
"Inna lillahi wa inna ilaihi rojiuun" seru mereka hampir bersamaan, saat roda pesawat menyentuh landasan, karena benar-benar terasa getarannya.
Seketika terlihat wajah mereka agak cemas.
"Semoga tak terjadi apa-apa.'' kata Ulya yang segera diamini Naura.
Syukur alhamdulillah,akhirnya pesawat itu dapat mendarat dengan sempurna. Meski dalam guyuran hujan yang sangat lebat, yang membuat landasan menjadi licin.
Sepertinya yang paling menikmati keadaan yang sedikit bikin was-was adalah Akram. Sampai-sampai dia terkantuk-kantuk, kemudian tidur dengan tenang di pangkuan papanya tercinta.
Naura segera memindahkan ke tempat tidur yang sudah tersedia di kamar. Dan dia kembali lagi menemui Ulya dan yang lainnya.
Tak mau larut dengan keadaan yang ada, Ulya segera mengajak keluarganya dan seluruh kru pesawat untuk makan malam bersama.
"Sudah,' sekarang kita makan dulu." ajak Ulya kemudian, setelah melepas sabuk pengamanannya
Baru saja selesai makan malam, terdengar dering telepon dari Handphone Ulya.
"Assalamualaikum wr wb."
"Wa alaikum salam wr.wb."
"Ada perkembangan?"
"Sudah terlacak."
"Benarkah. Aku ke sana. Tunggu cuaca baik."
Terlihat wajah Ulya bersinar. Senyum bahagia terpancar. Segera dia memberitahukan kabar gembira itu pada Naura. Dengan gembira Ulya memeluk Naura.
"Terima kasih Tuhan. Engkau tunjukkan pada kami, tentang keberadaan anakku, Akmal."
Dia diam sejenak,
''Berkat doamu, Ma. Sekarang Akmal ketemu.''
"Benarkah,"kata Naura tak percaya. Tak terasa air matanya lolos dari persembunyiannya.
"Sekarang kita ke Belgia dulu. Nunggu hujan reda."
"Alhamdulillah ya Allah ... Akhirnya Akmal ketemu." ucap Naura
Segera keduanya bertakbir dan bersujud, atas kabar yang baru saja mereka terima.
Dia tak mau melepaskan pegangan pada tangan suaminya, meski pandangan matanya mengarah pada cendela. Terlihat hujan masih sangat deras, tak mungkin untuk menerbangkan pesawat dalam keadaan demikian. Walau hati Naura sangat berharap segera dapat ke sana dan berjumpa dengan Akmal.
"Pa, tak bisakah kita terbang sekarang."
Ulya hanya senyum sepintas, menanggapi pernyataan istrinya.
"Sabar, Sayang. Semoga hujannya lekas reda."
Ulya menarik tangan istrinya untuk tenang.
"Duduklah. Aku suka dengar kamu tilawah. Apalagi saat-saat seperti ini."
Naura segera mengambil Al Qur'an sakunya dan duduk tenang disamping Ulya. Dengan menyadarkan kepalanya di bahu suaminya, dia memulai bacaannya, hingga matanya terkatup.
__ADS_1
Melihat istrinya lelah dan tertidur, dia mengangkat tubuh Naura ke dalam kamar, menidurkannya di samping Akram.
"Sayang, tidurlah dulu dengan tenang."
Tak berapa lama hujanpun reda. Segera saja Ulya memerintahkan kru, menerbangkan pesawat ke Belgia. Tak lagi menuju Indonesia.
Baru saja dia akan berkata pada pilotnya, terdengar handphone-nya berdering.
"Assalamualaikum .... ada apa?"
"Wa alaikum salam .... mereka sepertinya tahu, lalu melarikan diri. Belum sempat jalan terlalu jauh, mobil mereka tertabrak tronton. Entah sekarang keadaannya gimana?"jawab seorang lelaki yang ada di ujung telepon.
"Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun, bagaimana keadaan anakku?"
"Kami sedang menuju rumah sakit."
"Ya Allah ...., segera beri kabar kalau ada sesuatu."
"Baik. Assalamualaikum ....''
"Wa alaikum salam ..."
Kembali kesedihan bergelut di wajah Ulya. Yang sesaat lalu telah berhias dengan senyum kebahagiaan.
"Kita lanjutkan penerbangan ini."serunya pada kru pesawat yang sedari tadi menunggu perintah.
Perjalanan ini terasa lama sekali. Bolak-balik dia ke kamar istrinya yang tidur memeluk akram. Ruangan sudah terasa sunyi, semua penghuni sudah tidur. Meski matanya terasa berat, tapi sulit ditidurkan.
Ada kekhawatiran yang saat ini mengganggu pikirannya. Tapi tak bisa berbuat apa-apa. Karena saat ini dia berada di udara. Tak mungkin menghubungi orang-orangnya untuk mengetahui keadaan Akmal saat ini.
Perjalanan ini semakin terasa panjang. Apalagi dengan adanya kabar terakhir yang dia terima. Meski demikian dia sentiasa berdoa dan berharap agar Akmal dapat ditemukan dengan selamat.
Dengan penuh keraguan, dia mendekati Naura yang masih tertidur.
"Ma, kita sudah sampai." bisik Ulya.
Dia membuka mata.
"Kita di mana?"
"Kita sudah di Belgia."
" Benarkah."
Diapun segera bangkit dari tidurnya, dengan sedikit linglung.
"Sudah jangan bingung. Cuci mukamu dulu."
"Baiklah ... baiklah." jawab Naura dengan mengejap-ngejapkan mata yang belum belum sempurna terbuka.
"Alhamdulillah, akhirnya ...."kata Naura yang segera menuju kamar mandi yang ada di ruangan itu. Tak lama kemudian kembali dengan wajah yang lebih segar. Dia menghampiri Ulya yang diam merenung, duduk.di atas sofa.
"Ada apa, Pa?''
"Apapun yang terjadi, tolong tabah ya, Ma."
"Maksud Papa."
__ADS_1
"Kita ke sana sekarang."
"Anak-anak?"
"Untuk sementara, biar sama mbak Ifroh di sini."
Alis mata Naura seketika naik. Bagaimana dia akan meninggalkan anak-anak sedang dia pernah kehilangan buah hatinya.
"Jangan khawatir, ada orang yang terlatih di sekitar mereka."
"Baiklah."
Naura pun mengikuti langkah Ulya keluar dari pesawat, menuruni anak tangga menuju sebuah mobil yang terparkir di bawah pesawat mereka.
Keduanyapun masuk. Tak lama mobil itupun melaju menyusuri jalanan yang sepi dan lenggang. Menembus gelapnya malam yang amat pekat. Ditambah dengan udara dingin yang kian menusuk.
Dari sejak berangkat, hingga saat ini ada banyak pertanyaan yang muncul di benak Naura. Karena baru kali ini dia melihat suaminya dikelilingi oleh orang-orang yang sangat terlatih dan juga fasilitas yang tiba-tiba ada bersamanya.
"Kak, sebenarnya kamu itu siapa sich."
"Aku?"tanyanya balik, sambil menunjuk dirinya.
"Ya, Aku hanya tahu kamu suamiku. Yang lainnya aku tak tahu.''
Ulya tertawa kecil. Lalu menatap wajah Naura yang penasaran.
"Pesawat ini punya abah, pengawal-pengawal ini pun punya abah. Dan seperti yang kamu tahu aku hanya seorang Ceo di beberapa perusahaan."
"Tapi seperti ada sesuatu yang kamu sembunyikan dariku."
"Suatu. Maksudnya?" tanyanya serius.
"Tak tahulah."
"Wah, baru kali ini pikiranmu memikirkan ku, bukan Akmal." kata Ulya yang menyembunyikan kegusarannya.
"Suatu saat, pasti akan aku jelaskan padamu. Tapi percayalah aku nggak akan membuatmu terluka."
''Aku percaya, Kak.Tapi kadang aku ...."
"Sudah. Kamu sudah siap bertemu Akmal." Dia mencoba menerangkan keadaan yang baru dia dengar. Tapi lisannya terasa kelu.
"Pastilah Paa."
Timbul kejanggalan dalam diri Naura, saat mobil yang mereka berbelok ke arah hospital.
"Papa, apa Akmal ada di sini?"
"Kita lihat saja."
Berdua mereka melangkah mengikuti langkah seorang pria yang berbadan tegap, seperti yang Naura temui sebelumnya.
Apalagi saat mereka melangkah ke kamar mayat.
"Mas, apa yang terjadi sebenarnya?"
Sudut mata Ulya seperti menitikkan bening embun.
__ADS_1
"Kakak?!" teriak Naura saat Ulya membuka kain putih yang ada di depannya. Tampak seorang bayi yang terluka parah, sedang terbujur kaku.
Segera Ulya merangkul Naura ....