Mahabbah Rindu

Mahabbah Rindu
Lanjut Untuk Rima


__ADS_3

Kalau Tuhan sudah berkehendak, berlikunya jalan tak menghalangi keinginan yang jadi tujuan. Demikian juga dengan apa yang terjadi dengan Rima dan Mustofa. Setelah sekian lama ditemani budak-budak kecil yang hampir mengubah segala rencana mereka. Akhirnya kesempatan itu datang juga. Menghibur Rima dengan dirinya seorang.


Harapan itu terwujud manakala terdengar bunyi dering dari handphone-nya.


"Mustofa, kamu di mana?"


Ah ... rupanya dari Ahmad.


"Aku di alon-alon kota, nemenin anak-anak lihat pasar malam."


"Anak-anak dicari orang tuanya tuch ... aku ke sana, jemput mereka. Posisi kamu?"


"Wahana Kincir angin."


"Baiklah, tunggu aku di situ saja."


"Oke ..."


Begitu telpon ditutup, pandangan Mustofa segera tertuju pada kincir yang sedang berputar. Dilihatnya Devra dan Rima, Noval dan Novi sedang berada di puncak-puncaknya. Berteriak lepas, antara gembira dan ketakutan akan ketinggian, bercampur jadi satu.


Mustofa menyaksikannya pun ikut senang. Dia menunggu mereka di pintu keluar dengan sabar. Meski dengan hati dag dig dug juga. Apalagi saat melihat mereka di puncak dan berteriak. Hatinya menjadi tenang manakala posisi mereka barempat berada di dasar. Dan segera menghampirinya. Tapi sayang rupanya, kincir itu tak hendak berhenti. Sekali lagi kincir itu berputar, mengantar mereka ke puncak kembali, dengan berputar yang tiada henti.


Setelah beberapa saat, baru Mustofa benar-benar lega. Manakala kincir itu benar-benar berhenti dan mereka turun dari sangkar tertutup, lalu membuka dengan sendirinya. Mustofa menyambut mereka dengan senyum mengembang sempurna.


"Om, tadi asyik sekali. Bisa lihat kota." celoteh Novi


"Ternyata indah sekali kota ini di malam hari." imbuh Devra.


"Aku mau naik lagi, Om." kata Noval tak mau kalah.


"Benarkah. Lain kali kita main sini lagi."


"Besok kita sudah balik. Tak mungkin, Om."


"Tapi orang tua kalian sudah menunggu kalian."


"Ya .... Nggak bisa main lagi dong. Enakkan Devra ... dia tinggal di sini. Bisa main lagi."


Mustofa tak begitu menanggapi protes anak-anak. Dia tetap mengajaknya keluar dari wahana tersebut. Diiringi Rima yang berjalan paling akhir dan menggandeng Devra. Khawatir kalau-kalau ada yang tertinggal. Yang tak bisa disembunyikan darinya adalah lepasnya emosi kesedihan dari dalam dadanya. Berganti dengan kegembiraan yang kini tampak dalam senyumnya yang lepas.


Tak perlu menunggu terlalu lama, terlihat dari jauh, Ahmad datang menghampiri mereka.


"Om Ahmad ...." panggil Noval dan Novi.


"Hai kalian ...." balas Ahmad.


"Syukurlah, kalian di sini. Om bingung cari kalian."


"Kita pulang. Ummimu nyari. Mamamu juga Devra."


"Ya .... Kita belum puas, Om."


"Sudah malam. Tak baik. Ayo ...." ajak Ahmad. Mau tak mau mereka mengikuti Ahmad melangkah ke parkiran. Diantar oleh Rima dan juga Mustofa. Dengan senyum bahagia Mustofa menatap kepergian krucil hingga hilang dari pandangan.


Hilang sudah gangguan yang telah merusak rencananya.

__ADS_1


"Kita lanjutkan dinnernya?"


"Dinner?" tanya Rima balik.


"Biar keren gitu lho."


"Wallahh .... Makan pinggir empang aja di bilang dinner. Atau ... paling-paling di kaki lima."


"Wah. Penghinaan .... Ayo jalan, mau pilih restoran mana. Oke." tantang Mustofa.


"Aku mau restoran untuk yang kali ini, benar-benar istimewa."


"Seperti apa?"


"Yang benar-benar romantis. Dan pasti menu paling enak nggak ada duanya."


"Oke .... Aku tunjukkan yang kamu mau."


Mustofa mengangkat telpon sejenak, sebelum menjalankan mobilnya kembali.


"Sekarang siap meluncur ... Mengantar nona besar menikmati dinner. Tapi sebelumnya, kita keliling kota dulu, melihat suasana kota Istambul di malam hari."


"Tawaran yang menyenangkan. Dengan senang hati."


Susah-susah gampang, menghibur hati orang yang belum move on. Tawa boleh terdengar, senyum boleh mengembang, tapi hati siapa tahu. Sekali-kali canda Mustofa lontarkan, untuk mengurai kebisuan yang sering kali terjadi.


"Kapan sampainya nich?"


"Rupanya tuan putri sudah sangat kelaparan."


Mustofa membelokkan mobilnya ke arah sebuah restoran klasik dengan desain yang sangat menawan.


"Bagaimana ...?"


"Untuk tempat ... oke. Sempurna, sesuai dengan bayangan."


"Sekarang kita masuk. Nikmati saja kejutannya."


Mustofa berjalan dengan semangat hingga membuat Rima sedikit kewalahan mengikutinya. Apalagi postur Mustofa tinggi dengan langkah lebar, sedangkan dirinya .... Meski tinggi tapi hanya sampai bahunya saja. Tentu saja langkahnya tak selebar Mustofa. Sehingga mau tak mau dirinya harus meraih lengan Mustofa untuk bisa mengiringinya.


"Tunggu dong ...."


"Eh ya ... aku lupa." jawabnya dengan senyum-senyum. Melihat tangan Rima yang berpegangan erat pada lengannya. (Readers ini bukan jebakan lho, tapi asli ketidak sengajaan)


Kalau gini, mau tak jadikan istri sekalian, biar bisa pegang lenganku terus. Pikiran jahil mulai mengusik pikirannya. Nach lho ....


Memasuki ruangan restoran terlihat makin indah, dari segi dekorasi dan tata ruangnya. Mustofa benar-benar memenuhi janjinya. Dia membawa Rima di restorant yang favorite untuk semua lidah. Buktinya dengan pengunjung tidak hanya dari orang sini saja. Ada terlihat banyak orang Asia , Eropa, Arab bahkan Afrika ada di sana. Hampir memenuhi seluruh kursi yang tersedia.


"Ramai banget, gini ya ... suasana dinner?"


"Sabar ...."


Mustofa terus melangkah hingga sampai ke sebuah pintu menuju taman, berada di belakang restorant, dengan tangan Rima masih megang erat lengannya.


Di sana telah ada beberapa rangkaian sebuah meja dengan sepasang kursi. Dengan letakmyang saling berjauhan. Tapi sayang, terlihat semua sudah terisi.

__ADS_1


"Lha mana untuk kita. Atau kamu mau ajak aku makan di atas rumput. Kalau itu sich ... di alon-alon tadi." ujar Rima agak kesal.


Mustofa sepertinya tak peduli, ditatapnya Rima dengan senyum menawan.


"Kamu tambah cantik kalau sedang marah."


Bukan maksudnya merayu, tapi entah kenapa kata itu yang keluar. Padahal hanya ingin meredakan rasa kesal yang mulai menyerang Rima.


"Dasar play boy."


"Hati-hati dengan play boy ...." bisik Mustofa di telinga Rima. Membuat Rima tersadar, dan segera melepaskan tangannya dari lengan Mustofa.


Mustofa tertawa senang, lalu memanggil seorang pelayan yang datang dengan segera dengan memberikan selembar sapu tangan putih pada Mustofa.


"Sekarang tutup mata!"


"Apa-apa an sich!"


"Percaya dech ...."


"Jangan ngapa-ngapain lho ...."


"Tenang saja, mbak ini jadi saksinya."


"Baiklah."


Akhirnya Rima menurut juga. Dia menutup matanya dengan suka rela. Lalu Mustofa menutup matanya dengan kain putih itu.


Dengan dibantu oleh pelayan, Mustofa menuntunnya berjalan.


"Sudah sampai ...?"


"Belum ...." bisik Mustofa.


"Bisa-bisa aku tertidur nich .... Mata sudah tertutup."


"Memangnya bisa?"


"He ... he ... he ...."


Akhirnya Mustofa menghentikan langkahnya.


"Alhamdulillah sudah ...."


"Kapan nich ... sapu tangannya dibuka?"


Tak ada sahutan.


"Kak ... Kak ... Kak Mustofa. Jangan permainkan aku." teriak Rima kalut. Segera dia berusaha membuka sendiri penutup matanya.


"Kak Mustofa. Kamu kok tega sama aku." ucap Rima panik. Saat mendapati hanya kegelapan yang dilihatnya.


"Kak aku takut gelap ...."


Terlihat bayangan manusia dari jauh membawa api kecil ....

__ADS_1


....


__ADS_2