Mahabbah Rindu

Mahabbah Rindu
Ini Papa Sayang


__ADS_3

Naura meninggalkan Rima, yang sedang mengikuti khutbah nikah. Hatinya benar-benar tak tenang. Ingin mengetahui keadaan putrinya segera. Setelah sampai di berada belakang, dia segera menghubungi suaminya.


"Assalamu'alaikum ..., Mas."


"Wa alaikum salam ..., ya ... ada apa Sayang?"


"Devra sekarang gaimana?"


"Doakan saja, Sayang. Dokter sedang berusaha."


"Serius kah, Mas."


"Kita sedang mengusahakan yang terbaik."


"Tak bisakah Mas perlihatkan keadaannya padaku?"


"Belum bisa, Yang. Tenangkanlah hatimu. Pasti nanti aku kasih tahu kalau dokter sudah selesai menanganinya. Oke ...."


"Aku khawatir, Mas."


"Aku sama Mustofa akan menjaganya."


"Aku belum tenang kalau belum lihat keadaannya."


"Aku ngerti. Kalau kamu seperti ini, keluarga Rima akan bingung. Tenang ya .... Nanti kamu ikut pulang sama abbah .... Aku tak bisa menjemputmu."


"Baiklah, Mas. Aku siap-siap dulu."


"Itu lebih baik. Jangan karena Devra, kamu lupa Akram Akmal. Mana mereka .... Aku belum dengar suaranya ..."


"Mereka sama ummi dan Ifroh di depan."


"Ya sudah, Assalamu'alaikum ...."


"Wa alaikum salam ...."


Sengaja Ulya tak memberi tahukan yang sebenarnya. Dia tak tega ....


Khawatir Naura syok.


Naura kembali ke kamarnya, membereskan barang- barang si kembar dan juga miliknya. Alhamdulillah, tak perlu waktu lama untuk menyelesaikan semuanya. Hingga lima menit sebelum adzan maghrib berkumandang, dia sudah dapat berkumpul kembali bersama keluarga Rima, untuk menikmati buka bersama.


Acara demi acara sudah selesai dilaksanakan. Dan vidiopun sudah dimatikan. Sekarang semua duduk santai, berbincang-bincang akrab, sekedar mengisi waktu senggang, menunggu waktu berbuka.


Rima dan Mustofa melakukan hal yang sama, sekedar berbincang-bincang. Setelah melewati waktu-waktu yang menegangkan. Yang merubah status mereka berdua. Tentu dengan menggunakan vidio di handpone masing-masing. Mereka sudah tak lagi terhubung dengan televisi ataupun komputer yang mereka punya.


"Sayang, maafkan aku nggak bisa datang ke tempatmu."


"Nggak apa-apa kok, Mas. Siapapun akan mengambil keputusan seperti itu, kalau berada di posisi Mas."


"Gara-gara mas, Devra sampai terluka parah."


"Sebenarnya, kejadiannya bagaimana?"


Terlihat air mata Mustofa jatuh menetes dari sudut matanya. Dan wajahnya kembali menegang. Untuk sesaat, dia hanya mampu bernafas panjang. Dan mengeluarkannya dengan berat. Hingga Rima merasa bersalah, atas pertanyaannya sendiri.

__ADS_1


"Mas terlalu egois pada Devra. Anak itu terlalu manis hingga mas tak ingin melepaskannya. Dia ingin beristirahat, tidur di jok tengah. Tapi mas mencegahnya dengan membiarkan tidur di pangkuan mas di depan. Tak sangka ada sebuah mobil berkecepatan tinggi dari arah depan, keluar jalur menabrak mobil kami. Padahal saat itu, kita sedang berhenti di lampu merah. Devralah terluka paling parah. Seandainya saat itu, aku membiarkannya tidur di jok tengah, dia tak akan terluka parah seperti ini."


"Maafkan Rima. Membuat mas menangis."


"Tidak, Sayang. Kamu membuat mas lega."


"Mas, aku mau tengok Devra ..."


"Ya. Mas akan senang bila ada yang menemani. Tapi ijin dulu sama papa."


"Oke nanti aku ijin." Rima berhenti sejenak. Sambil menunduk, dia berucap, "Mas ...."


"Ya, ada apa Sayang."


"E ... e ... e ...." sepertinya Rima malu mengatakan. Hanya lirikan mata dan senyumannya yang mengungkapkan sesutu. Sebenarnya Mustofa sudah bisa menebak, tapi dia ingin mendengar langsung dari mulut Rima, tentang apa yang diinginkan. Tapi bukan saatnya ....


"Maaf, masih puasa. Batal lho ...." goda Mustofa, membuat Rima tersipu malu.


"Ngomong apa sich, Mas."


"Kita lanjut habis buka, biar nggak batal. Jangan lupa doanya untuk Devra. Assalamu'alaikum ...."


"Wa alaikum salam ...."


Kembali Mustofa menatap Devra yang terbaring lemah, dengan beberapa slang yang terhubung dengan tubuhnya. Sejak mereka tiba di rumah sakit ini, Devra belum sadarkan diri. Membuat Mustofa was-was. Memang terlihat di layar monitor detak jantung Devra dan lainnya, semua dalam kondisi normal. Tapi kenapa sampai saat ini, dia belum sadar?


Mustofa hanya termangu menatap tubuh Devra yang diam tak bergerak. Sesekali tangannya membelai lembut rambutnya. Kadanga kala dia kecup dahinya.


"Devra, jangan tinggalkan papa. Kamu tak tahu, bahwa papamu yang sesungguhnya adalah orang mencelakakanmu saat ini. Papa tak sengaja .... Maafkan papa ya Nak .... Papa masih ingin kamu tahu papamu sebenarnya. Lalu bisa memanggil diri ini papa. Bukalah matamu .... Jangan tinggalkan papa."


Dirinya teramat larut dalam penyesalan, hingga tak menyadari Ulya telah berdiri di dekatnya.


"Makasih, Kak."


Alhamdulillah, tak lama kemudian kumadang azan terdengar.


"Kita berbuka dulu, Mustofa."


اللهم لك صمت وبك امنت و على رزقك افطرت برحمتك يا ارحم الراحمين


Hanya minuman yang masuk dalam perut mereka, sekedar untuk membatalkan puasa. Sedangkan kotak nasi, mereka biarkan di atas nankas, tidak tersentuh sama sekali.


"Kita jamaah di sini saja, Kak."


"Ya. Aku juga tak tega meninggalkan Devra."


"Gantian kita mengambil air wudhu."


"Ya."


Ulya terlebih dahulu berlalu dari kamar itu, meninggalkan Mustofa yang masih duduk, menemani Devra. Tak berselang lama, dirinya sudah kembali. Baru kemudian Mustofa beranjak dari tempat duduknya.


"Tunggu aku, Kak."


Terlihat Ulya tengah bersiap-siap untuk sholat, di atas karpet yang di gelar agak jauh di ranjang Devra.

__ADS_1


"Ya. Aku sholat sunnah dulu."


Mustofa pun segera pergi untuk berwudhu. Tak lama, dia sudah kembali dengan wajah yang masih meneteskan air wudhu.


"Sunnahlah dulu." seru Ulya mengingatkan.


Tanpa menjawab, Mustofa berdiri untuk melakukan sholat sunnah.


"Sudah?"


"Sudah, Kak."


"Iqomah!"


Mustofapun berdiri, mengumandangkn iqomah dengan sempurna.


Meski hati sedang binggung, dicobanya untuk mengerjkan sholat dengan khusyu'. Karena saat inilah waktu yang tepat untuk mengadukan semuanya pada pemilik , pengatur, penentu kehidupan.


Menjelang salam tanpa mereka tahu, Devra membuka mata.


"Haus ...." matanya pun tertutup kembali.


Mendengar suara lirih Devra, membuat Mustofa maupun Ulya melompat begitu mereka salam.


"Devra, ini papa Sayang."


Diapun membuka matanya kembali. Ketika Mustofa tepat di sisinya.


"Papa ...." matanya kembali terpejam.


"Ya, Sayang. Ini papa."


"Papa Ulya."


Meski ada kesedihan yang menggores hatinya, tapi dia bisa memakluminya. Karena Devra belum mengenalnya.


Ulya yang berdiri di belakang Mustofa, segera mengambil kursi dan duduk mendekati Devra. Menggeser sedikit tempat duduknya. Untuk membuatnya tersadar kembali.


"Ini papa Ulya, Nak."


Dia membuka matanya kembali, tersenyum.


"Haus."


Tak lama dokter datang disertai oleh perawat. Memeriksa keadan Devra secara keseluruhan. Baik suhu maupun tekanan darah.


"Alhamdulillah ... sudah melewati masa kritisnya. Semoga ini bertanda baik. Karena dia masih kecil, penyembuhan luka dalam maupun luka luar semoga cepat sembuh."


"Boleh minum, Dok?"


"Boleh. Berikan pelan-pelan saja."


"Terima kasih, Dok."


"Sama-sama. Mari, Pak."

__ADS_1


Dokter dan perawat itu membereskan peralatannya. Meninggalkan mereka berdua bersama Devra. Ulya segera mengambil gelas dan sendok. Untuk menyuapkan air ke mulut putrinya.


"Pelan-pelan, Sayang. Bismillah, semoga cepat sembuh."


__ADS_2