Mahabbah Rindu

Mahabbah Rindu
BAB 66 : ke KBRI


__ADS_3

Ketika Faricha dan Rima akan menyiapkan makan malam, bel rumah berbunyi. Dia ingat pesan kakaknya untuk tidak membuka pintu pada sembarang orang. Segera dia melihat cctv yang ada di kamar tengah. Karena saat ini kakaknya sepertinya sedang khusyu dalam kamar. Entah sholat, tidur ataukah bekerja, dia tidak tahu.


Setelah dilihatnya gambar pada cctv, alangkah bahagianya yang datang adalah kakak sepupunya, tak lain dan tak bukan adalah Ulya. Sepertinya dia datang tidak sendiri. Rupanya dia datang dengan papanya Rima, pak Sofyan.


Faricha segera membukakan pintunya.


"Assalamu'alaikum ..., Kak Ulya."


"Wa'alaikum salam ..., mana kakakmu." kata Ulya. Tak sabar menunggu, dia nyelonong begitu saja, melewati Faricha maupun Rima. Dia langsung menuju kamar Mustofa. Meninggalkan Pak Sofyan sendirian di ruang tamu.


"Papa." kata Rima. Diapun memeluk putrinya dan mencium rambutnya.


"Papa tenang, sudah lihat kamu di sini."


"Papa nggak marah?"


Pak Sofyan menggelengkan kepalanya.


"Nanti mamamu juga akan ke sini, karena sebentar lagi keluarga besar Ulya akan datang. Tentu tempatnya tak cukup untuk kita menginap. Sementara ini dia tetap di sana, agar dekat dengan cucunya. Masih kangen."


Terlihat Ulya dan juga Mustofa keluar dari kamar.


"Mana Ifroh.?"


"Oh ya, aku panggil dulu."kata Faricha yang mendengar perkataan Ulya pada kakaknya.


"Ku tunggu."


Dia menuju ke kamar yang satunya. Lalu keluar bersama Ifroh yang terlihat sedih menatap mereka.


"Kita pergi dulu ya ...."ajak Ulya.


"Jangan bersedih, Ifroh."hibur Faricha.


"Ifroh hanya terharu dengan kebaikan kalian."


"Kami sudah menganggap kamu sebagai keluarga."


"Terima kasih, aku pergi dulu."ujarnya berpamitan.


"Kalian aku tinggal dulu. Jangan lupa segera kunci pintunya."ujar Ulya mengingatkan.


"Ya Kak."


"Om, aku titip mereka."


"Jangan khawatir, Nak."


Ketiganya segera pergi meninggalkan mereka berdua dengan pak Sofyan. Sejenak mereka bercengkrama lalu dilanjutkan di meja makan.


🔷

__ADS_1


Sementara Ulya dan Mustofa membawa pergi Ifroh ke KBRI. Dengan diiringi sebuah mobil di belakang mereka.


"Siapa mereka, Tuan." tanya Ifroh yang masih ketakutan. Karena dia mengira dia diikuti oleh orang-orang suruhan majikannya.


"Jangan khawatir, itu teman-teman kakak. Untuk menjaga keselamatan kita, dan juga yang kan mendampingi kamu, nantinya."


Memang Ulya juga ada kecurigaan dengan mobil berwana hitam yang mengikuti mereka sejak mereka keluar dari kompleks apartemen Mustofa. Makanya dia melajukan mobilnya dengan cepat tapi tetap tenang, untuk menghindari dari hal-hal yang tidak diinginkan.


Dia hanya akan merasa aman apabila telah berada di kompleks KBRI,agar bisa memberikan keamanan bagi Ifroh seutuhnya.


Dan juga segera mendapat perlindungan hukum dari negara, karena dokumen-dokumen yang dimilikinya telah disita oleh majikannya, Tuan Fath.


Alhamdulillah, perjalanan menuju KBRI tidak mengalami gangguan hingga sampai tujuan. Karena Ulya sudah mempersiapkan secara matang untuk perjalanan ini. Dia tahu siapa tuan Fath. Yang dulu jadi rivalnya saat memperebutkan duduk menjadi anggota legislatif.


Karena itu, dia juga mengajak beberapa orang pengawal dari orang-orang kepercayaannya selain dari orang yang ada di dalam mobil tadi. Yang mengiringi di belakang tanpa diketahui oleh Mustofa maupun Ifroh, agar mereka tak semakin cemas. Karena pengetahuan mereka tentang tuan Fath tak seluas pengetahuan Ulya yang sudah pernah terjun di dunia politik.


Setelah di terima dengan ramah oleh staf KBRI, akhirnya mereka dipersilahkan untuk menemui seseorang yang sudah diberi wewenang untuk mengatasi masalah itu.


Tak berapa lama mereka tiba di ruangan yang dituju. Mereka disambut dengan hangat.


"Assalamu'alaikum ..., ada yang bisa saya bantu?" tanyanya ramah.


"Saya hanya mengantarkan warga bapak." jawab Ulya sopan.


"Sebentar - sebentar, apakah anda Bahrul Ulya?"


"Iya. Bapak mengenal saya?" ujar Ulya sambil mengangkat alisnya, terkejut.


"Kita pernah satu SMP di Indonesia dulu. Kamu sudah lupa sama saya ya ...?"


"Apakah kamu Suherman."kata Ulya mencoba menebak.


"Akhirnya kamu ingat juga."


"Tak sangka kita bisa bertemu." katanya sambil memeluk dan menepuk-nepuk pundak.


"Alhamdulillah. Apa yang bisa aku bantu?'' lanjutnya.


"Katakan dengan jujur pada mereka. Aku akan mensuportmu."


"Makasih tuan Ulya." jawab Ifroh.


Hingga Ifroh merasa tak canggung lagi untuk mengatakan kejadian yang menimpanya.


"Sebenarnya yang menyiksa kamu itu siapa?" tanya Ulya serius.


"Putranya."


Ulya mengangguk-anggukan kepala, bertanda faham.


"Bu Suci, bisa bantu. Tolong periksa keadaannya dan sekaligus visum sebagai barang bukti."kata Suherman pada salah satu staffnya.

__ADS_1


"Baik, Pak."


"Mari mbak, ikut saya. Nggak usah sungkan, kita sama satu negara, negara Indonesia." ajaknya ramah, yang membuat Ifroh bisa tertawa lepas.


Semantara Ifroh pergi bersama bu Suci. Ulya dan Mustofa masih melanjutkan perbincangannya bersama Suherman tentang masalah hukum yang harus dia selesaikan.


"Aku tinggal sebentar, semoga malam ini lansung bisa kita tindak lanjuti."


"Sudah makan?"


"Tahu aja." jawab Ulya tanpa malu.


" Kamu minta ke kantin sana. Atau kamu mau makan di luar, boleh. Asal kamu balik lagi setengah jam ke depan."


"Okey. Aku makan di luar saja. Mungkin kalau perlu pengacara, aku ada."


"Wah, terima kasih sekali. Itu sangat membantu. Karena hukum di sini mungkin beda dengan hukum di Indonesia."


"Okey, nanti aku ajak."


"Aku tunggu."


Ulya dan Mustofa keluar dari tempat itu, menuju ke restoran yang tak jauh dengan komplek KBRI untuk mengisi perut, yang sekarang baru terasa kalau sedang keroncongan.


Agak terlambat dia kembali. Saat akan memasuki ruangan itu dia agak kaget dengan adanya seseorang yang salah satunya sudah sangat dia kenal. Siapa lagi kalau bukan rivalnya, Tuan Fath.


Dia berhenti sejenak, sebelum memasuki ruangan itu. Didapatinya pula, seorang lelaki yang lain, yang kelihatan serius memijit telpon genggamnya dengan wajah tegang.


"Terima kasih."Terdengar jawaban Suherman yang sampai di telinga Ulya.


"Maaf tuan Fath. Sekarang kepolisian Negara sedang menuju ke rumah tuan. Saya harap Tuan bisa bekerja sama."


"Ya, saya mengerti."jawabnya tanpa ekspresi.


"Saya sangat berterima kasih kalau Tuan Fath bisa bersikap demikian."


Dan sepertinya ke dua tamu tersebut hendak meninggalkan tempat itu, bersama dengan Ulya, Mustofa dan juga teman Ulya akan masuk.


Di pintu, mereka berpapasan.


"Ah Tuan Fath. Tak sangka kita bisa berjumpa kembali."kata Ulya terkejut, menahan amarah dalam hatinya.


"Aku nggak akan melupakan peristiwa ini. Aku akan membalasmu. "bisiknya di telinga Ulya.


"Aku menunggu." jawab Ulya tak kalah geram.


Setelah dirasa mereka telah menghilang, Ulya pun masuk yang disambut senyuman oleh Suherman.


"Alhamdulillah, sudah kami tangani. Tinggal masalah hukumnya. Mungkin perlu 2-3 minggu."


"Ini pengacara yang aku janjikan. Semoga bisa membantu. "

__ADS_1


"Aku geram sekali sama mereka. Sama sekali tak berprikemanusian." kata Suherman marah.


Bagaimana dia tidak geram setelah melihat hasil visum luka-luka yang diderita Ifroh.


__ADS_2