Mahabbah Rindu

Mahabbah Rindu
BAB 53 : Insiden Kecil


__ADS_3

Naura yang masih tertidur, tak menyadari kalau Ulya sudah tak di sampingnya lagi. Hingga ada sebuah benda jatuh di depan mobilnya. Membuat dirinya terpejap-pejap membuka mata.


Ah rupanya sebuah tas kecil, yang dilempar oleh seorang wanita yang kini sedang dikuasai amarah. Berbicara dengan agak berteriak pada seorang laki-laki yang ada di hadapannya


"Jadi sebenarnya yang punya perusahaan ini bukan kamu."


"Maafkan aku, Kulsum. Ini punyanya abbah. ayah angkatku. Yang berhak adalah kak Bahrul Ulya."


"Kenapa kamu tidak jujur sejak awal."


"Maafkan aku."


"Aku kecewa."


Terlihat laki-laki itu hanya menunduk.


Naura hanya diam, menyaksikan pertengkaran itu.


Entah mengapa laki-laki yang tadi nya menunduk, akhirnya mengangkat kepalanya juga. Dan menatap wanita di depannya.


"Ah aku terlalu berharap padamu, Kulsum. Kukira kamu mendekatiku, karena kamu ada hati padaku. Tapi kamu hanya menginginkan perusahaan ini saja."


Wanita yang dipanggil Kulsum hanya menatap tajam dan kecewa.


"Sudahlah, aku tak mau kecewa berlebih. Kamu telah membohongiku. Biarkan aku pergi."


"Benarkah?"


Laki-laki itu terlihat terperanjat dengan apa yang baru saja didengarnya.


"Mungkin itu lebih baik."jawabnya kemudian.


"Kamu sudah tahu kalau aku hanya anak angkat. Jangan buat hati ini lebih sakit karena ambisimu. Aku tak mau."


"Terima kasih untuk kebersamaan kita yang sesaat."


Kurasa wanita yang dipanggil Kulsum tak mengira kalau akan mendapat jawaban seperti itu.


Setengah berlari meninggalkannya. Menuju jalanan dan menghentikan sebuah taxi. Pergi begitu saja.


Sejenak laki-laki itu diam terpaku di tempatnya. Sepertinya, dia bergumam lirih.


"Maafkan aku Kulsum. "


Lalu kembali ke dalam dengan wajah tertunduk sedih.


Lama-lama Naura merasa bosan dalam mobil. Diapun keluar dari mobil itu hendak menemui Ulya. Tapi dia melihat sebuah tas yang tergeletak di depan mobilnya. Segera dia memungutnya.Dia jadi ingat kejadian barusan. Ini pasti kepunyaan wanita tadi.


Tak ingin ada masalah dia ke bagian security agar menyimpan tas tersebut, bila sewaktu-waktu wanita itu datang kembali untuk mengambilnya.


Tiba-tiba dia ingin sekali buang air kecil. Mungkin karena pembawaan baby, seringkali ingin ke belakang. Segera dia menuju ke arah masjid yang ada kompleks itu, untuk memenuhi hajatnya.


Sementara itu, Ulya yang sepertinya sudah selesai dengan urusannya kembali ke mobilnya. Tanpa melihat terlebih dahulu pada tempat yang ada di sampingnya, langsung menghidupkan mobil dan menjalankannya keluar dari area itu. Entah dia lupa atau gimana ... Tak menyadari bahwa Naura tak ada di sampingnya.


Setelah mobil Ulya menghilang, baru Naura keluar dari kamar kecil di sisi masjid itu. Kembali ke tempat di mana mobil terparkir.


Dia amat terkejut ketika mendapati mobil Ulya tak lagi ada di tempatnya. Agak panik juga Naura dibuatnya. Dia ke tempat security, sekedar bertanya,


"Maaf, dimanakah mobil yang terparkir di situ tadi?"


"Sudah pergi, Bu," jawabnya sopan.


"Terima kasih."


Naura dibuat gundah dengan masalah ini.


Bagaimana mungkin kak Ulya melupakannya. Meninggalkannya di tempat yang belum dia kenal, termasuk Orang-orangnya. Ini semakin membuatnya resah. Ditambah pula, hp nya tertinggal di mobil. Tak bisa menghubunginya.


Akhirnya dia kembali ke masjid itu dengan bersedih dan menangis.


Tak berapa lama masuklah laki-laki yang dilihatnya tadi ke masjid itu juga.


Melihat seorang wanita yang kelihatan gusar dan meneteskan air mata, diapun mendekatinya. Menatapnya dengan iba.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum ..., maaf ibu siapa?"


"Eh ... ya. saya Naura. Saya kesini dengan bapak Bahrul Ulya." jawab Naura gugup. dan mengusap air matanya berlahan.


"Bahrul Ulya, itu kakak saya. Ada hubungan apa ibu dengan kak Bahrul."


Naura binggung harus menjawab apa. Yang sebenarnya mereka belum punya hubungan apa-apa. Dia hanya mampu menggigit bibir saja. Dan kembali air matanya menetes.


Ingin rasanya Mustofa menghubungi kakaknya, tapi diurungkan. Sebab sudah sering kakaknya berurusan dengan wanita yang hanya ingin menjebaknya saja.


"Maaf, saya tak bisa membantu."


"Ya, terima kasih atas perhatiannya,"jawab Naura.


Mustofa pun berlalu dari tempat itu, ingin melanjutkan niatnya untuk sholat dhuha.


Selesai sholat dhuha. Dia masih mendapati Naura duduk dengan gelisah dan sesekali melihat ke arah pintu. Seakan-akan menanti seseorang datang.


Akhirnya Naura mendekati Mustofa.


"Bisakah saya minta tolong."


Meski mustofa ragu, didengarkannya permintaan orang yang belum dikenalnya itu.


"Baiklah, apa yang bisa saya bantu?"


"Tolong hubungi kakak anda. kalau saya, Naura menunggu di sini."


"Jadi ibu bernama Naura."


"Benar, dan saya putrinya nyonya Efsun dan papa Salim.


"Itu tetangga kami. Setahuku tuan Salim hanya memiliki satu putra."


Naura mengambil nafas panjang dan mengeluarkannya secara berlahan. Tak tahu harus mengatakan apa lagi. Dia menyerah.


Sebanyak apapun keterangan yang dia berikan, mentah juga.


"Maaf sudah menyita waktu anda, Pak Mustofa," kata Naura jengkel sekaligus sedih. Tak ada yang bisa dimintai pertolongan.


Kalau dilihat dari tindak tanduk wanita ini. Kelihatannya dia wanita baik-baik. Tapi kok hamil. Apa kak Ulya yang menghamilinya?


Astagfirullah adziim. Mengapa aku berfikiran seperti itu. Bisa saja prasangkaku tak beralasan. Dan ini merupakan dosa besar. Menuduh wanita baik-baik berlaku zina. Naudzubillah minta dzalika.


Mustofa memandang kepergian Naura yang kembali dengan sisa air wudhu di wajahnya. Dan menyaksikan Naura melaksanakan sholat dua rekaat. Dia tak sangsi kalau Naura adalah wanita baik.


Sampai akhirnya dia melihat mobil kakaknya memasuki palataran kantornya kembali. Dia mencoba melambaikan tangan. Untuk memanggil Ulya datang.


Beruntung Ulya melihatnya, dia segera menuju ke masjid, tidak jadi menuju ke tempat parkir.


🔷


fedback


Hari ini sangat menguras emosi Ulya. Waktu masuk ke ruang Mustofa, dia mendapati Kulsum sedang bermain atau entahlah di meja Mustafa. Sepertinya akan mengotak-atik komputer.


"Hai, apa yang mau kau lakukan."tegur Ulya keras.


Kulsum yang kurang mengenal Ulya, menjawab dengan kasar dan balik bertanya.


"Kamu juga siapa. Dan apa urusanmu hingga masuk ke ruangan seorang CEO tanpa permisi?"


Ulya hanya mengangkat alisnya mendengar pertanyaan seperti itu. Apalagi saat itu dilihatnya Mustofa telah kembali, dari kamar kecil yang ada di ruang itu.


"Kulsum, apa yang kamu lakukan di mejaku."


"Aku tak melakukan apapun,"jawabnya enteng.


"Mustofa, geledah dia!"


"Sayang, siapa dia. Berani memerintahmu? "


Kulsum mendekati Mustofa dengan manja.

__ADS_1


Mustofa hanya diam tak memberikan jawaban. Dia hanya menghindar dari tangan Kulsum yang akan menggapainya.


Segera Mustofa memanggil sekretarisnya melalui intercom.


"Bahar, masuklah."


Tak lama masuklah seorang wanita menghampiri mereka.


"Apa yang bisa saya bantu?"


"Tolong geledah dia!" kata Ulya.


Wanita yang bernama Bahar itu segera menggeledah Kulsum. Dan menemukan flassdisk dan melihat hp yang dibawa oleh Kulsum juga.


Dia membuka file-file yang ada di dalamnya. Ada beberapa yang mencurigakan. Semua itu diserahkan pada Ulya.


"Terima kasih."


"Saya kembali dulu, Sir."


"Ya."


"Mustofa kamu sudah melihat sendiri, siapa dia. Sekarang keputusan ada padamu."


Mustofa tertegun apa yang dilakukan oleh Kulsum, orang yang selama ini dekat dengannya. Dan dia mulai membuka hati padanya. Bagaimana mungkin dia sampai tertipu.


Kulsum yang mengetahui tujuan tersembunyinya terbuka jelas, menjadi sangat marah. Dia meninggalkan tempat itu dengan langkah seribu. Yang kemudian dikejar oleh Mustofa.


Sedangkan Ulya meneliti kembali dokumen yang ada di meja Mustofa. Siapa tahu ada yang berkurang. Setelah dirasa semua aman. dia pun bisa bernafas lega.


Tak lama kemudian Mustofa masuk kembali.


"Alhamdulillah semua aman. Jaga baik-baik perusahaan kita. Jangan sampai kecolongan lagi."


"Maafkan Mustofa, Kak."


"Jangan diulangi."


"Ya, Kak."


"Sebaiknya kamu pulang."


"Aku pingin mandiri, Kak."


"Kakak mengerti. Tapi kalau kamu sudah menikah itu lebih baik."


"Akan aku pikirkan, Kak."


"Tak usah. Nanti kamu balik."


"Baiklah, Kak. Ummi sakit?"


"Enggak. Hanya kami mengkhawatirkanmu. Okay. "


"Baiklah."


Selalu gitu, kak Ulya kalau menginginkan sesuatu tak perlu musyawarah lebih dulu. Aku kan bukan anak kecil lagi. Gerutu Mustofa.


Tapi dia mengerti kalau Ulya memutuskan sesuatu sudah dengan pertimbangan yang masak. Pada mulanya agak beban. Tapi kalau dijalani akan dia temukan hikmahnya.


Setelah dirasa selesai, Ulya meninggalkan tempat itu. Untuk melihat perusahaan yang dia kerjakan dengan tuan Hani.


"Kakak mau lanjut, jaga baik-baik."


"Assalamu'alaikum ...."


"Wa'alaikum salam ...."


Dia bergegas menuju tempat parkir dengan pikiran yang penuh oleh kejadian yang baru saja diselesaikannya. Bagaimanapun ada perasaan was-was dalam hatinya. Tapi dicoba untuk membuangnya jauh-jauh.


Tiba ditempat parkiran, dia segera menghidupkan mobil. Ingin segera meninggalkan tempat yang membuatnya pusing. Tanpa ingat bahwa dia datang bersama Naura.


Hampir tiba di halaman perusahaan Buney, perusahaan yang dia dirikan bersama tuan Hani. Dia melihat hp Naura tergeletak di kursi sebelahnya. Baru dia menyadari kalau Naura tertinggal di perusahaan Mustofa.

__ADS_1


Diapun berbalik, melajukan mobilnya menuju Naura berada ....


__ADS_2