
"Maksud mas Hamdan?"
"Bukan begitu Dik Andre. Memang benar orang tua Nur sudah ada bersama kita. Tapi untuk memperoleh bukti jelasnya, kita perlu perlu tes DNA. Mengingat sejak Nur bayi hingga sekarang ini, tidak pernah tahu siapa orang tua kandungnya. Bisakah Dik Andre bersabar barang 2 atau 3 hari saja. Biar semuanya menjadi jelas."
Penjelasan itu tak ayal membuat
gelak tawa para pria di samping mereka. Dan juga senyum-senyum dari para wanita yang menyertainya.
Menjadikan Andre gugup dan juga malu. Apalagi Naura alias Nur.
"Kalau itu lebih baik, kami ngikut saja apa kata orang tua."kata Andre sambil menyembunyikan rasa malunya.
" As a replacement, a wedding reception next week." kata tuan Salim.
"Nach ... Bapak Salim juga menyetujui. Sebagai gantinya, resepsi pernikahannya akan diadakan minggu depan. Tidak usah menunggu Nur selesai wisuda. Bagaimana Bapak Ibu Sofyan dan juga mas Andre."
"Kami amat senang sekali bila demikian." jawab pak Sofyan.
"Bagaimana, Nur?" tanya Hamdan yang memang ingin menggoda adik iparnya itu.
Nur hanya menyembunyikan wajahnya di balik punggung nyonya Efsun.
Alhamdulillah, acara lamaran bisa berjalan dengan lancar.
Setelah acara jamuan selesai, keluarga Andre undur diri. Meninggalkan kediaman Nur dengan hati lapang.
"Nur, mama pulang dulu. Mama sudah nggak sabar, kamu ada di rumah mama."
"Makasih, Mama." Nur mencium tangan mama Erika dengan takdzim dan mengantakan mereka hingga memasuki mobilnya.
Sementaa Andre juga berpamitan pada pak Farhan dan juga pak Sofyan sebelum menuju mobilnya.
Saat Andtre menuju mobilnya, secara tak sengaja berpapasan dengan Nur .
"Nur,"
"Ya, Mas."
"Nggak apa-apa, jaga diri baik-baik. Mas menunggumu untuk bersama."
Dari balik cadarnya, Nur menyembunyikan tawanya.
"Kok diam."
"Nggak apa-apa, mas sudah ditunggu mama dan papa di mobil tuch."
"Oh ya ... "Andre berlalu dari hadapan Nur menuju ke mobil. Dimana mama, papa dan Rima telah menunggu.
Kali ini dia yang kemudikan mobil itu, menggantikan papanya.
Sejenak dia melambaikan tangan sebelum menghilang dari pandangan. Menyusuri jalan yang lenggang, memecah kesunyian malam yang kian turun dengan sempurna.
"Bahagianya hatiku."celetuk Rima dari belakang tempat duduknya.
"Berisik."
__ADS_1
Mama papa mereka tersenyum sambil sesekali tertawa mendengar ledekan Rima pada kakaknya, yang hampir tiada henti hingga sampai tiba di rumah.
Tak lama setelah keluarga pak Sofyan pergi, terlihat tuan Salim beserta Ahmad berpamitan.
"Daddy, biar mommy sama aku di sini." kata Nur manja.
Tuan Salim hanya melirik pada nyonya Efsun, yang dijawab dengan anggukan kepala.
"Okay. When the result are out. I will meet you."
"I was waiting at that time."jawab Nur dengan tertawa bahagia.
Setelah berpamitan pada semuanya, mereka meninggalkan kediaman pak Farhan menuju hotel, tempat menginap mereka selama di kota ini.
💎
Hari ini adalah waktu yang telah dijanjikan oleh dokter Hendra. Dokter yang melakukan uji DNA, untuk memberikan hasil tesnya.
Dengan hati berdebar-debar mereka membuka amplop yang diberikan oleh dokter Hendra.
Sejenak mereka terpaku menatap kertas yang ada dihadapannya. Antara percaya dan tidak, tentang hasil yang tertulis di sana.
Lalu secara panjang lebar dokter Hendra memberikan keterangan lebih lanjut. Tak dapat disangkal lagi, bahwa itu benar adanya.
"Benarkah ini hasilnya," tanya Ahmad yang kini mulai bisa berbahasa Indonesia demikian pula dengan tuan Salim.
"Kami hanya meneliti, adapun hasilnya bukan kuasa kami."
"Daddy, bagaimana ini."
Dengan langkah gontai mereka berdua meninggalkan ruang dokter Hendra itu. Tak kuasa air mata tuan Salim menetes.
"Putriku, dimana kamu berada. Daddy dan mommy hampir lelah mencarimu, Nak."dia berbisik lirih.
Ahmad juga menundukkan kepala. Dia tak menyangka bahwa hasil DNA yang mereka terima , menujukan bahwa Nur bukan keluarga mereka.
Bagaimana mungkin, Nur sangat-sangat mirip mommynya tapi bukan putrinya. Ya ... mungkin faktor kebetulan saja mereka mirip. Bisa jadi.
Mereka diam hingga tiba di tempat parkiran. Dengan enggan Ahmad mengemudikan mobilnya. Sedangkan tuan Salim masih sangat bersedih atas hasil DNA yang dia terima.
Berlahan mereka meninggalkan rumah sakit tersebut, menuju hotel yang sudah mereka tinggali seminggu ini.
Sementara dalam ruangan dokter Hendra, yang telah meneliti DNA tersebut, tampak menangis.
"Sandiwara yang bagus dokter,"ujar seorang pria tegap dari balik tirai yang ada di sebelahnya.
Dia berterpuk tangan pelan tanda kemenangan berada di tangannya.
" Kalian mau apa?"
"Oh dokter lupa rupanya,"
Pria itu menepuk tangan satu kali. Tak berapa lama terlihat seorang pria mengendong seorang gadis kecil yang tertidur lemah.
"Putriku, maafkah ayah, Nak."Dia melangkah cepat menghampiri pria itu. Ingin meraih putrinya. Namun dicegah oleh pria yang satunya.
__ADS_1
"Jangan terburu-buru."
"Aku sudah turuti kemauan kalian. Mengapa tidak kau lepaskan putriku."
"Satu lagi, bila sampai bocor berarti nyawa keluargamu dalam bahaya."
"Kalian sungguh-sungguh jahat."
"Baru tahu ya?"
"Dan siapa yang lebih jahat dari itu?"kata pria itu dengan tatapan tajam ke arah dokter Hendra.Cukup membuatnya tak bergeming.
Dia meraih putrinya dengan pelan. Lalu menidurkannya di pembaringan kecil yang ada di situ.
Kedua pria itu meninggalkannya dengan senyum puas. Menuju mobil mereka di tempat parkir. Melajukannya dengan cepat mengejar mobil yang dikemudikan oleh tuan Salim dan Ahmad. Mengikuti mereka pada jarak aman. Agar tidak disadari oleh mereka, kalau mereka sedang diikuti.
Sedangkan di dalam mobil, Ahmad dan tuan Salim masih bingung dengan hasil yang diterimanya.
" Daddy, aku nggak tega menyampaikannya pada mommy dan Naura."
"Daddy juga begitu. Lebih baik kita rahasiakan dulu. Papa masih ragu sama dokter itu."
"Lalu bagaimana dengan pernikahan Naura besok. Bukankah Daddy nggak bisa menikahkan."
"Sesuai rencana awal. Mereka akan menikah di KUA. Bukan ayah yang menikahkan, tapi petugas KUA sendiri."
"Yang penting, mereka jangan sampai tahu dulu. Daddy pingin periksaan ulang atau kalau perlu pemeriksaan ketika kita sudah berada di Turki saja."
"Itu lebih baik, Daddy."
"Dad, kita sekarang ke tempat Nur, bagaimana?"
"Yes, Daddy juga kangen."
"Kita abaikan dulu masalah ini, aku suka punya adik seperti Naura, Nur maksudku."
"Daddy juga suka banget."
Belum sempurna mereka memarkirkan mobil. Kini mereka sudah bersiap lagi meninggalkan hotel itu.
"Kita cari masjid dulu. Sholat dhuhur lalu cari makan."
"Baik, Dad."
Kembali mereka menyusuri jalan yang sudah sangat sibuk. Hampir penuh sesak kendaraan, tapi lancar dan tertib.
Tak berapa lama mereka menemukan sebuah masjid. Mereka hendak berbelok ke masjid tersebut. Tapi Ahmad merasa aneh dengan sebuah mobil hitam yang ada di belakangnya.
"Dad, sepertinya kita diikuti."
"Jangan prasangka yang tidak-tidak. Kita sholat dulu."
"Baiklah,"
Rupanya mobil itu masih mengikuti mereka. Kemanapun mereka pergi.
__ADS_1
Tapi, mau diikuti atau tidak, tuan Salim tak ambil pusing. Mereka tetap memarkirkan kendaraan di halaman masjid. Bersiap mengikuti jamaah yang akan dilaksanakan.