Mahabbah Rindu

Mahabbah Rindu
BAB 48 : Selamat Tinggal


__ADS_3

Rasanya berat meninggalkan kampung halaman dimana aku dibesarkan. Ada banyak kenangan di sana. Cerita suka maupun duka terukir dengan indah menghias lembar demi lembar perjalananku.


Tentang hamparan persawahan, tentang hutan, tentang senja, tentang cemara,tentang jalan yang remang, tentang subuh berselimut kabut. Semua kini harus kutinggalkan.


Dan yang lebih membuatku tak bisa menyembunyikan rasa sedih, manakala menatap gundukan yang masih merah dari orang yang sangat kucintai. Orang sangat berjasa mengukir diri dengan kasih sayang. Hangat pelukan dan belaian lembut dari jari-jari tangannya.


"Naura," bisikan lembut mama, di telinga.


Tak membuatnya bergeming dari mengangkat tangan, khusyu' berdoa.


"Dimanapun kamu berada, kamu bisa mendokannya."


Dengan lembut nyonya Efsun mengangkat tubuh putrinya yang mulai terisak, menangis lirih.


Sambil berdiri mencoba merenung sejenak tentang jalan hidupnya. Tapi semua pasti ada hikmahnya.


Ibu


Ijinkan saat ini aku pergi. Kasih sayangmu akan aku rasa selalu dimanapun aku berada.


"Sudah, Naura."


"Ya, Mama."


Sesuai dengan rencana, hari ini kita berangkat ke tempat mama dan daddy di Turki. Bersama kakak Ulya juga.


"Ma, aku pingin tengok rumah dulu. Boleh?"


"Sebentar saja, nanti keburu telat."


Pak Arman menjalankan mobil dengan berlahan, ketika melalui rumah yang akan kutinggalkan.


Kulihat rumah dari jauh, terlihat sangat sepi. Ayah tidak lagi di sana. Dia ikut dengan mbak Nadya ke Jakarta seminggu setelah ibu meninggal. Rumah diserahkan ke mbak Ika untuk merawatnya.


Selamat tinggal semuanya.


"Sudah Ma, makasih."


"Sudah pak Arman kita berangkat."kata pak Salim.


Mobil itupun melaju berlahan meninggalkan perkampungan asri, yang ada di bawah kaki gunung merapi. Aku berharap suatu saat bisa menengok tempat ini kembali.


Setelah memasuki jalan raya perjalanan ini terasa semakin cepat. Meninggalkan kenangan kenangan yang tak mungkin kulupakan.


Tiba di bandara Adi Sucipto di Maguwo harjo, tak sangka kami di sambut oleh papa Sofyan dan seluruh keluarga.


"Papa, akan ke Turki?"


"Tidak, Nak. Insya Allah papa akan ke sana nanti kalau papa longgar. Jaga baik-baik cucu papa Naura."


"Papa hanya rindu sama cucu papa ya ..., tidak rindu Naura."


"Tidak begitu Naura, Kami rindu kalian semua." kata nyonya Erika dengan memeluk Naura mesra.


"Hai tante Rima. Kapan-kapan jenguk kami ya ...."


"Pasti."jawabnya riang sambil menarik tangan Naura menjauh dari orang-orang. Nur mengutip saja. Setelah dirasa aman dia berkata,


"Nur, aku boleh minta tolong nggak?"


"Semoga aku bisa. Katakan saja."

__ADS_1


"Eeemmmm ...."


Sepertinya dia ragu untuk mengatakannya.


"Katakan saja, mumpung aku masih di sini."


"Bilang ke kak Ulya kalau ... aku ... suka dia."kata Rima tersipu malu. Dengan ekor mata melirik kesana-kemari. Takut terdengar orang.


Naura senyum-senyum mendengar kata-kata sahabatnya itu.


"Kanapa nggak kamu katakan sendiri. Itu ada orangnya."


Rima menunduk segan.


"Tidak ... tidak, aku takut ditolak. Setidaknya kalau kamu yang mengatakan, aku berharap kak Ulya bisa mempertimbangkan."


Nur semakin ingin tertawa mendengar permintaannya itu. Wah, jadi mak comblang nich, bisik batinnya.


"Akan kucoba. Tapi jangan kecewa bila kak Ulya memberikan jawaban yang tidak kau inginkan."


Entah mengapa perasaan Rima sulit sekali dibendung, manakala dia sudah mengagumi seseorang. Dia pasti akan berusaha mendapatkannya. Ini yang bikin pusing Nur.


Tapi biarlah waktu yang akan menjawabnya. Semoga Rima segera dewasa menghadapi perasaannya. Batin Nur sambil menatap sahabat sekaligus adik iparnya itu.


Meski sudah diperingatkan papanya, perasaan itu tak mampu dia usir dari hatinya. Hingga Rima masih juga berharap meski secara nyata, Ulya sudah menyatakan perasaannya pada Naura.


Entah karena cinta itu buta ....


Tak tahulah ....


"Rima, sudah ya, sudah ada panggilan tuch. Selamat belajar juga untukmu."


"Kamu?"


"Sudah, semoga selamat sampai tujuan." kata Rima sambil memberikan cium jauh pada Naura. Yang dibalas lambaian tangan Naura. Hingga semua memasuki ruangan khusus menuju pesawat.


Berlahan pesawat memasuki landasan dan bersiap tinggal landas.


Aku hanya bisa melambaikan tangan pada semua. Papa Sofyan, mama Erika , Rima, kak Nadya, kak Hamdan, Noval, Novi, bapak dan orang yang terkasih yang sekarang berbaring di ribaan pertiwi untuk menanti panggilan Illahi di hari akhir dari dunia ini. Mas Andre dan ibu.


Selamat tinggal semuanya ....


🛫🛫🛫🛫


Di dalam pesawat ....


Ternyata meski kamu tidur dengan cadarmu dan juga perutmu yang mulai tampak membuncit, kamu tetap cantik Naura.


Astaghfirullah ....


Dia kan belum halal. Mengapa aku selalu tergoda untuk memandangnya.


Tuhan lipat dong waktu, biar dia bisa jadi milikku, batin Ulya meronta.


Uuuaaaggghhh, Alhamdulillah ...


"Kakak,ada apa?"


Mata Naura terbuka berlahan, tersadar dari rasa kantuknya. Keadaan yang nyaman di dalam pesawat membuatnya tertidur sejenak. Sebagai jeda untuk mengistirahatkan badan yang sedari pagi sibuk dengan ritual perpisahan.


"Tak ada apa-apa. Hanya mengagumi sesuatu yang pantas untuk dikagumi."

__ADS_1


"Lha mulai. itu pantasnya untuk istri kakak nanti."


Ulya hanya tersenyum menatap Naura. Sedang yang ditatap cuwek saja. Hati siapa yang nggak gemes dibuatnya.


Sejenak kemudian Naura menatap Ulya.


"Ada apa Naura."


Naura senyum-senyum. Sambil memainkan bola matanya.


Gimana ini ...


"Kak, tadi aku dapat pesan dari Rima."Naura berhenti sejenak, membuat Ulya penasaran.


"Pesan apa?"


"Disampaikan apa tidak ya ...."


"Hem ... terserah. Disampaikan, kakak dengar. Kalau tidak, ya ...." ujar Ulya gemas.


"Rima bilang bahwa dia suka sama kakak."


"Kalau itu benar, kakak merasa tersanjung sekali. Akhirnya ada yang menyatakan suka pada kakak."


Naura melengos, lalu mengambil bacaan yang ada di depannya.


"Tapi kakak akan merasa lebih lagi, kalau yang mengatakan adalah orang yang di samping kakak."


Naura masih diam, seakan tidak mempedulikannya.


"Maunya ... Tapi mengapa Kakak masih menyembunyikan sesuatu. Seakan nggak percaya sama Naura."


"Tentang apa"


Naura menghentikan kata-katanya. Dia merenung sejenak. Tak bolehkah dia tahu tentang dirinya.


"Tentang mama Devra, mengapa Kakak sampai berpisah."


Ulya diam lama, dengan beberapa kali menarik nafas panjang.


"Baiklah, tapi apapun yang kakak katakan, jangan sampai merubah perasaanmu pada kakak."


"Ya, aku tahu. Itu hanya masa lalu kakak."


"Memang bukan itu, Tapi ..."


"Tapi apa?"


"Yang bikin Naura sedih mengapa saat itu kakak menghendaki untuk tak memberitahu terlebih dahulu akan kedatangan kakak. Dan kakak mengatakan nggak menginginkan kita bersama. Itu yang bikin Naura sedih. Apakah karena kakak masih berharap dengan mama Devra."


"Tidak. sama sekali tidak...."


Lalu Ulya menurunkan kursinya, Agar dapat pembicaraanya dengan nyaman...


"Sengaja cerita itu kusimpan untukku saja. Agar tak seorangpun tahu. Ini semua demi Devra."


"Nach itu yang bikin Naura merasa tak berarti di samping kakak."


"Baiklah, kakak akan cerita sedikit."


"Naura tersanjung, Akhirnya kakak mau mengungkapkan."

__ADS_1


"Ini di mulai saat kakak terjun ke dunia politik, mengikuti jejak abah."


__ADS_2