Mahabbah Rindu

Mahabbah Rindu
BAB 34 : Jagalah yang Kau Cinta


__ADS_3

Meski enggan, dilakukan juga permintan aneh suaminya.


Inginnya wa saja. tapi alangkah baiknya kalau pakai telpon, agar lebih cepat sampai.


Siapa tahu dengan itu, suaminya semakin cepat mencapai kesembuhan. Pikir Naura.


Sedangkn Ulya yang mendapatkan panggilan telpon sepagi ini, sangat terkejut. Apalagi di sana tertera nama Andre, sahabatnya.


Menurut kabar terakhir yang dia terima, bahwa Andre mengalami musibah sehari sebelum hari resepsi pernikahannya.


Saat itu, dia ingin sekali menjenguknya. Tapi dia masih belum sanggup untuk bertemu Naura. Dia tak bisa membayangkan, seandainya Naura tahu bahwa Andre adalah sahabatnya sejak lama.


Telepon itu diangkatnya. Dan berharap, ini adalah kabar yang membahagiakan.


"Assalamu'alaikum ..."


"Wa'alaikum salam ..."


Ulya terkejut ketika mendengar suara perempuan dari ujung telponnya.


"Naura, benarkah ini suaramu?"


"Ya, Kak."


"Bagaimana keadaan suamimu?"


"Alhamdulillah sekarang sudah sadar."


"Alhamdulillah. Ada apa Naura, subuh-subuh gini telpon kakak."


"Maaf kak Ulya, mas Andre ingin kakak datang ke sini,"


"Selama koma, yang disebut nama kakak terus. Begitu sadar ,mas Andre menginginkan kakak datang. Bisakan kak."


"Segera Naura, kakak akan datang."


"Terima kasih, Kak. Assalamu'alaikum ..."


"Wa'alaikum salam ..."


Ulya dengan cepat menutup telponnya dan memanggil Anas.


"Nas, kita ke Yogja, sekarang. "


"Baik Den."


Anas berlalu dari hadapan Ulya menuju garasi, mengeluarkan mobil. Dan menghidupkannya.


Tak lama, Ulya datang dengan baju santai. Tapi dengan menenteng sebuah tas plastik berisikan baju gantinya. Dia langsung masuk ke dalam mobil. Dan menyuruh Anas untuk berangkat.


"Jalan, Nas."


"Baik, Den."


Pak Aris segera melajukan mobil itu keluar dari pekarangan rumah Ulya. Dan melaju di jalan nan sepi. Lalu masuk pada jalan bebas hambatan, agar bisa sampai tujuan dengan cepat.


"Mau menemui siapa, Den. Kok Kelihatannya terburu-buru."


"Alhamdulillah Andre sudah sadar dari komanya. Dan memintaku datang segera. Aku takut ada apa-apa. Perasaanku nggak enak."


Karena mobil bisa melaju dengan kecepatan penuh maka perjalanan itu hanya ditempuh tak kurang dari enam jam untuk sampai, di tempat Andre dirawat.


💎


Pagi ini mentari terlihat bersinar lebih cerah dari biasanya. Angin yang bertiup tipis sepoi-sepoi berhembus, menembus dinding kamar yang kini mulai bersinar dengan senyum bahagia dari para insan yang ada di dalamnya.


Tak henti-henti Nur berucap syukur atas kecerian yang kini hadir dari wajah suaminya. Sehingga tak segan untuk mengisi hari dengan bermohon langkah pada kebaikan, dengan hati lapang. Meski di hari biasanya juga dermikian.


Setelah menunaikan sholat subuh, Nur membasuh tubuh suaminya dengan air hangat. Dan mengganti bajunya pula. Sehingga terlihat lebih segar dari biasanya. Menata bantalnya, agar Andre bisa bersandar dengan nyaman.


Setelah itu, dia juga sudah membersihkan dirinya. Ada kebahagian yang tak dapat dia sembunyikan. Ketika menatap Andre yang tersenyum menawan, saat mereka beradu pandang.


Andre hanya mengedipkan mata dengan senyuman saat menginginkan Naura datang.


Naura segera mendekatkan kepalanya ke bibir suaminya. Sepertinya Andre ingin membisikkan sesuatu.


"Sayang, mas lapar."


Naura mengangguk.


Namun tak hanya itu yang ingin dia ungkapkan. Berlahan dia mencium pipi istrinya dengan mesra.


"Mas."


Naura agak gugup, setelah sekian lama tak mendapat sentuhan dari suaminya.


"Sayang wangi sekali."


Tak ayal kata-kata Andre membuat pipinya bersemu merah.


Lalu dia menarik wajahnya dari suaminya dengan malu-malu.


Tak lama, seorang perawat datang untuk melakukan pemeriksaan rutin di setiap paginya.

__ADS_1


Naura memberikan kesempatan padanya agar leluasa melaksanakan tugasnya.


"Bagaimana keadaan suami saya?"


"Seperti yang ibu lihat, hanya mungkin nanti kami akan melakukan pemeriksaan 4 jam sekali."


Kok tidak seperti biasanya. Bisik hati Nur.


Namun dia tak punya keberanian untuk mengungkapkan pertanyaan itu.


"Lakukanlah."


"Mari Bu."


Naura mengangguk.


"Terima kasih."


Akhirnya yang dinanti datang juga. Seorang perawat mengantar sarapan pagi. Baik untuk suaminya maupun dirinya.


Naura mengambil rantang itu, dan duduk di dekat Andre.


"Aku ingin makan bersamamu."


"Tapi mas harus habiskan buburnya."


"Okay."


Naura menyuapi Andre dengan penuh kelembutan. Terkadang Andre mencoba menyuapi Naura meski dengan sangat berlahan.


Hampir separuh jalan mereka sarapan bersama, ketika mama Erika dan papa Sofyan datang.


"Assalamu'alaikum ... Sayang. Eh ... hem, eh ... hem."


"Wa 'alaikum salam ..., Mama." jawab Nur gugup. Kepergok mertuanya lagi romantis-romantisnya sama suami.


"Teruskan saja. Atau kalau perlu kita pergi dulu. Nggak apa-apa. Ya kan, Pa?" kata nyonya Erika sambil berjalan keluar.


"Nggak , nggak, Ma."


Cepat-cepat Naura membereskan makan mereka.


Nyonya Erika berbalik kembali, memandang mereka dengan tersenyum. Lalu memeluk Andre hangat.


"Alhamdulillah ya Allah."


"Mumpung mama lagi di sini, Nur mau telpon ibu, dan deddy untuk mengabarkan ini."


"Ya, Nak."


Setelah puas, dia kembali ke dalam, dengan senyuman yang merekah dan mata yang berbinar cerah.


"Ada apa, Sayang."kata Andre.


"Mommy Efsun besok mau ke sini."


"Alhamdulillah."jawab Andre.


"Alhamdulillah. Andre, papa pergi dulu. Ayo cepet sehat, biar papa ada bantu ngurus perusahaan."


"Ya, Pa." jawab Andre dengan senyum penuh ketenangan.


"Ma, papa pergi dulu."


"Ya.Pa."


Nyonya Erika mengantarkannya hingga pintu.


Tak lama kemudian 2 orang perawat dan seorang dokter datang.


"Maaf, kami mau periksa keadaan bapak Andre."


"Silahkan." jawab nyonya Erika.


Mereka melihat dan memeriksa keadaaan Andre dengan seksama dan teliti. Serta dicatat oleh perawat yang mendampinginya.


"Ibu, 3 jam lagi kami kembali."


Mengapa jadwal pemeriksaannya semakin dipercepat. Naura mencoba untuk bersikap wajar dengan keanehan ini.


"Dokter, bagaimana keadaan suami saya?"


"Seperti yang ibu lihat."


Dia menjawab dengan senyuman. Tak ada yang perlu dikhawatirkan. Naura mencoba mengusir bayangan buruk dalam pikirannya.


"Jangan tinggalkan pak Andre sendiri. Ya Bu."


"Baik, Dok."


Merekapun pergi meninggalkan ruangan itu. Dengan diantar Naura.


"Sayang, Ulya mengapa lama."

__ADS_1


"Tak tahu, Mas. Coba Naura telpon lagi."


Naura mengambil telpon suaminya. Dan mencoba menghubungi Ulya kembali.


"Assalamu'alaikum ..., Kakak. Sekarang kakak sampai mana?"


"Wa 'alaikum salam ..., ya Naura. Kakak sekarang sudah di Yogja. Mungkin 15 menit lagi sampai."


"Ya sudah, Kak. Assalamu'alaikum ...."


"Wa 'alaikum salam."


"Sebentar lagi, Mas." jawab Nur dengan bingung.


Sebenarnya apa yang diinginkan suaminya, dia benar-benar tak mengerti.


"Ke sinilah, Sayang."


Andre memanggil Naura dengan kedipan matanya yang terlihat melemah namun tenang dan ceria.


Sedangkan nyonya Erika keluar ruangan dengan membawa sebuah majalah meninggalkan mereka berdua.


Baru sejenak membaca, dia melihat Ulya yang sedang berjalan cepat kearahnya.


"Nak Ulya!"


"Tante, bagaimana keadaan Andre?"


"Alhamdulillah, baik. Lama kita tak pernah ketemu."


"Ya, maafkan Ulya. Tante."


"Boleh ketemu Andre, Tante?"


"Ya, ada di dalam bersama istrinya."


Tanpa salam, Ulya masuk. Ups ....


Gue salah waktu .


Telah merusak suasana mesra suami istri.


Balik lagi Ulya keluar. Dan mengawalinya dengan salam.


"Assalamu'alaikum ...."


"Wa 'alaikum salam." jawab Naura menatap kedatangan Ulya. Namun Andre masih menggenggam erat tangannya.


"Sayang, siapa dia?" tanya Andre menggoda. Meski dengan nafas lembut tersengal.


Naura sedih menatap perubahan nafas Andre hingga dia tak ingat apa yang ditanyakan suaminya.


"Ulya. Sinilah." panggil Andre lemah.


Ulya mendekat, menghampiri Andre yang berbaring lemah. Semuanya diam lama.Hanya mendengar suara nafas Andre yang mulai terserngal lagi.


"Ulya. Maafkan aku."


"Iya, Ndre. " jawab Ulya sedih.


" Jaga dia yang kau cinta." hanya kata itu yang terucap dari bibir Andre.


Ulya mengangguk.


Lalu Andre seperti tertidur tenang.


Ulya terpaku menatap Andre. Segera dia raba kaki Andre yang terasa mulai mendingin.


Dia sadar apa yang terjadi pada Andre.


Segerta dia membisikkan kata di telinga sahabatnya itu.


"LA ILAHA ILLALLAH."


Terlihat tetesan air mata di ujung mata Andre yang terpejam, namun dia mencoba mengikuti lafald itu.


Melihat hal itu, Naura sadar apa yang sedang terjadi. perubahan yang mendadak pada diri suaminya.


Tak kuasa air matanya menetes, namun dia mencoba bertahan. Dia melakukan seperti yang Ulya lakukan, dengan memeluk tubuh suaminya erat.


"Mama, Mas Andre Ma."


Ulya menggelengkan kepala sebagai isyarat padanya untuk tak berteriak.


Kembali Ulya membisikkan kata itu pada Andre.


Lirih terdengar lafadz itu terucap dari bibir Andre. Tak lama terlihat gerakan kepala Andre yang amat lemah. Dan dia seperti tertidur pulas.


Ulya menempelkan 2 jarinya pada pernafasan sahabatnya itu. Tak lagi terasa ada nafas yang keluar.


Dia berucap lirih,


"Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun."

__ADS_1


Naura sudah tak kuasa lagi bertahan. Air matanya menetes deras meski tanpa suara. Akhir dia terkulai lemas di sisi suaminya. Dan tak sadarkan diri.


__ADS_2