Mahabbah Rindu

Mahabbah Rindu
BAB 84 : Awal Cerita


__ADS_3

"Mereka manis, seperti mamanya."ujar Ulya yang membuat Naura kembali tersipu.


Lalu meletakkan keduanya di box tempat tidur. Dengan terlebih dahulu kecupan kecil di dahi keduanya.


"Bagaimana, Yang."


Mas masih ingat saja, batin Naura berbisik lembut. Tapi diterimanya juga ajakan suaminya dengan hati berbunga-bunga. Diapun mengangguk dengan tersipu malu.


Ulya yang sudah tak sabar, segera meraih tubuh Naura dalam gendongannya. Lalu mengulang kembali aktifitas semula. Dan melanjutkannya dengan yang apa sudah mereka rencanakan.


Dibawah guyuran air, luruh sudah segala lelah. Sisa-sisa dari aktifitas yang mengeratkan tautan kasih diantara mereka. Saling berbagi dalam cinta, saling memberi dengan apa yang dirasa. Agar tercapai keharmonisan yang senantiasa di damba.


Tak perlu malu, dengan yang apa diinginkan. Sudah tertutup dengan ikatan dihadapan Tuhan. Halal, begitulah kata orang ...💗💗🙃


Sejenak terlupa masalah Devra. Yang sempat bikin hati sesak dan memusingkan kepala.


Tapi begitu itu semua selesai, kok balik lagi pikiran ini pada masalah itu lagi.


Tapi biarlah masalah ini berjalan apa adanya. Ini soal hati dan juga perkembangan diri. Jadi, kalau dengan jalan diam dapat menyelesaikan keruwetan ini. Untuk apa menambah masalah dengan mengatakan yang sebenarnya.


Aku berharap Tuhan akan memberikan jalan yang terbaik bagi Mustofa, Devra , Kak Ulya. Aku hanya menginginkan yang terbaik saja, tanpa ada yang terluka. Dibuat husnudzan saja. Yang Kuasaa lebih tahu tentang ini semua.


Dia Devra. Bagaimanapun dia telah mencuri hatiku, hingga kurela menjadi orang tuanya, meski tak ikut melahirkannya.


Tapi dimana dia sekarang, kok belum pulang-pulang.


Setelah sekian lama baru sadar, Ulya datang tak bersama Devra. Apa mungkin dia tidur di kamar sebelah. Tapi sampai saat ini, kenapa juga belum menampakkan batang hidungnya. Apa dia tidak lapar? ...


"Mas, Devra dimana?"


"Dia tadi pulang sama kak Ahmad."


"Lha kok belum sampai dari tadi?"


"Diajak ke rumahnya."


"Tolong, Telponlah sayang. Apa dia sudah makan?"


"Kamu kok khawatir banget, disana kan ada mama Efsun."


"Nggak begitu, Mas."


"Kamu takut Devra diambil Mustofa?"


Naura hanya diam. Dan semakin cemberut.


"Jangan khawatir soal itu. Aku juga nggak akan mengijinkan Mustofa membawanya."


Naura masih tetap diam.


"Baiklah. Aku telpon mereka."


Setelah telpon diangkat, dia memberikannya pada Naura.


"Nich."


"Makasih."jawab Naura senang.


"Assalamu'alaikum ..., Kak"

__ADS_1


"Wa'alaikum salam. Devra ada ?"


"Sedang tidur"


"Ya sudah."


"Tenang aja. Kuantar nanti kalau dia sudah bangun"


"Makacih, Kak. Assalamu'alaikum ...."


"Wa'alaikum salam "


Naura melirik Ulya dengan senyuman.


"Nich, aku kembalikan hpnya. Nggak butuh."


Ulya menerima hp itu, tak bisa menahan tawa.


"Mama Devra, mama Devra ...."Ulya bergumam sayang.


Melihat istri kecilnya yang bertingkah menggemaskan.


Sore ini, mereka memutuskan untuk kembali ke kediamannya. Setelah sejak sore kemarin, menghabiskan waktu di hotel ini. Dengan segala aktifitas yang padat dan melelahkan.


Untunglah, anak-anak manis semua. Nggak ada yang rewel baik saat acara berlangsung maupun sesudahnya. Tentunya dengan bantuan mbak Binti dan lainnya. Sehingga Naura dan Ulya saat ini dapat menikmati kebersamaan dengan bahagia.


Dengan dibantu mbak Binti, Naura membereskan semua, termasuk segala peralatan si kecil.


"Sudah semua?"tanya Ulya yang juga turut membantu.


"Insya Allah sudah."Jawab Naura.


Dan menjalankannya menuju rumahnya sendiri. Karena di sini, mereka ingin memulai mengukir cerita.


🔷🔷🔷


Senja yang memancarkan warna saga, menghias langit di musim semi. Memberikan kehangatan tersendiri pada kami. Yang ingin melewatinya dengan kegembiraan.


Karena diriku tak mengira dapat bersama dengan orang yang kunanti selama ini. Nur Aini Fil Islam alias Naura binti Salim.


Cerianya kala kanak-kanak, masih tetap sama, meski kini telah dewasa.


Aku berinisiatif untuk mengajaknya menikmati senja. Tentu saja dengan keluarga kami yang tak kecil lagi. Bersama Devra dan kedua jagoanku, berjalan-jalan sambil menikmati pamandangan senja di sebuah taman yang ada tengah kota.


"Yang, kita ajak mbak Binti ya, biar kamu nggak kerepotan."


Seperti biasa, Naura diam dan menampakkan wajah yang sedikit cemberut. Dan ini yang bikin Ulya gemes. Membuatnya nggak sabar untuk mencubitnya. Habis sudah besar juga, masih ngambekkan.


"Bilang dong, Yang. Jangan diam gitu." ucap Ulya dengan sedikit merayu.


Tapi Naura nggak menggubrisnya. Dia masih asyik dengan aksi diamnya. Tapi tetap menyiapkan segalanya untuk keperluan jalan-jalan mereka. Yang dibantu bi Uma. Karena beby sister si kembar sedang mempercantik diri.


Akhirnya Naura berbicara juga.


"Mas, apa aku saja masih kurang, Hingga kamu ajak mbak Binti juga."


Ups ....


Ulya melirik istrinya sambil tersenyum .

__ADS_1


"Kamu cemburu?"


"Siapa juga yang cemburu."


"Lha itu tadi."


"Aku lagi nggak mau aja, kamu ajak dia jalan-jalan."


"Lha terlanjur aku bilang ke dia tadi."


"Makanya, dari tadi dia bersolek nggak keluar-keluar. Dia tak mau bantu aku. Malah bi Uma yang bantu."


"Tetap kamu yang tercantik, Yang. Biarpun dia bersolek sekalipun."


Mana kutahu tentang Binti, aku tak pernah memperhatikannya, gumamnya yang dia sembunyikan dalam dada.


"Gombal nya keluar."


"Yang di gombali juga mau." goda Ulya. Sehingga menghilang mendung di wajah istrinya.


"Ya sudah, kalau gitu kita berangkat." ajaknya kemudian.


"Devra, kamu nggak ikut sayang." ajak Naura pada Devra yang memegang makann kecil dengan asyik menonton televisi.


"Asyik ...jalan-jalan." ujarnya.


Baru juga beberapa langkah meninggalkan rumah, mbak Binti tiba-tiba menyusulnya. Yang membuat Naura tak suka.


"Maafkan Binti Tuan."


Ulya tak berkata apa-apa, hanya matanya melirik ke Naura. Yang tampak diam.


"Kamu tadi kenapa sampai terlambat."


"Kasihan ibu senyiapkan semua sendiri."


Binti diam, tak berani dia menatap majikannya.


"Kalau gini tanya sama ibu saja. Kamunya ikut atau tidak."


Sebenarnya Naura itu nggak tegaan dengan sesama. Meski Binti sering membuat hatinya cemburu. Kebiasaan bersoleknya itulah, yang membuat dirinya agak galau. Apalagi dengan make up yang agak berlebihan. Bikin hatinya was-was sebagai wanita.


Untuk bajunya yang seksi-seksi, sedikit demi sedikit sudah berganti. Meski belum sempurna menutup aurat, tapi lebih baik dari saat pertama mengenalnya.


Meski dalam pekerjaan dia terampil, tapi akhir-akhir ini sering agak lemot. Yang terkadang bikin Naura agak gimana. Tapi dia cukup pengertian.


Mungkin ada sesuatu yang dia sembunyikan. Sepertinya, jatuh cinta gitu .... Tapi tak tahu pastinya juga. Remaja sekarang. Ah bukan .... remaja setengah dewasa gitu lho ....


Cuma pada siapanya, yang bikin Naura was-was. Jangan-jangan pada ....


Ah tidak, Mas Ulya nggak gitu kok ....


Tapi tak lupa, Naura sedikit lebih sering bicara terbuka untuk sekedarnya mengingatkan.


Akhirnya Naura mengiyakan dia untuk ikut bersama mereka jalan-jalan sore ke taman.


"Baiklah, bantu aku jaga Akram sama Akmal."


Naura memberikan kereta babynya pada baby sister anaknya.

__ADS_1


"Baik, Nyonya."


__ADS_2