
"Bapak mengenalnya?"
"Ya. Itu majikan saya."
Doni segera berlalu mengambil mobilnya. Mengikuti ambulance hingga sampai di rumah sakit terdekat.
Dia mencoba tenang, mengambil nafas dalam-dalam. Lalu mengangkat hpnya, menghubungi nyonya Erika.
"Assalamu'alaikum ..., Nyonya."
"Wa alaikum salam ...., ada apa Doni?"
"Tuan Sofyan ada?"
Doni tak tega menyampaikan kabar itu pada nyonya Erika.
"Ada, Sebentar."
Doni menunggu dengan sabar. Terdengar nyonya Erika memanggil suaminya.
"Pa, ini ada telpon dari Doni."
"Tumben?"
Tak lama terdengar suara mendekat, dan menyapanya.
"Assalamu'alaikum ..., Doni. Ada apa?"
"Itu Tuan, Den Andre dan istrinya terseret ombak."
"Keadaannya bagaimana, Doni?"
"Mereka belum sadarkan diri. Dan sepertinya den Andre terluka parah."
"Sekarang mereka dimana?"
"Di rumah sakit. Saya serlok Tuan."
"Makasih. Jangan tinggalkan mereka sampai aku datang."
"Ya, Tuan."
"Assalamu'alaikum ...."
"Wa alaikum salam ...."
Tuan Sofyan menutup hpnya. Lalu menatap istrinya sedih. Dia tak bisa berkata apa-apa.
"Pa, ada apa?"
"Kita ke tempat Doni sekarang."
Hanya itu yang bisa dia ucapkan, lalu melangkah ke garasi mengerluarkan mobilnya.
Meski dengan wajah bingung nyonya Erika mengikuti suaminya. Yang melajukan mobil dengan cepat meski tenang.
Sesampai di rumah sakit, Pak Sofyan langsung masuk dan mendapati Doni di depan sebuah ruangan.
"Di mana mereka?"
"Di dalam , Tuan."
Doni membiarkan pak Sofyan masuk ke dalam ruangan itu, diikuti oleh nyonya Erika.
Erika baru sadar, ketika di dalam mendapati tubuh putranya dan isrinya, diam tak bergerak dan bernafas dengan bantuan selang. Mereka masih berbalut baju basah. Dan terlihat luka Andre yang belum dibersihkan.
"Andre, apa yang terjadi?"
Dia berkata pada tubuh yang diam.
"Sayang, kamu jaga mereka. Papa akan ambil baju di hotelnya."
Nyonya Erika menggangguk. Meski sangat sedih, tapi dia mencoba untuk tabah.
Setelah tuan Sofyan dan Doni pergi, dia segera memanggil salah seorang suster meminta seember air hangat. Guna membersihkan darah yang mulai mengering di tubuh Andre.
__ADS_1
Sambil menunggu air itu datang, dia menghampiri Naura yang sedang berbaring lemah. Kebetulan mereka satu ruang.
"Naura. Bisa mendengar mama, Sayang."
Tak ada jawaban yang keluar, hanya hembusan nafas yang mulai terlihat teratur.
Tak lama seorang suster datang dengan membawa seember air hangat.
"Terima kasih, Sus."
Dia menggangguk, meninggalkan nyonya Erika.
Berlahan nyonya Erika mengusap darah yang di kepala, pelipis dan bagian-bagian lainnya. Baru dia sadari bahwa Andre teramat parah lukanya. Banyak lebam-lebam di sekujur badannya. Tak kuasa melihat luka itu, nyonya Erika meneteskan air mata.
"Semoga tak apa-apa, Nak."
Dia berucap sendirian.
Setelah menanti cukup lama, akhirnya pak Sofyan dan Doni datang dengan membawa baju ganti untuk mereka.
"Ini, Ma," kata pak Sofyan.
"Pa. Tolong beritahu besan kita!"
"Iya, Ma."
Pak Sofyan segera keluar mengikuti Doni.
Sejenak dia bingung harus menghubungi siapa. Apakah pak Farhan ataukah tuan Salim. Tapi bila menghubungi pak Farhan ataupun tuan Salim, khawatir terlalu syok.
Akhirnya dia menghubungi tuan Salim, tak ada jalan lain.
Tak berapa lama tuan Salim dan nyonya Efsun datang. Disambut pak Sofyan di depan rumah sakit. Langsung diajak ke kamar mereka.
Saat itu nyonya Erika sudah selesai mengganti baju mereka. Baik Naura maupun Andre.
"Nyonya, bagaimana keadaan mereka?" tanya tuan Salim
"Aku tak tahu."
"Semoga tak apa-apa."
Setelah sekian lama menunggu , akhirnya Naura sadar.
"Mas, mas Andre." bisiknya.
Nyonya Efsun segera mendekatinya.
"Alhamdulillah, Nak. Kamu sudah sadar."
"Dimana ini?"
"Kamu di rumah sakit Sayang."
Naura terlihat lelah. Matanya terpejam lagi.
"Naura, Naura Sayang. Ini mommy."
Nyonya Efsun terus berusaha agar Naura tersadar dengan memberikan terapi wangi-wangian.
"Dimana mas Andre, Mom."
"Ada Sayang. Itu di sampingmu."
Sementara nyonya Efsun mengajak Naura mengobrol agar tetap sadar. Nyanya Erika memanggil dokter.
"Aku mau lihat, Mom."
"Iya, Sayang. Tapi tubuhmu harus kuat dulu."
Tak berapa lama Dokter Maryam datang menghampiri mereka.
"Bagaimana keadaanmu kini, Nona." kata dokter Maryam sambil memeriksa denyut nadi dan tekanan darahnya.
"Bagaimana, Dok."
__ADS_1
"Tak apa-apa. Nona hanya syok. Istirahat sebentar, insya Allah segera pulih."
"Terima kasih, Dok."
"Keadaan suami saya, bagaimana Dok?"
"Itu suami Nona. Kukira dia pacar nona."
Naura tersenyum menatap dokter Maryam.Ternyata dokter Maryam pandai bercanda juga.
"Ya dokter, pacar halal." jawab Naura.
"Sepertinya dia perlu teman dech. Tapi pulihkan dulu keadaan nona. Setelah sehat boleh nemenin."
Kalau bukan karena sedang lemah tubuhnya. Mungkin sudah terpingkal-pingkal melihat gaya dan bahasa dokter Maryam bicara.
"Jangan khawatir. Suami nona sudah ditangani dokter Fadhil. Dia sekarang sedang bicara dengan ayah nona."
"Terima kasih atas kerja samanya, semoga lekas sembuh."
Dokter Maryam melepas selang yang Naura gunakan. Dan merapikannya sebelum meninggalkan ruangan itu.
"Sama-sama, Dok."
Diapun berlalu meninggalkan ruangan itu.
"Mama, bagaimana keadaa Mas Andre?"
Naura mencoba bangkit dan berjalan menuju tempat tidur suaminya, dengan bantuan nyonya Efsun. Mendekati mama Erika yang duduk di samping Andre.
"Dia masih tidur." jawab nyonya Erika. Dia berusaha menyembunyikan keadaaan Andre yang sebenarnya.
Tak lama tuan Salim dan pak Sofyan masuk ke ruangan itu. Dengan diiringi beberapa perawat.
"Maaf ibu, kami akan membawa pasien ini untuk discan." kata seorang perawat dengan merapikan semua selang yang terpasang di tubuh Andre.
Nyonya Erika berdiri memberikan ruang agar mereka dapat melakukan tugasnya dengan leluasa.
"Pa, ada apa?"
"Biarkan mereka melakukan pemeriksaan dengan seksama." terlihat wajah pak Sofyan sendu. Seakan menyembunyikan suatu rahasia.
Pak Sofyan dan tuan Salim mengikuti perawat itu membawa Andre.
Naura yang sedari tadi berdiri, kini merasakan tubuhnya limbung.
Hampir saja dia terjatuh kalau tak disanggah nyonya Efsun dan nyonya Erika.
"Istirahatlah, Sayang." kata nyonya Efsun sambil memapah Naura ke tempat tidurnya.Naura menurut saja.
Tak lama masuk seorang perawat yang membawa makanan siang untuk mereka.
Setelah meletakkan makanan itu, dia segera berlalu untuk melanjutkan tugasnya. Mengantarkan makanan di blok yang kini dia tempati.
Naura terlihat enggan. Dia hanya memandang makanan itu dengan malas.
"Naura, makanlah. Agar kamu bisa pulih. Dan bisa nemenin suamimu."
Terpaksa nyonya Efsun menyuapi putrinya, agar mau makan.
"Aku nggak bisa tenang sebelum melihat keadaan mas Andre."
"Dokter sedang berusaha."
"Kalau nanti Andre sadar. Kamunya berantakan, dia pasti tidak suka."
Akhirnya Naura menyerah dengn bujuk rayu para mama.
Meski enggan, dia habiskan juga makanan itu. Membuat para mama gembira.
"Mama nggak makan?"
"Ya, nanti. Yang penting kalian selamat. Hilang sudah rasa lapar mama."kata mama Erika
Yang diiyakan mommy Efsun juga.
__ADS_1