
Ulya yang melihat Naura tak sadarkan diri , segera mengangkatnya ke atas sofa.
"Naura, ini kakak."
Dia mengambil minyak kayu putih. Memberikan bau-bauan itu pada hidung Naura,
Tak lama tubuh Naura bereaksi, tapi tak mau membuka mata. Berlahan dia memeluk Ulya dengan erat dengan terisak.
"Kak, mas Andre."
"Ya."
Tak ada kata yang keluar dari bibirnya. Karena dia juga merasakan kehilangan yang sama.
Sementara mama Erika yang mendengar teriakan Naura segera masuk. Sesaat dia binggung dengan apa yang terjadi. Tapi kemudian, dia dengan cepat mengangkat telpon menghubungi suaminya.
"Pa, Andre pa!"
Lalu dia menutupnya kembali, tanpa peduli apakah sudah didengar atau belum.
Dia sangat panik, melihat keadaan Andre. Setengah berlari menuju tempat dokter jaga.
Tak lama kemudian dia kembali dengan diiringi oleh seorang dokter dan juga 2 orang perawat.
Mereka memeriksanya dengan menggunakan seluruh peratan, langsung terhubung dengan layar monitor. Sejak semalam sudah dilepaskan dari tubuh Andre.
Maka tergambar di sana, bahwa detak jantung Andre sudah tidak berdenyut lagi.
Pak Sofyan datang dengan tergesa begitu mendengar panggilan telpon istrinya. Dia tiba saat dokter dan perawat melepas peralatannya dari tubuh Andre. Terlihat wajahnya menegang namun tetap tenang.
"Bagaimana, Dok?"
"Bapak orang tuanya?"
"Ya Dok."
"Mari ikut saya."
Dia mengikuti dokter Fadly ke ruangannya. Meninggalkan Erika yang sedang duduk di sisi Naura, menyaksikan perawat sedang menangangi jenazah Andre. Mereka sedang menutupnya dengan kain pada sekujur tubuhnya.
"Sebentar Mbak." kata Erika.
Dia bangkit dari duduknya mendekati jenazah putrannya. Mencium pipinya lama, tanpa bisa mencegah air matanya keluar, dari danau kecil di sudut bening matanya. Lalu membiarkan perawat itu menutupnya secara sempurna.
Ulya menyaksikan jenazah Andre yang sudah terbujur, tertutup kain dengan tatapan kosong. Tak sangka inilah pertemuan terakhirnya.
Sementara itu, pak Sofyan yang duduk di hadapan dokter Fadly mendengarkan dengan seksama apa yang akan disampaikannya.
"Maafkan kami, Pak. Kami sudah berusaha yang terbaik. Tapi hasil akhir ada pada pemilik jiwa."
"Tadi pagi dia terlihat baik, Dok?"
"Kami tahu, dan kami juga tahu kalau saat itu kondisinya sangat turun."
"Maafkan kami, Dok. Kami tak tahu apa-apa."
"Kami juga minta maaf."
"Terima kasih untuk semuanya. Bisakah sekarang kami bawa pulang putra kami."
"Ya, Pak Sofyan."
__ADS_1
Dengan menahan air mata, pak Sofyan kembali ke ruangan perawatan Andre. Semua sudah siap, jenazah sudah dipindah pada tempat tidur beroda yang lebih simple.
Nyonya Erika menyambut suaminya dengan pelukan yang sangat kuat, tanpa berkata apa-apa.
Mereka mengiringi jenazah Andre yang diantarkan oleh beberapa perawat menuju mobil ambulance.
Dari liff menuju tempat parkir, nyonya Erika berjalan dengan memegang tangan Naura.
Hanya separuh jalan, Naura kembali tak sadarkan diri. Erika pun tak mampu menyangggahnya.Sehingga Ulya kembali harus menggendongnya hingga tiba di mobil.
Sedangkan Erika bersandar lemah di bahu pak Sofyan yang menuntunnya hingga ke mobil mereka.
"Ikuti mereka, Anas."
Tanpa menjawab, Anas menjalankan mobilnya berlahan mengikuti ambulance dan mobil pak Sofyan.
Kesedihan menyelimuti mereka, sehingga beberapa kali telpon berdering, tak terdengar oleh Ulya. Sehingga Anas harus mengingatkan.
"Den, telponnya!"
"Oh ... ya. Telponnya Naura."
"Angkat saja, Den."
Karena sampai saat ini Naura masih belum sadarkan diri.Mau tak mau dia mengangkatnya juga. Dia bicara sejenak, lalu menutupnya kembali.
"Dari pak Farhan. Mereka sudah tiba di rumah sakit. Bingung ...."
Anas hanya mengangguk tanpa mau menyahuti kata-kata Ulya. Dia tak tega pada majikannya yang sangat berduka, dengan memangku wanita yang telah menjadi bayangan hidupnya.
"Naura, ini kakak. Bukalah matamu."
Dia memberikan wangi-wangian di hidung Naura, sambil menepuk-nepuk pipinya. Meski bereaksi tapi matanya masih tertutup. Air matanya mengalir di tengah-tengah tangisnya.
"Menangislah."
"Kakak."
Dia tak mampu menahan kesedihannya hingga tanpa sadar, dia menyandarkan kepalanya di bahu Ulya. Ulya membiarkannya hingga tiba di rumah pak Sofyan.
Rima menyambut mamanya dengan pelukan kesedihan. Menatap kedatangan Naura dengan sendu pula.
"Kak Ulya, Bawa Nur ke kamar tamu dulu. Aku takut kalau ke kamar atas, dia belum kuat."
Ulya mengangguk. Diapun memapahnya hingga tiba kamar tamu. Beruntung tak lama kemudian keluarga pak Farhan tiba. Sehingga Naura tak sendiri lagi. Dia ditemani oleh bu Farhan di kamar itu.
"Ibu, padahal pagi tadi mas Andre sangat baik sekali."
"Nggak usah ngomong gitu Nur. Sudah relakan, agar masmu tenang."
Nur hanya terisak di pelukan bu Farhan. Yang membelai kepalanya dengan lembut. Hingga dia menjadi tenang.
Andre menatap Nur dan bu Farhan sejenak, sebelum meninggalkannya. Karena ingin membantu pak Sofyan mengurus Jenazah Andre.
Jenazah masih diletakkan ditengah ruang, sambil menunggu persiapan kain kafan dan juga peralatan untuk memandikannya.
Setelah semuanya siap, keluarga dekat pak Sofyan memandikannya dan mengkafaninya. Lalu dibawa ke ruang tengah kembali untuk disholatkan.
Naura sudah menunggunya dengan mukena yang sudah sempurna dikenakan. Mengikuti jamaah yang sudah siap mensholatinya.
Selesai sudah hak Andre untuk berada di tengah mereka. Dan pergi ke ribaan penguasa jiwa.
__ADS_1
Dengan membawa kasih sayang dari orang-orang yang mencintainya. Yang mengiringinya dengan do'a.
Padamu yang pernah di singgah di hatiku
Menyentuhku dengan kelembutan kasih sayang
Mengajarkan padaku akan cinta dan keindahnya
Hadirmu terlalu singkat untuk kurasa dalam masa
Bila kini kepulanganmu padaNya untuk bahagia
Dapatkah diriku mencegahnya
Pada langit ingin kubisikkan
Aku rela dengan semua
Dan dengan dirimu juga
"Nur, masuklah." kata bu Farhan sambil menuntunnya ke dalam.
"Sebentar bu,"
Nur sedikit berlari menuju kamar mandi yang ada di ruang tamu. Mungkin karena lama tidak makan, dia menjadi sedikit mual.
Setelah mengeluarkan sebagian isi perutnya, dia kembali merebahkan diri di kamar tersebut. Meninggalkan tamu-tamu wanita yang kini sedang khusyu' melakukan tahlilan.
Namun baru beberapa saat dia rebahan, kembali perutnya seperti diaduk-aduk, menyebabkan dia harus berlari kembali ke kamar mandi. Menumpahkan isi perutnya yang masih tersisa.
Semakin lelah dia menuju tempat tidur yang ada di kamar itu. Dan merebahkan diri.
Tak berapa lama bu Farhan yang selesai melakukan tahlilan menemuinya, hendak berpamitan. Nur kembali bangkit, duduk di tepi ranjang.
"Nur, ibu balik dulu. Kalau kamu mau di rumah ibu agar lebih tenang, ibu siap menerima."
"Ya, ibu. Ijinkan Nur di sini dulu."
"Ya, Nak. Ibu pulang dulu."
"Injjih, Ibu. Ngapuntern Nur nggak bisa nganter ibu."
"Ibu ngerti. Istirahatlah."
Bu Farhan meninggalkan dirinya. Nur kembali merebahkan tubuhnya. Hingga tanpa disadari mbok Iyem masuk.
"Den, makan dulu. Ini mbok bawakan makanan."
"Jangan panggil aku den, Mbok." kata Nur sambil mencoba bangkit darti tidurnya.
"Sudahlah, Den. Jangan permasalan panggilan mbok ke aden."
"Ya sudah. Masak apa, Mbok?"
"Mbok nggak masak apa-apa, sama nyonya suruh mengantarkan ini ke aden."
Nur melihat Nasi dengan lauk ayam, membuatnya perutnya mual. Dia segera lari ke kamar mandi.
"Maaf, mbok. Bawa kembali, tinggalkan jeruk dan anggurnya."
Mbok Iyem bingung sendiri dengan tingkah laku Nyonya mudanya itu. Tapi dituruti juga kemauannya. Dia bawa kembali makanan itu dan meninggalkan buah-buahan yang diinginkan Naura.
__ADS_1
______________________
Maaf, bila lama tak up. Karena kesibukan di dunia nyata yang menumpuk