Mahabbah Rindu

Mahabbah Rindu
BAB 43 : Papa Sofyan


__ADS_3

Rima masuk ke dalam sebentar lalu kembali dengan membawa satu paper bag, kemudian memberikannya pada Ulya yang sedang duduk santai bersama Naura di beranda.


"Terima kasih, Rima."


"Kakak suka?"


"Suka."


Hanya kata itu yang terucap dari bibir Ulya. Rima menunggu, tak jua ada kata lagi yang keluar.


Padahal dia sangat berharap.


Rima masih berdiri mematung menatap Ulya yang sibuk mengatur tubuhnya agar nyaman duduk di kursi. Mendampingi Naura yang kelihatan enggan masuk. Terlihat dia kecewa.


"Sama aku lupa?" ucap Naura membuyarkan angannya


"Nggak, ini untuk ibu dari calon keponakanku," kata Rima sambil memberikan paper bag yang lain. Dengan senyum yang dipaksakan.


Lalu kembali lagi ke dalam dengan sedih.


"Terima kasih, Tante."


Rima hanya menengoknya sekilas, lalu melanjutkan langkahnya.


Naura menangkap ada sesuatu pada Rima, sahabatnya itu. Tapi Ulya seperti tak peduli.


"Hem ... hem.... hem ... ternyata dia tho."


"Selalu saja menduga yang nggak-nggak. Padahal sering salahnya lho."


"Kurasa kali ini benar, dech."


"Naura!"


Ulya tertunduk sedih.


Sesaat yang lalu engkau telah memberikan kepercayaan padaku.


Tapi kini seakan-akan sirna kembali.


Apakah kepercayaanmu yang berselimut rasa, kini telah sirna atau sengaja engkau sembunyikan.


Coba nyatakan agar aku tak bimbang.


Merengkuhmu dalam dekapan kasih sayang.


Meski harus menunggu.


Dan itu semakin terasa lama dengan tidak ada kepastian dari dirimu.


Janganlah menggodaku seperti itu


Aku takut tak mampu.


Naura yang melihat menundukkan wajah dengan sedih, merasa bersalah.


"Maafkan aku kak?"


Ulya menatap Naura dengan seulas senyuman yang meneduhkan.


"Naura, sebenarnya ...."


Ulya berhenti, menatap awan yag sedang berjalan, seakan meminta persetujuan, dengan apa yang hendak dia ungkapan.


"Ya, ada apa, Kak."


Ingin Naura ungkap, segala kebimbangan yang selama ini tersimpan rapat, di relung hatinya yang dalam. Tentang rasa, tentang harapan, tentang inginnya. Namun bila dia ingat bahwa Ulya sudah berjanji, menjadikan dirinya sebagai adik selamanya. Dia tak berani berharap lebih.


"Dengarkan kakak baik-baik. Aku nggak mau lagi, kamu salah sangka."


"Maksud kak Ulya."


"Bukankah kamu ingin tahu tunangan kakak itu siapa."


"Ya, Kak."

__ADS_1


"Baiklah. Lihatlah ini!"


Ulya melepaskan cincin itu. Memperlihatkan ukiran nama yang ada di baliknya.


"Kak."


Tubuh Naura bergetar sebentar. Lalu menatap Ulya tak percaya, yang dengan tenang memakai cincin itu kembali.


"Sudahlah, biarlah kakak menunggumu. Oke."


"Terima kasih, Kak." ucap Naura dengan mata berkaca-kaca.


Tak ada lagi alasan untuk tidak mempercayainya. Meski saat itu dia meninggalkannya. Ternyata namanya masih tersimpan di hati Ulya.


💎


Rima yang menguping dari balik pintu, nampak semakin sendu. Dengan menunduk, dia berbalik hendak meninggalkan tempat itu. Hingga tak menyadari, pak Sofyan telah ada di belakangnya. Menatapnya dengan sedih. Dia menyadari anak gadisnya tengah jatuh cinta.


"Rima."


"Papa."


Dia memeluk pak Sofyan dengan sedih.


"Kalian berdua adalah putri-putri papa yang manis. Kamu masih punya papa yang sangat sayang padamu. Sedangkan kakakmu Naura baru saja kehilangan sandaran hidupnya. Tentu ini berat. Tapi kakakmu mencoba tegar."


"Rima mengerti, Pa."


"Sekarang ajak mereka makan bersama kita."


"Iya, Pa."


Rima melepas pelukannya, setelah mendapatkan usapan kecil di kepalanya.


"Kak Ulya, Nur. Kita makan yuk, sudah ditunggu mama papa."


"Baiklah, Ayok." jawab mereka bersaman, membuat Rima semakin nggak enak hati.


Ah, kenapa aku mesti cemburu. Toh kak Ulya selama ini tak ada rasa padaku. Dia mencoba berfikir sebagai mana mestinya.


💎


Terlihat semua makan dengan khusyu' tanpa terdengar suara sama sekali. Eh maaf ... ada suara deng ....


Yaitu suara sendok yang menyentuh piring-piring mereka.


Hingga datang mbok Iyem menghampiri Naura, dan berbisik pelan.


"Ini Den Ayu, hasilnya. Mereka minta dikirimi lagi."


Mbok Iyem memberikan beberapa lembar uang kertas berwarna merah pada Naura. Dia tersenyum dan mengangguk senang.


"Benarkah. Sudah ambil aja itu semua, Mbok." ucapnya tanpa menyentuh uangh itu.


"Itu yang di kulkas, boleh mbok ambil. Teman-temannya cucu mbok pingin."


"Boleh, ambil aja." kata Naura sambil menyerlesaikan makannya yang hanya beberapa sendok.


"Ada apa, Mbok?" tanya nyonya Erika


"E ... itu Nyonya ...."


Bingung mau jawab apa. Takut kena damprat den Ayunya yang melirik dengan mata tajam.


"Maaf, Ma." ucap Naura dengan cuweknya. Lalu melanjutkan makannya sampai habis dan minum air putih berlahan. Baru kemudian terlihat siap memberikn penjelasan.


Nyonya Erika dan yang lainnya sampai menghentikan makannya. Dan melihatnya dengan terbengong-bengong.


Nggak seperti biasanya, Naura bersikap seperti ini.


Tak peduli pandangan mereka yang penuh tanda tanya. Naura menuju kulkas yang ada di pojokan.


Lalu mengambil beberapa gelas plastik dan memberikan mereka satu-satu. Sambil menawarkan terlebih dahulu.


Terlebih dahulu dia mendekati pak Sofyan.

__ADS_1


"Papa pilih asinan atau rujak?"


"Pedes nggak?"


"Yang ini nggak begitu pedes."


"Oke, papa mau dua-duanya."


Akhirnya semua mendapatkan bagiannya.


"Ternyata selama aku tinggal, kamu jualan ya Naura."


"Maafkan Naura, Pa. Habis banyak buah-buahan di belakang. Mubadzir kalau terbuang. Naura olah, Lalu dijual sama pak satpam dan juga mbok Iyem lewat penjualan on line."


"Buat ngisi kejenuhan."jawabnya dengan mata berbinar.


Membuat Ulya dan Rima hampir-hampir tertawa. Baru kali ini ada penghuni baru yang begitu tenang dan berani mengungkap ide sama papa.


"Bisa saja cucu papa ini. Belum juga keluar sudah belajar bisnis."


"He ... he ... he ..." Naura tertawa tanpa dosa.


Di ikuti senyum semuanya. Tapi pak Sofyan terlihat kurang senang.


"Ini bukan karena papa kurang memberimu uang belanja kan?" sambil menghabiskan asinan dan rujaknya.


"Uang dari papa lebih dari cukup. Ini hanya karena Naura jenuh, Pa."


"Itu juga uangnya bukan untuk Naura, Pa."


"Betul Tuan. Den Ayu nggak pernah mau menerima hasilnya. Semua diserahkan sama kami untuk mengatur." mbok Iyem membelanya.


"Asal nggak mengganggu cucu papa, papa nggak apa-apa."


"Naura mengerti, Pa."


"Sudah mbok, ambil aja. Doakan sehat ya, mbok."


"Ya, Tuan." sambil berlalu pergi. Tak lupa mengambil beberapa cup asinan dan rujak untuk cucunya yang sudah menanti di pos satpam.


"Yaudah, Mbok. kamu boleh pergi."


"Permisi Tuan."


"Hem ..."jawabnya pelan. Membuat mbok Iyem segan dan berlalu dari tempat itu secepatnya.


Naura yang melihat papa Sofyan yang kali ini terlihat agak dingin, menjadi tak enak hati.


"Pa, maafkan Naura."


"Nggak apa-apa Naura. Cuma papa takut kamu kenapa-napa, Naura?"


"Tadi kamu kemana, Naura?"


"Berkunjung ke rumah bapak ibu di kampung."


"Pa, sekarang ibu sedang di rumah sakit."


"Di rumah sakit, kenapa?"


"Dipatok ular."


"Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun, sekarang bagaimana keadaannya."


"Masih belum sadar."


"Nanti papa akan ke sana."


Naura ingin angkat bicara, tapi segera dipotong oleh pak Sofyan.


"Kamu tak boleh ikut, tak baik untuk cucu papa."


Dengan terpaksa Naura mengangguk segan.


"Ya, Pa."

__ADS_1


__ADS_2