Mahabbah Rindu

Mahabbah Rindu
BAB 81 : HAGYA


__ADS_3

Mustofa yang sangat lelah, mencari minyak yang dikehendakinya. Di dalam kamar tidur wanita tersebut.


"Maaf aku harus masuk kamarmu."


"Tak apa."


Sesaat kemudian dia telah kembali dengan membawa minyak urut yang dikehendaki.


"Maaf. Bisa pindahkan kakimu!" ucap Mustofa.


Entah berapa kali kata maaf yang terucap dari bibir Mustofa. Membuat wanita itu tertawa.


"Apa yang kamu tertawakan?"" tanyanya.


"Tidak,"


Wanita itu tampak tersenyum, sambil memindahkan kakinya ke atas sofa. Agar lebih leluasa menselonjorkan kakinya.


"Maaf. boleh aku urut kakimu?:


"Emm ... baiklah."


Dia ingin tertawa melihat kegugupan Mustofa.


"Apa ini yang sakit nona ...,"


"Saya harus panggil apa ya?" kata Mustofa memecah kesunyian. Dan untuk mengusir kegugupan yang sejak berjumpa telah menyerangnya.


"Kita belum berkenalan."


Wanita tersenyum.


"Hagya. Kamu?


"Mustofa."


Kembali suasana sunyi. Mustofa mencoba berkonsentrasi untuk


memijat kaki wanita itu yang mungkin terkilir.


Meski tak dapat dia pungkiri, bahwa dirinya kini benar-benar berperang dengan angan yang berbalut hasrat sesat. Sejak dia menyentuhnya diawal perjumpaan.


Dia amat menggoda. Kepasrahannya, dan kelemahannya dalam rintihan kecil, membisikkan rayuan keinginan bercinta berbalut dosa.


Teringat akan sesaat yang lalu. Sewaktu harus menggendong dirinya dari tempat parkir hingga depan pintu.


Aku tak berani menatap. Meski dia bergelayut manja pada pundakku. Dan dia seperti mentertawakan diriku yang mulai lemah pada nafsu.


Apa karena dia sengaja, atau anganku yang mulai gila. Ah ... semua menjadi semakin liar.


Ingin kuberlari, namun aku tak sampai hati. Membiarkannya dalam kesakitan oleh sebab yang aku perbuat.


Tuhan, berilah hamba kekuatan untuk menepis segala godaan. Bisiknya lirih pada nurani yang masih tersisa.


Namun mengapa jari-jari ini mulai bergetar. Kulit yang kusentuh seakan meneriaki hasratku dari iman yang mulai rapuh.


Apalagi lagi Hagya seakan menantang kelaki-lakiannya dengan menyibak rambutnya yang terurai lembut. Mengaitkannya pada satu ikatan.


Tak ingin berlama-lama, dalam suasana yang memeluk dalam kabut, segera dia menghentikan belaian tangannya pada kaki telanjang sempurna.


"Sudah enakkan?"


"Ku rasa sudah."jawabnya.


Sambil meletakkan kaki ke lantai. Berusaha berdiri. Namun masih terlihat kesulitan.


Hagya ada niat, mengambilkan minuman untuk tamunya kali ini.


"Mau kemana?"


"Apa kamu tak haus, sudah memijat kakiku?," jawab Hagya.

__ADS_1


"Terima kasih. Biar aku sendiri yang ambil. Istirahatlah kakimu terlebih dahulu. Sampai siap berjalan."


"Terima kasih juga sarannya. Tapi aku juga haus." ujarnya.


"Aku ambilkan." kata Mustofa hendak membantu.


"Tak usah. Seharusnya aku yang ambilkan untukmu."


Dengan tertatih Hagya mendekati dispenser. Menyiapkan minuman untuk mereka.


Hanya tinggal satu langkah, mencapai benda itu. Kembali dia hendak terjatuh. Dengan sigap tangan Mustofa menggapai tubuhnya dalam pelukan. Hingga tanpa sadar wajah bertemu wajah, mata bertemu mata.


Entah karena ketidak sengajaan. Atau karena hasrat malam yang membimbingnya dalam gelap. Hingga dalam keadaan demikian bibir mereka bertemu. Tak tahu siapa yang memulainya.


Mustofa segera melepaskannya.


"Maafkan aku." Dengan debar jantung yang dag dig dug, bertalu-talu.


"Aku juga." jawab Hagya menunduk malu.


Sadar itu sebuah kesalahan. Diapun hendak berlari dan membersihkan diri.


"Dimana kamar mandinya?"


"Maaf, hanya ada satu kamar mandi. Ada di kamar."


Mustofa berhenti sejenak. Apakah dia hendak meneruskan jalannya. Ataukah dia kembali dengan tangan yang masih berbau minyak urut.


Melihat dirinya ragu, Hagya menatapnya dalam senyum. Seolah-olah dia ingin bermanja ingin mengurai cinta yang dia rasa. Segera dia mengalihkan pandangannya.


"Silahkan .... Tak apa."


Akhirnya dia menyerah, melanjutkan langkahnya, menghilang di balik pintu kamar berhiaskan biji-biji kerang.


Lain yang dipikirkan Mustofa, lain pula yang ada dalam angan Hagya.


Mengapa laki-laki ini membuat diriku terpesona. Andai bukan karena misi, ingin kuberlari dalam pelukannya.Dan menjadi kekasih seutuhnya.


Dapat kurasakan debar jantungnya yang tiada beraturan. Hembus nafasnya yang berat membelai diriku dalam debar yang tak kumengerti. Bukan biasa yang kurasa. Tapi dia berbeda.


Aku tak perlu mencuri pandang, untuk melihat wajahnya yang tampan. Hanya saja aku merasa tertatang oleh keangkuhannya pada cinta.


Bila saat aku dalam gendongannya, hanya bisa ku nikmati hasratnya itu, dalam bingkai rasa malu.


Tak demikian pada saat dia menyentuh kulitku, kurasa nafsu telah mulai membimbingnya pada pikiran yang tak jernih lagi.


Wajahnya menegang, menyimpan hasrat yang mengetuk-ngetuk raga.


Biarkan saja, dia tersiksa. Agar bisa ku nikmati wajahnya yang mulai gila.


Tapi rupanya dia pria tangguh. Meski sekian ribu jaring rayuan dan pesona kutebar, namun sulit baginya untuk terperangkap.


Sedangkan inginku, sudah menguasai angan dan pikirku, hingga kulepas rasa malu itu. Tapi bagaimana ...


Jangan katakan Hagya kalau aku tak bisa menaklukkannya.


Seperti yang kuduga, setelah dia membersihkan diri, dia akan segera berpamitan.


"Aku bisa pulang dulu?"


"Oh ya, silahkan. tapi tolonglah minumlah dulu. Aku sudah bersusah payah mengambilkan untukmu."


Pasti dia tak akan menolak.


"Baiklah," jawabnya tenang tanpa curiga.


Dia duduk disampingku, dan meminum minuman yang kusediakan.


Lalu diapun berdiri, kembali berpamitan.


"Minuman ini sudah kuminum. Apa boleh aku pulang?"

__ADS_1


Dengan berat hati, aku menganggukkan kepala.


"Baiklah."


Baru akan sampai pintu, kelihatannya tangannya memegang kepala. Secepat itukah obat itu bereaksi. Tapi dia tampak tenang.


"Ach ...." teriakku kecil. Menahan kakiku yang menyebabkan tubuhku terhuyung.


Dengan cepat dia kembali, memapahnya tubuhku dalam pelukannya. Kurasakan debar jantungnya yang luar biasa, yang menyebabkan matanya sayu.


"Aku gendong ke kamar ya." ucapnya berat.


Aku bersorak, tapi juga merasa berdosa. Mengapa yang kujebak dia, bukan Ulya.


Aku menyerah pada pandangan pertama. Hingga kubiarkan kesalahan misi diawalnya. Dan malam itu, dia memelukku dalam gelapnya malam berselimut dosa.


....


....


Dengan berat, Mustofa mengangkat kepalanya.


"Di mana diriku?" dengan mata terpejap-pejap, memandang sekitarnya.


"Hagya, Kamukah itu?"


Hagya yang baru saja keluar dari kamar mandi, mendekatinya. Duduk tertunduk di tepi ranjang.


"Tidurlah, kelihatannya kamu nggak enak badan." jawabnya sewajarnya mungkin.


"Sebentar, bukankah semalam kakimu pincang."


"Ya. tapi sekarang sudah baikan. Berkatmu."


"Lalu kenapa aku masih di sini?"


"Tanyalah pada dirimu sendiri."


"Kamu menjebakku."


"Tidak ada yang menjebakmu. Kamu menginginkannya."


Lama Mustofa merenung. Namun pikirannya belum sempurna benar. Hingga dia masih binggung tentang apa yang terjadi.


....


....


Yang dia sadari, bahwa dia telah melakukan dosa dengan wanita yang baru dikenalnya semalam.


Dengan langkah gontai diapun menuju kamar mandi, membersihkan diri. Keluar pada saat dia sudah memastikan, kalau Hagya tak lagi di kamar itu.


Lalu pergi dari tempat itu dengan hati gelisah. Tanpa lagi berpamitan pada Hagya yang telah menyiapkan sarapan.


🔷


"Itulah yang terjadi, Kak." kata Mustofa lemah.


"Mengapa kamu bisa tahu, kalau Devra putrimu?"


...


...


....


SELAMAT MEMBACA dengan bahagia


Jangan lupa like maupun votenya.


coment maupun saran juga boleh.

__ADS_1


__ADS_2