Mahabbah Rindu

Mahabbah Rindu
BAB 91 : Awal Perjalanan


__ADS_3

"Ada apa , Sayang."


"Tidak apa-apa."Jawab Naura setelah kembali pada kesadarannya.


"Apa Sayang takut papa Sofyan?"


Naura mengangguk.


"Aku mengerti. Tak usah takut. Mereka sudah tahu sejak awal. Rima yang selalu menanyakan keadaan ponakannya pada Mustofa. Mau tak mau dia cerita kejadian itu."


Naura masih diam.


"Sayang, aku tak berhenti mencari. Bila kamu sedih, aku bingung harus memikirkan yang mana. Menghapus kesedihan atau mencari Akmal. Padahal mencari Akmal tidak serta merta bisa ketemu. Perlu doamu dan ketabahanmu. Tolonglah yang kuat ya ... Agar aku bisa tenang mencari Akmal."


"Ingat, ada Akram dan Devra. Tolonglah kuat untuk mereka juga."


Seketika Naura tersadar dan mencoba tersenyum dengan tulus. Ungkapkan rasa ikhlas yang hendak dia bangun.


"Nah, begitu lebih baik. Dan manis." kata Ulya. yang segera mendapat sahutan dari Devra.


"Mama tadi sudah janji, nggak akan nangis lagi. Hayo ...."


Seketika senyum Naura mengembang. Dia menatap Devra yang memandang dirinya dengan senyumnya yang sangat manis, dengan lesung yang tampak pada kedua pipinya. Tanpa dia sadari, Devra kini telah tumbuh semakin cerdas.


"Oke, anak mama yang cantik. Sekarang mama boleh minta tolong."


"Minta tolong apa, Ma."


"Lihat mbak Ifroh sudah siap belum."


"Oke." kata Devra dengan ceria dan mengedipkan matanya. Tak lama diapun menghilang dari kamar.


"Devra luar biasa ya, Mas."


"Aku merasa juga begitu."


"Andai mamanya masih hidup, pasti sangat senang."


"Sudah, jangan cerita orang yang sudah meninggal. Tak baik." Yang menatap Naura dengan lekat.


"Sebentar." kata Ulya yang bersegera mendekati Naura dan memberi kecupan sayang. Lalu membantu memakaikan jilbab di kepalanya.


"Ah, Mas."


Ulya hanya tersenyum meneruskan aksinya.


"Tak apa." jawab Ulya yang melihat Naura gugup.


Tak lama Naura sudah siap dengan jilbab dan cadarnya.


"Makasih, Mas." kata Naura tertunduk malu dan tersipu. Tapi segera Ulya mengalihkan pandangan. Agar tak larut dalam kemesraan yang semakin mendalam.


"Sebenarnya pesawatnya jam berapa, Pa?"


"Jam berapa ya ...."


"Lho kok?"


"Sudah jangan kau pikirkan, Ayo!"


Mereka pun turun bersama-sama. Dan mendapati Ifroh dan Devra sudah siap. Sementara Ulya ke Devra, Naura menuju kamar Akram. Dan segera menggendongnya, meski masih dalam keadaan tertidur.


Tak lama terdengar suara mobil memasuki halaman mereka. Dari balik cendela Naura mencoba mengintip siapa gerangan yang datang.


Terlihat 2 orang pria yang tegap dan berseragam keluar dari mobil dan menuju ke rumah mereka.


"Assalamualaikum wr.wb."


"Wa'alaikum salam wr.wb., bagaimana sudah ready semua?"

__ADS_1


"Beres, tapi nggak bisa kami daratan di sini. Di kebunnya tuan Ahmad."


"Ya sudah."


"Ayo Ma, kita berangkat!"


"Bi Umma titip rumah ya ...." kata Naura sebelum meninggalkan rumah.


"Beres, Nyonya."


"Aku pergi dulu, bi Uma. Assalamualaikum ...."


"Wa'alaikum salam ...."


Mereka meninggalkan rumah dengan diantar oleh bi Umma. Yang mengikutinya hingga depan rumah. Sampai semua naik mobil jib yang sudah terparkir di sana.


Hari sudah teramat petang, ketika, mereka sampai di tanah lapang yng ada di perkebunan Ahmad. Mungkin sudah menjelang waktu maghrib.


"Mas, kita sholat maghrib di mana?"


"Kita sholat di joglo itu saja."


"Baiklah."


"Kamu masih punya wudhu kan?"


"Iya."


"Ifroh,ayo kita sholat! "ajak Naura.


"Maaf, Nyonya. Saya sedang ada tamu." jawab Ifroh, dengan berbisik di telinga Naura.


"Ya, sudah. Tolong jaga Akram."


"Sama mbak Ifroh dulu, Sayang. Mama mau sholat." bisik Naura pada Akram yang kini matanya sudah terbuka lebar. Ifroh menerimanya dengan senang hati.


"Devra, mari Sayang."


Tidaklah memakan waktu lama, untuk melaksanakan sholat dan doa sesudahnya.


"Sudah siap."


"Siap, Tuan."


Pria itu segera menuju helikopter yang terparkir di depan mereka dan berlahan menghidupkan mesinnya.


"Ayo Ma." ajak Ulya.


Naura segera meraih Akram dalam gendongannya sedangkan Devra dalam gandengan Ulya. Ifroh mengikuti dari belakang.


Barang-barang mereka, sudah dimasukkan terlebih dahulu oleh pria yang satunya lagi.


"Sudah semua."


"Sudah." jawab Devra spontan.


"Yuk berdoa, bismillah .... kita terbang."


Berlahan helikopter itu meninggalkan landasan pacu dadakan yang ada di kebun Ahmad. Menuju angkasa menembus remang-remang petang yang semakin gelap. Dari atas terlihat kelap-kelip lampu yang tampak elok.


"Akram, sini sayang. Papa akan perlihatkan kamu indahnya pemandangan malam dari atas." kata Ulya.


Naura segera memberikannya pada Ulya.


"Aku juga pingin, Pa."


"Kakak Devra juga .... sini." ajak Ulya . Akram terlihat senang. Dia meminta berdiri di pangkuan Ulya sambil menepukkan-nepukkan kedua tangannya, tanda dia sangat gembira.


"Bagaimana kakak Devra?"

__ADS_1


"Bagus sekali, Pa." celoteh Devra dengan gembira. Yang berdiri disamping Ulya, di dekat pilot pesawat helikopter.


Tak perlu waktu lama, mereka telah sampai di bandara. Helikopter mendarat dengan mulus di area tersebut, dekat dengan sebuah pesawat yang siap akan terbang.


Berlahan sang pilot menghentikan helikopter.


"Nah, sekarang sudah sampai."


"Ya .... aku belum puas melihat pemandangan dari atas." ujar Devra.


"Kapan-kapan kita jalan-jalan lagi."


"Sama ini, Pa?"


"Iya, ini kan milik Papa."


"Alhamdulillah, Benar ya ... Pa."


"Insya Allah."


Semua turun kecuali pilot tadi yang masih duduk tenang di belakang kemudi. Mereka disambut 2 orang yang dengan sigap membawakan barang-barang mereka, ke arah pesawat yang siap berangkat.


"Makasih."


"Saya balik dulu, Tuan."


"Ya."


"Ayo!"ajak Ulya yang masih menggendong Akram dalam pangkuannya.


Naura mendekati Ulya. Yang tak pernah cerita sesuatunya padanya.


"Itu tadi helikopter papa, kapan belinya."


"Ya. baru 3 minggu yang lalu papa belinya."


"Papa nggak pernah cerita."


"Maaf, papa belum sempat cerita ke kalian."


"Sudah Yuk. Pesawatnya sudah siap berangkat."


Naura segera mengikuti Ulya melangkah sambil menggandeng Devra yang terlihat senang. Terlihat senyum selalu menghiasi wajahnya.


Tiba di dalam pesawat, Naura nampak terkejut. Karena di dalam, ada ruang keluarga, dan ada beberapa ruang yang terhubung.


"Papa, sepertinya pesawat ini milik pribadi?"


"Ya memang. Ini punya abah. Tahu sendirian abbah selalu bolak-balik ke luar negeri. Terlalu sulit untuk mengikuti jadwal penerbangan komersial. Jadi akhirnya beli sendiri. Ini sudah lama, sudah lima tahun yang lalu."


Ternyata hampir satu tahun aku bersamanya, aku belum tahu siapa dirinya.


Semoga dengan semua yang ada saat ini, bisa mengembalikan Akmal segera pada kami. Itu harapan yang Naura sembunyikan dalam hatinya.


Dari ruang pilot muncul seorang gadis dengan seragam layaknya pramugari menghampiri mereka.


"Mohon tuan dan nyonya duduk dengan tenang dan memakai sabuk pengaman. Pesawat akan terbang."


"Ayo, kita duduk di sana!" ajak Ulya.


"Devra bisa pakai?" tanya Naura. Melihat Devra yang sepertinya sibuk dengan sabuk pengamanan.


"Bisa, Ma." jawabnya. Dia menolak untuk dibantu. Tapi tak lama, sabuk pengaman itu terpasang dengan benar.


"Hebat."ujar Ulya sambil memasang sabuknya sendiri, dengan masih tetap memangku Akram ....


....


....

__ADS_1


Setelah baca jangan lupa like dan votenya ya ...💗💗👍👍


Saran juga boleh ....


__ADS_2