Mahabbah Rindu

Mahabbah Rindu
ke Halim


__ADS_3

Tak lama Devra tertidur lagi. Mustofa dan Ulya masih setia menemani.


"Kakak nggak makan."


"Kamu juga"


"***** makanku hilang, Kak."


"Jangan begitu, ayo kita makan." Akhirnya dilahapnya juga nasi kotak di atas nankas itu. Dalam waktu sekejap, musnah juga itu makanan. Meski pada awalanya kurang berselera. Tapi begitu mencicipinya, membangkitkan kembali rasa lapar yang sudah seharian mereka derita karena puasa.


"Kak, Devra tetap dirawat di sinikah?"


"Tidah. Kita bawa pulang. Kakak sudah persiapkan. Mungkin sebentar lagi datang. "


Baru juga Ulya bicara, datang seorang perawat yang diiringi dua laki-laki yang berbadan tegap.


"Thank you."


"Sama-sama." perawat itu pergi, meninggalkan kedua pria itu menemui Ulya.


"Sir, kami sudah siap."


"Baguslah. Yaqub, bisa kamu periksa putriku?"


Tanpa menjawab, pria yang dipanggil Yaqub itu memeriksa Devra dengan seksama. Sejenak berfikir, lau mengangguk-angguk.


"Aman, Sir."


"Sebentar lagi isya, kita berangkat habis sholat."


"Baik, Sir."


Tak lama adzan isya berkumandang dari masjid yang ada di lingkungan rumah sakit. Ulya , Mustofa dan kedua laki-laki tersebut meninggalkan ruang, setelah menyerahkan pengawasan Devra pada perawat jaga. Mereka menuju ke masjid yang berada di dekat parkiran


Setelah melakukan sholat isya' secara berjamaah, mereka kembali. Sengaja tidak sholat tarawaih, karena akan melakukannya di tengah malam.


"Sir, Tuan Fath sepertinya menyiapkan sesuatu untukmu."


"Ya, aku tahu. Siagakan teman-teman."


"Siap, Sir."


"Mungkin aku perlu personil tambahan untuk mengantar keluargaku sampai rumah. Apalagi Devra sakit."


"Siap, Sir. Kami mengerti."


Alhamdulillah tak perlu berbelit-belit mengurusi segala administrasi, untuk membawa Devra keluar dari rumah sakit. Dengan didampingi seorang dokter dan dua orang perawat laki-laki, mereka meninggalkan rumah sakit menuju tanah lapang. Terletak tak jauh dari rumah sakit. Di sana telah menunggu sebuah halikopter, lengkap dengan pilotnya. Dengan sigap dua lelaki itu meletakkan Devra beserta peralatan medisnya ke dalam. Setelah semua beres, Ulya naik. Dia mengambil tempat duduk di samping pilot. Di ikuti oleh dua laki-laki yang menjemputnya.


" Mustofa aku tinggal dulu. Mungkin sebentar lagi rombongan Abbah tiba.Kamu ikut mereka saja. Aku serahkan padamu."


"Aku mengerti, Kak."


"Sampai jumpa di Halim."


"Kak, kapan Devra bisa memanggilkanku 'papa'?" Ulya tak menjawab, hanya lambaian tangan dia berikan pada Mustofa.


"Jangan egois. Pada saatnya!"


Sebuah senyuman tersungging di bibir Mustofa. Harapan selalu Ulya berikan, tapi entah kapan itu dapat terwujud.

__ADS_1


Halikopter itu terbang meninggalkan Mustofa bersama dokter dan perawat. Bersama-sama, mereka Kembali ke rumah sakit.Begitu sampai, Mustofa tidak mengikutinya lagi. Dia menuju halte yang ada di depan, menunggu rombongan mobil Abbah yang sebentar lagi akan tiba. Begitu kabar yang baru saja diterimanya , melalui wa.


💎


Sementara itu dalam perjalanan menuju bandara Halim, Ulya tampak serius menerima laporan dari lelaki yang bersamanya.


"Sir, yang menabrak itu orangnya Fath."


"Hem ... tak sangka ... di negara orang, dia nekat berbuat itu."


"Sudah kalian bereskan."


"Sudah."


"Hati-hati, ini negeri orang."


"Yes, Sir."


"Sir, sepertinya mulai sekarang nyonya dan yang lainnya perlu pengawalan."


"Kamu atur. Tapi jangan sampai mereka mengetahui."


"Jangan khawatir."


Tak berapa lama, mereka sampai di bandara Halim. Di sana mereka disambut kru pesawat. Dengan cekatan, mereka memindahkan Devra, meski baling-baling halikopter masih berputar. Ulya turun, diiringi Yaqkub, laki-laki yang telah memeriksa Devra di rumah sakit sesaat yang lalu.


"Kami berangkat dulu, Sir."


Ulya hanya memberi isyarat dengan satu tangannya 👌.


Halikopter itu terbang, meninggalkan Ulya dan yang lainnya. Setelah tidak tampak lagi, Ulya berjalan ke arah pesawat pribadi yang ada di depannya. Dia memesuki ruang yang dikhususkan untuk merawat Devra.


"Secara kasat mata, baik. Moga-moga tidak ada trauma-trauma yang lainnya ."


"Amiiin."


"Kalau boleh, saya ingin beristirahat sejenak, Sir."


"Silahkan."


Kini hanya dirinya saja yang berada di ruangan itu. Sejenak dia membelai rambut Devra dengan kelembutan, sesekali dia mengusap pipi atau dahi Devra.


Sayang, jangan lupakan papa seandainya ku sudah tahu papamu yang sesungguhnya. Karena papa sangat menyayanginmu.


Cukup ini saja dirimu terluka, takkan ku biarkan orang melukaimu lagi.


Fath, tunggu diriku. Aku tak bisa memaafkanmu ....


Rasa lelah dan kantuk mulai menyerangnya. Dia pun merebahkan tubuhnya di atas sofa yang ad dalam ruangan itu. Dan tak perlu waktu lama, Ulya tertidur. Dan baru bangun ketika tangan kecil menyentuhnya.


"Papa .... I ... mi..ss." ucap Akram terbata-bata. Ulya memejap-mejapkan matanya. Belum sempurna matanya terbuka, satu ciuman kecil dia rasakan. Rupanya Akmal yang melakukannya. Kalau sudah begini, siapa yang tergoda untuk menyemol pipi si kembar.


"Papa juga ..."


Ulya bangkit dari tidurnya dan mendudukkan keduanya dalam pangkuan. Hilang sudah rasa kantuknya. Apalagi di pintu tengah berdiri sang bidadari hati. Yang sedang memasang senyum dan juga rasa bersalah...


"Maaf, bangunin Mas. Aku tinggal sebentar, buat susu untuk mereka, sudah menghilang. Tahu-tahu sudah di sini."


"Nggak apa. Aku juga rindu sama mereka."

__ADS_1


"Kak ... Kak ..." Akram turun dari pangkuan Ulya. Menuju ranjang, tempat Devra berbaring dengan tenang.


Dengan langkah lebar tanpa suara, Naura menghampiri Akram dan meraihnya dalam gendongan.


"Kakak sakit. Nggak boleh diganggu."


Akram memandang Naura lama, lalu merebahkan kepalanya di pundaknya,


"Sakit?" sebagaimana saat dia sakit


"Iya, sakit. Biar istirahat."


Keduanya mengajak si kembar keluar ruangan, agar Devra tak terganggu. Lalu meletakkan keduanya di atas kabin pesawat agar dapat bermain bebas.


"Mama capek?"


"Biasalah, Pa."


"Pijitin apa?"


"Papa sendiri juga capek." sambil menyandarkan kepalanya di bahu Ulya.


"Pa, kenapa Ifroh diambil sama Mustofa. Yang bantu aku siapa?"


"Sayang. Ifroh baru saja mendapatkan penyiksaan yang tidak manusiawi. Lalu sekarang jadi baby sister si kembar. Aktifnya luar biasa. Apa kamu nggak kasihan ..."


"Tapi, Mas. Kenapa mendadak?"


"Maafkan mas. Tapi percaya dech, ini untuk kebaikan bersama."


Tak mungkin Ulya mengungkap yang sebenarnya. Kalau Ifroh kembali, boleh jadi akan menjadi incaran Fadl lagi.


"Jangan khawatir. Untuk si kembar sudah mas siapin. Orang yang cocok untuk mereka. Yang pasti bukan baby sister lagi. Nggak ngatasi ...."


"Lalu ...."


"Baby Brother." sambil menahan senyum.


"Mas yang bener ah ...."


"Bener, suwer .... kalau.cewek suruh panjat pohon-pohon lagi, nggak tega aku. Makanya sekarang, mas cari bapak -bapak buat nemenin si kembar." dengan senyum dikulum.


"Tak tahulah, serah ." jawabnya manja.


setelah sekian lama, si kembar terlihat menguap. Tanda-tanda minta ke alam mimpi. Naura mengambil seorang. Yang seorang lagi diraih oleh Ulya. Mereka membawanya ke kamar yang di khususkan untuk mereka. Sedangkan Abbah dan anggota keluarga yang lain, sudah ke kamar masing-masing sejak pesawat itu diterbangkan.


Sejenak Ulya menemani mereka tidur. Setelah tertidur semua dia kembali lagi ke kamar Devra enggan membawa sajadah. Guna melakukan sholat tarawih yang sempat tertunda.


💎


flashback


Saat di dalam Helikopter, Ulya banyak mengirim pesan pada Mustofa ....


Selamat membaca ....


jangan lupa like dan vote nya.


Agar author semangat up.

__ADS_1


__ADS_2