Mahabbah Rindu

Mahabbah Rindu
BAB 16 : Bertemu Keluarga


__ADS_3

"Bune, ini pak Salim dan ibu Efsun. Mereka mencari putrinya yang hilang 23 tahun lalu."


Bu Farhan sedih. Meski tidak berkata bu Farhan menyadari bahwa putri yang selama ini mereka asuh adalah putri nyonya Efsun. Wajah Nur mirip sekali dengan Nur.


"Apakah mereka akan membawa Nur, Pakne."


Pak Farhan menarik nafas panjang. Tak tahu harus menjawab apa.


Lalu menatap tamu-tamunya. Meski berat, kalau memang Nur adalah putri mereka. Mau tak mau, rela tak rela harus mereka berikan.


Karena pak Farhan tidak lekas memberikan jawaban membuat bu Farhan semakin gelisah. Dia memandang sedih pak Farhan.


Dia menunduk, menangis sesugukan. Lalu kembali ke dalam mencari Nur. Setelah bertemu dengan Nur, dia memeluknya erat.


"Nur, apakah kamu akan meninggalkan ibu."


Mendapat pelukan tiba-tiba yang disertai dengan air mata, membuat Nur bingung dan sedih.


"Ibu ini ngomong apa ...."


"Nanti kan Nur bisa bicara dengan mas Andre bagaimana baiknya. Ibu tak usah khawatirt."


"Bukan itu Nur, yang ibu maksud."


Bu Farhan melepaskan pelukannya, lalu menarik sebuah kursi untuk menyandarkan tubuhnya..


Nur menghampirinya dan duduk di kursi yang ada di dekat bu Farhan.


"Maksud ibu apa?"


"Orang tuamu sekarang sudah ada di sini. Pasti mereka mau menbawamu bersama mereka."


"Apapun yang terjadi, di manapun Nur berada. Nur takkan mungkin bisa melupakanmu, Ibu."


Nur memeluk bu Farhan dan ikut meneteskan air mata.


Nadya dan Hamdan melihat apa yang terjadi pada Nur dan ibu agak bingung juga. Akhirnya dia berinisiatif untuk mengajak mereka semua menemui tamu yang baru saja datang.


"Ibu, Nur. Baiknya kita ke depan semua. Agar lebih jelas." ajak Hamdan.


"Aku di sini saja. Jaga anak-anak."kata Nadya.


"Ya, nggak apa-apa."


Nur dan bu Farhan mengikuti saran Hamdan. Mereka menuju ruang tamu bersama-sama.


Di ruang tamu pak Farhan seperti bingung dan sedih menatap tamu-tamunya. Lalu dia menoleh pada Hamdan yang baru saja masuk membersamai mereka.


"Boleh kami bergabung," kata Hamdan mengawali pembicaraannya.


"Ya, Nak."


Lalu pak Farhan menatap pak Salim. Pak Salim mengangguk.


"Perkenalkan ini keluarga saya. Istri saya, itu menantu saya, dan itu Nur Aini fil Islam."

__ADS_1


"Is Nur Aini your daughter?" tanya Pak Salim.


Kebetulan Hamdan dan Nur sedikit banyak bisa berbahasa Inggris, langsung mengerti dengan perkataan pak Salim.


Hamdan menatap mertuanya mohon ijin untuk berkomunikasi langsung dengan pak Salim. Pak Farhan mengannguk.


"Indeed, Nur Aini is not the father's daughter but is considered her own daughter."


jawab Hamdan.


"Did you find it?"


"Long story." sejenak Hamdan menarik nafas panjang. Menatap semua dengan sedih.


"Mother found him in our hut in the rice fields. Lay down, crying herlplessly then took him home, wash it until adulthood."


Mendengar penjelasan Hamdan terlihat mata Afsun berkaca-kaca. Ingin dia segera berlari memeluk Nur. Tapi dicegah pak Salim, karena melihat Nur tegang dan belum siap menerima mereka.


"So it's true that she's not your daughter."


Dengan berat dan mata berkaca-kaca, Hamdan mengangguk.


Antara bahagia, bingung, kecewa menjadi satu dalam diri Nur.


"If it is true you are my parents, why are you only now looking me?"


Setengah berteriak dia berkata dan menatap tajam pada keluarga pak Salim, disertai dengan mata yang berkaca-kaca.


"Forgive us my daughter." kata Afsun.


Afsun berjalan mendekati mereka berdua. Ingin memeluk Nur dengan segera. Tapi Nur mengibaskan tangannya seakan ingin mengatakan bahwa saat ini dia tidak mau mendapatkan pelukan darinya.


"Naura, mother miss. I've been looking for you all this time. Mother is really at fault. Forgive mother, my daughter."


Nur semakin erat memeluk bu Farhan. Dan menangis sejadi-jadinya dalam pelukannya.


Semua yang menyaksikan, terharu dan berkaca-kaca.


Hanya saja pria memang lebih bijak dan tenang dalam mengatasi masalah.


Hamdan mendekati Nur.


"Nur, bukankah mereka ini yang selalu kamu tunggu. Kenapa saat mereka sudah datang, kamu menolaknya ."


"Ya, Nur. Ibu bahagia, Nur bisa bertemu dengan ibumu." Bu Farhan menbujuk Nur meski air matanya sendiripùn menggenang.


Nur menatap Afsun dengan seksama lalu berdiri memeluknya.


"Naura, mom miss you."


"Me too, Mom."


Mereka berpelukan sangat erat. Semua yang melihatnya, menjadi terharu.


Setelah sedikit tenang, Hamdam menatap pada pak Salim kembali

__ADS_1


"What better DNA test first?"


"So that everything is clearer and legally acceptable. Although physically it has shown similarities."


Pak Salim mengangguk-angguk. Lalu memanggil putranya yang bernama Ahmad dan berbicara serius. Lalu Ahmad kembali duduk. Pak Salim menatap Hamdan dengan serius.


"Tonight we will take care of it too. Hopefully in 3 days we will get the result."


Rupanya mereka benar-benar tak sabar, untuk segera dapat pengakuan bahwa Nur adalah putri mereka.


Begitu Hamdan mengutarakan agar sebaiknya dilakukan tes DNA terlebih dahulu, mereka segera akan memprosesnya malam ini juga.


"Tapi sebaiknya setelah Nur melaksanakan proses lamaran dan pertunangannya."


Lelaki penterjemah berbisik pada Salim. Membuat Salim terkejut dan juga gembira.


"Naura, I didn't think you'd be engaged. May daddy watch it, my daughter."


Ahmad, Salim dan Efsun tertawa tak menyangka putri mereka hari ini akan ada yang melamarnya.


"Dad, this is the time l dreamed of. My family is with me."


Air mata Efsun kini sudah sirna, ditambah lagi dengan kabar menggembirakan baru dia dengar. Membuatnya tertawa senang.


"Now, my daughter is not litte anymore."


"Mommy." kata Nur manja dan malu-malu.


Tanpa sepengetahuan bu Farhan, Nadya sudah menyiapkan jamuan untuk para tamunya.


Dia menyiapkannya di sebuah meja yang cukup besar berbentuk oval. Setelah semuanya siap dia menghampiri Hamdan. Berbisik sejenak lalu tersenyum pada semuanya.


"Silahkan bapak ibu dan semuanya saja untuk menikmati hidangan yang telah kami sediakan."


Semua berdiri, berjalan mengikuti Hamdan ke dalam. Disana sudah tersedia berbagai menu masakan yang mengundang selera meski sederhana.


Hanya pak Farhan dan ibu Farhan yang kini tertinggal di ruang tamu. Terlihat kesenduan di wajah bu Farhan yang membuat pak Farhan merasa iba.


"Sudahlah Bu, ikhlaskan saja."


"Entahlah, Pakne."


"Apa kamu nggak bahagia melihat putri kita bahagia."


"Sangat bahagia, Pakne."


"Ya sudah. Ayo kita temani makan. Tuh lihat putrimu Nur. Dia sampai ke sini lihat kamu bersedih."


Manakala melihat bu Farhan diam termenung di ruang tamu, hanya ditemani oleh pak Farhan.Dia menghampiri. Dengan membawa sepiring nasi ditangannya.


"Bapak Ibu kumohon makanlah. Nur sedih kalau ibu sedih. Atau perlu Nur suapi agar ibu tak bersedih lagi."


"Ada-ada saja kamu ini Nur. Ya ... ya ... Ibu akan makan.


Diapun beranjak menuju ke dalam menemani tamu-tamunya makan.

__ADS_1


__ADS_2