
"Sebenarnya saat dia meminta pertanggung jawaban pada abbah atas anak yang dikandungnya, aku sudah curiga. Aku tak yakin kalau kakak melakukan itu. Tapi bukti itu seakan-akan benar adanya. Hingga kakak harus menanggung semua yang tidak kakak perbuat."
Tanpa terasa air mata Ulya menetes.
"Tak hanya itu Mustofa, yang harus kakak tanggung."
Mustofa menundukkan kepala, angannya melayang kembali ke masa silam.
"Saat kakak menceraikannya. Lalu dia kembali lagi. Kakak tahu apa yang terjadi?"
"Itu hal yang paling pahit selama hidupku. Aku tak mau mengingatnya."
"Aku mengerti, Kak."
"Saat kakak pergi keluar negeri untuk pengobatan. Dia kembali pada abbah. Dan seperti biasa abbah menerimanya. Karena beliau masih menyangka itu adalah perbuatan kakak."
"Sudahlah jangan ingatkan aku akan hal itu."
"Tiap hari, dia merenung. Mungkin dia menyesal. Apalagi Fath tidak mau menerima dia. Dan saat itu, dia baru sadar kalau Fath tak mungkin memberikan benih padanya."
"Lalu."
"Ia seperti orang gila."
"Aku tahu itu."
"Dan kakak terlalu baik padanya. Hingga dia bisa kuat kembali."
"Bagaimana jahatnya dia, pasti ada sisi baiknya."
"Padahal saat itu kakak juga sangat rapuh."
"Sudahlah. Jangan berputar-putar. Sejak kapan kamu tahu kalau Devra putrimu?"
"Setelah abbah menerima dia kembali. Dia menemui ku. Menceritakan semuanya. Termasuk denga siapa saja selama ini dia berhubungan."
Ulya mendengarkan bagian ini dengan membuang muka. Karena sebenarnya dia sangat-sangat muak mendengar cerita tentang masa lalu mantan istrinya itu.
Tapi demi Devra, putri kecilnya yang amat dia sayangi. Dengan sabar dia mendengarkan cerita Mustofa. Dari awal hingga akhir.
"Dia memohon padaku agar anak yang nanti dia lahirkan, bisa berada dalam keluarga kita. Mengingat dia sudah tak punya siapa-siapa lagi."
"Dia hanya mengarang cerita."
"Tidak, dia benar. Aku sudah menelusuri riwayat hidupnya."
"Sebegitu besar perhatianmu padanya."
Mustofa terdiam, seakan-akan ingin bertanya pada diri sendiri, apa benar yang Ulya katakan tentangnya.
Ulya yang melihat Mustofa gusar segera sadar.
"Baiklah, aku percaya."
Diapun melanjutkan ceritanya.
"Bagaimanapun, andai dia putriku. Dia harus punya identitas jelas tentang keluarganya."
"Ya, aku mengerti."
"Sejak saat itulah aku merasa bahwa bayi yang dikandungnya adalah putriku. Tanpa harus mendengar Hagya menjelaskannya."
"Bagaimana mungkin, kamu bisa menyimpulkannya seperti itu."
__ADS_1
"Bukankah, Faricha D2 jurusan kebidanan saat itu."
"Aku tak berfikir ke sana."
"Setelah aku memeriksa catatan kontrol dia selama ini. Aku jadi semakin yakin kalau anak yang dikandungnya adalah putriku."
"Hanya itu?!"
"Baiklah, Aku benci Hagya dan aku benci putrinya."
"Mengapa?"
"Aku tak tahu."
"Kurasa aku dapat menduga alasan apa."
"Benarkah kakak tahu alasannya?"
"Kamu telah jatuh cinta padanya. Tapi sayang dia telah menjadi milik kakak."
"Itu hal sulit yang bisa aku lakukan. Dan tak mungkin."
Mustofa, jangan kau berdusta pada dirimu sendiri.
Mustofa, aku tahu. Bila kamu mencintai seseorang pasti dengan tulus. Dan tak sekalipun kamu ingin menodainya. Tapi cintamu pada Hagya berawal dari sebuah kesalahan .
"Tapi sekaligus membencinya."
"Yang pasti. Dengan melihatnya, mengingatkanku akan kejadian itu. Hingga aku marah pada diriku sendiri."
"Bagaimana kamu bisa memaafkan orang lain jika pada dirimu sendiri kamu tak mampu."
"Ya, aku sadar. Bahwa memaafkan diri sendiri ternyata perlu waktu."
"Baiklah, aku akui aku jatuh cinta sejak pertama berjumpa, dan selalu memikirkannya, setelah kejadian itu."
"Sangat terlambat. Setelah dia tiada, baru bisa mengatakan ini semua."
"Dan kamu juga sangat terlambat untuk memberi tahu pada Devra bahwa kamu papanya. Padahal kamu punya banyak kesempatan."
"Iya. Baru setelah abah melamar kak Naura untuk kakak. Aku punya kesadaran untuk menelusuri identitas Devra seluruhnya. Dengan melakukan tes DNA."
"Selama ini kamu tak sadar, kamu sering melukai hati putrimu itu."
"Maafkan aku, Kak."
"Mungkin karena sudah naluri kalian saling berikatan, sehingga waktu kecilnya, kalau kamu datang dia selalu minta gendong padamu. Tapi kamu sering menolaknya dengan kasar. Bahkan kamu pernah membuang boneka kesukaannya. Dan banyak lagi."
"Entahlah, masihkah pantas aku menjadi papanya Devra."
"Dan aku rasa, Devra amat terluka dengan apa yang kamu lakukan padanya. Kamu tahu apa yang dikatakan tadi pagi padaku."
"Aku tak mau menduga, akan membuatku terluka."
Ulya memutar kembali kata-kata Devra yang dia ingat.
"Kenapa sih, Om Mustofa sering minta dipanggil papa sama Devra. Memangnya papa Devra itu siapa saja sih?"
"Tapi bener, papa Ulya papanya Devra. Devra takut papa Ulya bukan papanya Devra. Devra pasti sedih ."
Sejenak Mustofa merenung. Mencoba mencerna kata-kata putrinya itu.
Maafkan aku, putriku. bisik kalbu Mustofa.Tanpa disadari air matanya menetes.
__ADS_1
Dia masih teringat keputusan awal dia tinggal di apartemen. Adalah ingin menjauhi Hagya yang telah menikah dengan Ulya. Dia simpan rasa itu dengan rapat. Agar tak seorangpun tahu.
Tapi dia tak menyangka, kalau banyak yang terjadi setelahnya. Hingga tragedi demi tragedi menimpa Ulya.
Andai saat itu, dia bisa mengakui kekhilafaannya yang tak dia sengaja. Apalagi dia dalam jebakan. Dengan segera menarik Hagya dalam cintanya. Dan menyadarkan Hagya lebih awal.Tentu dia, putrinya akan bahagia. Dan kakaknya tidak harus menanggung semuanya.
Dan mungkin juga Hagya yang tak harus mengakhiri hidupnya. Dengan mengiris urat nadinya. Karena keputus-asaan. Beruntung putrinya dapat diselamatkan.
Keduanya nampak memandang kosong deburan ombak yang datang. Seiring mentari semakin meninggi, semakin mendekatlah air laut pada mereka.
Hingga tak terasa menyentuh kaki-kaki mereka yang telanjang. Baru Ulya tersadar kalau ada sesuatu untuk bisa menggoda Mustofa.
Segera saja dia ambil air laut yang bercampur sedikit pasir, melemparkannya pada Mustofa. Tepat mengenai mukanya.
"Kakak."
Diapun berbalik melakukan hal yang sama, hingga tak terasa tubuh mereka basah oleh air laut, dan juga kotor oleh pasirnya.
Mau tak mau keduanya menceburkan diri ke dalam air laut. Dan mandi sekalian. Membersihkan diri, sekaligus menghilangkan pikiran-pikiran yang sesaat lalu membuat mereka tersiksa.
Setelah lelah, baru mereka kembali lagi ke tempat semula. duduk santai sambil mengeringkan diri.
"Kak, bisakah kakak memaafkan ku."
"Kenapa tidak." jawab Ulya sambil menikmati minuman segar yang mereka pesan.
"Tapi jangan katakan itu sekarang pada Devra, kasihan dia. Kamu bisa saja meminta dia, memanggilmu papa, asal dia sudah siap. Jangan paksa dia."
"Baiklah, Kak."
Terlihat wajahnya senang.
"Kakak nggak marah?"
"Untuk apa ... justru aku bahagia putriku tak lain adalah keponakanku sendiri."
"Terima kasih, Kak."
"Saat ini biar Devra jadi putri kita. Dan belajarlah jadi papa yang baik dulu. Agar dia bisa menerimamu."
Mustofa senyum-senyum, seperti ada yang ingin dia sampaikan saat ini. Membuat Ulya penasaran.
"Ada apa?"
"Kak, restui aku ya ...."
"Maksudmu?"
"Aku ingin mempersunting Rima."
"Benarkah. Kapan?" tanya Ulya penasaran.
"Secepatnya. Papa Sofyan sudah menyetujui hubungan kami."
"Bilang lah pada abbah dulu. Kakak pasti mendukungmu. Dan Devra pasti senang punya dua papa dan dua mama." kata Ulya sambil tertawa.
...
...
....
Setelah membaca, jangan lupa like atau votenya.
__ADS_1
Coment atau saran juga boleh 😘😘😘💗💗💗