
Rangkaian acara pernikahan mereka, alhamdulillah dapat terlaksana dengan lancar. Tanpa ada halangan yang berarti. Meski harus bolak-balik antara rumah baru, rumah abbah dan hotel. Tempat diselenggarakannya acara resepsi.
Sengaja tidak kembali, karena ini yang direncanakan. Agar tubuh tidak lelah. Dan begitu acara usai. Mereka bisa segera beristirahat.
Sejenak setelah sholat subuh, Ulya membuka pintu kamarnya, yang menghadap balkon. Alam masih gelap, sinar lampu taman masih menyala. Udara dinginpun masih terasa. Namun tak menyurutkan langkahnya untuk keluar kamar.
Meninggalkan Naura yang membelai putranya dalam peraduannya. Sekamar dengan Devra dan juga baby sisternya. Sehingga kembali tertidur pulas. Baru dia datang pada suaminya.
Rasa lelah kini, terbayar sudah. Seiring hembusan angin musim semi. Kini mereka menatapnya bersama dari balkon hotel, tempat mereka menginap.
Dalam senyum, Ulya mencoba memanggil Naura, agar datang padanya.
"Ada apa,Mas?"
"Nggak ada apa-apa. "
"Pemberangkatan pesawat kak Nadya ditunda, Nanti jam sembilan."
"Iya. "
"Tadi Mustofa minta ijin untuk ngajak Devra jalan-jalan sekaligus mengantar kak Nadya."
"Nggak apa-apa, kalau Devra mau. "
"Tapi kelihatannya dia capek. Habis sholat subuh, tidur lagi."
Belum selesai mereka membicarakannya, terlihat Devra menghampiri mereka. Umur panjang ....
"Sini, putri mama." panggil Naura.
Dia mendekat sambil mengucek-ngucek matanya. Terlihat kesadarannya belum sempurna. Lalu duduk dalam pangkuan Naura. Yang memeluknya dengan manja.
"Ma, nanti Noval dan Novi balik ya? "
"Insya Allah. "
"Devra nggak punya temen dong."
"Kan ada adik Akram sama adik Akmal."
"Tapi mereka nggak bisa diajak main."
"Sebentar lagi bisa. Tapi bukankah sebentar Devra juga masuk sekolah."
''Ye .... masuk sekolah.'' teriaknya senang.
"Nanti jadi ikut ngantar Noval dan Novi?"
"Ya Pa, sama om Ahmad juga."
"Kalau gitu, siap-siap geh, agar kalau om Ahmad datang, nggak nunggu lagi." kata Naura.
Tapi sepertinya dia masih malas untuk beranjak dari pangkuan mamanya.
"Ma ... ma, boleh Devra tanya."
"Nanya apa."
"Kenapa sih, Om Mustofa sering minta dipanggil papa sama Devra. Memangnya papa Devra itu siapa saja sih?"
__ADS_1
Allahu Akbar. Spontan Naura maupun Ulya bertakbir, mendengar perkataan putrinya.
Mustofa ini apa-apaan sich, agak kesal Ulya berteriak dalam hati.
"Yang jelas, papa Devra sekarang itu papa Ulya. Apa Devra nggak suka sama papa Ulya?" tanya Naura dengan penuh kelembutan.
"Tapi bener, papa Ulya papanya Devra. Devra takut papa Ulya bukan papanya Devra. Devra pasti sedih ."
Segera Naura memeluk putrinya itu, lalu mengecup kepalanya dengan sangat lama. Tak terkira sedih hatinya mendengar kata-kata putrinya.
Tanpa sadar Ulya mengepalkan tangannya geram. Dengan wajah yang menegang, dia mengangkat hp-nya.
"Mas, salam dulu." kata Naura.
Naura takut kalau Ulya lepas kontrol pada saudaranya itu.
"Assalamu'alaikum .... Kamu dimana, Mustofa."
"Wa'alaikum salam .... Kak. Sebentar lagi , aku sedang siap-siap nich." jawab Mustofa di seberang sana. Rupanya dia mengira, Ulya mengingatkan akan tugasnya. Untuk mengantarkan keluarga pak Farhan ke bandara. Dia belum menyadari kemarahan Ulya dalam sapanya.
"Mas, selesaikan setelah dia mengantarkan bapak dulu."
Naura mencoba meredakan amarah Ulya yang akan menguasai dirinya. Untunglah dia mendengarkan saran istrinya.
"Setelah mengantar mereka, kakak ingin bicara, bisa?"
"Bisa, Kak."
Lalu dengan berlahan dia menutup telponnya.
"Devra sekarang mandi dulu ya. Sebentar lagi om Ahmad pasti datang."
"Ya ... mama ngerti kok. Nanti kalau sudah datang, mama akan panggil kamu."
"Baik, Ma."
Dia beranjak dari pangkuan Naura. Lalu pergi meninggalkan Ulya yang mematung seorang diri.
Setelah menyerahkan Devra pada mbak Binti, Naura kembali menemui Ulya, suaminya. Memeluk suaminya dari belakang.
"Sayang, aku tahu kamu sedih." Kata-kata yang ingin Naura ungkap, tapi tak bisa.
Ulya memutar tubuhnya, sehingga kini dia berhadap-hadapan dengan Naura. Terlihat matanya berkaca-kaca. Tetapi mulutnya tetap diam. Ya ... dia memendam kesedihan itu terlalu lama. Pengkhianat dan luka ....
Tapi kata-kata Devra yang baru saja terucap, menyadarkan akan luka lama itu, yang sampai saat ini belum terobati. Dia belum bisa terima ....
Apalagi kalau memang benar, Mustofa adalah ayah biologis dari putrinya.
Sampai saat ini, dia selalu menutupi identitas Devra, menunggu sampai dia cukup umur untuk bisa memahami hal tersebut. Tapi mengapa Mustofa berkata demikian ....
"Sayang, sepertinya aku tak sanggup." Naura hanya bisa memeluknya. Agar amarahnya reda. Lalu mencium mata dan juga bibirnya.
"Istirahatlah, Sayang."
Naura membimbing Ulya untuk duduk lalu menuangkan minuman hangat yang tersedia.
"Sayang, minumlah!"
Ulya melakukan apa yang dikatakan istrinya, tanpa penolakan sama sekali.
__ADS_1
"Sayang, peluk aku." pintanya mengiba.
Sekali lagi dia memeluk Ulya. Dia seorang perempuan. Mau tak mau dalam keadaan seperti ini wajar kalau dia juga ingin menangis.
Tapi dia sadar, suaminya lebih membutuhkan untuk menangis dari pada dirinya. Maka dengan ketegaran dan ketenangan yang dia punya. Dia tak membiarkan air matanya jatuh.
"Kita ke dalam, Sayang." ajak Naura.
Ulya pun mengikutinya.
Setelah sampai di dalam kamar mereka, dia menumpahkan segala kesedihannya dalam pelukan Naura tanpa berkata-kata.
Setelah dirasa mulai reda dari tangisnya, Naura berkata, "Sekarang basuhlah mukamu dengan air wudhu, dan sholatlah! "
"Tak salah kalau aku memilih menantimu hingga saat ini. Karena disaat aku sulit, kamu ada di sampingku. Aku harap selamanya demikian." kata Ulya sambil mengusap air matanya yang tersisa.
"Aku masih banyak kekurangan, suamiku. Aku hanya berserah dan berpasrah padaNya ketika dalam kesulitan." kata Naura menunduk malu.
"Terima kasih, Sayang. Engkau pelengkap dalam hidupku." sambil mengecup bibir Istrinya. Lalu meninggalkannya. Dia menuju kamar mandi membersihkan diri, sesuai saran dari istri.
Ada suara pintu diketuk. Segera Naura mengusap air matanya, menutup wajah dengan cadarnya. Sebelum membukakan pintu pada siapa yang bertamu. ternyata sarapan pagi sudah datang.
"Terima kasih."
"Sama-sama."
Tak lama Devra kembali. Dengan diantar mbak Binti yang membawa baby twins yang sudah mandi dan rapi.
"Nach ini sarapannya sudah datang. sekarang. Ayo sarapan dulu kakak Devra." kata Naura.
"Ambil sendiri atau diambilkan?"
"Ambil sendiri, Ma." kata Devra ceria.
"Kakak Devra pintar sekali. Adik Akmal juga mau sarapan ah ....: kata Naura sambil mengambil salah satu bayinya.
"Gantian ya .... Nggak boleh iri." kata Naura yang disambut tawa Devra.
Dia menikmati sarapannya dengan suka cita, sambil menggoda adiknya. Lalu setelah selesai Akmal, Naura mengambil Akram untuk disusuinya juga.
"Adik Akram juga mau sarapan nich kak Devra. Allahumma bariklana fiimaa rozaktanaa Waqiah 'adzabannar .... Aamiiin. "
Sesekali dia mengajak bercanda Akram maupun Akmal. Yang membuat Devra tertawa senang. Sambil menikmati sarapannya hingga habis.
"Nach sekarang kakak Devra sudah selesai makan dan minumnya. Ayo berdo'a." seru Naura.
Tanpa dituntun diapun mengangkat tangannya dan menundukkan kepala.
"Alhamdulillah hilladzi ath'amanaa wa saqonaa wa ja'alanaa Muslimin." ucapnya khusyu'
...
...
....
Selamat membaca ....
jangan lupa like dan vote nya.
__ADS_1
come ntar atau saran boleh juga.