Mahabbah Rindu

Mahabbah Rindu
BAB 80 : Kisah Masa Lalu


__ADS_3

Mustofa mengikuti langkah Ulya kemana dia pergi. Akhirnya mereka berhenti di sebuah pohon palem yang ada di tepi pantai.


Ada sebuah meja dan juga sepasang kursi kayu oak yang bercat putih. Tampak begitu artistik.


Dari sana dapat terlihat deburan-deburan ombak yang berkejaran ke tepi pantai. Sungguh pemandangan yang sangat indah.


Namun tak demikian dengan suasana hati Ulya. Dia hanya memandang nanar atas pemandangan ini. Tak terkira rasa yang harus ditahannya, ada amarah, ada kecewa, ada juga rasa sakit yang tiada terkira. Karena pengkhianatan dan luka yang menganga. Semua menjadi satu. Yang kini hendak diurai.


Selama beberapa menit, Ulya membiarkan suasana dalam kesunyian. Sehingga membuat Mustofa bertanya-tanya. Tapi dia tidak ada keberanian untuk memulainya.


Akhirnya Ulya angkat bicara juga.


"Ada hubungan apa kamu dengan Hagya?"


Mustofa tak menyangka akan mendapat pertanyaan seperti itu. Dia diam tak bersuara.


Membuat amarah Ulya bergejolak. Sehingga tanpa sadar dia dia mengebrak meja yang ada di sampingnya.


"Katakan!"


"Kakak, aku ... aku ...."


"Bisa-bisanya kamu mengkhiati kakakmu ini."


Saat ini Ulya benar-benar di puncak amarahnya. Satu tamparan keras dia daratkan pada Mustofa. Sehingga tubuhnya terhuyung dan jatuh dari kursi yang dia duduki.


Mustofa menahan tangisnya. Teringat akan kejadian yang menimpanya, 4 tahun silam.


"Baiklah, Kak."


Mustofa mengambil nafas berat, lalu melepaskannya secara berlahan. Meski banyak keraguan dalam hatinya, tapi dia mencoba memberanikan diri mengungkapkan semua. Yang selama ini disimpannya dengan sangat rapat.


"Maafkan aku, Kak. Bukan maksudku mengkhianatimu."


Kembali wajahnya tertunduk, tak berani menatap wajah Ulya yang semakin memerah karena amarah.


"Malam itu ...


💎


Kisah empat tahun silam.


"Mustofa, aku pulang dulu. Ya."


"Baik, Senator Bahrul Ulya" sahut Mustofa sambil tertawa.


"Ada saja kamu. Jangan panggil seperti itu." kata Ulya sambil tertawa.


Mentertawakan dirinya yang terseret pada kehidupan politik yang tak dikehendakinya. Semua dijalani karena keputusan abbah dan ummi yang amat keras padanya.


"Aku lebih suka mengembangkan arsitek. Lalu mendirikan perusahaan daripada jadi senator macam kaya ini."


"Kakak berbakat juga jadi senator." jawab Mustofa


"Bukan masalah berbakat atau tidak, masalahnya suka atau tidak." jawab Ulya.


"Tapi kak Ulya menikmatinya, kan?"


Ulya hanya senyum-senyum dikulum, menjawab pernyataan Mustofa. Memang dia menikmatinya ....


Terlanjur basah, mandi sekalianlah. Begitu kata pepatah.


"Beberapa hari ini, mungkin aku nggak bisa ke perusahaan. Tolong atasi semuanya .... Kalau nggak urgen banget jangan menghubungiku."


"Yeaaach ... Kakak, sok penting."


"Ini beneran. Jangan anggap main-main." kata Ulya serius.


Membuat Mustofa tak bisa menahan tawa.


"Oke-oke. Tapi aku masih harus banyak belajar, Kak. Masih banyak yang nggak aku fahami."

__ADS_1


"Nggak apa-apa. Asal kamu tekun, semua pasti terselesaikan." jawab Ulya yang masih memutar-mutar kursi kebesarannya.


"Ngerti nggak ngerti, harus ngerti." tegas Ulya.


Yang disambut anggukan kepala berkali-kali oleh Mustofa sambil menatap berkas di depannya.


"Kamu faham, nggak."


"Apa, Kak?" sahut Mustofa menatap Ulya dengan dengan senyum cengir kudanya.


Nach, kan. Dari tadi ceramah tidak diperhatikan sama sekali oleh manusia satu ini, gerutu Ulya.


"Ya, sudah. Pelajari berkas-berkas itu, yang bagianmu. Nanti aku tunggu laporannya."


"Beres, Kak."


"Aku balik dulu, mau rapat partai. Besok ada sidang komisi."


"Beres, Kak. Jangan khawatir, aku pasti bisa menggantikan kakak di sini." jawab Mustofa mantap.


"Gitu dong. Kalau aku kemana-mana, jadi tenang. Jaga sholat 5 waktu."


"Makasih, diingatkan."


"Assalamu'alaikum ...." ucap Ulya meninggalkan Mustofa yang masih berkutat dengan setumpuk berkas-berkas.


"Wa'alaikum salam ...." jawabnya, tanpa menoleh sedikitpun pada Ulya.


Dia ingin segera menyelesaikan pekerjaan itu, dan pulang. Tidur dengan nyenyak.


Saat jarum jam menunjukkan pukul sepuluh, diapun mengakhiri pekerjaan. Merapikan mejanya, lalu keluar seorang diri melewati lorong-lorong kantor yang tampak sepi.


Hanya beberapa karyawan masih ada. Mungkin juga karena lembur seperti yang dia lakukan saat ini.


"Malam, Pak."kata seorang pegawainya.


"Malam juga. Kamu nggak pulang?"


"Ya sudah, aku tinggal dulu."


"Ya, Pak."


Mustofa melangkahkan kaki menuju tempat parkir, dengan beberapa kali menguap, karena kantuk yang mulai menyerang.


Dengan enggan, dia menghidupkan mobilnya, meninggalkan kompleks perkantoran. Menuju jalanan yang mulai lenggang.


Mungkin karena teramat kantuk, dia tak melihat seseorang tengah menyeberang jalan. Beruntung dia segera menghentikan kendaraannya.


Namun tak pelak, mobilnya telah menyentuh orang itu. Sehingga terduduk di depan mobilnya.


Mustofa segera turun, dan menghampirinya. Ternyata dia seorang wanita.


"Nona, apakah anda tak apa-apa." tanyanya.


Terlihat, dia mengerang kesakitan, meski tak tampak kalau dia terluka.


"Aku tak apa-apa. Tapi tak tahu dengan kakiku."


"Apa perlu aku bawa ke dokter."


"Tak perlu. Ini diurut sedikit pasti juga sembuh." jawabnya.


Lalu berlahan, dia mencoba berdiri. Terlihat dia meringis menahan sakit. Mustofa pun mencoba memapahnya agar tak jatuh.


"Nona, mau ke mana malam-malam begini."


"Aku nggak mau kemana-mana. Aku dari kantor hendak pulang."


"Oh, maafkan saya. Kalau begitu, biar nona saya antar pulang."


"Maafkan saya." kata wanita tadi.

__ADS_1


"Saya yang seharusnya minta maaf." kata Mustofa sambil memapahnya wanita itu menuju ke mobilnya.


"Terima kasih." kata wanita itu setelah bisa duduk di mobil Mustofa.


"Ya."


Mustofa menuju sisi yang lain. Duduk tenang di belakang kemudi.


"Rumah nona dimana?"


"Tak jauh dari sini. Hanya 400 meter"


Mustofa melajukan mobilnya berlahan-lahan. Agar bisa dengan tepat menghentikan mobilnya.


"Nach itu!"teriaknya lirih, sambil menahan sakit.


"Kamu tinggal di apartemen?"


"Iya."


Lalu dia memarkirkan mobil itu di depan Apartemen yang ditunjuknya.


Wanita itu membuka pintu mobil ingin segera keluar. Tapi dia terduduk kembali. Karena sakit yang dirasa pada kakinya.


"Maaf nona, mau aku bantu."kata Mustofa sopan.


"Sepertinya begitu, terasa banget sakitnya."


Setelah dia keluar dan menutup pintunya, dia menuju ke arah wanita itu.


Kembali Mustofa harus memapahnya. Karena terlihat dia amat kesakitan. Akhirnya Mustofa berinisiatif untuk menggendongnya.


"Boleh aku menggendongmu, Nona."


"Maaf, tak usah."


"Tidak apa-apa. Nona seperti ini juga karena saya."


"Baiklah."


Akhirnya Mustofa menggendong wanita itu, hingga ke apartemennya yang ada di tingkat 7.


Setelah sampai di depan pintu, baru dia menurunkannya. Agar dia bisa membuka pintu dengan segera.


Mustofa menuntunnya berlahan, menuju sofa yang ada di ruang tamu.


"Duduklah , di situ. Biar aku urut kakimu. Agar cepat sembuh."


Dia hanya diam, tak menyahuti kata-kata Mustofa.


"Tidak, tapi tolong ambilkan minyak urut di kotak obat."


"Baiklah."


Mustofa mencari-cari keberadaan kotak obat di ruang itu dan ruang yang sebelahnya, namun tak ditemukan.


"Dimana?"


"Ah, aku lupa. Tolong ambilkan di kamar itu." jawabnya sambil mengangkat kakinya ke atas meja.


...


...


....


SELAMAT MEMBACA dengan bahagia


Jangan lupa like maupun votenya.


coment maupun saran juga boleh.

__ADS_1


__ADS_2