
(Mohon bijak dalam membaca)
Naura bergelayut manja pada leher Andre. Yang memapahnya ke ranjang.
Saat ini Andre sudah tak bisa mengendalikan hasratnya lagi. Wangi tubuh dan pesona wajah yang terlihat sempurna, serta sesuatu yang selama ini tersembunyi tanpa sengaja tersingkap. Benar-benar membuat hatinya bimbang untuk menjaga hasratnya.
Apalagi sejak pertama dia menyentuh, Tak ada penolakan sama sekali dari Naura. Dia hanya diam dan kadang tersenyum manja.
"Sayang, apa kamu sudah siap."
Naluri ingin berbakti pada suami, menyebabkan Naura menganggukkan kepala, menyembunyikan wajahnya yang bersemu semakin merona. Meski hati masih juga diselimuti keraguan. Bisakah dia memuaskan hasrat suaminya.
"Sebenarnya mas juga belum berpengalaman dalam masalah ini. Jadi sayang nggak usah takut pada Mas."
"Maafkan sikap Naura tadi, Mas."
"Tak ada yang perlu dimaafkan." bisik Andre di telinga Naura, yang kini tangannya memeluk tubuhnya.
"Dan tidak tabu bila kamu membalas ciuman mas." dengan jari telunjuk memainkan bibir Naura yang merekah menggoda.
Naura mencoba memalingkan muka karena malu. Tapi Andre lebih cepat menangkapannya. Menghadiahi ciuman yang teramat mesra, tak hanya sekali tetapi bertubi-tubi
Entah apa yang membimbingnya, hingga rasa percaya tumbuhkan getar jiwa. Yang mampu ciptakan keindahan dan kenyaman rasa dalam cinta. Pada detak jantung dalam lelah yang bahagia. Nikmat dirasa, desah dihembuskan. Anganpun melayang seiring kata
"Maafkan mas kalau ini membuatmu sedikit sakit."
Bila cinta sudah berkata, adakah sakit akan terasa. Meski harus menggigit bibir menahan perih. Kepasrahan sempurna pada sandaran keridhoan pada pemilih hati dan jiwa. Semua menjadi mudah.
Hingga berucap bersama dalam lelah. Lirih mendesah. Dan mereka rebah dalam indah hadiah pernikahannya.
"Sayang."
"Ya, Mas."
"Terima kasih."
"Untuk apanya?"
"Untuk semuanya."
"Apa mas rela dan suka?"
"Mas tak tahu harus bilang apa. Mas amat bahagia. Kamu sangat sempurna buat mas."
"Peluk mas hanya untukmu seorang."
Dalam selimut cinta, sembunyikan tubuh yang tiada malu melepas lelah dalam hasrat asmara.
"Mas, lepek banget. Aku mau mandi."
" Kita mandi bersama yuk"
"Malu."
Andre hanya tersernyum.
"Masih malu."
Naura tak peduli. Dia turun dari ranjang dengan menahan perih di daerah sensitifnya.
Menjadikan jalannya tertatih-tatih.
"Ya kan. Sudah dibilangi."
Andre segerah meraih dan memapahnya menuju ke kamar mandi.
"Makasih, mas keluar dulu, geh!"
"Baiklah."
Kali ini Andre menuruti keinginan istrinya, dan menahan diri untuk mandi bersama.
Tapi baru saja dia menutup pintu kamar mandi, terdengar Naura berteriak agak keras.
"Mas, hiks ... hiks ... hiks."
Membuatnya kembali ke dalam kamar mandi.
Dia mendapati Naura berjongkok di pojokan kamar mandi. Dengan masih memakai baju dalamnya.
"Ada apa, Sayang."
"Kita berdosa."
__ADS_1
"Maksudnya?"
"Aku sedang menstrtuasi, sedangkan kita melakukannya."
Naura menunjukkan celana dalamnya, yang terlihat bercak darah yang cukup berwarna dan jelas.
"Yakin?"
"Ini bukan tanggalnya."
Mendengar hal itu, Andre hanya senyum-senyum.
"Biasanya?"
"Tiga hari yang lalu baru selesai mens."
"Biasanya teratur atau tidak?"
"Teratur."
Andre benar-benar harus berjuang keras untuk menahan tawanya menyaksikan keluguan istrinya.
"Sudah, kalau gini mas nggak bisa tinggalkanmu, Sayang. Meski hanya untuk mandi."
Naura mengangguk dengan terpaksa.
"Tapi jangan lihat, apalagi menyentuh."
"Okay, jangan khawatir. Mas tahu kok."
Andre balik badan dan membiarkan Naura menikmati mandinya. Demikian juga dirinya, namun sesekali dia melirik istrinya.
Dari ekor matanya, dia melihat istrinya sepertinya menahan sakit. Dan kurang nyaman.
Andre cepat-cepat menyelesaikan mandinya.dan memakai piyama dari bahan handuk.
"Sayang, sudah."
Dia menahan diri untuk tidak melihatnya.
Tapi lama, tak ada sahutan. Terpaksa dia balik badan menyaksikkan istrinya menggigit bibirnya.
Tanpa berkata Andre segera meraih handuk. Mengusap tubuh istrinya dengan lembut.
"Sudah , jangan menolak."
Tanpa diminta dia menggendong Naura ke luar kamar mandi dan meletakkannya di atas ranjang.
"Terima kasih, Mas."
Kriuuk, kriiuuuk ....
Terdengar suara penghuni-penghuni setia dalam perut Andre, sedang berdemo menuntut haknya.
Membuat Nur tersenyum.
"Kita makan dulu. Yok. Mas laper banget."
"Dengan baju ini?"ujar Naura yang masih memakai piyama handuknya.
Lalu dia mencoba berjalan menuju sofa. Dimana koper itu berada.
Alhamdulillah sekarang sudah lebih baik. Naura dapat berjalan, tidak tertatih-tatih lagi.
Astaghfirullah ....
Andre teringat akan isi koper yang dibawanya.
Tapi biarlah Naura membukanya.
Dia pura-pura sibuk dengan makanan yang ada di depannya, tak peduli.
" Mas ini apa?"
"Ada apa, Yang."
"Kok pakaian dalam semua. Mana nerawang pula. Apa mama sama Rima lupa?"
Andre mendekat, pura-pura kaget. Membelalakkan matanya lebar-lebar.
"Itu lingerie,Sayang."
"Jadi ini yang namanya lingerie." ujar Naura bingung tak tahu harus berbuat apa dengan pakaian itu.
__ADS_1
"Mas, kita pulang ya... Ambil baju."
Andre senyum-senyum melihat kebingungan Naura. Dia benar-benar menikmati permainan mama dan adiknya
"Jangan khawatir, pak Doni sudah mas suruh kesini. Bawa baju ganti untuk kita."
"Lalu sekarang Naura pakai apa?"
"Sudah, nggak usah pikiran baju. Temani mas makan. Laper banget."
Naura mengangguk . Tidak ada jalan lain.kecuali mengikuti saran suaminya.
Apalagi saat terdengar penghuni-penghuni setia dalam perut Naura menuntut haknya pula.
"Sabar dulu ya, Yang."
Meski risih, dia terpaksa menemani suaminya makan dengan memakai piyama handuknya. Apalagi tak ada lagi pakaian dalam bisa dia gunakan.
Yang membuat Andre berkali-kali harus bersyukur atau istighfar mendapatkan pemandangan yang amat menggoda. Beruntung banget kini sudah jadi miliknya.
Berkali-kali Andre melirik Naura yang menunduk malu. Baik saat hendak mengambilkan makanan untuknya. Atau saat makan bersama.
Karena memang perut sedang lapar sekali. Maka makanan yang sudah agak dingin, habis semua. Mengisi kekosongan ruang yang lama terabaikan. Dari pagi hingga menjelang 'asyar ini.
Maklumlah, ketika orang-orang menikmati hidangan, mereka berdua tak bisa. Sudah terlanjur berdandan , takut merusak usaha mbak Hesti.
Selesai makan, Andre segera mengeluarkan meja troli itu. Dan mengunci kamarnya.
Sedangkan Naura membereskan tempat tidur mereka, yang sudah seperti kapal pecah.
Meski jauh dari bibir pantai, tapi suara debur ombak tak terhalang untuk didengar. Ingin rasa hati keluar ke beranda, menyaksikan itu semua. Tapi ....
"Yang, kamu ingin keluar."
Naura hanya tersernyum bingung.
"Bukankah di koper ada rukuh, Sayang. Pakailah lingerie itu dan pakailah rukuh itu. Kita ke beranda."
"Tapi Setelah sholat asyar dulu, Yang."
"Tapi, Mas."
Andre baru sadar kalau ada satu hal yang belum dia terangkan ke istrinya.
"Sini, duduk di pangkuan mas. Tidak, tidak, duduk di samping mas."
Andre cepat-cepat meralat omongannya. Takut dia tak tahan godaan. Niatnya kan mau sholat asyar dulu.
Naura menurut apa permintaan suaminya. Hitung-hitung pahala, gitu kata pak ustadz.
"Ya, Mas."
Dia menghampiri Andre agak tergesa, hingga tidak memperhatikan jalannya. Hampir saja jatuh karena kakinya 'kesrimpet' oleh cara jalannya yang masih gugup. Untunglah Andre cepat-cepat menangkapnya.
Alamak,
Istriku, kamu itu cantik banget. Sangat menggoda. Batin Andre berperang untuk perpegang pada waktu sholat. Ternyata godaan pengantin baru berat banget. Menjaga waktu sholat saja perlu perjuangan.
Setelah bisa mendudukkan istri di sampingnya. Serta mengatur jantungnya yang bertalu-talu mengetuk hasratnya yang meronta. Dia menatap istrinya dengan canda.
"Gini Yang, kamu pernah dengar istilah selaput dara?"
"Tanda dia masih perawan."
"Nach, gitu ngerti."
"Lalu?"
Subhanallah.
Entah aku harus bahagia atau bagaimana mendapatkan istri yang super lengkap kaya gini.
Pengetahuan agama 'ngelontok', baik, keturunan Turki yang kata orang, tempat lahirnya bidadari, lugu, polos. Cuma satu mungkin yang kurang, pengetahuan sexual hampir-hampir kosong. Sampai-sampai meski ketakutan terus-terusan seperti ini. Tapi tak apalah, aku makin suka ....
"Maafkan mas yang membuatmu sekarang tak perawan lagi. Kamu wanita yang hebat. Mampu menjaga hingga memberikan pada yang halal untukmu. Apa sayang kecewa?"
To the point saja. Panjang-panjang menghabiskan waktu. Ngerti syukur, nggak ngerti nanti diterangkan lagi.
Naura tersenyum menatap Andre.
"Ada yang lucu, Yang."
"Kata pak ustadz itu berpahala."
__ADS_1
Andre segera mengacungkan jempol dan memeluknya, memberikan kecupan di dahinya
"Sekarang kita asyaran ya."