
"Kamu sudah kenal kak Ulya sejak kecil ya, Nur."
Naura senyum-senyum sendiri. Terbayang dalam ingatannya kala dia masih sangan kecil, Yang selalu bikin berantakan kamar Ulya. Tapi tak sekalipun Ulya marah. Dia malah selalu mendapatkan hadiah-hadiah kecil darinya. Dan selalu jadi model lukisan Ulya kalau lagi mood ingin melukis.
Sering kali Ummi dan Abbah mengajaknya pergi bersama, seolah-olah dia sudah jadi bagian keluarga Abbah. Dan Ulya selalu memperkenalkan dirinya sebagai adik, di depan teman-temannya.
"Itu dua puluh tahun yang lalu. Dan saat keluarga kak Ulya datang lagi, aku sudah tak mengenalnya. Makanya waktu dia datang melamar, aku tolak?"
"Kapan itu Nur?"
"Sebelum mas Andre datang"
"Kukira hanya Anwar yang melamarmu saat itu."
"Bukan, jauh sebelum itu."
Tampak kesenduan di wajah Nur. Dia sangat menyesal apa yang terjadi saat itu. Mengapa sampai tak mengenali Abbah, Ummi dan kak Ulya. Bukankah itu telah lama berlalu. Untuk apa diceritakan....
"Hei, kenapa kamu tanya aku dengan mas Ulya. Jangan-jangan kamu masih berharap ya ..."
"Cemburu nich ye ...."
"Ya jelas lah ... masa di hari pernikahanku kamu katakan cinta sama suami sahabatmu ini."
"Entahlah Nur. Kalau ingat itu aku jadi malu sendiri. Maaf ya Nur..."
"Sekarang gimana?"
"Kamu jangan godalah. Malu aku."
Sejenak kemudian dia menatap wajahnya yang kini sudah hampir sempurna dirias."
"Kak Mustofa sangat baik padaku. Akan kucoba untuk menerimanya dengan segala cinta."
"Cie illle .... so sweet .... ."
Terima kasih, sahabat. Kamu sudah mau membuka diri.
Acara ijab qobul ini diselenggarakan secara sederhana, dilaksanakan di rumah dan hanya mengundang tetangga sekitar. Waktu yang dipilihpun setelah sholat asyar. Agar bisa berbuka puasa bersama. Maklumlah, ini bulan Romadlon.
"Sebentar lagi asyar. Kamu lakuin yang aku saranin, sudah punya wudhu?"
"Ya, bu guru ...." Itu kenapa wajah jadi cengengesan.
Tanpa peduli lagi Naura meninggalkan Rima yang akan menggelar sajadah lalu memakai rukuh, menyiapkan diri untuk sholat asyar.Tapi dengan sabar, menunggu Naura yang sedang mengambil air wudhu dan mukena. Tak lama Naura telah kembali. Berdua mereka sholat berjamaah di kamar Rima.
__ADS_1
Sejenak keduanya hanyut dalam kekhusyuan. Menghadap jiwa dan raganya pada yang pencipta, pembari kasih dan sayang serta rahmat selama ini. Merehat raga, saatnya memberi asupan pada jiwa yang merana. Lelah dalam perjalanan panjang mengisi detik-demi detik, jam demi jam untuk tunaikan kewajiban sebagai munusia meramaikan kehidupan dalam karunia Tuhan yang maha Sempurna.
Assalamu'alaikum warohmatullah ....
Assalamu'alaikum warohmatullah ....
Tengok kepala kanan dan kiri,
Pertama yang nampak dalam pandangan Naura adalah si kembar yang duduk manis menanti sambil mengucek-ngucek matanya.
" Mama ...."
"Sini sayang,"
Keduanya menghampiri mama Naura. Duduk dipangkuan mamanya yang masih ingin melanjutkan dengan doa.
"Gini sayang." Naura menelangkupkan telapak tangan si kembar, terbuka ke atas sebagaimana yang akan dia lakukan.
رب اغفرلى ذنوبي ولوالي وا رحمهما كما ربني صغيرا
ربنا اتنا في الدنيا حسنة و فى الاخرة حسنة وقنا عذاب النار
"Rab ... li ... ni ... li ... ma ... ma ... ni ... sra ...
Na ... ya ... na ... wa ... na ... na ... na ...nars."
Rima yang sedang merapikan rukuhnya senyum-senyum menatap si kembar. Selesai merapikan, tangannya sudah tak tahan lagi untuk mentowel pipi tembem si kembar.
Mata yang melotot, gigi yang gemeletak, membuat si kembar melusupkan wajahnya pada pangkuan bunda. Meski Rima telah memasang muka yang ceria, bahagia.
Bukan karena takut. Tapi mereka ingin juga bermain-main dengan tantenya yang kini telah berdandan cantik. Berlahan-lahan kepala mereka menyembul dari sela-sela pangkuan Naura.
Rima yang memergoki gerakan mereka, berteriak, "Wwhhuuaaa ...."
Dengan tangan yang siap menggelitik mereka.
"Te .... haat." teriak merek. Lalu menyembunyikan kepala mereka kembali.
Mungkin maksudnya adalah Tante jahat. Makanya Rima tak menghentikan gerakannya. Dengan tanpa sungkan, dia menggelitik keponakannya itu yang masih bergelanjut manja pada mamanya. Hingga terpingkal-pingkal. Sampai-sampai Naura kewalahan.
"Sudah, sudah. Ayo kita mandi dulu. Bentar lagi papa dan kak Devra datang."
"Papa ...."
Naura menggangguk.
__ADS_1
Mereka segera berdiri, berlari meninggalkan Naura yang tergesa-gesa merapikan mukenanya. Ingin segera mengejar keduannya. meninggalkan Rima yang berdiri termangu menatap kepergian mereka. Dia teringat kembali pada Andre, kakaknya. Apalagi wajah Akram yangh mempunyai kemiripan dengan kakaknya.
Kak, seandainya kamu masih hidup. Kamu menjadi manusia yang paling bahagia. Putra-putramu tumbuh baik, sehat dan menyenangkan. Nur dan kak Ulya sudah menjaganya dengan baik, bisik Rima mengikuti mereka dengan ekor matanya. Hingga keluar kamar, Rima masih penasaran dengan si kembar. Sampai akhirnya mbak Hesti menyapanya.
"Kita lanjutkan, Non Rima?"
"Oh, mbak Hesti. Tapi sebentar, aku pakai baju dulu ...." dia berlalu, masuk kamar kembali.
Sedangkan Naura harus melangkah lebar-lebar, agar bisa menyusul si kembar yang berlari dengan cepat.
"Papa ...."panggil mereka. Hingga mereka sampai di pintu depan. Tanpa memperhatikan Naura yang mengejarnya.
Beruntung, ada pak satpam. Yang menghadang keduanya, menangkap dan menggendongnya. Memberikannya pada Naura yang mulai terlihat capek.
"Papa ...." Keduanya menatap Naura dengan wajah merajuk.
"Mandi dulu. Papa nggak mau ketemu kalau masih cut."
"Ndi ...."
Naura mengangguk.
"Papa ...."
Kecil-kecil sudah pintar protes.
"Mandi dulu .... cut."
Naura mengandeng keduanya kembali ke dalam rumah.
"Papa ...." tangan mungilnya menunjuk ke halaman depan. Naura pura-pura marah meski tanpa kata. Mata yang mengintimidasi meski dengan senyum.Sejenak mereka bermanja. Sebelum Naura memandikan mereka berdua.
Nach ini ... kalau bertemu air, sudah dech, jangan ditanya. Pasti akan teriak kalau dihentikan. Perlu merayunya kembali. Meski harus susah payah, akhirnya selesai juga.
Pak satpam memandang majikan kecilnya dengan tersenyum bahagia. Keduanya mengingatkan kembali pada majikannya yang kini telah tiada. Ada kesedihan yang melintas, sejenak kemudian berganti dengan kebahagiaan, waktu mereka telah dengan patuh dengan permintaan Naura, mamanya.
Satu persatu keluarga pak Sofyan datang. Yang merupakan panitia dari acata ijab qobul ini, alhamdulillah. Ini memberikan ketenangan sendiri bagi mama Erika, yang sejak sebelum asyar sudah sangat gelisah, khawatir tak ada yang membantunya.
Tak lama kemudian tamu-tamu undangan dari tetangga sekitar, diantaranya aparat perintahan mulai berdatangan. Lalu pak penghulu pun tiba.
Sedangkan di dalam kamar, Rima sepertinya mulai gelisah. Karena rombongan Mustofa belum juga datang sementara di rumahnya sudah hampir seluruh undangan maupun penghulu sudah siap. Naura yang menemaninya pun juga ikutan gelisah. Beruntung si kembar sekarang bersama mbak Ifroh, menunggu kedatangan papa Ulya di dekat kantor satpam.
"Nur, kenapa belum datang?"
''Wah, tak tahu aku. Aku juga mencoba menghubungi, tapi belum tersambung."
__ADS_1
"Nur, jangan bikin aku makin senewen dech."