Mahabbah Rindu

Mahabbah Rindu
Memutuskan Hari H


__ADS_3

"Jadi, waktu dinner, itu rumah makan Kakak?" kata Rima tak percaya. Dia tak menyangka kalau calon suaminya memiliki usaha cukup berhasil, dan juga memiliki saham yang besar pula. Bodohnya dia ....


Lagian kenapa juga punya pemikiran membanding-bandingkan antara kak Ulya dan calon suaminya. Seakan belum rela .... Apa untungnya juga. Bukankah jodoh sudah ada yang mengatur. Belajar Rima ... Rima, bisik nuraninya mulai membuat pikiran Rima kembali normal.


"Pantes, saat itu ... ada yang pamitan ... panggil 'Sir'."


Apaan sich Rima ini. Buka-buka rahasia aja ... batin Mustofa bergemuruh. Dia hanya tertunduk dengan senyum simpulnya. Dan kak Ulya juga, kenapa juga buka rahasia di depan calon istriku. Bisa-bisa nanti jadi matre. Tak maulah aku .... Ah sudahlah ... Terima apa adanya. Aku kok makin suka, eh ... cinta ndeng ... apalagi sikap polosnya itu.


"Dinner? ... Aku benar tak nyangka, kalian punya kisah romantis selama pacaran." Ulya menggoda. Nach kan .... Mustofa melirik. Rima yang kini mulai tertunduk malu.


"Tak apakan ...." balik menggoda. "Kayak kakak tak pernah muda aja."


"Soal itu aku ngalah, deh."


Ya ... masalahnya yang pernah dia rasakan hanya membuatkan nasi jagung bumil yang sedang ngidam. Nggak ada yang namanya dinner. Sudah punya momongan ... nggak pikiran begituan.


"Tante Rima, siap-siap ditinggali terus nich ...." Naura sudah berada di tengah-tengah mereka. Itu karena si kembar yang tak mau diam. Mereka ingin bermain dengan Ulya. Untung ... kakak Devra hari ini lebih banyak bermanja sama Ummi. Kalau semua sedang merajuk, minta dimanja mama papanya, susah juga.


"Nur, kamu apaan sich." jawab Rima tersipu malu.


"Jadi gimana nich, Tante Rima? .... Kapan nikahnya? .... Lama-lama kanginan lho ...."


Rima melirik pada Mustofa. Bukannya dia tak tahu, kalau kedua keluarga menginginkan secepatnya. Tapi ... saat ini dia ingin menyelesaikan S2-nya dulu.


"Ya ... Akan kucoba bersabar." sahut Mustofa sambil memasang muka mendung. Yang membuat Rima tak enak hati.


"Kakak ... Kak Mustofa mau nunggu kan?" jawab Rima manja dan cemas. Entah sejak kapan rasa takut kehilangan Mustofa itu ada. Padahal sesaat yang lalu, dia masih cuek-cuek aja.


"Entahlah, aku takut kalau nggak bisa menahan pandanganku dari cinta yang terkubur nafsu." Mustofa juga ikutan menggoda calon istrinya itu.


"Nur, apa setiap laki-laki begitu ya ...." tanyanya sambil berbisik.


Sebenarnya Naura ingin tertawa terbahak-bahak mendengar bisikan Rima. Meskipun sudah tinggal di negeri paman Sam, Rima masih menjaga adat ketimuran. Dan masih polos .... Rasanya ini kesempatan untuk membalas rencana Rima pada dirinya dulu.


"Atau gini aja, ijaban dulu. Resepsinya kalau udah wisuda?" kata Naura asal-asalan.

__ADS_1


" Wah ide bagus, tuch?" sahut Ulya, ikut ngompor-ngompori juga.


"Ya dech ... Aku ikut kata keluarga." jawab Rima.


Akhirnya ... Rima luluh juga. Ulya mendekati Abbah yang masih berbincang hangat dengan papa Sofyan. Mereka berbisik-bisik sejenak. Terlihat Abbah menggangguk-angguk. Lalu mengungkapkan itu pada papa Sofyan. Baik papa Sofyan maupun Abbah, ternyata sepakat.


"Bagaimana, Ramadhon."


"Bulan bagus. Setuju."


Para orang tua sama-sama berbisik, lalu mengangguk senang. Terlihat sudah sepakat. Akhirnya Abbah angkat bicara.


"Begini, sebagai orang tua, kami sebenarnya khawatir. Apalagi kalian berdua sudah dewasa. Tak ada alasan bagi kami untuk menghalangi niat baik kalian. Dan apabila disegerakan, kami sangat merestui. Hubungan kekeluargaan kita, semakin erat."


Lalu Abbah berhenti sejenak, menyeruput kopi yang ada di depannya. Setelah lega, beliaupun melanjutkan kata-katanya,


"Bagaimana kalau pernikahannya kita selenggarakan di bulan Romadhon, bulan depan. Dan resepsinya bulan Syawwalnya. Kami rasa itu bulan yang bagus. Apa ada yang keberatan?"


Semua tampak senang. Demikian juga dengan papa Sofyan.


"Aaamiiin ...." jawab hadirin hampir keseluruhan.


Rima kaget mendengar pidato Abbah dan papanya. Tak sangka mereka meresponnya begitu. Bukankah tadi Naura bilang ijab qobulnya yang segera, lalu resepsinya habis wisuda. Kok ....


Tapi dia tak berani menolak apa yang sudah jadi keputusan para orang tua. Entahlah, apa dia senang atau tidak. Yang dia tahu, saat ini sangat bingung. Itu yang menyebabkan Rima terlihat gelisah di mata Naura.


Naura yang tahu sahabatnya begitu, segera mendekatinya.


"Apa yang kamu takutkan, Rima. Bukankah itu lebih baik. Mustofa bisa menjagamu selalu." ia mencoba menenangkan.


"Entahlah, Nur."


"Insya Allah Mustofa mengerti kok, kalau kamu mau menyelesaikan kuliah dulu sampai wisuda. Percaya dech ... Okey!" Dia melakukannya sambil menepuk-nepuk pundak Rima.


Akhirnya Rima pun mengangguk, meski dengan terpaksa.

__ADS_1


Lain Rima lain pula Mustofa. Satu sisi dia senang, karena segera dapat berdekatan dengan pujaannya, satu sisi dia masih ragu. Akankah istrinya mampu menerima dirinya seutuhnya, tanpa bayang-bayang Ulya di matanya. Tuhan beri aku jalan ....


Tapi kata orang jawa 'Witing Tresno Jalaran Soko Kulino'. Semoga itu terjadi padanya.


💎


Sehari sebelum hari H, keluarga Abbah sudah datang di Indonesia. Menginap di rumah lama, mempersiapkan semua dari sana. Hanya saja, Naura beserta si kembar datang terlebih dahulu tanpa Ulya, ke rumah papa Sofyan. Ini semua juga karena permintaan papa Sofyan. Dia sangat merindukan cucu kembarnya.


Agar tidak kerepotan dia membawa juga Ifroh, menemani menjaga si kembar yang aktifnya luar biasa. Sedangkan Ulya kali ini menemani Mustofa, akan datang beserta keluarga Abbah.


Selesai sholat dhuhur, Rima sudah bersiap-siap. Dia akan dirias oleh mbak Hesti, orang yang sama saat Naura menikah dengan Andre, kakaknya. Beruntung saat itu si kembar sedang tidur, Naura bisa menemaninya dengan leluasa.


"Gimana, cantik?" Naura hanya memperlihatkan senyum tipisnya sebagai jawaban. Narsis juga nich anak ....


"Di mata Mustofa kamulah paling cantik, meski tanpa riasan. Gen jawa yang kamu miliki, benar-benar alami. Sedap dipandang mata."


"Kamu juga cantik. Wajah timur tengahmu yang mempesona, sampai-sampai kaka Ulya bisa jatuh cinta padamu. Dan sekali-kali tak mau berpaling?"


"Kalau boleh jujur, aku dulu bingung dengan diriku. Karena aku berbeda dengan ibu, mbak Nadya dan teman-teman lainnya. Aku jadi malu. Beruntung aku punya ibu yang sangat mengerti. Sejak kecil, selalu diberi baju muslimah dan cadar. Bisa menyembunyikan diriku yang berbeda dari mereka. Hanya waktu di rumah Abbah dan Ummi, aku buka cadar. Mereka sepertinya sama denganku. Aku punya keberanian untuk itu."


"Jadi kamu pakai cadar itu, karena ingin menutupi dirimu yang berbeda ...?"


"Pada mulanya. Tapi setelah belajar, aku makin mantap untuk memilih pakai cadar. Aku bersyukur pada ibu yang udah mengenalkan pakaian itu sejak kecil, meski saat ibu hanya ingin agar aku tak jadi bahan olok-olokkan."


Tanpa bisa dicegah, air mata Naura menetes, teringat bu Farhan. Ibu yang telah mengasuhnya sejak bayi. Dengan segera dia menghapus air matanya.


Ingin rasanya Rima mengorek masa kecil Naura ....


Apa benar yang dikatakan Mustofa, kalau Nur sudah ada di hati Ulya sudah sangat lama ....


"Kamu sudah kenal kak Ulya sejak kecil ya, Nur."


....


....

__ADS_1


__ADS_2