
Readers yang budiman ....
ijink aku mengucapkan
Taqobballahu minna wa minkum.
syiyamana wa syiya makum
selamat hari raya idul fitri
mohon maaf lahir batin.
--------------------------------+++++----------------+
"Kak Mustofa, kamukah itu?"
Tak lama laki-laki itu sudah berada di hadapannya. Dengan sebuah lilin yang menyinari keduanya.
"Takut ya ...."
"Jangan bercanda!"
"Maaf. Ternyata dari segi acara ada yang terlewat. Terpaksa aku sendiri ngambil lilinnya."
"Haaalllaaah ... bilang saja sengaja."
"Bukan begitu skenarionya."
Rima tampak semakin kesal. Ingin rasanya menumpahkan segala kekesalan itu pada orang yang sampai saat ini tak berhenti menggodanya. Tapi Mustofa sepertinya tak peduli. Hingga membuatnya bertambah kesal ... dan kesal. Yang bisa dia lakukan hanya melirik tajam dengan bola matanya yang membulat pada Mustofa.
Sedangkan Mustofa, mendapatkan tatapan seperti itu malah menikmatinya dengan bahagia.
"Ups ... salah lagi dech gue ...." kata hati yang hendak disembunyikan, namun terlontar juga.
Rima segera membuang muka dengan ... kesal ... kesal ... kesal ....
"Baiklah, ayo!" ajak Mustofa dengan tawa yang amat sangat ditahannya.
Mustofa mengajak Rima menghampiri sebuah meja dengan sepasang kursi di sekitarnya. Dia meletakkan lilin itu di atasnya. Suasana memang benar-benar romantis. Di bawah sinar bulan yang terang. Ditambah dengan cahaya lilin yang samar. Apalagi tiba-tiba satu persatu lilin tampak mengambang di atas kolam yang ada di samping mereka.
"Bagaimana ...?"
Dengan senyum malu-malu diapun menjawab," Oke, makasih kak Mustofa yang play boy ...."
Dikatakan play boy, Mustofa sama sekali tak marah, malah senyum-senyum menatap Rima. Semakin membuat Rima terbuka untuk menumpahkan kekecewaan, kekesalan dan keterpurukkan yang kini melandanya.
"Sekarang tinggal satu. Silahkan buka ...."
Untuk sesaat Rima melupakan rasa kesalnya. Tapi dia masih ragu dengan apa yang ada di dalamnya. Jangan-jangan nanti sesuatu yang ....
"Bukalah!"
"Ini bukan jabakan, kan?"
"Idih, nggak percaya banget."
"Baiklah ... baiklah ...." jawab Rima sambil memandang lekat tudung aluminium yang ada depannya.
__ADS_1
Entah mengapa Mustofa ingin sekali menggodanya sekali lagi. Ketika Rima berlahan membuka tudung saji itu. Dia berteriak ....
"Katak !!!"
Spontan Rima melempar tudung saji itu ke depan, hingga tepat bersarang di kepala Mustofa.
"Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun ...." ucapnya spontan, sambil mengambil tudung saji yang bertengger di atas kepalanya.
Setelah meletakkan benda tersebut di tempatnya, dia mengusap rambutnya yang memang terasa sakit. Berlahan-lahan, jari-jarinya menyentuh sebuah daging yang menonjol di sela-sela rambutnya ....
"Waduh, benjol." kata Mustofa sambil meringis.
"Syukur, rasaaiiiiinnnn ...." bisik Rima sambil tersenyum senang. Menatap Mustofa yang sedang kesakitan.
"Tega ...."
"Salahnya sendiri suka ngenggoda. Aku jadi kaget, kan."
"Tak ada minta maaf?"
"Tak ...."
Mustofa harus mengambil nafas panjang. Menyerah kalah dengan keusilannya sendiri yang baru saja dia lakukan. Tapi diapun ikut tersenyum menatap Rima, yang sedang asyik menikmati kemenangannya.
Rima segera menglihkan pandangan pada hidangan, yang sudah terbuka di depannya. Ada dua buah lobster yang cukup besar berada di atas piring saji. Sayang dua mata lobster yang mau keluar itu, sedang menatapnya dengan tajam. Hingga kekesalannya muncul kembali. Selera makannyapun menjadi hilang seketika.
"Ada apa?"
"Nggak ...."
"Tak suka?"
Seketika tawa Mustofa meledak. Melihat ekspresi Rima yang tampak enggan dan kesal, melihat sajian di depannya.
"Mau marahi kamu."
"Menyebalkan." kata Rima.
Dia mengambil lobster itu, memotong-motongnya dengan marah. Lalu membiarkannya begitu saja. Entah apa yang ada dalam bayangan Rima, sampai-sampai dia bertingkah seperti kekanak-kanakkan.
Terus terang, Mustofa dibuatnya melongo dengan tindakannya. Itu hewan bergengsi, bergizi tinggi, hanya orang tertentu yang bisa menikmati, kok tersayat-sayat tanpa guna. Tapi yang membuatnya lebih terheran lagi, sesaat selesai memotong lobster itu, dia menunduk dan menangis sesegukkan.
"Malam ini semuanya menyebalkan. Kak Ulya, Nur dan kamu juga kak Mustofa. Semua mempermainkanku. Nggak perduli perasaanku ...." ucapnya beruntun disela-sela tangisnya.
Untuk beberapa saat, Mustofa diam. Menunggu ungkapan suara hati Rima keluar lewat kata-kata dari bibirnya. Dia paham betul saat ini Rima merasakan hati yang benar-benar patah. Tapi dia tak bisa berbuat banyak.
Akhirnya dia mendekati Rima dan berjongkak di hadapannya. Ditatapnya mata yang basah oleh air mata milik Rima.
"Maafkan kak Ulya dan kak Naura, aku juga. Bukan kami hendak menyakitimu. Sungguh tak ada maksud sedikitpun dari mereka untuk membuat dirimu terluka. Suatu saat kamu akan mengerti bahwa mereka sudah memendam cinta itu sejak lama."
"Tak mungkin ... Yang kutahu kak Andre berpesan agar Nur selalu dalam penjagaannya."
"Mungkin kamu sulit untuk percaya. Aku juga .... Saat kak Ulya terluka atau bersedih, selalu studio lukis yang di tujunya. Aku lihat di sana banyak lukisan gadis kecil yang diberi inisial Nur Aini. Apa benar kak Naura bernama Nur Aini waktu di Indonesia."
"Benar ...."
"Dia gadis kecil kak Ulya."
__ADS_1
"Memang dia tak pernah bercerita masa kecilnya."
"Makanya jangan cemburu kalau sekarang bersama."
"Itu sulit ... Tapi akan kucoba."
"Aku suka kamu begitu. Sekarang hapus air matamu. Kita makan!"
Sekali lagi dia menatap bening mata Rima yang sembab. Lalu dia mengeluarkan sapu tangan putihnya. Diberikannya benda itu pada Rima. Lalu dia beranjak dari jongkoknya, menuju ke tempat duduknya semula.
"Maafkan aku. Merusak acara makan kita."
"Tak apa." jawab Mustofa lembut.
Dia mengambil lobster yang sudah tercacah-cacah, mengupasnya dengan sempurna. Lalu memberikannya pada Rima.
"Makanlah ...."
Tak mampu dia menolak pemberian Mustofa. Dia memakannya berlahan meski dengan tertunduk malu.
"Terima kasih. Kakak nggak makan?"
"Setelah kamu kenyang." kata Mustofa tanpa menghentikan mengupas lobster di hadapannya. Lalu memberikannya sekali lagi pada Rima.
Rima segera mengambil garbu itu. Balik memberikannya pada Mustofa. Mustofa tersenyum. Dia menerimanya dan memakannya dengan lahap pula.
"Sudah. Kita makan sendiri-sendiri saja. Biar cepat, sudah malam."
"Kenapa memang?" tanya Rima.
"Bikin jantungku berdebar-debar. Kalau pasangan halal sich oke ... Sekarang, bikin diriku mengharap lebih."
Tak pelak, jawaban Mustofa membuatnya tersenyum.
"Nach, siapa yang mulai ...."
"Maaf, khilaf .... Tapi aku tak bermaksud apa-apa."
"Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih atas suapan yang kakak beri."
"Ya sudah. Ayo makan .... Sepertinya sudah teramat malam. Takut papamu cari."
"Baiklah ...."
Untuk beberapa saat, suasana dalam kesunyian. Hanya terkadang terdengar bunyi denting garbu atau sendak dan juga pisau yang menyentuh piring, tempat mereka makan. Tak terasa 2 ekor lobster itupun habis oleh mereka. Setelah itu baru kemudian mereka menghabiskan jus jeruk yang tersedia.
"Nach, bagaimana?"
"Terima kasih untuk dinnernya, Kak."
Sebelum beranjak dari tempat duduknya, Mustofa memperhatikan sejenak wajah Rima yang masih memperlihatkan bekas-bekas tangisnya.
"Kamu cuci muka dulu, nggeh. Masak pergi cantik, pulang-pulang sembab begini."
Rima tersenyum mendapatkan perhatian dari Mustofa.
"Di mana toiletnya."
__ADS_1
"Ayo ..."