
Flash back
Aku teringat akan kata-kata pak Sofyan sewaktu dalam perjalanan ke kantornya tadi pagi.
"Nak Ulya, aku tahu kalian sejak dulu bersahabat sangat dekat. Bahkan di akhir hayatnya kamu yang menemaninya. Gimana kalau kamu, aku ambil mantu."
Aku tak mengira akan mendapatkan todongan seperti itu. Dari mertua Naura. Ah ada-ada saja.
"Maksud pak Sofyan?"
"Kepingin bapak menjodohkan kamu dengan Rima, kalau nak Ulya belum punya?"
"Bukankah Rima masih mau melanjutkan kuliahnya." jawabku mengelak.
Apa aku harus terus terang. Agar pak Sofyan tak berharap.
"Ya?!"
"Sebenarnya sebelum Andre meninggal pesan sama saya, untuk menjaga Naura."
"Benarkah?"
" Kalau kami berjodoh, tentu itu membahagiakan."
Lega rasanya aku bisa mengungkap ketetapan hatiku.
Tiba-tiba telpon pak Sofyan berdering. Beliau segera mengangkatnya.
"Assalamu'alaikum ..., Pa.?"
"Wa alaikum salam ..., ada apa Ma?"
"Istri Andre, Pa."
"Ya, ada apa dengan Naura?"
Aku penasaran dengan yang mereka bicarakan. Ya, aku menguping pembicaraanya.
Ah, ternyata tentang Naura. Semoga kabar yang baik. Pagi tadi, Naura terlihat sangat tidak sehat.
"Tenanglah, Ma. Ambil nafas ... baru ngomong."
"Itu Pa, Naura hamil."
"Benarkah. Masya Allah ... Alhamdulillah ya Allah."
"Jaga dia baik-baik, Ma."
"Assalamu'alaikum ...."
"Wa alaikum salam ...."
Aku melihat pak Sofyan menutup hpnya dengan senyum mengembang dengan sempurna.
"Andre emang anak yang berbakti. Dia tinggalkan kita cucu-cucu yang sudah lama kunanti." pak Sofyan bergumam sendiri.
Aku tersenyum melihat tingkah pak Sofyan yang bersorak gembira seperti anak-anak. Satu sisi aku bahagia akan kehadiran Andre kecil yang dia titipkan pada Naura. Satu sisi aku sadar penantian ku akan semakin lama untuk bersama.
"Ngapunten, pak Sofyan. Wonten menopo?"
"Naura Hamil. Sebentar lagi aku sudah momong cucu."
"Selamat pak Sofyan."
"Oh ya nanti sampaikan salamku ke mamanya Naura."
"Insya Allah."
"Satu lagi, bujuk mamanya agar Naura boleh tinggal bersama saya."
Permintaan yang egois dari calon opa. Tapi, ada baiknya juga sich ....
Kalau tinggal dengan bu Farhan dan pak Farhan, mereka sudah sepuh. Kasihan, malah merepotkan. Apalagi Naura sedang berbadan dua. Dengan usia pernikahan yang amat singkat. Hebat kamu Ndre ....
Aku mentertawakan keadaan yang saat ini menimpa Naura. Semoga engkau kuat Naura ....
Mau sama pak Sofyan, pak Farhan atau pak Salim. Aku berharap, semoga dimana saja Naura berada akan baik-baik saja.
Karena tak mungkin aku bawa.
"Saya tak bisa janji, Pak. Itu tergantung Naura."
"Ya?"
__ADS_1
Mengapa juga pak Sofyan mendesakku dengan pernyataan dan tatapannya yang seperti itu.
"Baiklah akan saya coba."
"Oke aku turun dulu,"
Pak Sofyan turun dari mobil memasuki kantornya. Sementara aku meneruskan perjalanan ke bandara Adi Sutjipto bersama pak Doni.
Alhamdulillah, tak perlu menunggu terlalu lama.
Pesawat yang membawa nyonya Efsun tiba. Dari ruang tunggu aku melihat wajah nyonya Efsun sepertinya menegang. Tak lama di duduk disebuah kursi yang terletak terpisah dari yang lainnya. Dia beberapa kali mengusap air matanya. Aku menghampirinya.
"Assalamu'alaikum ..., Tante."
"Wa 'alaikum salam ..., ah kamu Ulya."
"Tante sendiri, Ahmad dan tuan Salim tak ikut?"
" Suamiku di Jepang, Ahmad sejak kemarin harus menggantikan daddynya bertemu client-clientnya."
"Bagaimana Naura?"
"Dia baik. Sekarang ada di rumah pak Sofyan."
Aku berhenti sejenak untuk berkata. Menunggu tangis nyonya Efsun reda.
"Sebagai ibunya aku nggak bisa nggak bersedih. Tapi aku nggak pinggin Naura tahu. Makanya aku menangis di sini."
"Ulya mengerti, Tante. Dan ada satu kabar lagi. Semoga ini membahagiakan untuk tante."
"Apa itu Ulya?"
"Tanter sebentar lagi akan njadi seorang nenek."
"Benarkah. Tanpa Andre."
"Ya."
Kembali air matanya mengalir deras. Beberapa kali dia mengusap dengan tissu yang dibawanya.
"Jangan khawatir tante, Ulya akan mencoba menjaganya. Selama Ulya bisa."
"Terima kasih, Ulya."
🔷
"Sebentar kak Ulya."
Naura beranjak dari ranjangnya menuju brankas yang ada di samping meja riasnya, dengan memegang hp dan juga infus. Aku merasa sedih, lalu aku menghampirinya.
"Ku bantu."
Aku ambil infus dari tangan kanan Nur. Mengikuti Nur melangkahnya. Ingin aku bertanya, tapi aku tak tega.
Setelah sampai di depan brankas, dia berjongkok. Membuka hpnya. Menekan nomor-nomor yang ada dalamnya.Mungkin itu nomor-nomor yang pernah Andre bisikkan sebelum dia meninggal.
Tak berapa lama brankas itu terbuka. Aku tak mengerti mengapa Nur tersenyum menatap benda yang di dalamnya. Oh, rupanya sebuah kotak kecil dari kertas karton yang tertutup kain flanel merah hati. Dia mengambil benda itu. Lalu menutup brankas itu kembali.
"Apa itu, Naura?" tanyaku.
Nur tidak menjawabnya. Dia membiarkan ku dalam tanda tanya. Kembali berjalan ke ranjangnya dengan tersenyum.
"Bukalah, Kak."
Dia menyerahkan kotak itu padaku. Aku tertegun.
Lalu aku letakkan infus di tempatnya. Penasaran, aku buka kotak itu.
"Naura, kamu masih menyimpannya." agak terkejut juga waktu aku melihat di kotak itu.
Naura menggangguk. Lalu metatapku menjadi sedih.
"Aku selalu menyimpannya sampai mas Andre melamarku. Ibu melarangku menyimpannya, beliau memberikannya pada mas Andre."
"Lalu?"
"Kurasa aku nggak pantes lagi menyimpan benda itu. Aku takut berharap."
Terus terang aku bahagia mendengarnya. Tapi aku sedih melihat air matanya.
Bulir-bulir air matanya menetes pada wajahnya yang sendu. Ingin ku menghapusnya. Tapi belum ... belum saatnya aku bisa ungkapan. Karena dirimu masih dalam masa iddah. Aku menghormati itu.
"Istirahatlah, nggak baik bagi Andre kecil yang ada di perutmu. Bila kamu bersedih."
__ADS_1
Aku berjalan mendekatinya. lalu meletakkan kotak itu di atas meja. Mengambil kalung dengan liontin hati. Lalu memakaikannya pada Naura. Terlihat sama saat aku memasangkan pada saat dia masih kanak-kanak dahulu.
"Sudah jangan menangis. Bagaimanapun kamu tetap adik kakak. Sekarang atau nanti tetap sama."
"Terima kasih, Kak."
"Kamu tak sendiri, Naura. Kakak akan senang bila kamu mau berbagi kesedihan dengan kakak."
Hanya kata itu yang bisa kuungkapkan untuk menghiburnya. Akupun mengambil kursi kecil duduk di sisi ranjang Naura.
"Cuma ini aku ambil. Aku takut kamu berfikir macam-macam. Dan di jarimu sudah terlalu banyak cincin."
Aku mengambil cincin pertunangan. Ini adalah cincin yang sama yang kuberikan pada saat kita bertunangan dahulu.
Naura melirik jariku. Terlihat dia tertegun, dia terus memandang seakan ingin memastikan.
Aku mencoba mengerti akan maksudnya. Aku meletakkan tangan ini di atas meja. Agar Nur bisa melihat lebih jelas.
"Kak, kapan kakak menikah?"
Ah ... rupanya dia salah sangka.
Dan sudah melupakanku. Dia sama sekali tak tahu,atau pura-pura tak tahu. Kalau cicin ini adalah cincin pertunangan dengannya dulu.
"He ... he ... he ...,"
Bagaimana aku tak tertawa, mendengar pertanyaan itu.
"Kenapa tertawa, Kak?"
"Nggak apa-apa. Cuma sama siapa. Itu masalahnya."
Semakin ingin aku menggodanya.
"Ada-ada saja kak Ulya ini."
"Tapi boleh juga, jika kamu yang carikan buat kakak."
"Yang kayak apa?"
"Ya ... seperti apa ya. Kakak tak ada bayangan."
Andai saja saat ini boleh aku ungkap. Maka akan kukatakan, yang seperti dirimu lah yang kakak cari selama ini. Tapi seperti kukatakan tadi. Belum saatnya ....
"Syukurlah, nggak jadi nyariin. Lha wong aku saja apa kata orang tua. Nggak bakat ngecomblangi." katanya ceria. Terus terang aku bahagia melihat senyumnya.
"Kalau Naura sudah melahirkan, akan kakak katakan, ciri-ciri orang yang kakak inginkan secara lengkap. Sementara ini biarlah menjadi penghias mimpi kakak."
"Tadi katanya belum punya. Sekarang kok penghias mimpi. Idih ... ceritanya Cinta dalam Diam, Nich."
"Nggak juga .... Kalau mau kasih judul. Lebih tepatnya 'Mendekat Pelan-pelan'."
Aku lihat dia tersenyum, mentertawakan diriku. Tapi biarlah....
Karena aku akan bersabar lagi untuk mengungkapkan isi hatiku yang sebenarnya. Dan menjelaskan padanya, mengapa aku meninggalkannya saat itu.
Aku tahu, sungguh berat menjalani ini. 9 bulan harus dilalui tanpa pendampingan suami tercinta. Aku ingin selalu ada untuknya ....
Aku hanya bisa berdoa.
"Wah kak Ulya ngelamun. Pasti terntang dia."
"Sudah Nur. Kakak pergi dulu. Istirahatlah!"
"Ya."
Sejenak aku menatapnya, sebelum kutinggalkan bersamaan nyonya Efsun yang masuk entah dari mana.
"Nak Ulya."
"Ya, Tenta. Maaf."
"Nggak apa-apa. Bahkan tante sangat berterima kasih."
Aku hanya bisa mengangguk sedih. Bagaimana mungkin aku bisa membiarkan Naura dalam kesedihan.
"Ulya ke bawah dulu, Tante."
"Ya."
Sementara nyonya Efsun menemani Naura berbaring dengan infus yang masih tergantung. Aku menuruni tangga dengan enggan.
Istirahatlah dulu, adik kecil kakak.
__ADS_1