Mahabbah Rindu

Mahabbah Rindu
BAB 79 : Kembali


__ADS_3

"Sayang, mau kemana?" tanya Naura.


Naura memandang Ulya yang terlihat rapi namun santai, seperti hendak pergi.


"Kita mau pergi, ya Devra."


Terlihat keceriaan di wajah Devra.


"Benar, Pa?"


"Tapi kalian mau kemana?"


Ulya hanya tertawa kecil, memandang wajah Naura yang penuh keheranan.


Lalu mendekati Naura.


"Aku yang antar bapak ke Bandara, sama kak Ahmad."


"Baguslah. Lalu, bagaimana dengan Mustofa?" sahut Naura yang masih merasa heran dengan keputusan Ulya yang tiba-tiba.


"Jangan sebut nama itu lagi. " jawabnya berat.


Naura segera mengerti. Tapi, sebegitu sakitkah hati suaminya saat ini, sehingga untuk mendengar namanya saja, dia tak mau.


"Maafkan aku, Sayang."


"Nggak apa-apa, jaga diri baik-baik. Boleh ajak mbak Binti ke sini."


Rencana awal, yang mengantar bapak dan keluarga mbak Nadya, Kak Ahmad dan Mustofa. Mengingat mereka semalaman harus menyambut tamu, yang tak terkira banyaknya. Sekarang tiba-tiba berubah.


Tapi Naura tak berani untuk mencampuri keputusan suaminya. Karena ini masalah hati dan perasaan.


"Kalau dia datang, bilang saja sudah aku antar."


"Mas, nggak apa-apa kan?"


"Sudah, jangan khawatir. Tak akan terjadi apa-apa. Karena Devra putri papa Ulya dan mama Naura. Ya kan Devra?"


"Devra sayang papa. Dan tak mau papa yang lain." kata Devra sambil memeluk papa Ulya.


Ulya segera memberi hadiah kecupan kecil di dahi Devra.


Tak lama kemudian, Ahmad datang. Dengan suaranya yang khas. Diapun menyapa dari balik pintu.


"Assalamu'alaikum ... Anya body home?" candanya yang membuat Devra melepas pelukannya pada papa Ulya.


"No home, uncle. But room."


Entah mengapa, meski Ahmad punya suara bariton yang menggelegar, tapi anak-anak lansung suka kalau melihat dia. Demikian dengan Noval dan Novi yang 2 minggu berada di sini.


Tak lama, muncul Noval dan Novi dari kamar yang ada di depan mereka.


"Om Ahmad."teriak mereka. Lalu bersama-sama memeluk Ahmad yang disambut Ahmad dengan senyum ceria.


Terlihat pak Farhan, Nadya dan Hamdan yang sudah bersiap, juga mendekat. Bersama Ulya dan Naura keluar.


"Bapak doakan ya ..., kita sekeluarga segera bisa mengunjungi Indonesia."


"Ya. Bapak tunggu. Tapi jaga cucu-cucu Bapak sampai kuat dulu."


"Nggeh Bapak."


"Nur, aku pergi dulu." kata Nadya.


"Ya, Kak. semoga selamat sampai tujuan."


"Amiiiin." jawab Nadya.


"Wah, semuanya sudah siap. Ayo segera berangkat. Biar nanti tidak ketinggalan pesawat." kata Ulya.


Naura mengikuti Ulya, mengantar kepergian keluarganya, hingga masuk ke dalam lift.


Setelah semuanya menghilang,


Kini tinggallah Naura beserta mbak Binti dan putra-putranya yang masih termangu di depan pintu kamarnya. Seakan masih berat berpisah dengan mereka semua.


Sudah hampir sekian lama, baru Naura mau masuk ke dalam kamarnya. Dan bercengkerama riang bersama si kembar.


Beberapa saat kemudian, terdengar suara pintu diketuk.

__ADS_1


"Tolong mbak Binti."


"Ya. Nyonya." jawabnya, sambil berjalan ke arah pintu. Dan membukanya ....


"Tuan Mustofa."


"Ada kak Naura."


Mendengar namanya disebut, segera Naura mendekat.


"Ada apa?"


"Kok, sepi. Apa sudah pada berangkat."


"Iya, diantar mas Ulya sama kak Ahmad."


"Wah saya telat."


"Iya."


"Ya sudah, Kak ipar. Aku balik dulu."


"Ya."


"Assalamu'alaikum ...." sambil berlalu.


"Wa'alaikum salam ...." sahut Naura.


Naura melihat kepergian Mustofa dengan wajah kecewa. Tapi tak bisa berbuat apa-apa.


Belum sempat Naura menutup pintu, Mustofa balik lagi.


"Sebentar kakak ipar."


Naura mengurungkan niatnya untuk menutup pintu.


"Ya, ada apa?"


"Kak Ulya nggak pesan apa-apa."


"Nggak. Memangnya ada apa?"


"Entahlah,"


Tadi kak Ulya ngomong untuk menemuinya. Tapi menemui dimana. Mustofa bertanya-tanya.


"Ya sudah, Kak. Maaf, ngeganggu."


"Ya, tak apa."


Apa aku tunggu di sini saja, ya ....


"Kak, mana Akram dan Akmal. Aku kangen."


"Ya, ada. Cuma sekarang mereka lagi perlu istirahat. Tolong jangan ganggu."


Bagaimana mungkin, Naura membiarkan orang laki-laki masuk ke dalam kamarnya. Apalagi saat ini, Mustofa adalah orang yang tak dikehendaki suaminya untuk mendekati keluarganya. Diapun menolaknya secara halus.


Beruntung, Mustofa segera mengerti. Diapun meninggalkan tempat itu meski dengan hati yang sangat berat. Karena merasa, tak biasanya kakaknya memperlakukan dia seperti ini.


Tak lama kemudian dia mendapatkan telpon dari Ulya, kakaknya.


"Assalamu'alaikum .... Kak."


"Wa'alaikum salam ...."


"Kakak di mana."


"Di bandara."


"Apa aku menyusulmu, Kak."


"Kalau tak keberatan."


"Baik, Kak. Aku ke sana."


"Aku tunggu."


Mustofa berjalan cepat ke mobilnya, menghidupkan mesin mobil berlahan. Sehingga tak lama diapun dapat melajukannya, dijalanan bebas hambatan dengan tenang.

__ADS_1


Tak perlu waktu lama, diapun sudah dapat menyusul Ulya di bandara. Setelah mencari-cari, akhirnya dia menemukan rombongan keluarga pak Farhan.


Terlihat Ahmad yang bercanda ria dengan anak-anak. Sedangkan Ulya berbincang-bincang dengan Hamdan. Tanpa ragu dia mendekat.


"Assalamu'alaikum ...."


"Wa'alaikum salam ...." jawab Hamdan.


Tak lama ada suara pemberitahuan untuk persiapan pemberangkatan pesawat yang akan menuju ke Indonesia.


"Sampai jumpa lagi, Devra. Kapan-kapan datang ke tempatku ya ...." salam Noval pada Devra.


"Insya Allah. I will always miss you guys."


"We also."jawab Noval dan Novi.


Nadya yang mendengar percakapan mereka senyum-senyum sendiri. Gayanya sekarang .... pakai inggris-inggrisan.


"Assalamu'alaikum .... Semua." kata mereka hampir bersamaan.


"Wa'alaikum salam ...."Demikian jawab Mustofa, Ahmad dan Ulya hampir bersamaan pula.


🔷


Setelah mereka semua pergi, Ulya meraih Devra dalam gendongannya. Dan bersama-sama menuju tempat parkir, sambil berbincang-bincang ringan.


"Alhamdulillah, acaranya sukses. Selamat ya Ulya .... Titip adikku, yang baru aku temukan. Kadang aku iri sama kamu. Aku belum sempat berkumpul bersama, dia sudah kamu bawa."


"Makasih, Ahmad. Kamu benar-benar kakak yang paling baik."


"Hadiah untuk kalian masih kusimpan. Nanti saja kuberikan."


"Wah makasih sekali. Tak kukira, kakakku ini menyiapkan hadiah juga untukku."


Ahmad hanya tertawa kecil.


"Kak Ahmad, aku bisa titip Devra?"


Kadang sebut nama, kadang menyebut 'kak'. Terserah lah, Ahmad tak ambil pusing. Sebab usia Ulya memang jauh lebih tua dari Ahmad.


"Papa mau kemana?"tanya Devra bingung.


"Ada keperluan sedikit sama om Mustofa."


"Devra nggak boleh ikut?"


Ulya agak sulit menjawab. Untunglah Ahmad menemukan solusinya.


"Devra, kita petik buah anggur dan Apple lagi yuk."


"Benaran, Om." mata Devra berbinar cerah.


Ahmad mengangguk. Dan meraih keponakannya itu dalam gendongannya.


"Ya udah. Aku ikut om Ahmad, Pa."


"Petik yang banyak ya ..., papa juga pingin."


"Ya, Pa. Nanti Devra bawain."


"Anak sama papanya sama aja." sahut Ahmad, sambil membuka pintu mobilnya.


Tak lama, dia telah menghilang dari hadapan Ulya yang berdiri mematung memandang Mustofa yang ada di sisi mobilnya.


"Ada apa, Kak."


"Kita ke pinggir pantai saja. Biar enak ngomongnya." kata Ulya yang membuat Mustofa binggung sekaligus penasaran.


"Baik, Kak."


Keduanya masuk ke mobil masing-masing. Melajukan mobil ke arah yang dituju.


...


...


....


Selamat membaca dengan bahagia ....

__ADS_1


Jangan lupa vote dan likenya.


Comel atau saran juga boleh.


__ADS_2