Mahabbah Rindu

Mahabbah Rindu
BAB 68 : Kembali ke Rumah Abbah


__ADS_3

Saat Mereka tiba, hakim sedang membacakan amar putusannya. Dengan segala redaksinya. Yang kadang membuat orang bosan mendengarkan. Dari meninjau, menimbang, memperhatikan hingga me ... me ... me ... yang lainnya yang menurutku itu nggak penting banget untuk kita yang nggak pernah belajar hukum. Karena yang ingin kami dengar hanya satu, yaitu MEMUTUSKAN.


Setelah mendengarkan selama kurang lebih setengah jam, akhirnya hakim ... MEMUTUSKAN.


Khalid bin Fath dijatuhi hukuman penjara kurungan ... tahun. Dan diharuskan membayar denda sejumlah ... milyar atas tindakan yang tidak manusiawi kepada Ifroh. Subsider penjara kurungan selama ... tahun apabila belum bisa membayar denda tersebut.


Kudengar angka itu cukup besar, tapi itu rasanya tidak adil banget. Karena cacat yang harus yang diderita Ifroh, batin Ulya bergemuruh.


"Apakah Ifroh memaafkan?" tanya Ulya pada pengacaranya.


"Iya."


"Kamu kan tahu, sifat Ifroh memang demikian."


"Herman, apa kamu puas."


"Sebenarnya aku juga ngerasa nggak adil. Ifroh memang baik, itu yang mereka manfaatkan. Tapi setidaknya itu sudah memenuhi hak Ifroh, meski dalam angka yang minimal."


"Ifroh, kamu bagaimana?"


"Sudah cukup tuan. Aku menerima saja hasil ini. Aku juga khawatir kalau berlarut-larut, keluargaku di Indonesia akan tahu. Dan mereka akan khawatir pula."


Melihat kekhawatiran Ifroh, pengacara itu berucap,


"Kami menerima tuan Hakim yang terhormat."


Semua menyerahkan keputusan padanya yang menjalani. Bila yang menjalani sudah menerimanya. Ya sudah, terima saja ....


Lain lagi dengan tuan Fath, sepertinya nampak gusar dan kecewa atas keputusan itu. Mungkin keinginan untuk membebaskan putranya pupus sudah.


Seharusnya dia bersyukur hanya hukuman penjara dan denda. Coba kalau Ifroh tidak memaafkan mungkin lebih berat lagi.


Sehingga waktu hakim bertanya padanya dia menjawab untuk pikir-pikir dulu. Yang membuat tim dari Ifroh geleng-geleng kepala.


Sudah tahu salah, nggak mau dihukum. Tapi akhirnya mereka menyatakan menerima juga.


Alhamdulillah, selesai juga masalah ini. Tim Hakim sudah meninggalkan ruangan itu diiringi oleh Kholid yang dibawa pihak kepolisian Negara, menuju peraduan yang tak diinginkannya, penjara.


Ulya bercengkrama sejenak dengan timnya sebelum meninggalkan ruangan itu.


"Terima kasih semua."


"Sudah jadi tugas kami, Ulya."


"Jangan lupa datang ke pernikahanku."


"Dengan senang hati. tapi jangan mengharap kado dari kami lho." jawab mereka berkelakar.


"Yang penting datang."


"Oke."


"Tuan akan menikah?"


"Ya Ifroh."


"Saya turut senang. Bolehkah saya membantumu, Tuan."


"Wah, kebetulan sekali. Yuk pulang ke rumah abbah?" ajak Ulya.


"Benarkah?" Terlihat mimik Ifroh senang.


"Akhirnya bisa ketemu keluarga tuan lagi."


"Herman, aku bawa Ifroh."


"Ya, aku percaya padamu. Dia wargaku, jangan macam-macam."


"Ya, jangan khawatir." kata Ulya dengan senyum kehangatan.


"Nanti jangan lupa datang ke pernikahanku."

__ADS_1


"Insya Allah."


Setelah berbincang sejenak, mereka berjalan memisahkan diri hendak menuju ke tempat masing-masing.


"Kalian duluan. Aku mau ke toilet." kata Ulya meninggalkan Mustofa dan Ifroh yang berjalan menuju mobil.


Dengan cepat Ulya menuju toilet untuk memenuhi hasratnya akan panggilan alam yang dideritanya. Setelah menuntaskan segala apa yang telah tersimpan, hingga menimbulkan rasa sakit di perut, kini dia dapat bernafas lega.


الحمدلله الذى إذهب عن الاذى و عافانى


Lega rasanya ....


Lalu dia berjalan menyusul Mustofa dan Ifroh. Belum sampai sepuluh langkah, ada suara yang berbisik di telinganya.


"Aku takkan rela melihat kalian bahagia."


Dia menoleh. Didapatinya wajah tuan Fath yang menahan amarah dan kesal padanya.


"Aku tak peduli." jawab Ulya tak kalah sengit.


Dia terkejut, dengan munculnya tuan Fath secara tiba-tiba.


Yang tanpa dia sadari telah mengikutinya sejak keluar dari ruang persidangan


Tak ingin meladeni amarah tuan Fath, Ulya segera pergi dari tempat itu. Meninggalkannya sendirian.


Dia menyusul Mustofa dan Ifroh yang telah tiba terlebih dahulu di parkiran.


"Ayo kita pulang!" ajaknya.


Bertiga mereka memasuki mobilnya. Meninggalkan pelataran kompleks pengadilan dengan hati gembira.


"Akhirnya selesai juga urusan. Bagaimana menurutmu, Ifroh." tanya Mustofa memecah kesunyian perjalanan.


"Ya. Ifroh bersyukur sekali bisa bertemu dengan Tuan. Yang sudah menganggap Ifroh seperti keluarga sendiri."


"Langkah kamu selanjutnya apa?"


"Saya belum mau pulang sekarang, nanti tambah membuat bapak ibu khawatir."


"Hemmm ... kalau itu maumu, aku tak bisa menghalangi. Istriku pasti suka kalau kamu mau membantunya."


"Istri Tuan?"


"Maksudku calon."


"Oh ...." kata Ifroh penuh arti.


"Menggantikan Faricha. Biarlah dia melanjutkan studinya dulu."


"Dengan senang hati."


Setelah mobil tiba di kompleks perkantoran perusahaannya, Mustofa turun. Sedangkan Ulya melanjutkan perjalanan mengantarkan Ifroh ke kediamannya.


Setelah setengah jam berjalan, sampailah mereka di rumah Abbah.


"Akhirnya kembali juga."bisik Ifroh senang.


"Lalu tugas saya apa Tuan?"


"Jadi baby sisternya putraku."


"Tuan sudah punya putra?"


Ulya hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Ifroh.


"Ayo, kita masuk."


Dengan gembira Ifroh mengikuti langkah Ulya.


🔷

__ADS_1


"Assalamu'alaikum, Sayang." sapa Ulya yang mendapati baby kembar Naura sedang bobok manis di keretanya. Ditemani Devra yang sedang menggelar permainannya.


"Wa'alaikum salam, Papa." jawab Devra menghampiri papanya.


"Papa, jangan ganggu adik. Baru bobok ...." cegah Devra ketika tampak tangan papanya mulai usil menyentuh adik kembarnya.


Membuat dia tersenyum gemas. Sehingga menghadiahi sentuhan lembut pada rambut Devra. Mengacak-ngacak sebentar yang membuatnya sedikit berantakan.


"Mana Mama?"


"Ada di dapur,"


"Pa, itu siapa?"sambil menunjuk wanita yang masih berdiri di pinggir pintu.


"Itu mbak Ifroh. Yang jaga kamu waktu seumur adik dulu."


"Kenapa bukan mama yang menjaga Devra?"


Binggung juga mau jawab gimana dengan pertanyaan Davra. Ulya hanya senyum-senyum saja sambil menyentuh hidung Devra.


"Nanti tanya sama mama ya ...."


"Tidak, aku maunya papa yang jawab."


Nach lo ....


Mau lari kemana sekarang. Mau nggak mau Ulya harus berfikir keras, untuk memberikan jawaban yang memuaskan, atas pertanyaan putrinya itu.


"Begini .... Saat melahirkan Devra, mama mengalami sakit keras sehingga harus dibawa pergi jauh sekali. Dan tak boleh pulang. Makanya nggak pernah ketemu Devra dan nggak boleh." jawab Ulya sambil menarik nafas panjang.


Bukan maksudnya berbohong, tapi dia tak pandai bercerita dan juga belum tega menjelaskan yang sebenarnya. Biarlah pada masanya, dia akan mengerti.


"Oh ... gitu. Nggak apa kok Pa. Yang penting sekarang mama nggak pergi lagi." jawab Devra. Membuat Ulya bisa bernafas lega.


Tak lama, Naura masuk dengan membawa satu gelas besar minuman jeruk hangat.


"Kok, sudah pulang Kak?"


"Jangan panggil aku, Kak. Mulailah memanggilku, Sayang! " kata Ulya sambil mendekati Naura hendak mengambil gelas itu.


"Itu punya Devra, Pa." teriak Nur.


"Sayang."


"Malu di depan Devra." Naura melirik tajam pada Ulya. Yang dilirikpun senyum-senyum saja.


"Devra, ini untuk papa ya ...."


"Nggak boleh. Minta bikinin mama lah." jawab Devra sambil mengambil gelas miliknya. Lalu meminumnya berlahan untuk menggoda papanya. Setelah tinggal sedikit baru diberikan pada papanya.


"Nich, "sambil menyerahkan gelas itu.


"Hemmm ... tinggal sedikit dikasihkan."


He ... he ... he ..., dia melanjutkan minumnya hingga tak tersisa.


Tanpa mereka sadari Naura telah kembali lagi dari dapur membawa minuman jeruk hangat.


"Ini untuk Kakak. Jangan rebutan." katanya sambil menyerahkan gelas itu pada Ulya.


"Terima kasih, Sayang." Kata-kata yang bikin Naura melotot, padahal hatinya berdebar-debar senang.


"Sebentar. Kok Devra sering dengar mama panggil papa, Kakak?" tanya Devra penasaran dengan mata membulat penuh selidik.


...


...


...


....

__ADS_1


__ADS_2