
"Jangan lama-lama. Naura pasti merindukan Kakak."
"Aku hanya menyelesaikan pekerjaanku sebentar. Habis ini aku lebih banyak tinggal di sini."
"Benarkah?"
"Kakak akan berusaha secepat mungkin."
Keduanya diam sejenak. Banyak yang di pikirkan Naura maupun Ulya. Yang jelas bukan hal sama.
"Kak, selama kakak di Indonesia, aku tinggal di sini aja. Sama mama dan daddy Salim."
"Hemmm ... yang penting aku titip Devra."
"Iya sich ..., tapi kalau aku di kamar Devra, aku takut ada seseorang nyelonong masuk begitu saja. Nggak ada kuncinya."
Langsung Ulya tersenyum, mengingat selama ini yang dia lakukan, asal masuk saja ke kamar putrinya, meski Naura ada di dalamnya.
"Terserah adik saja."jawab Ulya mengalah.
"Dan yang bikin aku agak risih harus keluar kamar kalau mau ke kamar mandi."
"Kalian boleh pakai kamarku, selama aku pergi. atau selama kita belum resmi. Ini semua untuk menjaga perasaan Devra."
"Lalu kakak kalau kembali?"
"Masih ada kamar lain."
"Oh,"
"Sudah jangan jadikan masalah. Kita sama-sama belum bisa menerangkan pada Devra hal yang sebenarnya. Ku mohon adik bersabar."
Ulya berhenti berkata sejenak, menatap Naura yang terlihat gelisah.
"Atau nanti pintu kamar Devra aku beri kunci. Tapi itu resiko. Kalau dia tiba-tiba mengunci pintunya dari dalam, dan tidak bisa membukanya, bagaimana?"
"Aku mengerti Kak. Moga-moga Devra mau aku ajak ke sini. Kalau kakak pergi."
"Itu lebih baik."
"Dik, kakak capek banget. mau istirahat, nanti ada ketemuan sama tuan Hani. Aku mau balik. Adik ikut?"
"Nggak kak, aku masih kangen sama mama."
"Nanti sore, kakak jemput. Takut Devra tanya macam-macam."
"Hem ... aku bilang mama dulu."
"Baiklah, kakak tak bisa maksa. Assalamualaikum ...."
"Wa'alaikum salam ...."
Ulya melangkah pergi melewati perkebunan kecil Ahmad menuju rumahnya. Naura menatap kepergiannya hingga bayangannya menghilang.
Lalu membereskan sisa makanan mereka, masuk ke dalam rumah. Dia mendapati mamanya yang tengah sibuk mempersiapkan hidangan. Dia mendekati dan membantunya.
"Kakak kapan pulang, Ma?"
"Bentar lagi."
__ADS_1
"Sama daddy?"
"Ya."
"Apa tidak ada lagi yang perlu dibantu, Ma?" kata Naura ketika dia sudah membawa semua masakan di meja makan.
"Sudah selesai semua. Sekarang istirahatlah. Tubuhmu pasti capek."
"Ya. Ma. Tolong Naura dibangunin kalau sudah dhuhur."
"Ya. Oh ya Naura. Untuk sementara kamarmu di bawah ya .... Mama belum sempat mengatur kamarmu yang ada di atas."
"Tak apa, Ma. Asal selalu dekat sama Mama, akan membuat Naura bahagia."
Nyonya Efsun memandang kepergian putrinya ke kamar, dengan senyum menghias sempurna di bibirnya. Pandai menyenangkan sekaligus menjengkelkan juga, apalagi kalau sedang merajuk. Nggak ada yang bisa meluluhkannya, alamat susah banget reda nya.
Mungkin karena kehamilan pertama, tak ada suaminya pula. Membuat dia sedikit tertekan. Dan selalu minta perhatian. Semoga Ulya sabar menghadapinya.
Rupanya, mama Efsun tak mengambil asisten rumah tangga untuk membantu pekerjaannya. Maklumlah semuanya serba mesin. Cuci baju, cici piring, setrika, sehingga tidak usah repot lagi. Sehingga dia dengan leluasa menekuni hobinya yaitu berkebun.
Naura memandangi kamarnya sejenak, mengistirahatkan tubuhnya. Lalu mengambil hp nya untuk menghubungi Rima dan keluarganya di Indonesia. Setelah itu matanya pun terkatup dengan sendirinya. Hingga menjelang dhuhur tiba.
Setelah sholat dhuhur baru dia membereskan kamar barunya bersama mama Efsun. Kebetulan barang-barang Naura sudah tiba pula. Hingga dia bisa menatanya di almari yang memang sudah disediakan.
Menjelang sore hari, bersama Ulya menjemput Devra di sekolahnya.
Begitu tiba, baru saja sekolah selesai. Terlihat anak-anak yang keluar dengan mama atau papa mereka. Oh ... ini ternyata yang membuat Devra cemburu. Naura baru menyadarinya.
Naura yang berdiri di samping mobil, bingung mengamati setiap anak yang keluar. Mana diantara mereka yang bernama Devra.
Sedangkan Ulya terlihat sibuk dengan urusannya dengan seseorang.Yang kini sedang berkomunikasi di dalam mobil. Dia pasrah seutuhnya pada Naura tentang Devra.
"Mama ...." panggilnya sambil berlari.
Ulya yang melihat moment cantik itu segera mengarahkan ponselnya pada mereka tanpa mereka sadari. Lalu dia menatap hasil gambar yang dia ambil, membuatnya tersenyum sendiri.
"Bagaimana sekolahnya, Sayang."
"Menyenangkan, Ma."
Naura memberi kecupan kecil di pipi maupun di dahi Devra sebelum masuk ke dalam mobil.
"Bagaimana putri papa?"
Devra menghampiri Ulya dan membisikkan sesuatu padanya.
"Devra sayang papa dan mama."
"Terima kasih, Sayang. Kami juga sayang Devra."
"Boleh papa minta tolong."
Devra menggangguk.
"Sini."
Dia mendekat, lalu Ulya membisikkan di telinganya.
"Bilang ke mama .... Papa sayang mama ...."
__ADS_1
"Oke."
"Oke, Pa."
Devra mendekati Naura. Lalu menelangkupkan tangannya di telinga Naura sambil berbisik.
"Papa sayang mama." dengan senyum-senyum Devra menatap Naura.
Mau nggak mau Naura tertawa juga. Lalu melirik ke arah Ulya tak percaya.
"Bagaimana Devra jawaban mama."
"Ma, Jawab dong. Itu papa nanya."teriak Devra setengah tertawa setengah merajuk.
"Baiklah - baiklah. Mama jawab, mama suka kalian semua."kata Naura sambil memegang pipi tembem Devra.
Andai ini bukan sebuah drama, melainkan nyata. Alangkah bahagia hati ini Tuhan, bisik Ulya dan Naura bersamaan. Meski tak terucap. Tapi selalu jadi impian yang hadir di setiap doanya.
Berat memang, keadaan selalu bersama tapi belum bisa menghalalkan. Hanya bisa saling menghibur agar bisa melewati jalan yang sudah ditentukan. Katakanlah itu sebagai impian yang hendak mereka rajut bersama. Hingga indah pada waktunya.
🔷
Sore ini Devra menariknya kembali untuk tinggal di rumah abbah dan ummi kak Uya.
Dan Ulya memenuhi janjinya untuk merelakan kamarnya menjadi kamar Naura dan Devra.
"Bener Pa, kita boleh tidur di sini." tanyanya senang.
Ulya mengangguk. Devra langsung menjatuhkan dirinya ke tempat tidur yang berukuran sangat besar. Dan menikmati sejenak kenyamanan di tempat tidur papanya.
Sedangkan Naura masih diam terpaku, menatap kamar itu beserta isinya.
"Hai , kenapa bengong." kata Ulya yang melihat Naura masih saja berdiri di tengah pintu masuk.
"Apa kamu tak suka?"
"Sangat suka."
"Bukan begitu, mengapa si situ ada meja rias. Apakah itu punya mama Devra."tanya Naura
"Bahkan itu ada almari juga."jawab Ulya, semakin membuat Naura bingung.
Sengaja Ulya menjawabnya seperti itu, karena dia ingin melihat Naura cemburu.
"Kak, apa itu punya mama Devra?"
"Yang pasti, iya."
Naura diam, sedih. Ulya menariknya ke dekat meja rias itu dan almari yang masih kosong.
"Ya, punya mama Devra yang sekarang sedang di sini." sambil memegang tangan Naura yang masih bingung dengan jawaban Ulya.
"Ya sudah. Kalian papa tunggu di bawah ya ...."
Tanpa menunggu jawaban Naura, dia berlalu dari tempat itu.
Naura, hatiku senantiasa berdebar-debar bila bersamamu. Aku takut tak mampu menjagamu.
Ternyata Ulya mengajak mereka ke mall, untuk membelikan keperluan babyku dan juga pakaian musim dingin yang sebentar lagi akan datang.
__ADS_1