
"Naura tersanjung, Akhirnya kakak mau mengungkapkan."
"Ini di mulai saat kakak terjun ke dunia politik, mengikuti jejak abah."
"Hubungan apa politik dengan mamanya Devra."
Kenapa juga pakai awalan politik. Makin ruwet aja. Membuka luka lama. Yang ingin dikuburnya dalam-dalam. Ulya menggerutu sendiri.
"Mama Devra sebenarnya putrinya seorang pengusaha sukses. Sangat dekat dengan politisi-politisi juga. Sebenarnya dia baik. Makanya dia berniat menjodohkan putrinya dengan salah seorang politisi selama ini dia dukung."
"Apa politisi itu, Kakak?" tanya Naura tiba-tiba.
Ulya menunduk sedih.
"Ya."
Tak disangka Naura malah tertawa melihat wajah Ulya yang seperti dilipat.
"Kok tertawa."
"Gimana ya ...,"
"Apanya yang gimana?"
"Aku kok nggak pernah percaya kalau kakak politisi. Lalu masak kaka nggak berfikir pengusaha dekati politisi, pasti ada maunya."
"Kakak juga ngerasa gitu, tapi?"
"Tapi kakak suka, kan?" ledek Naura. Saat ini Naura lagi ogah untuk cemburu. Nggak mau mikir yang berat-berat. Kasihan sama baby twins yang lagi bersemayam tenang dalam perutnya.
"Bukan begitu ceritanya."
"Oke, aku dengeriiiinnn." dengan.mata membulat sempurna manatap Ulya, dan tentu saja dengan senyum yang tersembunyi di balik cadarnya.
Daripada meledeknya terus, lebih baik dengarkan hingga habis cerita. Bukankah dengan begitu rasa penasarannya terpenuhi. Tapi untuk apa ....
Itu yang membuat Naura bertanya-tanya.
"Tapi jangan berputar-putar kaya kentut Abu Nawas."
Satu jitakan kecil, Ulya daratkan di kepala Naura yang tak henti menggodanya.
Namun tak bisa menghentikan Naura yang sedang asyik mentertawakan dirinya. Hingga Ulya bingung mau menyambung ceritanya. Nggak bakat bohong atau nggak bakat cerita ....
"Singkat cerita, Akhirnya aku menikah sama mamanya Devra."
"Senang dong, dapat putrinya pengusaha."
"Begitulah ...." kata Ulya bahagia sambil matanya melirik Naura, yang sejak tadi mentertawakannya.
Meski tadi bisa menahan untuk tidak cemburu, tapi kali ini tercuri juga hatinya untuk cemburu.
Naura diam seketika, tak mau melihat Ulya. Kembali dia pada bacaan yang dipegangnya.
__ADS_1
"Tapi sayang dia sudah punya idaman."
Naura kembali meletakkan bacaannya. Kembali mendengarkan cerita Ulya dengan seksama.
"Pacar maksudnya?"
"Begitulah."
"Lha kok bisa sama kakak?" tanya Naura sok perhatian.
"Pasti kakak pelet."
"Tak perlu pelet, sudah lengket kok."
Tak tahulah. Rasanya ingin sekali menggoda Naura yang emosinya naik turun seperti ini. bisik hati jahil Ulya.
Dapat dipastikan dia akan baca buku lagi dengan ketidak fokusannya. He ... he ... he ....
Rasain.
"Katanya tadi ingin tahu, sekarang kakak cerita malah ditinggal baca."
"Kakak pintar cerita tapi bohong semua. Nanti aku tanya sama daddy benarkah kakak seorang politisi. Dan semua yang kakak ceritakan itu benar apa tidak."
Dia berbicara tanpa melihat. Dari tatapan matanya nampak kalau dia sangat kesal. merasa dipermainkan.
"Baiklah, kakak mau jujur. Tapi tolong sayangi Devra. Dia sudah tak punya siapa-siapa."
Ulya diam sejenak, dan menarik nafas panjang.
Adapun mama Devra adakah wanita yang
sengaja dikirim, untuk menjebak kakak. Trik-trik basi untuk menjatuhkan lawan.
Hanya saja Abah terpengaruh dengan foto-foto dirinya bersama kakak. Kakak tak kuasa menolak. Apalagi saat itu abah melihat kakak masih sendiri padahal sudah berumur. Jadi kakak turuti saja kata abah. Menikah lah kita.
Adapun pernikahan kakak dengan mama Devra, hanyalah di atas kertas.
Karena saat itu mama Devra sudah mengandung dari seorang politisi tak baik.
Tentu ini beban tersendiri bagi kakak. Tapi kakak mencoba menerima. Yaitu menjadi suami yang baik baginya, sejauh yang kakak bisa.
Sayangnya, meski kita sudah menikah. Dia tetap menjalankan misinya untuk merusak kelurga kakak. Tanpa perduli dengan bayi yang di kandungnya.
Ada suatu saat dimana kakak sangat marah. Dimana dia tetap saja berhubungan dengan kekasihnya itu, meski sudah jadi istri kakak.
Ketika kakak tegur, dia hanya berkata,
"Bagaimana mungkin aku mau hidup dengan seorang pengindap HIV AIDS"
"Maksudmu?"
"Maafkan aku suamiku, kemarin waktu kamu sakit yang disuntik ke kamu itu ada mengandung penyakit itu."
__ADS_1
"Kau?!"
Pada mulanya kakak tak percaya. Tapi melihat gelagat dia yang semakin menjauhi kakak. Kakak merasa curiga dengan diri sendiri. Akhirnya cek, dan positif."
Terlihat tetesan bening keluar dari ujung matanya. Dia mengusap dengan ujung jarinya.
Setelah menarik napas panjang,Ulya meneruskan ceritanya.
"Saat itu juga kakak menjatuhkan talak padanya. Dan dia pergi dari kakak menemui kekasihnya.
Tapi beberapa hari kemudian dia datang lagi karena kekasihnya tak mau menerimanya, apalagi menerima anak yang dikandungnya.
Kakak hanya memberikan kesempatan padanya hingga dia melahirkan. Mengingat anak yang dikandungnya.
Qodratullah, saat melahirkan dia meninggal dunia. Sehingga Devra kakak yang merawat.
Sementara untuk mengobati diri, kakak melakukan pencakokkan sumsum tulang belakang dan akhirnya berhasil. Dan dokter sudah mengatakan kalau kakak sudah sembuh. Cuma kakak selalu khawatir, maka kakak selalu kontrol sampai benar-benar sembuh.
Makanya saat abah melamarmu untuk kakak, rasanya masih berat. Itu karena diri kakak masih takut, akan menularkan penyakit, pada orang yang kakak sayangi sejak kecil.
Sejak saat itu kakak mundur dari dunia perpolitikan. Agar lebih tenang dan kembali ke Indonesia untuk mencari kenyaman tanpa gangguan. Maaf beberapa tahun terakhir ini kakak selalu mengawasimu."
Siapa yang tak terenyuh mendengar cerita itu. Apalagi di akhir cerita, nampak butiran-butiran bening mulai membasahi pipinya. Sehingga Naura menangis pula.
"Sekarang kamu sudah tahu semua dengan diri kakak. Kini semuanya terserah pada dirimu."
"Maafkan Naura, Kak. Naura tak bermaksud mengorek luka lama."
"Nggak apa-apa, Naura. Kamu berhak tahu semuanya tentang kakak. Sebelum kamu memutuskan apa yang terbaik bagi dirimu dan putra Andre yang bersamamu."
Kita terdiam untuk beberapa saat. Sesekali Naura terlihat sedih dan meneteskan air mata meski sedang fokus membaca. Membuat Ulya tak tega.
"Naura, abah dan ummi pasti senang sekali kamu datang. Apalagi Devra. Dia sudah menantimu sejak lama."
"Kok bisa, bukankah dia tak pernah bertemu denganku?"
"Ya, selama ini bila dia bertanya tentang mamanya. Aku selalu menceritakan tentang dirimu. Maaf, aku tak tega. pada saatnya akan kuceritakan yang sesungguhnya."
"Kakak curang."
Ulya hanya tertawa dan menatap Naura dengan bahagia. Lepas sudah beban yang selama ini dia simpan. Meski dia tahu harus menunggu lama untuk Naura memberikan jawaban. Setidaknya dia sudah menceritakan keadaan yang sebenarnya.
Tak lama kemudian seorang pramugari memberitahukan pada penumpang bahwa pesawat akan mendarat di Bandara Internasional Attatur Turki.
Semua penumpang dipersilahkan memakai sabuk pengaman. Agar tidak terpengaruh oleh goncangan pada saat pesawat akan mendarat.
Ketika sudah keluar dari pesawat, Ulya menghidupkan hp-nya.
"Naura, abah dan ummi sudah di sini. Dan juga putriku Devra."
Dia menunjukkan gambar yang baru dia terima itu pada Naura. Dia memandang takjub pada gadis kecil dengan rambut ikal dan mata berwarna coklat kebiruan.
"Banarkah itu Devra?"
__ADS_1
"Benar."
"Cantik. Setiap orang pasti jatuh cinta pada pandangan pertama padanya. Tak kecuali diriku."