
"Tidak, Nur berhak mendapatkan kehidupannya. Menantiku? tidak-tidak.
Mungkin aku mengambil keputusan ini, terlalu egois. Tapi itu yang bisa kulakukan."
Kemudian Ulya berdiam sambil memainkan pasir di sampingnya.
Membuat Anas terdiam.
"Maafkan Anas, Den."
"Bagaimana hasil cek terakhir, Den."
" Ada kemajuan. Tapi masih harus kontrol rutin nggak boleh jeda."
"Kalau perkembangannya seperti ini insya Allah 2 tahun akan sembuh total. Doakan, Nas."
"Alhamdulillah, Anas ikut senang."
"Gimana kalau kita minum es kelapa muda, Den?"
"Itu baru ide bagus. Pesanin 2 geh!"
"Oke, Den."
Anas meninggalkan Ulya menuju penjual es kelapa muda yang ada di pinggir pantai.
Tak lama kemudian dia kembali dengan membawa 2 buah kelapa muda lengkap dengan sendok dan sedotannya. Satu untuk dirinya. Satu lagi untuk Ulya.
Menikmati segarnya air kelapa muda dan juga deburan ombak laut pantai selatan, membuat pikiran Ulya agak tenang.
"Nas, lihat itu seperti sesi foto untuk prewedding. Andai itu aku dan Naura," kata Ulya saat melihat sepasang muda-mudi melakukan posesi pemotretan di tanjung jauh di sana, beserta krunya. Yang dipisahkan oleh teluk tempat dia kini berada.
Tak pelak kata-kata Ulya membuat Anas menahan tawa. Hampir-hampir dia tersedak.
"Tak baik Den. Membayangkan istri orang."
"Nas. Kadang aku berfikir, apakah aku diminta Pemilik hati, untuk melihat ittiba' pada cinta pertama Rosulullah."
"Maksud Aden."
"Tahukah kamu, cinta pertama Rosulullah?"
"Bunda Khotijah."
"Itu cinta abadinya."
"Lalu. Bunda Aisyah."
"Itu istri yang perawan satu-satunya."
"Lalu siapa, Den. Bikin penasaran aja."
"Cinta pertama Rosulullah itu adalah Ummu Hani. Putri Abu Tholib, pamannya. Tak lain dan tak bukan adalah sepupunya."
"Kok saya baru dengar, Den."
"Makanya, banyak baca shiroh. Cerita Nabinya sendiri nggak tahu."
"Gimana ceritanya, Den.?"
"Ya begitu lah."
"Saat nabi melamar Ummu Hani, ditolak sama Abi Tholib, begitu sudah janda, dilamar lagi oleh Nabi. Tapi ditolaknya juga."
"Ternyata Nabi pernah patah hati juga."
"Jangan diumpamakan cinta Aden seperti cinta nabi dengan Ummu Hani, patah hati melulu. Aku doain Aden bertemu jodohnya seperti nabi bertemu bunda Khodijah. Meski dapat jandanya tapi menjadi cinta abadinya. He ... he ... he."
"Nas, Nas. Pikiran kok jadi ngelantur?"
"Aden juga yang mulai."
"Ya. Habis lihat mereka jadi iri dech. Siapa mereka?"
"Jadi dari tadi Aden merhatikan mereka?"
"Wah, sepertinya Aden belum rela melepaskan Nona Naura."
"Jangan katakan kalau mereka Andre dan Naura."
__ADS_1
"Mana mungkin, Den. Bukankah mereka sudah menikah. Masak perlu prewedding-preweddingan segala."
"Ya sudah. Kita kembali yok. Kelihatannya sudah mau dhuhur."
"Ya, Den."
Mereka berdua meninggalkan pantai itu. Seiring Andre dan Naura mengakhiri prosesi pemotretannya jauh di sana.
"Makasih semuanya."kata Andre.
"Ya, Pak. Selamat menempuh hidup baru. Semoga sakinah, mawaddah, warohmah.."
"Assalamu'alaikum ...," kata Andre sambil melambaikan tangan pada orang-orang yang membantu dalam proses pemotretan.
"Wa 'alaikum salam," jawab mereka.
Sejenak Andre diam, memandang Naura dengan senyum menawan. Hanya sayang terbuang percuma, Naura tidak memperhatikannya.
Dia asyik menatap deburan ombak yang menggulung ke tepi pantai. Seakan.memanggil-manggil dia untuk kembali. Dia menjadi enggan untuk meninggalkan tempat itu.
"Adikku Naura sayang. Kamu masih ingin di sini?"
"Kalau mas memperbolehkan."
"Pacarku satu-satunya ini emang manja kali. Oke Mas turuti. Tapi kita cari masjid dulu. Sudah mau dhuhur."
"Makasih, Mas."
"Masak segitu doang, terima kasihnya."
"Ah, Mas. Selalu cari kesempatan dalam kesempitan."
"Atau aku duluan."
Naura jadi teringat kejadian sebelum pemotretan.
Ngak, ngak. Aku tak siap bila mas Andre menciumku seperti tadi.
"Baik, Naura akan lakukan. Tapi mas Andre pejamkan mata dulu."
"Nach, gitu dong," kata Andre senang.
Dengan gemetaran Naura mendekatkan pipinya pada pipi Andre dengan masih memakai cadar.
Andre mencicingkan sebelah matanya melihat perlakuan Naura padanya.
Ya ... segitu doang. Batinnya berontak.
Tak sabar dengan yang dilakukan Naura padanya, dia segera meraih tubuh Naura dengan satu tangannya.
"Gini lho Sayangku."
Dengan sigap dia mendekap tubuh Naura dalam pelukannya. Lalu mendaratkan satu ciuman kecil ke bibirnya, dengan sedikit menyingkap cadarnya.
Secara tidak sadar Naura dibuat gelapan oleh tindakan Andre padanya.
"Mas."
Andre hanya cengengesan saja melihat Naura yang gugup dan nafasnya memburu.
"Bagaimana?"
"Mas, Naura takut." kata Naura sambil sedikit terisak. Membuat Andre tersentak kaget. Tak sangka gadis disampingnya ini, sangat-sangat tertutup dengan masalah sexual. Sehingga membuatnya bingung dan takut menghadapi hal demikian.
Andre segera memeluknya, membiarkan Naura menangis dalam dekapannya.
"Maafkan, Mas. Mas tidak akan melakukannya lagi," kata Andre. Sambil mencium keningnya lama. Sehingga diapun ikut meneteskan air mata. Menyesal dengan apa yang baru saja dia lakukan pada Naura.
"Mas nggak marah?"
"Kita akan sama-sama belajar. Mas nggak maksa adikku sayang untuk mekukannya dalam waktu dekat ini."
"Maafkan Naura, Mas."
"Sudahlah, Sayang. Kamu lelah. Tidurlah dulu. Nanti kalau sudah sampai di masjid, mas bangunkan."
"Ya Mas."
Berlahan Andre menghidupkan mobilnya keluar dari area pantai.
__ADS_1
Sedangkan Naura menyandarkan tubuhnya. Tak lama kemudian tertidur pulas di sampingnya.
Dia sengaja agak berputar-putar untuk menghentikan mobilnya pada masjid yang dituju, agar Naura bisa menikmati tidurnya lebih lama.
Manakala dia sudah sampai di tempat pelataran masjid, dia tidak segera turun dari mobilnya.
Dia memandang Naura dengan kasih sayang. Tak tega untuk membangunkannya. Lalu dia mengecup kening Naura pelan.
Merasakan ada sesuatu, Naura mengejap-ngejapkan matanya.
"Mas, kita sudah sampai?"
"Ya, Sayang."
"Kenapa Mas nggak bangunin Naura."
Andre tersenyum sendiri. Syukurlah ciuman gue tak diketahuinya.
"Mas nggak tega. Sudah kita keluar yuk. Biar bisa jamaah sama orang-orang."
"Ya, Mas."
Naura menganggukkan kepalanya.
Keduanya keluar dari mobil menuju ketempat wudhu yang terpisah.
Usai melaksanakan sholat dhuhur, mereka kembali ke dalam mobil. Masing-masing memasang sabuk pengamannya.
Andre menghidupkan mesin mobilnya. Meninggalkan pelataran masjid itu, sambil berbincang-bincang dengan Naura.
"Sekarang masih mau ke pantai?"
"Nur terserah Mas saja. Kalau tidak juga tidak apa-apa. Lain waktu juga nggak apa-apa."
Naura tak tega melihat Andre yang terlihat kelelahan.
"Lain waktu saja ya. Saat ini mas benar-benar lelah."
"Atau besok pagi?"
"Boleh."
Terlihat wajah Naura bersinar ceria ketika tanpa sengaja cadarnya terlapas dari wajahnya.
Andre memandang Naura dengan menyanggah wajahnya dengan ujung tangannya. Terpesona ....
"Kita sekarang cari penginapan ya?"
"Tapi Naura belum bawa baju ganti."
"Tuh, di belakang."
Naura menengok ke belakang. Di sana sudah tersedia koper kecil yang tidak dia ketahui isinya.
"Itu untuk Naura?"
"Ya, mama dan Rima yang nyiapin. Mas juga nggak tahu isinya apa?"
"Mas."
"Hem."
"Sehari ini kita kayak orang pacaran saja ya."
"Oh ... situ sudah pernah pacaran?"
"Nggak, nggak mau pacaran. Nanti hamil. Atau sakit hati ditinggal pergi."
Makanya dia kelihatan ketakutan saat kudekati. Batin Andre.
"Itu pacaran yang tidak sehat, Sayang."
"Makanya enakkan pacaran setelah menikah, katanya gitu."
Andre tertawa mendengar jawaban Naura yang polos itu.
"Nach, sekarang sudah sampai." kata Andre.
Dia menghentikan mobilnya di parkiran hotel bintang lima.
__ADS_1