
Ulya sangat kaget sewaktu melihat Naura terguling dari tangga, dalam posisi seakan hendak melindungi kandungannya.
"Kak, sakiiit ...,"dia berkata lirih sambil memegang perutnya, dalam posisi miring, ketika tubuhnya sudah tergeletak di lantai.
Tanpa berpikir panjang, dia segera menghampiri Naura. Lalu meletakkan kepala Naura dalam pangkuannya.
"Mana yang sakit, Sayang." kata Ulya, menghibur Naura. Meski hatinya sangat cemas dengan keadaan Naura dan juga bayinya.
"Mustofa, cepat panggil ambulance!"teriaknya.
"Baik, Kak,"jawab Mustofa. Dengan cepat dia memanggil nomor yang dituju.
"Pa, kenapa mama?"
Devra yang tak mengerti apa-apa mendekat pada Ulya, lalu membelai lembut perut Naura.
"Mama nggak apa-apa, Sayang." kata Naura mencoba bersikap tenang. Meski keringat dingin mulai keluar sebagi reaksi rasa sakit yang dia derita.
Tak perlu waktu lama, sebuah ambulance telah terparkir di depan rumah mereka. 2 orang perawat membawa tempat tidur beroda memasuki ruangan itu.
"Ibu kah, pasien yang harus kami bawa."
"Ya, Sus."
Perawat itu segera mengangkat tubuh Naura dengan dibantu Ulya, meletakkannya di tempat tidur itu. Lalu membawanya ke dalam ambulance.
Ulya dengan menggandeng Devra mengikutinya dari belakang, memasuki mobilnya sendiri yang masih terparkir di depan rumah, menuju rumah sakit, kebetulan tak jauh dari komplek perumahan mereka.
Tiba di rumah sakit itu, Ulya mengikuti kemana Naura dibawa. Dia benar-benar menghawatirkannya. Tepat di depan pintu observasi, dia dicegah masuk oleh salah seorang perawat yang ada di sana
"Maaf, bapak tak boleh masuk."
Dan pintu itu tertutup kembali dengan rapat.
Ulya pun kembali menuju kursi kosong yang ada di depan ruangan itu.
"Pa, apa adik bayi mau lahir?"tanya Devra dengan kepolosannya.
Tanpa menjawab pertanyaan Devra dia mengangkat telpon, menghubungi umminya. Hanya beberapa kata yang dia ucapkan, lalu menutupnya kembali.
"Doakan yang terbaik buat mama ya, Devra," jawab Ulya sambil mendekap putrinya. Devra mengangguk senang.
Tak lama, pintu ruang itu terbuka kembali.
"Suami ibu Naura?"
Segera Ulya berdiri menghampirinya.
"Ya, saya." jawabnya. Meski belum resmi. Tapi mau gimana.Tak ada siapa-siapa lagi saat ini mendampingi Naura.
"Silahkan masuk!"
Ulya dan Devra mengikuti kata perawat itu.
"Silahkan duduk, Tuan." kata seorang dokter yang duduk dibelakang meja.
Ulya duduk dengan cemas sambil memangku Devra yang tak mau lepas darinya.
"Begini, Tuan. Meski secara keseluruhan keadaan bayi dan ibunya cukup baik. Tetapi kontraksi pada saat ibu Naura jatuh cukup kuat.
Demi keselamatan semuanya, kami mohon persetujuan, melakukan tindakan operasi caesar pada ibu Naura. Bagaimana, Tuan?"
"Lakukan yang terbaik, Dok."jawab Ulya.
"Baiklah. Silahkan Tuan tunggu di luar!"
"Tapi, bolehkah saya menemuinya barang sebentar."
"Silahkan. Dia ada di ruang itu." sambil menunjukkan ruangan yang tertutup kaca.
__ADS_1
"Antarkan, Suster."
"Mari, Pak. Ikut saya!"
Ulya yang sedang menggendong Devra mengikuti suster itu melangkah. Di ruangan itu dia dapati Naura sedang berbaring dengan infus di tangannya.
"Kak," panggil Naura.
Ulya menghampirinya.
"Nggak apa-apa, Naura."
"Jangan pergi."
"Ya, Naura. Kakak tetap di sini. Jaga kamu dan baby kita."
"Makasih, Kak."
"Ya Dik. Tak usah cemas."
Ulya mengecup pucuk kepala Naura, sebelum meninggalkannya.
"Sudah, Tuan."
"Baiklah, terima kasih."
Ulya memandang dengan do'a, sewaktu Naura dibawa pergi oleh perawat-perawat yang mendampinginya, ke ruangan yang ada di sebelahnya lagi.
"Kita keluar ya, Devra."
Meski bingung, mengapa mama Naura dibawa pergi, tapi Devra menggangguk senang.
"Tuan membawa baju ganti dan kain untuk ibu?" tanya seorang perawat saat dia akan membuka pintu, meninggalkan ruangan itu.
"Sebentar." jawab Ulya sedikit tergesa menengok seseorang yang amat ditunggu. Dari belokan dia melihat ummi dan bi Fatim tengah berjalan ke arahnya.
Dia melambaikan tangannya. Segera bi Fatim setengahberlari menuju kearahnya.
"Terima kasih, Bi. Aku tak mengerti soal ini. Tapi kalian sudah menyiapkannya."
Segera Ulya mengambil tas kecil itu dan memberikan pada perawat yang menunggunya dengan sabar.
"Terima kasih, Tuan." ujarnya sambil menutup pintu itu kembali.
Ulya dengan gelisah mencoba untuk duduk tenang di depan ruangan itu. Tapi tak bisa dia lakukan. Sebentar duduk, sebentar berdiri mondar-mandir dengan gelisah.
Ulya membiarkan Devra asyik bermain-main dengan ummi dan bi Fatim.
Tak lama kemudian mama Efsun dan Ahmad datang.
"Tante," sapa Ulya menyambut kedatangan mereka.
"Bagaimana keadaan Naura?"
"Masih dalam ruang operasi. Maafkan Ulya tante."
"Tak apa. Semoga semuanya selamat."
Sudah hampir 25 menit, belum ada kabar dari ruang operasi membuat Ulya sangat-sangat cemas.
Maka ketika muncul kepala seorang perawat dari balik ruang itu, dia segera berlari menghampirinya.
"Bagaimana suster?"
Suster itu tak menjawab apa-apa.
"Adakah yang mempunyai golongan darah O rhesus negatif."
Semua saling berpandangan, tak tahu harus menjawab apa. Karena mereka tak memiliki golongan darah tersebut. Membuat Ulya makin gelisah.
__ADS_1
Untunglah Mustofa yang baru saja bergabung , mendengar hal itu.
"Saya, Suster."
"Mari ikut saya."
"Makasih, Mustofa." kata Ulya.
"Tapi, habis ini kakak ipar ....."Mustofa mencoba mencandai Ulya yang sudah sangat gelisah.
"Jangan macam-macam kamu, awas!"
Hampir saja Ulya meninjunya kalau saja Mustofa tak segera masuk ke dalam ruangan itu dan menutupnya dengan rapat.
Tak sampai 15 menit, Mustofa sudah keluar dari ruang itu. Dalam keadaan tubuh agak sempoyongan.
""Mustofa, kamu nggak apa-apa?"tanya Ulya dengan rasa khawatir.
"Aduh, darahku habis diminum vampir." Mustofa mengadu.
Ulya baru menyadari kalau Mustofa mempermainkannya.
"Kamu itu. Jangan pura-pura!"
Mustofa hanya tertawa lalu pergi meninggalkan Ulya yang masih mondar-mandir tak tentu.
"Mau kemana kamu."
"Cari makanlah."
"Ya, pergi sana!"
"Habis manis sepah dibuang. Habis darah kuserahkan aku dibiarkan kelaparan."gerutu Mustofa yang tak habis-habis mencandai Ulya.
Tapi yang di ajak bercanda benar-benar nggak bisa konsen. Terus saja matanya melirik ke arah pintu.
Tepat jam 9 malam, dia mendengar suara bayi menangis. Harap-harap cemas dia menengok ke arah pintu yang entah kapan hendak dibuka.
Akhirnya penantiannya berakhir, manakala seorang perawat muncul dengan wajah bahagia menemui mereka.
"Barangkali ayah bayi tersebut mau mengazani? "
"Saya, Suster."
Dengan cepat dia menghampiri perawat itu. Namun dicegah oleh Ahmad.
"E ... e ... e ... ngaku-ngaku." Dia juga mendekati perawat itu.
"Sebentar-sebentar, masak suaminya dua." kata perawat itu bingung.
"Maaf, Sus. Dia itu ngaku-ngaku. Aku kakaknya. Jadi aku yang lebih berhak." jawab Ahmad dengan jelas dan tegas.
"Lha, yang tanda tangan tadi dia." jawabnya masih dengan wajah yang diliputi kebingungan.
"Maaf, Sus. Lebih baik saya saja, suara dia menggelegar bikin bayinya tambah nangis nanti." Ulya mencoba mengajukan diri.
"Sudah-sudah, kalian berdua boleh masuk. Cuma jangan berisik. Kebetulan kembar. Boleh berbagi." jawab perawat sekenanya. Yang disambut senyum bahagia keduanya.
Tiba di ruangan operasi kedua mendapati dua bayi yang teramat mungil dan masih merah dalam gendongan 2 orang perawat.
"Silahkan!"
Segera Ulya dan mengazaninya ditelinga kanan dan mengiqomati đi telinga kirinya. Lalu meyerahkan kembali ke perawat tersebut. Demikian pula dengan Ahmad melakukan hal sama.
"Suster, boleh saya melihat mamanya?"tanya Ulya memohon.
"Tuan suaminya?"
Ahmad langsung melirik Ulya dengan tajam.
__ADS_1
"Hayo-hayo ngaku-ngaku ya ...."
"Kalau bukan, silahkan tunggu di depan ruang perawatan. Sebentar, ibu Naura biar dibersihkan dulu."