Mahabbah Rindu

Mahabbah Rindu
BAB 22 : Lupakan Kakak


__ADS_3

"Kak. Nur nggak bisa nglupain kakak."


"Jangan katakan itu. Kakak tak suka."


"Sebelum Nur pergi, bolehkah Nur tahu, bagaimana perasaan kakak terhadap Nur."


Ulya tertawa kecil. Dibuatnya setulus mungkin, agar Nur tak tahu apa yang dirasakan saat ini.


"Tak baik Nur memikirkan orang lain. Sementara Nur sudah ada yang punya."


"Bukan begitu, Kak."


"Yang Nur minta apa?"


"Ah, sudahlah."Nur terlihat putus asa melihat Ulya yang tak mengerti maksudnya.


"Bukankah tadi sudah kakak katakan."


"Hanya sebagai adik?"


"Selamanya." tegas Ulya dengan menatap bola mata Nur yang selalu dia rindukan.


"Ya, Kak." jawab Nur sambil menundukkan kepala, tak sanggup membalas tatapan Ulya.


"Meski berat, Nur akan belajar nglupain kakak."


"Kakak harap.Nur bisa segera melakukannya ."


Mereka berdua terdiam, sibuk dengan pikiran masing-masing. Hingga tak tahu ada si kembar di belakangnya.


"Tante, daunnya sudah ditunggu."


Nur dan Ulya menoleh bersama-sama.


"Kalian!"teriak Nur dan Ulya.


"Eh, kak Uya." Noval dan Novi menjawab dengan polosnya. Menggoyangkan badan dan juga senyum cerianya.


Membuat Ulya menghadiahi cubitan kecil di kedua pipinya.


"Baik, sekarang harus bantu tante Nur dulu, biar cepat selesai." ajak Ulya sambil bangkit membersihkan pakaiannya. Diikuti Nur pula.


Mereka berempat membantu Nur mengambil daun pisang yang bercecer di tepi ladang.


Anas melihat mereka dari mobil, tersenyum dibuatnya. Seperti keluarga kecil yang menyenangkan.


" Semoga apa yang kau inginkan akan tercapai , Den."Doa Anas dari jauh.


Setelah semua daun sudah terkumpul dan terikat dengan baik, mereka semua menuju ke mobil Ulya.


"Masuklah, aku antar sampai rumah."


"Kak," kata Nur malu.


"Ayolah Tante, " ajak Noval dan Novi yang sudah tak sabar ingin menaiki mobil sedan, yang kelihatan masih baru itu.


"Nur, aku harus jelaskan pada bapak ibu Farhan kalau jiwamu terancam."


"Masuklah nona." kata Anas.


"Baiklah."


Nur manundukkkan kepala, duduk di belakang kursi Ulya. Sedangkan Noval dan Novi gembira menyambutnya. Mereka telah mendahului Nur,masuk ke dalam mobil sedan itu.


"Kak Uya, kenapa mukanya?" tanya Novi.


"Biasa, anak cowok." jawabnya


"Gitu kan, Noval," imbuhnya.

__ADS_1


"He ... he ..."


Yang suka buat ulah, merasa ada temannya.


"Tos ... tos, Noval."


Noval mendekati Ulya dan melakukan tos ala orang dewasa.


Tak berapa lama, mereka sampai di depan rumah Nur. Tanpa diperintah si kembar membuka pintu dan berhambur keluar menemui abi mereka , bercerita dengan gembira.


Mendengar cerita dari keduanya, Hamdan tertawa dan menghampiri mobil yang mengantarkan mereka. Bersamaan dengan Nur dan Ulya keluar.


Melihat Ulya keluar, dia menghampiri dan hendak melayangkan tangannya pada Ulya. Karena dia masih ingat dengan jelas, bagaimana Ulya mengganggap main-main lamaran itu.


"Kakak ipar. Dia yang menyelamatkan Nur." teriak Nur.


"Benar Pak. Kami tadi melintas di jalan, melihat ada 2 orang yang akan menculik Nur. Alhamdulillah kami bisa mencegahnya. Dan Nur selamat." Anas ikut membelanya.


Hamdan segera menarik nafas panjang, dan beristighfar.


"Astaghfirullah al adzim. Maafkan aku, Bahrul."


"Ulya mengerti, Kak Hamdan."


"Ulya ... Jadi namamu Bahrul Ulya."


Ulya tersenyum. Lalu hendak kembali masuk ke dalam mobilnya.


"Sebentar Bahrul, mampirlah dulu." ajak Hamdan.


"Baiklah." jawabnya.


Bertiga mereka menuju beranda depan rumah. Sedangkan Nur telah mendahului mereka menuju dapur, dengan membawa segebok daun pisang.


Tak lama kemudian, dia keluar dengan membawa napan. Yang berisikan kue dan juga minuman. Bersama dengan nyonya Efsun, mommynya.


"Mommy kenal kak Ulya?"


"Benar nyonya Efsun, saya Bahrul Ulya."


"Apa kabar, Bahrul Ulya?"


"Baik nyonya Efsun."


"Perkenalkan ini putriku. Naura."


Ulya memandang nyonya Efsun dan Nur secara bergantian. Bingung tak percaya.


"Ya, dia putriku yang hilang 23 tahun yang lalu. Alhamdulillah kini sudah aku termukan."


"Mata nyonya sangat mirip dengan mata ee.... Naura."Bingung juga memanggil. Biasanya dia biasa nggil Nur, sekarang Naura.


"Ya, dia Naura, yang pernah aku ceritkan padamu, dulu."


"Mommy kenal dengan kak Uya dimana?" tanya Nur terheran-heran karena antara Ulya dan mommy nya kelihatan sudah sangat akrab.


"Kak Uya?" tanya nyonya Efsun heran. Membuat Nur binggung harus jawab apa.


"Sebenarnya sejak kecil kami sudah saling kenal nyonya, tapi karena Bahrul saat itu harus mengikuti abah ke Turki, kami berpisah."


"Naura, di Turki kami tinggal bertetangga."


"Sekarang kalian dimana?"


"Abah dan umik di Oman. Saya di Jakarta."


"Senang bisa ketemu kamu di sini."


"Tak sangka, kita bisa berjumpa lagi."

__ADS_1


Sejenak Ulya dan Anas menikmati kue yang tersedia dan menyeruput teh yang Nur bawa. Kemudian berdiri berpamitan.


Tapi sebelum itu, bapak dan ibu Farhan keluar menemuinya.


"Den Ulya, terima kasih banyak. Sudah menolong Nur."kata bu Farhan yang nampak sungkan.


" Nggak usah sungkan seperti itu, Nur sudah Ulya anggap adik sendiri. "


"Maafkan ibu, Den Ulya."


"Tidak apa bu Farhan. Saya mengerti,"


Ulya cukup dewasa atas pernyataan bu Farhan, pasti soal Nur yang sekarang sudah dipinang orang lain. Namun tak mau menyebutkannya.


"Nur, ambilkan bungkusan tadi."


Nur masuk ke dalam menuju dapur mengambil bungkusan yang berisikan kue-kue kecil untuk diberikan pada Ulya.


"Ini, Ibu."


Nur menyerahkan bungkusan itu pada bu Farhan. Lalu bu Farhan menyerahkannya pada Ulya.


"Apa ini, bu Farhan."


"Kue buatan Nur."


"Makasih, pasti enak sekali. Aku terima Bu."


Bu Farhan tersenyum sambil melirik anak gadisnya, yang tersipu malu.


"Kami pamit dulu. Assalamu'alaikum wr. wb.,"


"Wa'alaikum salam wr. wb." jawab kami serempak.


Sementara semua telah meninggalkankan beranda rumah, Nur masih berdiri mematung. Menatap kepergian mobil Ulya hingga menghilang di balik tikungan.


"Nur, apa yang kamu pikirkan?" kata nyonya Efsun sambil menepuk pundaknya.


"Ah Mommy. Bikin kaget saja."


"Godaan, Nur," tegur nyonya Efsun, yang melihat putrinya terlihat sendu.


Feelling seorang ibu yang mampu menembus apa yang kini dirasa putrinya. Dia membelai kepala Nur dengan lembut.


"Mommy melihat Andre sangat mendambakanmu dan mencintaimu. Mulai sekarang tatalah hatimu. Sebelum itu menjadi berat."


"Mommy."


Nur memeluk nyonya Efsun. Diam sejenak dan memejamkan mata.


"Beruntunglah kamu. Begitu patah hati sudah ada yang menyanggahmu."


"Mommy sok tahu."


"Mommy pernah muda."


Lalu nyonya Efsun meraih tangan Nur, mengajaknya ke dalam.


"Ayo, ajari mami bungkus koci-koci. Mami benar-benar mau bisa."


"Mommy tambah pintar sekarang, murid yang baik." canda Nur membuat keduanya tertawa.


Mereka masuk ke dalam rumah. Baru beberapa langkah, mobil Tuan Salim datang bersama Ahmad dan juga pak Arman.


Mereka tak jadi masuk. Menatap dan menunggu tuan Salim dan yang lainnya. Yang menghampiri mereka dengan tergesa-gesa dan juga cemas.


"Naura, daddymu datang, semoga hasil DNA sudah keluar."


"Tapi mengapa Daddy terlihat cemas, Mom."

__ADS_1


__ADS_2