Mahabbah Rindu

Mahabbah Rindu
Sesuatu Tentang Mustofa


__ADS_3

Hari-hari terasa amat panjang bagi Mustofa untuk bisa datang bersama keluarganya ke rumah papa Sofyan, melamar Rima. Ditambah dengan hilangnya Akmal, membuat rencana itu harus ditunda. Baik keluarga abbah maupun keluarga papa Sofyan sedang berduka.


Namun atas saran Abbah, bahwa niat yang baik, sebaiknya segera diwujudkannya. Dia mengajak seluruhnya untuk datang ke Indonesia, melamar Rima. Syukur Alhamdulillah, Allah membuat rencana yang lebih baik. Sebelum lamaran, Akmal ditemukan. Kebahagiaan ini terasa lengkap. Kini serasa tak ada halangan lagi untuk melaksanakan semua itu.


Dengan doa dan kesabaran, akhirnya niat itu kini terwujud. Dengan diantar keluarga Abbah dan juga keluarganya sendiri, mama Emire dan juga Faricha, Mustofa melamar Rima. Mereka mendatangi rumah keluarga papa Sofyan. Dua buah mobil sedan yang mereka sewa, menjadi saksi atas keseriusan hendak mewujudkan niat mempersunting Rima.


Mereka disambut hangat keluarga papa Sofyan dan juga Ulya beserta keluarga yang lebih dulu datang. Karena baik papa Sofyan maupun mama Erika sudah tak bisa memendam rindu pada cucu kembarnya.


"Assalamu'alaikum ...." sapa Abbah begitu keluar dari mobilnya, sambil melambaikan tangan.


"Wa alaikum salam ..." jawab papa Sofyan yang segera menghampiri abbah. Lalu berpelukan hangat layaknya dua sahabat yang lama tak berjumpa.


Sambil berbincang-bincang ringan, papa Sofyan mengajak mereka ke rumah. Yang sudah bersiap mama Erika dan juga Rima untuk menyambutnya. Dengan riasan sederhana namun menyegarkan di pagi itu. Ditambah dengan balutan gamis muslimah berwarna merah bata dan juga jilbab merah muda , meski tak panjang tapi cukup syar'i. Apalagi ditambah dengan senyum menawan yang menghias bibirnya. Menampakkan keanggunannya yang selama ini tersembunyi.


Dari jauh, Mustofa sudah menampakkan senyumnya. Apalagi melihat pujaan hati telah menutup aurat secara sempurna. Semoga ini awal yang bagus untuk langkah selanjutnya.


"Dag ... dig ... dug .... berdebar jantungku." ucap Naura menggoda Rima yang berdiri di sampingnya.


"Apaan sich, kamu Nur." jawabnya tanpa sedikitpun melirik pada Naura. Pandangannya kini tertuju pada tamu yang baru memasuki halaman rumahnya. Terutama sosok yang mau tak mau dia harus belajar merindu padanya. Siapa lagi kalau bukan Mustofa.


"Kakek, ... Nenek ...." seru Devra, berlari menghampiri abbah dan ummi tanpa dapat dicegah.


"Devra !?" ujar Naura kaget. Ginilah anak-anak. Sulit sekali mematuhi protokoler yang ada. Yang penting gembira. Harusnya berperan jadi tuan rumah. Ini mah ... mau peran dua-duanya. Tuan rumah ya ... tamu juga ya ....


"Ha ... ha ... ha .... Tuch kan, salahnya sendiri menggoda. Putrinyanya lari tuch nyonya Ulya." ganti Rima menggoda Naura yang mulai kerepotan dengan para krucilnya. Mana Akmal dan Akram juga nggak mau diam. Ingin ikut berlari bersama kakak Devranya.


Mau tak mau, Naura dan Ulya mengikuti keduanya. Lebih repotnya lagi, keduannya tak mau digendong, maunya jalan sendiri. Dengan terpaksa Naura menggandeng Akmal, sedangkan Ulya menggandeng Akram, menuju tempat abbah dan ummi berada.


Ummi tak kalah hebohnya, lihat Akmal yang berjalan ke arahnya. Tak sabar ingin segera memeluk dalam dekapannya.


"Akmal ... nenek kangen." sambutnya.

__ADS_1


Jadilah kini kelurga kecil Ulya masuk dalam rombongan tamu. Berakibat membingungkan untuk mama Erika dan Rima. Lha ... itu hantaran siapa yang nerima kalau seperti ini. Dia benar-benar kekurangan personal untuk menyambutnya. Ah ... bukan masalah. Ada mbok Iyem dan juga pak satpam. Tak perlu disuruh, mereka telah siap siaga. Hanya sayang, kebiasan abbah ummi kau bawa hantaran tak tanggung-tanggung, banyak banget. Akibatnya, mbok Iyem dan pak satpam harus bolak-balik lima kali dari depan hingga ruang penyimpanan.


Yang paling senang soal ini, Devra dan si kembar. Tanpa sepengetahuan mama papanya, mereka mengikuti mbok Iyem. Sampai di ruang penyimpanan, mereka mengambil kue dan buah yang mereka suka. Mbok iyem senyum-senyum menyaksikan semua itu. Membuat heran mama Erika yang melintas di depannya.


"Ada apa, Mbok?"


"He ... he ... he ... Itu nyonya." jarinya mengarah pada krucil yang sedang memilih-milih kue yang mereka suka.


Mama Erika ikut tersenyum juga. Lama tak ada anak kecil di rumah ini, membuat mereka kangen akan hal-hal seperti itu.


"Akmal, Akram, Devra .... Ambil dua saja. Nanti kau sudah habis ambil lagi."


"Ayo ke depan. Mama Naura pasti bingung cari kalian." ujarnya lembut.


Sehari di tempat ini, mereka tak asing dengan orang-orang di dalam rumah ini. Mereka menoleh ke sumber suara dan segera turun dari tempat itu. Dengan membawa kue memenuhi tangan mereka. Nyonya Erika dan mbok Iyem meraih si kembar. Membawa mereka bertiga ke ruang utama, tempat acara berlansung. Menyerahkan pada Naura yang sejak tadi tengok ke sana ke mari mencari mereka.


💎


Dibanding kak Ulya, Mustofa merasa tak ada apa-apanya. Hanya doa yang senantiasa dia panjatkan agar dapat mewujudkan cinta yang dia idamkan. Dan mungkin itu juga yang membuat Rima sedikit bimbang ... pikir Mustofa.


Meski terlihat berbincang hangat, keduanya tampak menyembunyikan sesuatu, itu terliha jelas dimata Ulya. Yang kadang melirik sesaat pada Mustofa. Karena ada sesuatu yang hendak di sampaikan. Bagaimanapun dia sulit untuk melepaskan Mustofa yang kemungkinan besar akan berpindah tempat apabila sudah menikah dengan Rima


Ulya menghampiri mereka berdua, setelah menyerahkan pengawasan Akmal pada pada mamanya.


"Rima, boleh aku bicara sama calon suamimu."


"Silahkan, Kak Ulya."


Rima akan beranjak dari tempat itu, tapi dicegah oleh Ulya.


"Kamu juga boleh mendengarkan."

__ADS_1


"Rencananya kalau setelah menikah kamu mau tinggal di mana?" tanyanya pada Mustofa.


"Tak tahu Kak."


"Aku harap kamu nggak meninggalkan perusahaan kita."


"Tidak akan, Kak. Disana aku mulai mengenal bisnis dengan benar. Tak mungkin aku meninggalkannya begitu saja."


"Syukurlah. Berarti saham yang 30% itu tetap kamu simpan di sana."


"Kakak ini ada-ada saja. Mana mungkin aku punya saham sebanyak itu."


"Itu hakmu. Dan sesuai perjanjian itu boleh kamu ambil kalau kamu menikah."


"Kalau diijinkan aku masih ingin mengembangkan perusahaan itu."


"Wah, kakak bersyukur banget kalau kamu begitu. Karena kalau kamunya pindah, siapa yang dampingi kakak."


"Aku mengerti, Kak. Itu semua ilmunya kan dari kakak."


"Oh ya ... gimana restoranmu."


"Alhamdulillah, Kak. Semua berkembang dengan baik. Dan mohon doanya juga, mau buka cabang di Belanda."


"Wah bagus itu."


"Alhamdulillah,"


"Kemarin kita mampir ke restoranmu yang ada Jakarta. Makin sukses saja kamu."


"Kakak terlalu memuji."

__ADS_1


Sementara Rima yang mendengar hal itu hanya dibuat melongo ....


__ADS_2