
Tak kuasa air mata Nur keluar dari persembunyiannya. Ada rasa kehilangan yang sangat dalam. Dia tak mengira bahwa cinta yang tumbuh semenjak kanak-kanak telah kandas karena kesalahan yang benar-benar tak disengaja. Dia menumpahkan kesedihannya di pangkuan bu Farhan. Ibunda sejak dia kanak-kanak.
"Ibu, mungkinkah kak Uya kembali ke Nur."
Pertanyaan yang tak mungkin dijawab. Karena bu Farhan juga tak tahu alasan Bahrul pulang lebih dahulu. Yang dia ketahui, Tuan Assegaf mengatakan bahwa kekeluargaan ini jangan putus apapun yang terjadi. Maksudnya apa ... bu Farhan juga tidak tahu.
"Nur, ibu tak tahu apapun tentang perasaanmu. Karena ibu tak pernah punya rasa berlebih pada ayahmu sebelum ibu menikah. Kalau Nur punya rasa yang berlebih mungkin itu cobaan."
"Ingat pada yang Kuasa banyak-banyak, semoga bebanmu menjadi ringan."
"Ya, Ibu."
"Kulihat kamu sudah bersih, kamu akan sholat dhuha?"
Nur mengangguk.
"Simpan cincin ini!"
"Nur tidak pantas memakainya."
"Tapi tak mungkin cincin ini dibuang, kan?"
"Ibu jangan memberiku harapan."
"Apakah kalau kamu tidak bersama dengan Bahrul. Dia akan melupakanmu. Setidaknya simpan dulu. sampai kamu siap mengembalikannya."
"Tapi, Ibu."
"Ibu tahu. Simpan dulu. Meski kamu tak memakainya."
Nur segera menyimpan cincin dan liontin hati dalam kotak. Lalu meletakkannya ke dalam almari.
"Kalau sudah selesai, kamu sarapan ya ... !"
"Ya, Ibu."
Bu Farhan membelai lembut rambut Nur. Untuk memberikan kenyamanan pada hatinya yang sedang patah.
Hingga Nur melepaskan sendiri sentuhan bu Farhan. Mengambil mukena dan membentangkan sajadah di sisi tempat tidur. Untuk mengadukan rasa yang kini bergema dalam dada. Kepada sang pemilik jiwa dan rasa.
Bu Farhan beranjak dari tempat duduk. Meninggalkan Nur yang sedang bersiap diri untuk bersujud.
Saat.berjalan melintas dalam pikiran bu Farhan bayangan tentang Nur kecil. Terkadang, membuatnya meneteskan air mata. Bagaimana mungkin, ada orang tua yang tega, meletakkan begitu saja buah hatinya, di sebuah gubuk dekat sawah miliknya.
Ah ... dunia benar-benar kejam untuknya.
Tak tega dengan bayi mungil itu. Akhirnya dia membawanya pulang. Mengasuhnya dengan baik. Hingga tumbuh dewasa.
__ADS_1
Hanya saja ada satu dua orang yang mencibir Nur kecil. Dengan sebutan anak pungut. Membuat hati bu Farhan tak terima.
Bertahun-tahun dia mencari keberadaan orang tua Nur kecil. Namun tak jua dia temukan. Bukan untuk apa-apa. Tapi mengingat bahwa Nur adalah seorang perempuan. Yang memerlukan perwalian dalam pernikahannya kelak.
Meskipun dengan ditemukan orang tua Nur. Dia takut Nur akan pergi mengikuti orang tua yang melahirkannya. Tentu dia sangat kehilangan.
Sekarang Nur telah tumbuh menjadi seorang gadis. Dan sedikit banyak telah mengenal cinta. Keberadaan orang tuanya belum juga ditemukan.
Kemarin sewaktu pak Farhan datang ke rumah haji Shodikin, ada sedikit harapan tentang keberadaan orang tua Nur. Semoga saja itu benar. Tinggal tunggu waktu untuk kedatangan mereka. Begitulah ceritanya ....
Tak mungkin saat ini dia ceritakan pada Nur. Apalagi dia sedang patah hati.
Patah hati yang membuat diri ini tersenyum.
Mah ... orang kuno tak kenal cinta.
Peduli amat. Yang penting bahagia. Karena pak Farhan hingga saat ini masih setia. Itulah kata hati bu Farhan yang sudah berumur hampir 58 tahun. He ... he ... he ....
Cuma kelemahannya, dia tidak tahu harus bagaimana untuk meredakan patah hati pada putrinya. Karena tak pernah mengalami hal demikian.
Ah ... lupakan nanti juga reda sendiri, pikirnya.
Lalu bu Farhan menyibukkan diri dengan rutinitas hariannya. Yaitu memberi makan ternaknya. Lalu ke ladang yang tak jauh dari rumahnya. Bersama dengan pak Farhan, Nadya, putra-putrinya serta suaminya.
Nur yang sudah selesai melaksanakan sholat dhuha,mendapati meja makan telah sepi. Rupanya semua telah selesai sarapan.
Membuat Nur makin tak berselera makan. Dia kembali ke kamarnya.
Banyak banget wa-nya. Maklum sejak malam hp belum kubuka sama sekali.
Terakhir yang kubaca adalah,
[Kapan ke rumahku, kutunggu. Aku lagi di rumah nich ...]
Rina, kamu tahu saja kalau hatiku lagi galau. Tak ada salahnya bila berkunjung ke rumahnya. Moga-moga bapak dan Ibu mengijinkan. Toh perjalanan tak sampai setengah jam dari sini. Sekarang apa besok pagi ya ...?
Ah lebih baik sekarang, Lusa sudah balik ke Bandung.
Setengah berlari, Nur menjumpai bapak dan ibu Farhan di Ladang.
"Ibu, Nur mau ke teman teman Nur di kota. Boleh ya ..."
Sangat jarang bu Farhan melarang putri-putrinya pergi. Asal tujuan jelas. Dan pulang sesuai waktu yang ditentukan. Demikian untuk kali ini. Apalagi kakak iparnya bersedia mengantarnya.
Dia mengangguk.
"Makasih, Ibu."
__ADS_1
Kupeluk dia dengan gembira.
Bu Farhan hanya tersenyum mendapatkan pelukakan dari putrinya. Sudah biasa kalau putrinya selalu begitu. Ini yang bikin hati bu Farhan seakan tak rela bila sewaktu-waktu harus berpisah dari Nur.
"Abi, kita boleh ikut ya ...?" Noval dan Novi merajuk.
"Ya sudah. bersihkan diri kalian dulu."
Siapa yang tahan melihat wajah polos mereka yang memohon, mengiba sangat.
Tak perlu waktu lama kita semua sudah siap untuk berangkat melewati jalan yang selepas subuh aku ke sini.
Entah mengapa anganku memunculkan kata-kata yang tak kumengerti. Mungkin efek patah hati.
*
Melintasi jalan yang sesaat lalu engkau ada
Entah mengapa bayangmu melintas seakan menyapa
Dalam anganku yang mulai gila
Berharap bahwa lambaian tanganmu memanggilku dalam rengkuhan sayang
Apa yang hendak ku kata
Bila dirimu benar-benar ada
Akankah kita bersama atau berpisah
Semua masih rahasia dalam diam
Kakak, mengapa kata-kata itu mesti ku dengar
Hingga bisik amarah menguasai diri yang tiada tahu
Dan engkau tinggalkan diriku dalam salam sapamu
Dirimu yang yang senantiasa kunanti dalam rindu
*
Untunglah anganku tak lama kembali pada kesadaran. Karena tingkah lucu mahluk kembar di depanku.
Punya ponakan kembar benar-benar berisik. Tak tahu kali kalau kakak lagi ingin kesunyian. Menikmati hati yang patah-patah, berdarah-darah.
Akhirnya aku bisa tertawa melihat mereka. Yang tak pernah habis ide untuk menggodaku. Tentu dikomandoi oleh kakak ipar yang mengetahui kejadian semalam. Tapi tak tahu babak berikutnya. Kalau aku amat menyesal melepas cincin pertunangan.
__ADS_1
Sesampai di rumah sahabatku yang teramat besar dan juga mewah. Sejenak terlupa dengan apa yang kini ku rasa.
Kini aku sadar kalau hanya mampu berpasrah pada masa. Dan membiarkan waktu yang berbicara. Antara berpisah ataukah berjumpa.