pergi dulu."
"Ya, Abi."
"Mana anak-anak?"
Kak Nadya segera memanggil Noval dan Novi yang masih santai di tempat duduk, menghabiskan susunya.
"Noval, Novi. Sini ! .. Abi mau pergi!"
Keduanya segera beranjak dari tempat duduknya masing-masing, menghampiri abinya yang menunggu di pintu.
"Jangan nakal, bantu umi. Shalih-sholihah abi."
"Ya, Abi."
Keduanya mendapatkan kecupan sayang serta doa di ubun-ubun mereka.
Setelah ritual yang membahagiakan itu, kak Hamdan berangkat dengan wajah sumringah. Meski tubuhnya agak lelah. Tapi terlihat bersemangat. Kak Nadya dan anak-anak mengantartnya hingga tak terlihat dari penglihatan.
Tak ada yang istimewa yang kami lakukan untuk menyambut acara nanti malam. Hanya beberapa bahan belum punya. Sehingga Nur harus membelinya di toko yang ada di ujung kampung.
"Ini saja Kah, Kak."
"Ya"
"Sekalian belanjanya agar nanti nddak balik-balik lagi"
__ADS_1
"Nggeh ,Bu."
Nur berlalu dari hadapan mereka, hendak mengeluar motor meticnya dari garasi. Tanpa dia sadari, Novi mengikutinya dari belakang.
"Tante, mau kemana? .. Novi ikut dong."
Wah ... kalau mengajak satu pasti yang lainnya mau ikut juga. Pasti nggak bisa cepat. Pikirnya. Belum lagi nanti kalau antri, pasti repot dech.
"Kalau Novi ikut, siapa yang bantu umi dan nenek. Itu ummi mau bikin kue. Nanti kamunya nggak kebagian. Dihabiskan sama Noval."
"Ya, tante pelit."
Nur jadi senyum-senyum melihat keponakannya merajuk.Tapi tetap saja dia meninggalkannya. Meski diiringi tatapan bersungut dari keponakannya.
Benar juga dugaan Nur, ternyata orang-orang pada berjubel antri untuk mendapatkan barang. Maklumlah, itu adalah toko satu-satunya di desa Nur.
Mungkin hari ini, hari yang paling-paling naas buat Nur. Pagi sudah bertemu, di sini harus bertemu lagi dengan bu Retno.
Astaghfirullah .... Sadar Nur ... sadar ... terima saja. Memang lagi dicoba dalam kesabaran.
Tak ingin membuat keributan Nur segera mengambil beberapa barang yang dibutuhkan dan mengantri untuk membayarnya.
"Bertemu lagi kita, Anak ilang." katanya mencibir. Memang kata-katanya tak sepedas tadi pagi. Tapi itu sudah cukup membuat suasana hati Nur tidak nyaman
"Nur, kulihat rumahmu rame. Benar kamu nanti mau lamaran?"
Entah apa maksud perkataan bu Retno, yang diungkapkan dengan mencibir itu. Nur tidak menjawab.
"Nggak ada apa-apa, Bu Retno. Hanya kakak yang pulang bersama putra-putrinya."
Lalu ada ibu-ibu yang lain mendekati mereka.
"Ada apa bu Retno. Kok kelihatan sewot banget. Apa gara-gara Nur nolak lamaran putra ibu?" kata-katanya jelas, tapi tak tahu bagi yang mendengarkan ...
Terlihat muka bu Retno menjadi merah padam.
"Ich ... siapa yang mau mengambil mantu dia. Keturunannya saja tak jelas."
Mendengar kalimat itu, hati Nur sangat-sangat sedih. Ditambah lagi itu dibicarakan dimuka umum. Nur benar-benar merasa risih. Namun dikuatkan hatinya agar bisa bersabar.
Mengapa berita tetang penolakan lamaran Anwar terhadap Nur itu, cepat sekali tersebar. Nur tak habis pikir, siapa yang menyebarkan.
"Maafkan Nur, Bu."
"Nur ... Nur , mengapa harus minta maaf. Kamu tak salah. Tapi benar tidak ada apa-apa?"
"Maksud ibu?"
"Kamu nggak nglakuin hal terlarang, Kan?" tanyanya serius. Membuat Nur bingung tak tahu harus berkata apa.
"Nur berlindung dari hal demikian, ibu."
"Terima kasih, Nur. Ibu percaya padamu." kata bu haji Shodikin, sambil membelai jilbab Nur. Bikin hati Nur tambah plong.
"Oh ya Nur, kemarin ibu terima telpon dari seseorang. Hari ini mau kemari. Semoga ini menjadi hal yang membahagiakan Nur dan keluarga."
__ADS_1