
Hingga selesai sholat isya', Doni belum datang juga. Membuat Naura makin gelisah.
"Mas, Pak Doni kok belum datang sich?"
"Masak Naura harus pakai lingerie dan rukuh terus."
"Aku juga nggak tahu, Yang."
"Kita pulang saja ya, Mas."
Andre terdiam lama, seolah-olah berfikir keras. Dan terlihat sedih.
Membuat Naura makin gelisah.
"Ada apa, Mas."
"Gini Sayang. Jangan marah ya."
Naura menatap suaminya heran. lalu duduk di sisinya dengan manja.
"Mama nggak ngizinin mas pulang sampai tiga hari ke depan. Ya ... sampai menjelang resepsi kita."
"Mas, nggak bohong kan?"
"Sayang nggak percaya?"
"Nggak mungkin. Itu konyol aah."
Naura menatap Andre tak percaya.
"Maksud mama apa, mas juga nggak tahu."
"Atau ini hanya akal-akalan Mas?"
"Tuch kan, sudah menuduh. Gini aja. Coba Sayang telpon mama," kata Andre sambil menyodorkan hp-nya.
Naura menerima itu dengan sedikit gelisah. Lalu mencoba menghubungi mama Erika, mamanya Andre.
"Assalamu'alaikum ... Mama."
"Wa alaikum salam, Naura. Ada apa?"
"Itu, Ma."
"Apakah Andre menyakitimu, Sayang."
"Nggak, Ma."
Naura jadi ragu untuk menanyakan permasalahan Andre yang tidak boleh pulang. Akhirnya dia hanya menanyakan yang lain saja.
"Ma, apa pak Doni sudah berangkat."
"Sudah, sejak tadi pagi ke Surabaya. 2 hari lagi pulang."
Kok ke Surabaya. Batin Naura bertanya-tanya
"Ya, sudah Ma. Assalamu'alaikum."
"Wa alaikum salam ...."
Di ujung telpon mama Erika dan Rima senyum-senyum. Tandanya, rencana mereka berhasil.
Naura menutup hp Andre dengan cemberut.
__ADS_1
"Sudah?" tanya Andre.
"Kok, pak Doni ke Surabaya."
"Maafkan, Yang. Aku juga nggak tahu kalau dianya ke Surabaya."
"Bukan begitu Mas. Kita 3 hari di sini. Tapi aku nggak ada pakaian sama sekali," kata Naura manja.
Dia tetap menyandarkan kepala di dada Andre. Yang membuat nalurinya meronta-ronta. Seperti irama rock menghentak-hentak jiwa kelaki-lakiannya.
"Menurut mas, Sayang pakai lingerie dulu nggak apa-apa malah mas makin suka."
Andre mencoba mengungkapkan apa yang dia pikirkan.
"Mas, kok mesum banget. Sich."
"Ya, mas laki-laki normal."jawabnya tenang tanpa dosa. Menghiasnya dengan satu senyuman yang menawan. Dan sentuhan kecil di hidung istrinya.
"Berarti mas suka sama mbak Febri. Sekretaris mas. Dia selalu pakai pakaian seksi."
Naura berkata sambil memalingkan muka, cemberut dan kesal.
Tak ayal membuat Andre tertawa senang.
"Cemburu?"
"Menyebalkan."
"Sayang tahu, kapan mas jatuh cinta pertama kali?"
"Ya, itu kan urusan Mas."
"Saat itu ada cewek, duduk di atas pohon mangga. Kelihatannya dia asyik sekali menikmati semilir angin sampai dia tertidur. Mas mbatin, nich cewek antik. Tertutup rapat tapi tomboy."
"Mas!"teriak Naura.
Ini membuatnya geram. Matanya yang kecoklatan membulat sempurna menatap wajah Andre.
Tapi Andre tak peduli, hanya saja dia memegang erat tangan Naura dalam dekapannya. Agar tak bisa mendaratkan cubitan padanya.
Dia melanjutkan ceritanya.
"Karena tertidur dia tak menyadari kalau tubuhnya jatuh. Untung saat itu mas melihatnya, Dan mas menangkap tubuh itu. E ... e ... tak tahunya ketika dia sadar malah marah-marah nggak jelas gitu." kata Andre tampak serius.
"Maafkan Naura mas, Naura gugup sekali waktu ada dalam gendongan Mas."
"Satu kata yang mas ingat.Dia berkata, Andaikan kau suamiku, tak mengapa kamu menggendongku."
"Mas, malu ah."
Andre melanjutkan kata-katanya.
"Kamu masih ingat mas bilang apa?"
Naura menutup wajahnya.
"Mas bilang, Aku pasti akan jadi suamimu."
"Makanya meski ada sekretaris yang seksi, mas nggak bisa berpaling."
Naura hanya senyum-senyum mendengar cerita , e ... rayuan Andre.
"Sekarang kita tidur Yang. Mas capek banget."
__ADS_1
Andre benar-benar harus berusaha keras, agar Naura bisa nyaman dengan keadaan ini. Dan merasakan moment-moment kebersamaan mereka dengan baik.
Sebab tak mungkin dia bisa tahan dengan kondisi tubuh istrinya yang sangat terbuka, mondar-mandir di hadapannya, apalagi sampai 3 hari.
💎
Akhirnya pak Doni datang juga, membawa baju-baju mereka. Meski sangat-sangat terlambat. Saat subuh hari ketiga, mereka berada di hotel itu.
Kesempatan ini tak disia-siakan oleh Naura menagih janji Andre, sebelum mereka kembali.
"Mas, kita jalan-jalan ke pantai ya ..."
"Ya, ya ... mas ingat kok. Ayo, sekarang berangkat!"
Diantara remang cahaya matahari, yang akan menampakkan wajahnya, Mereka meninggalkan hotel. Menyusuri jalanan kecil yang beraspal menuju pantai, dengan tanpa alas kaki.
Dari jauh terlihat gelombang laut yang tinggi saling bertubrukan dan pecah. Memisah menjadi ombak-ombak kecil. Yang berlomba saling berkejaran mencapai pantai.
Naura yang sudah tak sabar, segera berlari meninggalkan Andre seorang diri. Sambil berteriak,
"Lautku, aku datang."
Tak lama Andre dapat mengejarnya. Dan bersama-sama menyambut gelombang yang datang. Kebetulan air sedang surut karena masih pagi. Tidak terlalu mengkhwatirkan. Pikirnya.
Mereka lupa, ini adalah bulan Desember, dan malam ini adalah bulan purnama. Ditambah pula karakteristik gelombang laut pantai selatan yang sulit diduga.
Naura terlalu bahagia, setelah 3 hari hanya bisa melihat melalui beranda. Kini benar-benar bisa menyentuh air yang datang menghampiri kaki-kakinya yang telanjang.
Hingga tak terasa Andre dan Naura berjalan jauh ke dalam. Mengikuti gelombang yang pergi meninggalkan bibir pantai. Tidak menyadari kedatangan gelombang tinggi yang tiba-tiba.
Petugas pantai baru saja tiba, belum sempat memperingatkan mereka, gelombang tinggi itu menggulung keduanya.
Meski Naura dan Andre punya bekal berenang. Tapi saat ini seakan tak berguna. Mereka hanya bisa berusaha agar tidak tenggelam. Dan saling memanggil diantara keduanya.
"Tolong ... tolong Mas."
"Naura ... Naura ...."
Keduanya terpisah oleh gelombang yang terpecah. Hingga hanya bisa berteriak ketika kepala tersembul keluar.
"Tolong ... tolongh ...."
Untunglah petugas yang baru datang melihatnya. Dia berteriak dengan lantang.
"Ada yang terseret ombak!" Membuat kaget semua orang yang berada di bibir pantai.
Semua orang mengarahkan pandangannya ke tengah laut. Terlihat dua titik yang terpisah. Seorang orang menuju deretan karang, seorang lagi terombang-ambing terbawa gelombang.
Petugas tersebut dengan sigap menghidupkan 2 perahu boatnya. Yang dibantu beberapa nelayan dan juga penjaga pantai lainnya. Melaju dengan cepat menuju 2 titik hitam, yang hampir hilang.
Hampir setengah jam mereka berusaha melakukan penyelamatan di tengah laut. Dan mendapatkan Andre dan Naura yang sudah tidak sadarkan diri.
Sepertinya Andre terluka parah. Terlihat darah di kepala dan kakinya, serta bagian tubuh yang lain. Dia ditemukan dekat dengan terumbu karang di tengah laut.
Tak lama kemudian, perahu boat itu sampai di tepi. Disambut oleh ambulance yang baru saja datang.
Kedua orang yang tak bergerak itupun segera dilarikan ke rumah sakit terdekat.
Semua kejadian itu tak lepas dari perhatian Pak Doni. Yang kebetulan, dia tak segera kembali setelah memberikan pakaian kepada Andre dan Naura. Dia ingin menikmati pagi, dengan bersantai minum kopi di pinggir pantai.
Memang dia tak tahu, saat tuannya bermain-main ke tengah laut. Tapi saat adanya kecelakaan itu, dia melihatnya.
Dan menyaksikan petugas pantai menggotong 2 tubuh yang diam tak berdaya dengan pakaian yang warnanya seperti dia kenal. Lalu laki-laki yang jadi korban, tidaklah asing baginya.
__ADS_1
Dia mendekati petugas itu, untuk memastikannya. Dan benar dugaannya.
"Den Andre." teriaknya.