
"Coba kamu perhatikan lagi,"
"Tidak ...."
"Kamu yakin dia Akmal?"
Naura menghentikan tangisnya seketika, dan menatap Ulya. Ingin dia mengatakan bahwa dia tak sanggup.Tapi tatapan teduh Ulya yang disertai sentuhan lembut jarinya yang menghapus air mata, mampu memberikan kekuatan padanya.
"Kak?!"
Meski sebutan itu sudah seringkali Ulya larang. Tapi tetap saja Naura sering menggunakannya. Apalagi kalau suasana hati sedang benar-benar kacau.
"Aku juga sedih. Tapi untuk memastikan semuanya, tolong lihatlah baik-baik. Sayang ... kamu mamanya."
Naura kembali berbalik dan mengamati bayi yang terbujur di depannya. Meski telah lama tak berjumpa, dia masih ingat betul tentang Akmal.
Segera dia membuka pusar bayi tersebut. Dia ingin bersorak gembira, karena tak ada tanda lahir di sana.
"Alhamdulillah ..., Mas. Dia bukan Akmal."
"Benarkah. Kamu sudah yakin, Sayang." jawab Ulya tak kalah bahagia
"Aku yakin, Kak. Karena bayi ini tak ada 'toh'-nya."
"Syukurlah?"
Kali ini Ulya memeluk Naura. Meluapkan rasa yang sesaat lalu membuatnya sesak.
Setelah memastikan bahwa itu bukan Akmal, mereka berdua keluar. Menemui laki-laki yang menunggu keduanya di samping pintu
"Alhamdulillah, dia bukan Akmal." kata Ulya pada laki-laki itu.
"Lalu dimana Akmal, Pa?"tanya Naura.
Kekhawatiran itu masih menyelimuti Naura.
Membuat laki-laki itu diam sejenak, tak berani mengangkat kepala. Apalagi menatap Ulya.
"Sir Ulya, maafkan kami."
"Tak ada yang perlu dimaafkan, teruslah kamu ikuti jejaknya."
"Baik, Sir."
Tanpa Ulya sadari Naura berjalan melangkah meninggalkan mereka menuju sisi lain dari rumah sakit itu. Dia baru tersadar ketika laki-laki di depannya mengingatkannya.
"Sir, Nyonya."
"Ya Allah, Sayang. Kenapa kamu."
Ulya mengejar langkah Naura yang di rasa semakin cepat dan tetap diam. Mau tak mau Ulya hanya bisa mengikutinya saja tanpa lagi bertanya.
Di sebuah pintu ruangan direktur, rumah sakit dia berhenti dan langsung mengetuk pintu.
"Mama, mengapa ke sini?"
"Aku mendengar suara Akmal, Kak."
"Masuk." kata seseorang yang ada di dalam.
Dengan langkah pasti dia memasuki ruang itu. Di sana tampak seorang pria yang merupakan direktur rumah sakit tersebut. Ditemani seorang perawat dengan seorang anak kecil yang agak kurus tidur dalam gendongannya.
Saat Naura mendekatinya, anak itu tiba-tiba terbangun. Lalu membuka mata dengan sempurna. Dengan menyebut kata-kata yang masih samar.
"Ma ... Ma ...." sambil terus bergerak ingin segera diturunkan.
"Sus, turunkan saja." perintah dokter itu bersahaja.
Begitu diturunkan dari gendongan, segera dia merangkak mendekati Naura yang berdiri terpaku, seakan tak percaya, apalagi saat anak itu menyebut dirinya., Mama ....
__ADS_1
Naura segera meraih dalam pangkuannya.
"Akmal ..., Akmal sayang. Ini mama, Nak." Naura segera memeluknya, dan menghujaninya dengan banyak kecupan.
Ulya segera sadar bahwa anak kecil yang sekarang dalam pangkuan Naura adalah Akmal. Dia pun tersenyum dan menangis bahagia.
"Pa, dia Akmal." Naura menunjukkan tanda yang dia kenal pada Ulya. Tautan yang erat antara Ibu dan anak telah membimbing mereka untuk bertemu.
"Alhamdulillah robbil alamin. Aku tak menyangka kalau kita bisa temukan Akmal di sini." kata Ulya terharu. Lalu mengambil Akmal dari pangkuan Naura.
"Akmal, papa rindu." Dia memberikan beberapa kecupan pada Akmal, yang membuatnya tertawa senang.
"Dokter, mengapa anak ini ada di sini?" tanya Ulya setelah dia mengembalikan Akmal pada mamanya yang tak berhenti tersenyum lebar, menatap putranya yang kini telah kembali dalam pangkuannya.
"Jangan curiga. Bukan aku penculiknya." kata Dokter itu dengan tenang.
"Sewaktu ada kecelakaan itu, kebetulan aku ada di lokasi. Dan menuaksikan bagaimana kecelakaan itu terjadi.
"Kedua orang tua itu terluka parah. Sedangkan anak ini Alhamdulillah selamat. Tak terluka sedikitpun. Bahkan dia dengan bebas dapat keluar dari mobil itu dengan jalan merangkak. Dan menghampiriku. Langsung saja aku bawa balik dia ke sini. Mengikuti yang kusangka orang tuanya."
"Aku baru menyadari kalau mereka bukan orang tuanya sesaat lalu, saat menjenguk keduanya. Mereka memintaku untuk menjaga anak ini yang menerangkan yang sebenarnya siapa anak ini. Mereka sadar, mereka melakukan kesalahan dan ingin mengembalikan anak ini pada orang tuanya. Belum sempat niat mereka terlaksana, kecelakaan itu menimpa mereka. Akhirnya ya ... begini. Untung kalian datang. Kalau tak, aku bingung juga."
"Gimana aku mau kembalikan ... pr buat saya. Apalagi saat mereka cerita, bahwa mereka menculiknya di sebuah taman di salah satu kota di Turki. Wah .... gimana mau kembalikan kalau kayak gini. Akhirnya dari pada susah-susah, aku ambil anak angkat saja, kalau kalian hari ini tak datang." kata dokter itu ringan sambil tertawa kecil. Ikut menikmati kebahagian yang Naura dan Ulya rasakan.
''Ini memang putra kami. Dan sesuai dengan yang dokter katakan, dia hilang saat kami membawanya di taman.''
''Sekarang sudah jelas. Apa kami boleh membawa putra kami?"
''Jelas boleh. Itu putra kalian. ''
''Terima kasih, Dokter.''
''Sama-sama.''
Naura dan Ulya beranjak dari tempat itu dengan hati sangat bahagia. Meski tak dapat dipungkiri bahwa putranya ini agak kurusan dibanding dengan Akram, saudara kembarnya.
Sebelum pergi Ulya jadi penasaran dengan orang yang menculik putranya.
"Silahkan.''
''Suster, tolong antar mereka.''
''Baik, Dok.''
''Mari tuan dan nyonya, saya antar.''
"Mari, Dok.'' Ulya dan Naura berpamitan.
''Ya ... ya . Silahkan.''
Lalu keduanya mengikuti suster melangkah melewati lorong-lorong rumah sakit yang masih tampak lenggang. Karena sekarang masih menunjukkan pukul 03.00 waktu setempat.
Tiba di IIU mereka mendapati sepasang suami istri yang tangan dan kakinya telah berbalut perban.
Saat melihat Naura dan Ulya masuk dengan membawa Akmal, mereka tertegun.
''Tuan Ulya?'' sapanya.
''Anda kenal saya ... ah maaf.''
''Siapa yang tak kenal Tuan. Dulu saya pendukung setia anda.''
''Maafkan saya.'' jawab Ulya sambil tersenyum, menyadari kebodohannya.
''Tak apa, Tuan.''
''Alhamdulillah kita bertemu.''
''Maaf, itu istri tuan?''
__ADS_1
''Ya, ini anak dan istriku."
''Maksudnya?'' laki-laki memandang Ulya dengan ragu dan tertegun, sekaligus takut.
''Ya. Ini putraku yang hilang. Baru saja aku temukan.''
''Maafkan kami Tuan Ulya. Kami telah menculik putra tuan. Tapi kami mau kembalikan Tuan. Maafkan kami., Tuan.''
Ulya diam sejenak. Sebenarnya dia agak geram. Tapi melihat pasangan itu yang terluka parah, dia tak tega.
''Sudah aku maafkan. Untung anakku selamat. Kalau tak , mungkin anda akan saya tuntun meski kalian terluka parah.'' kata Ulya agak-agak dingin. Mambuat laki-laki itu diam seketika.
Hingga Ulya memberikan senyum terbaik padanya. Baru dia agak tenang.
''Sudah.Jangan kalian pikirkan. Cepat sembuh. Putraku aku bawa saat ini juga.''
''Maafkan kami, Tuan.''
''Ya. aku pamit. Assalamualaikum ....''
"Wa alaikum salam ..." jawab keduanya.
''Mari Sus.'' Ulya dan Naura berpamitan.
''Mari ....''
Mereka meninggalkan rumah sakit itu dengan hati lapang, karena Akmal sudah ditemukan. Terlihat sekali, langkah Naura seakan ringan. Tak henti-hentinya Naura dan Akmal bercanda. Hingga tak memperhatikan Ulya yang berada di sampingnya. Yang kini mulai terkantuk-kantuk.
"Sayang, kita sekarang ke mana?"
"Kok nanya aku, Mas."
"Maksudnya lanjut atau balik?"
"Lanjut saja. Masak setengah jalan."
Tak terasa mereka sudah sampai di bandara. Ketika semua masih terlelap tidur. Baik Devra, Akmal atau yang lainnya. Mereka segera menaiki pesawat. Dan saat itu juga, Ulya memerintahkan untuk menerbangkannya menuju Indonesia.
Hampir setengah hari mereka baru tiba di tujuan. Mendarat dengan mulus di bandara Sukarno Hatta ketika senja sudah hampir tenggelam.
Sejak pintu pesawat terbuka, terlihat senyum tersungging di bibir Naura.
"Kak, benarkah kita sudah sampai?"
"Jangan kolokan, ah."
🌹🌹🌹🌹🌹💗💗💗💗🌹🌹🌹🌹🌹
*_Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh_*
Tak terasa tinggal hitungan hari bulan Ramadhan kembali hadir. Hanyalah karena rahmat Allah sajalah kita dipertemukan dengan bulan Ramadhan. Oleh karenanya, patut bagi kita untuk bergembira menyambut datangnya bulan Ramadhan. Serta tak putus-putusnya berharap dalam do’a agar Allah mempertemukan kita dengan bulan Ramadhan dan memberikan kekuatan kepada kita untuk mengisinya dengan amal ibadah secara optimal.
Bergembira menyambut Ramadhan tak lain adalah juga sebagai wujud mengikuti Sunah Rasulullah sebagaimana hadist yang disampaikan beliau.
ﻗَﺪْ ﺟَﺎﺀَﻛُﻢْ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥُ، ﺷَﻬْﺮٌ ﻣُﺒَﺎﺭَﻙٌ، ﺍﻓْﺘَﺮَﺽَ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﺻِﻴَﺎﻣَﻪُ، ﺗُﻔْﺘَﺢُ ﻓِﻴﻪِ ﺃَﺑْﻮَﺍﺏُ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔِ، ﻭَﺗُﻐْﻠَﻖُ ﻓِﻴﻪِ ﺃَﺑْﻮَﺍﺏُ ﺍﻟْﺠَﺤِﻴﻢِ، ﻭَﺗُﻐَﻞُّ ﻓِﻴﻪِ ﺍﻟﺸَّﻴَﺎﻃِﻴﻦُ، ﻓِﻴﻪِ ﻟَﻴْﻠَﺔٌ ﺧَﻴْﺮٌ ﻣِﻦْ ﺃَﻟْﻒِ ﺷَﻬْﺮٍ، ﻣَﻦْ ﺣُﺮِﻡَ ﺧَﻴْﺮَﻫَﺎ ﻓَﻘَﺪْ ﺣُﺮِﻡَ
_“Telah datang kepada kalian Ramadhan, bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan atas kalian berpuasa padanya. Pintu-pintu surga dibuka padanya. Pintu-pintu Jahim (neraka) ditutup. Setan-setan dibelenggu. Di dalamnya terdapat sebuah malam yang lebih baik dibandingkan 1000 bulan. Siapa yang dihalangi dari kebaikannya, maka sungguh ia terhalangi.” HR. Ahmad dalam Al-Musnad (2/385). Dinilai shahih oleh Al-Arna’uth dalam Takhrijul Musnad (8991)_
Tentunya bagi insan yang berakal, kegembiraan itu sebuah keniscayaan. Karena tak ada lagi waktu selain Ramadhan dengan keutamaan yang ada di dalamnya.
Oleh karena, kami atas nama keluarga dalam menyambut Ramadhan memohon maaf atas segala khilaf. Semoga dengan maaf yang diberikan, Allah turunkan rahmat dengan kenikmatan beribadah dan mengisi Ramadhan dengan beragam aksi ketaatan.
*Marhaban Yaa Ramadhan…*
Mohon maaf lahir batin. Semoga Allah ampuni segenap dosa kita dan menjadikan kita alumni Ramadhan dengan gelaran takwa.
*Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh*
Kami yang bergembira menyambut Ramadhan
__ADS_1
💗UMI HAI AMARIA💗