
"Ma, Andre dirujuk." kata pak Sofyan begitu memasuki ruangan.
"Sangat parah ya, Pa."
Pak Sofyan diam tak menjawab.
"Kita berdoa saja, biarkan dokter yang bekerja."
Tak banyak bicara, nyonya Erika mengikuti apa kata suaminya. Dia membereskan semua barang milik Andre.
"Ma, Naura ikut ya?"
"Nak, kamu pulang saja dulu. Biarkan mama dan papa yang jaga Andre."jawab nyonya Erika.
"Kalau sudah sehat, kamu boleh nyusul."
"Pulihkan dulu kesehatanmu," kata tuan Salim.
"Naura, mama bawa Andre dulu."
Naura mengangguk lemah. Menatap kepergian mertuanya yang membawa suaminya.
Ada rasa sedih yang bergelayut di hati, manakala dia menatap kepergian suaminya. Sesaat yang lalu, mereka bergembira, bercanda ria, tertawa bersama, menikmani pagi. Astaghfirullah, hamba lupa padaMu.
"Bagaimana Naura, apa kamu sudah kuat untuk pulang?"
"Ya, Dad. Lebih nyaman di rumah."
"Baiklah. Daddy urus dulu administrasinya. Kamu tunggu di luar bersama mommymu."
"He eh." Naura mengangguk.
💎
"Mam, kita ke mana?"
Naura merasa daddynya membelokkan mobil ke arah yang salah. Dari jalan yang biasa dia lalui menuju ke rumah pak Farhan.
"Ke rumahmu, Naura."
"Rumahmu dan suamimu." jawab nyonya Efsun menambahkan.
Pak Sofyan mendadak mengererm mobilnya.
"Ada apa Dad?"
"Tidak ada apa-apa, Sayang."
Sebenarnya pikiran tuan Salim saat ini kurang bisa fokus. Dia masih terngiang-ngiang dengan keterangan yang diberikan dokter Fadhil, tentang kondisi Andre saat ini.
"Maaf tuan-tuan, kondisi putra bapak dari luar sepertinya utuh. Tapi karena benturan-benturan yang dialaminya, mungkin mengalami luka dalam yang cukup parah. Kita hanya bisa berusaha, berharap dan berdoa."
Tak sampai hati dia menyampaikan hal itu pada istrinya, apalagi putrinya.
Baru saja mereka bahagia, haruskah mereka berpisah. Tuan Salim tidak bisa membayangkan itu akan terrjadi pada putrinya.
"Makasih, Mam, Dad. Mas Andre pasti suka."
Naura mencium pipi nyonya Efsun dan juga tuan Salim, sesaat setelah sampai di rumah itu. Rumah yang indah, mungil dengan dua lantai. Dan sejuk dengan dikelilingi pohon-pohonan. Rumah yang selama ini dia impikan.
"Nach ini putrimu, Dad."
Senyum nyonya Efsun mengembang melihat kemanjaan putrinya. Sedangkan tuan Salim hanya diam. Lalu merangkul Naura, mencium keningnya dengan sedih.
"Sekarang istirahatlah. Ba'da maghrib daddy ajak menjenguk suamimu. Dan siapkan bajumu juga. Mungkin putri dady perlu tidur di sana."
"Baik, Dad."
Berdua mereka masuk, meninggalkan tuan Salim sendirian di luar. Dia duduk bersandar di sebuah kursi yang ada di beranda. Memandang bunga angrek yang baru dibeli istrinya. Tergantung indah di pohon jambu air kancing yang berbuah lebat.
Setelah sekian lama dalam kesendirian, nyonya Efsun keluar menghampirinya. Sambil membawa 2 cangkir teh.
"Bagaimana Naura."
__ADS_1
"Sudah pulih. Sekarang dia tidur."
"Mam. Aku tak tahu bagaimana menyampaikan ini pada Naura."
"Maksud daddy?"
"Keadaan nak Andre sangat parah. Untuk selamat, kecil kemungkinan."
Nyonya Efsun tertunduk sedih. Lalu menatap suaminya dan berkata, "Kita tunggu perkembangannya. Dan kita doakan yang terbaik."
"Ya, Mom. Itu yang terbaik."
💎
Sudah hampir satu bulan Andre berbaring di rumah sakit. Dia belum juga sadarkan diri. Dengan sabar Nur menungguinya, bergantian dengan mama Erika.
"Ulya ... Ulya ..." lirih terdengar suara Andre menyebut nama seseorang.
Mengapa nama itu yang dia sebut dalam tidurnya. Membuat Nur merasa berdosa. Apakah sampai saat ini suaminya belum yakin padanya. Sehingga kecemburuan itu hadir dalam mimpi.
Ada butiran peluh menghias dahinya. Nur mengusapnya dengan kain basah.
"Mas. Lihatlah aku disampingmu. Janganlah kamu tertutup oleh kecemburuanmu. Hingga dirimu tak mau membuka mata."bisik hati kecil Naura.
"Naura, istirahatlah. Biar mama yang jaga."
"Tidak, Mam. Mama saja yang istirahat. Biar Nur yang jaga."
Kata Nyonya Erika yang baru saja datang sore itu.
"Tapi makanlah dulu. Jaga kesehatanmu juga."
"Iya, Mam."
"Mama bawakan kesukaan Andre. Mungkin kamu suka. Mama masih belum tahu makanan kesukaaanmu."
"Terima kasih sekali. Nur pasti suka."
"Makanlah, keburu dingin."
Nur membuka, menatap makanan itu sejenak. Lalu mengambil beberapa sendok nasi serta lauk pauk yang tersedia. Memakannya dengan pandangan tak lepas menatap Andre.
"Mas, hanya 3 hari saja kita makan selalu sepiring berdua. Dan kamu selalu mencari kesempatan untuk menyuapiku. Aku rindu, bukalah matamu, Mas."
Baru beberapa suap, Nur sudah tak bisa melanjutkan makannya. Dia menghampiri Andre dan memegang tangannya. Hingga tak sadar diapun tertidur.
Dia terbangun saat merasa ada sebuah tangan membelai kepalanya dan menyentuh hidungnya.
"Naura, Sayang." suara lirih memanggil namanya.
Nur terbangun oleh suara itu. Dan melihat mata Andre yang terbuka.
"Mas."
Tak terkira bahagia hatinya, melihat suaminya sudah sadar. Tak henti-hentinya dia mencium tangan suaminya. Hingga dia meneteskan air mata.
"Aku bangunkan mama ya?"
"Jangan. Aku nggak kepingin mama tahu dulu."
"Aku hanya ingin mengatakan i love you."
"I love you too."
"Naura, tidurlah di sofa itu, kamu lelah Sayang."
Ya Allah, ternyata itu hanya mimpi. Nur menatap sendu pada tubuh yang terbaring di depannya.
Lalu melangkah pergi menuju sofa. Dia memang benar-benar lelah, tapi dia tak pernah mengeluh. Hingga nyonya Erika kasihan terhadapnya. Apalagi saat melihat tubuh Nur semakin kurus. Dia semakin tidak tega.
"Kali ini jangan membantah mama."
"Maafkan Naura, Mam."
__ADS_1
Diapun merebahkan tubuhnya yang lelah untuk istierahat sejenak.
Hingga hampir jam 12, Nur baru terjaga. Saat nyonya Erika sudah dijemput oleh pak Sofyan.
Di sepertinya malam, sesaat setelah dia melakukan tahajud. Naura melihat jari-jari tangan suaminya bergerak.
Dia melompat mendekati suaminya karena gembiranya. Dengan masih menggunakan mukena, dia meraih tangan suaminya.
"Mas."
Berlahan-lahan mata Andre terbuka.
"Sayang, haus."
"Ya, Mas."
Naura mengambil air mineral beserta sedotannya. Terlihat samar Andre menggelenghkan kepala. Naura segera mengambil gelas dan sendok, untuk membantunya minum. Sesendok demi sesedok air itu telah diminum Andre.
"Terima kasih, Sayang."
"Alhamdulillah mas sudah siuman."
"Ini dimana?"
"Di rumah sakit. Sudah mas jangan banyak berfikir."
Beberapa perawat masuk dan memeriksa keadaan Andre.
"Bagaimana keadaannya?"
"Baik, berikan yang dia mau, Bu."
"Apakah ada larangan makanan atau minuman."
"Tak ada. Hanya saja yang lembut-lembut itu lebih baik"
"Terima kasih."
"Sama-sama, mari bu."
"Sudah berapa hari aku tak sadar?"
Nur hanya tersenyum, lalu mencium pipi suaminya.
"1 bulan."
"Sayang, boleh ambilkan air lagi. Mas haus."
Nur tersenyum mengambil kembali gelas itu. Dia melakukannya kembali dengan berlahan.
"Terima kasih, Sayang."
Tak lama kemudian terdengar alunan adzan subuh yang dikumandangkan di lingkungan rumah sakit.
"Subuhkah ini?"
"Iya, Mas."
"Mas ingin sholat."
"Baiklah tayamum saja, Mas."
Tak lama Andre mengedipkan mata dan sedikit menggerakkan tangan untuk melakukan sholat.
Nur juga melakukan sholat di sebelah tempat tidurnya.
Setelah selesai, dia menghampiri suaminya. mencium tangannya.
"Aku hubungi mama ya, pasti mama gembira mendengar mas sudah siuman."
Andre tersenyum, membiarkannya. Terlihat ketenangan dari pancaran matanya.
"Tapi bisakah sayang menghubungi Ulya."
__ADS_1
"Mas?"
Andre hanya mengedipkan matanya. Tak ingin permintaannya ditentang.