Mahabbah Rindu

Mahabbah Rindu
BAB 54 : Bumil Kesal dan Merajuk


__ADS_3

Naura baru saja selesai melaksanakan sholat dua rekaat, ketika mendengar langkah kaki Ulya mendekat. Dengan cepat dia melipat mukenanya, keluar.


Rasa kesal dan marah tak bisa dia sembunyikan dari hadapan Ulya.


"Kakak jahat, ninggalin Naura."jawabnya dengan cemberut.


Tak mau dia menatap Ulya yang datang meminta maaf. Dia meninggalkannya begitu saja, menuju mobil dengan kesal. Ulya diam dengan kebinggungannya, hanya mampu menatap Naura dengan rasa bersalah.


"Kak, siapa dia?"tanya Mustafa.


"Kakak iparmu." jawab Ulya sekenanya.


"Kakak nggak bilang-bilang."


"Berisik, masalah gede nich."


Mustofa tak bisa menahan tawa melihat Ulya yang mengejar Naura.


Kalau kejadiannya kayak gini, mau aku pulang. Biar puas lihat kakak dan kakak ipar membuat cerita drama tiap hari, bisikan pikiran jahil Mustofa.


Naura segera masuk mobil, menunggu dengan kesal Ulya yang datang menyusulnya.


Setelah Ulya duduk di sampingnya. Naura masih dengan sikap dongkolnya dan juga aksi diamnya. Membuat Ulya celingukan sendiri.


"Kalau mau marah, marahlah. Jangan diamkan kakak seperti ini."


Ingin rasanya Naura berteriak sekencang-kencangnya, mengeluarkan kekesalan yang sudah dia simpan sejak Ulya meninggalkannya.


Sambil menangis, dia memukul berkali-kali dengan pukulan kecil di pundak Ulya, yang ada di sampingnya.


"Kakak jahat, ninggalin Naura.


Naura takut. Tak kenal siapa-siapa di sini ...


... ... ... bla bla bla ... ... ... ... Kakak benar-benar tega."


Entah kata-kata apa saja yang keluar dari bibir Naura. Meski marah tapi bicaranya teratur dengan kosa kata yang entah berapa banyaknya. Sampai-sampai Ulya dibuatnya terpana, tak berkedip.Tapi sayangnya tak ada satupun kata yang bisa nyangkut di pikiran Ulya.


Yang bikin hati Ulya makin sedih dan merasa bersalah, Naura menutupnya dengan menangis sedih di pundaknya.


"Sudah?" kata Ulya sambil membelai kepalanya dengan lembut.


Naura pun menghentikan tangisnya. Dan duduk dengan tenang di sisi Ulya. Meski dengan wajah yang menunduk. Membiarkan Ulya menghidupkan mobil.


"Apa ada yang kamu inginkan lagi."


Naura terdiam lama. Sepertinya berfikir.


"Katakan saja."


"Tapi kakak harus penuhi ya ..."


"Pasti." sambil menghidupkan mobilnya.


"Pingin makan nasi jagung dengan rempeyek teri."

__ADS_1


Hampir saja dia menghentikan mobilnya mendadak. Mendengar permintaan aneh Naura. Tapi karena karena sedang hamil, Ulya memakluminya.


Masalahnya ini bukan Indonesia. Disana mudah carinya. Apalagi di jawa tengah. Lha ini ...


Ya Allah di mana aku temukan makanan itu di sini. Bingung juga Ulya hendak ke mana. Tapi demi permintaan dari orang yang ingin dia manja saat ini, apa boleh buat. Takut nanti bebynya ngileran kalau nggak keturutan


"Baiklah, kita cari yuk." kata Ulya menyembunyikan kegusarannya. Dia menjalankan mobilnya tanpa tujuan. Sudah hampir setengah jam, Ulya belum juga berhenti.


Sedangkan Naura asyik memainkan hpnya dengan wajah cemberut. Tapi kemudian wajahnya terlihat cerah.


"Kak, di sini." kata Naura sambil menunjukkan hp nya.


Ternyata sejak tadi dia sibuk mencari tempat keberadaan si nasi jagung itu. Batin Ulya senang.


Alhamdulillah, aku tak usah capek-capek mencarinya.


"Kita ke sana."


Segera dia melajukan mobilnya ke arah yang dituju.


Tak berapa lama sampai dia ditempat itu. dekat dengan KBRI. Yang ternyata disana menyediakan menu masakan Indonesia. Tapi mengapa Naura menariknya ke arah toko, bukan restorant.


"Kak, kita beli bahannya. Nanti kakak yang masak."


Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun, rasanya batin ini ingin berteriak.


"Janganlah kakak kasih tugas kayak gini, Sayang." Ulya mencoba merayu. Tapi semakin membuat Naura cemberut. Meninggalkan Ulya begitu saja.


"Ya sudah kalau nggak mau, memang kak Ulya nggak perhatian sama babyku." Naura merajuk.


Dengan terpaksa diturutinya. Naura kembali memilih bahan-bahan yang diperlukan, memasukkan ke dalam troli yang Ulya dorong.


Dengan sabar dia mengikuti kemana Naura menuju. Setelah dirasa cukup, mereka segera ke kasir. Membayar belanjaan mereka.


"Kak, kita mampir ke kedai es krim dulu ya..."


"Apa nggak ada pengaruh sama babymu? "


"Aku lagi pingin, Kak."


"Baiklah."


Setelah memenuhi segala keinginan Naura, mereka kembali ke mobil.


Untuk sementara, segala urusan perusahaan di tunda dulu. Fokus pada bumil yang sedang merajuk.


🔷


Sampai di rumah, langsung menuju dapur. Acara olah-mengolah masakan untuk bumil tercinta.


Belum pernah masak nasi jagung, merepotkan juga. Berulang kali Ulya harus membuka mbah google, meminta petunjuk.


Dan satu lagi syarat yang harus dipenuhi Ulya. Nggak ada yang boleh bantu. Membuat Ulya makin bete. Untunglah, pengalaman hidup mandiri selama di Indonesia, membuat dia tidak gagap mensiasati semua ini.


Sengaja Naura mengajak asisten rumah tangga mereka ke kebun belakang, mencari sesuatu yang bisa dipetik. Agar kak Ulya merasakan masak sendirian.

__ADS_1


Mereka terus saja berjalan. Tak menyadari langkah mereka semakin jauh. Hingga sampai di kebun Ahmad yang penuh dengan buah-buahan. Dari jeruk, lemon, anggur. dan ternyata ada juga pohon pisang.


Melihat lemon, Naura ingat Ulya yang suka sekali dengan minuman itu. Dipetiknya beberapa buah. Lalu dia berjalan ke arah rumahnya


Dan sekaligus pulang. Meninggalkan Ulya yang sibuk memasak di rumahnya.


Dia menghampiri mama Efsun yang sedang menyiram tanaman yang ada disamping rumah, sambil menyiangi rumput yang mengganggu.


"Assalamu'alaikum ..., Mama."


"Naura, Wa'alaikum salam ...."


"Sama siapa ke sini. Mana Ulya?"


"Sama bibi Fatim, Kak Ulya sedang sibuk."


"Ma, aku bantu."


"Boleh."


"Bi Fatim boleh pulang dulu, kalau masakannya sudah jadi, suruh kak Ulya bawa ke sini saja. Aku pingin makan di sini."


"Baik, Nona Naura."


Bi Fatim meninggalkan tempat itu, sambil geleng-geleng kepala, dengan majikan barunya ini. Habis, bisa-bisanya ngerjain tuan Ulya, terkenal tegas dan disegani banyak orang. Termasuk dirinya.


Naura meletakkan lemon yang dia petik ke dalam keranjang kecil, lalu membantu mama Efsun menyiangi tanaman. Dan menanam beberapa benih tanaman.


"Ma, apa ini buah tiin?"


"Benar, ambillah yang masak. Dari pada nanti busuk."


"Papa, kak Ahmad ke mana, Ma?"


"Ke perkebunan. Musim gugur mau berakhir. Banyak buah-buahan dan sayur-sayuran yang perlu di petik, dikemas untuk persediaan di musim dingin.


Mengirimnya ke beberapa negara tetangga."


"Maksudnya export gitu, Ma?"


"Ya."


Hari sudah setengah siang, ketika mama Efsun dan Naura menghentikan kegiatannya. Bersamaan dengan kedatangan kak Ulya yang diiringi oleh Mahmed, suami dari bi Fatim. Dengan membawa beberapa masakan yang Naura pesan.


"Ini, papa bawakan masakan untukmu, baby twins papa."kata Ulya merayu. Membuat Naura tersanjung.


Tak bisa dipungkiri oleh Naura, memang dia memerlukan orang yang bisa memanjakan dirinya. Dan bayi yang ada di kandungannya. Di saat-saat seperti ini. Begitu Ulya bisa melakukan itu, dia sangat terharu.


"Makasih, Kak."


Dia melahap makanan itu dengan senang. Hingga Ulya juga merasa dihargai atas usahanya. Apalagi Naura sudah menyediakan minuman kesukaannya.


Selesai menikmati makanannya. Mereka bercengkrama sebentar di teras belakang rumah. sambil menikmati buah anggur yang bergelantungan.


"Dik, besok sore aku balik ke Indonesia. Ada beberapa hal yang harus aku selesaikan."

__ADS_1


__ADS_2