
"Sebentar," kata Andre.
"Ada apa mas Andre," tanya penghulu.
" Bolehkah saya membacakan surat Ar Rohman terlebih dahulu."
"Maskawinnya kah?"
"Benar, dan juga ini," jawab Andre, sambil membuka kotak yang berisikan perhiasan lengkap. Dari kalung, cincin, gelang, anting bahkan pin. Kesemuanyanya bertahta berlian.
"Silahkan!" sambil memberikan mikrofon pada Andre.
Berlahan Andre mengucapkan ayat per ayat dari surat ar Rohman. Terlihat sangat tartil dalam pengucapannya. Sehingga siapapun yang mendengarnya akan terharu.
Meski suaranya tak seindah Afgan ataupun Habib Syech. Tapi kesungguhan dalam membaca dan disertai dengan hati yang tulus, membuat bacaan itu semakin indah. Hingga tak terasa Naura meneteskan air mata.
Tak sangka calon suaminya, selain seorang ceo tapi juga penghafal al Qur'an. Padahal selama ini yang dia kenal, adalah mas Andre yang suka cengengesan kalau berhadapan dengannya.
صدق الله العظيم ,
Andre mengakhiri bacaannya dengan baik. Hingga semua orang mengangkat kepalanya, yang sesaat lalu tertunduk mendengarkan bacaan surat ar Rohman.
"Sekarang sudah bisa kita mulai." tanya penghulu pada tuan Salim dan Andre
"Insya Allah," jawab mereka bersamaan.
"Silahkan berjabat tangan."
Tuan Salim menjabat erat tangan Andre. Dia mengucapkan sighat ijab dalam bahasa Indonesia, yang sudah dia pelajari sebelumnya. Agar semua mengerti. Persiapan apabila Andre juga menggunakan bahasa Indonesia.
....
💎
Flash back
Sore itu Ahmad amat tergesa-gesa hendak meninggalkan hotel.
Tuan Salim berkeinginan agar identitas Naura dapat terungkap dengan cepat dan jelas. Kalau memang Naura adalah putri yang selama ini dicarinya.
Hingga tak sadar ketika ada seseorang yang menghampirinya.
"Hai, kamu mau kemana?"
Ahmad dibuat kaget dengan tepukan yang amat keras di bahunya. Ternyata dia adalah Ulya.
"Pulang."
"Ke Turki?"
"Ya. Agar Naura bisa segera punya identitas."
"Maksudmu."
"Gini Ulya. Kamu kan sudah tahu, kalau Naura mirip sekali dengan Mommy. Tapi tes DNA-nya berbeda. Mana lagi sejak keluar dari menerima hasil tes kemarin, kami selalu diikuti orang. Ditambah kamu sendiri tahu, kemarin Naura hampir-hampir diculik orang. Untung ada kamu."
"Kami amat takut sekali dengan keselamatan Naura. Apalagi kalau dia tak punya identitas."
"Tes dimana?"
Ahmad mengeluarkan amplop yang berisikan hasil tes DNA. Menunjukkan alamat yang tertulis di amplop coklat tersebut.
"Oh ...."
"Sebentar Ulya. Lihat itu!"
Ahmad menunjuk sebuah televisi yang menyala di ruang resepsionis. Yang kebetulan sedang menayangkan berita kriminal.
Diberitakan bahwa polisi sedang menangkap seorang yang sering melakukan pemalsuan rekam medis pasien di sebuah rumah sakit.
"Ada apa Ahmad?"
"Sepertinya dokter itu yang kemarin aku temui."
"Benarkah?"
"Aku nggak jadi pulang."
__ADS_1
"Ulya, kamu bisa temeni aku?"
"Bisa, bisa kita pakai mobilku saja."
"Kebetulan. Mobil yang biasa aku pakai, sedang dipakai daddy."
"Ya sudah. Aku letakkan dulu barangku."
"Ya, aku tunggu di sini."
Setelah Ulya melakukan cek-in, dibantu oleh Anas dan juga salah seorang pelayan hotel menuju kamarnya. Dia kembali menemui Ahmad.
"Kita langsung ke kantor polisi." usul Ulya.
"Kamu lebih tahu aturan di sini."
"Ayo, Anas!"
"Baik, Den."
Bertiga mereka menuju tempat parkir yang ada di lantai bawah.
Tak lama Anas melajukan mobil Ulya menuju jalanan. Yang sangat sibuk ditengah gelapnya malam. Terlihat sempurna menyelimuti alam. Tapi terlihat terang oleh lampu jalan dan nyala dari lampu mobil yang lewat.
Cukup memakan waktu juga untuk menuju kantor polisi. Sehingga mereka baru tiba di kantor polisi sekitar jam 20.30 malam.
"Biar aku yang bicara sama polisi."
"Ya."
Mereka berdua masuk ke kantor itu. Setelah identifikasi sebentar, kedua membuat laporan dan mengungkapkan maksudnya. Kalau bisa bertemu dengan dokter tersebut.
Sayangnya saat itu belum boleh, karena sudah lewat jam besuk.
"Begini, Pak. Kemarin kami meminta dokter Hendra untuk melakukan tes DNA terhadap adiknya tuan Ahmad ini. Tapi hasilnya sungguh mengejutkan. Kami benar-benar dibuat binggung. Barangkali dokter Hendra bisa memberikan penjelasan."
Beruntung ada salah satu polisi yang berfikir berbeda. Mungkin dengan itu bisa menambah bukti agar semakin terang pasal-pasal yang akan mereka kenakan pada dokter tersebut.
"Baiklah."
Akhirnya mereka berdua diantar oleh seorang polisi untuk menemuinya.
"Benarkah dia?"
"Ya."
"Silahkan."
"Terima kasih."
Setelah berhadapan dengan dokter tersebut, Ahmad bersikap setenang mungkin.
"Dokter masih ingat dengan saya."
"Maaf, saya tak mengenal anda."
" Baiklah saya perjelas."
"Saya yang kemarin datang kepada anda, mengambil hasil Tes DNA. Dan kalau itu ternyata palsu, anda tahu sendiri akibatnya."
Dokter Hendra hanya diam menatap mereka berdua. Entah mencoba mengingat sesuatu atau karena menyesali sesuatu. Kami tak tahu.
" Memisahkan seseorang dari keluarganya. Apalagi dia seorang perempuan. Yang sangat ingin mengetahui ayahnya sebagai wali dalam pernikahannya."
"Maafkan saya, saya terpaksa."
"Jadi benar, yang dokter berikan pada kami itu palsu?"
Dia mengangguk.
"Bisakah kami melihat salinan asli dokumen hasil tes DNA nya?"
"Tanyakan pada pak polisi, kapan bukti-bukti itu boleh saya tunjukkan."
"Terima kasih. Dokter telah jujur pada kami, meski terlambat."
"Bagaimanapun saya juga punya putri yang yang sangat saya sayangi."
__ADS_1
"Bolehkah saya istirahat. Saya lelah."
"Oh maaf, Dok. Silahkan."
Lalu dia bangkit meninggalkan kami, dengan diantar seorang sipir menuju selnya.
Ahmad dan Ulya kembali ke tempat semula, menemui seorang polisi.
"Sudah?"
"Terima kasih. "
"Yang saya pegang ini palsu, sedangkan yang asli menunggu bapak mengijinkan untuk mengambilnya."
"Insya Allah besok kami ke kantornya, untuk mengambil dokumen yang diperlukan. Kantornya dalam penjagaan kami, malam ini."
"Bolehkah kami ikut serta?"
"Silahkan."
"Jam berapa?"
"Bisa jam 6, bisa jam 7."
"Baiklah, kami akan menunggu di sini. Agar besok bisa ikut bersama bapak."
"Silahkan, tapi kami tak menyediakan kamar tamu, bapak-bapak bisa mencari tempat istirahat sendiri."
Dengan sedikit lega Ahmad dan Ulya meninggalkan tempat itu. Mereka menuju parkiran.
"Sekarang kita kemana?" kata Ulya setelah sampai di parkiran.
Ahmad mengangkat kedua bahunya.
"Aku laper." kata Ahmad.
"Oh ya, aku tadi dapet oleh-oleh dari Naura. Kita makan yuk." jawab Ulya.
"Sama, aku juga dapet."
"Kebetulan lagi lapar. Yuk kita makan di sana." ajak Ahmad.
Mereka bertiga menuju masjid kecil nan asri, yang ada di tengah-tengah kompleks kantor polisi. Membuka kotak yang diberi oleh Nur.
"Adikmu pinter buat kue juga."
"Iya. Enak sekali."
"Kamu kenal Naura dimana?"
"Hem , e ...."
Ulya merasa lidahnya kelu saat ingin menceritakan masa kecil Nur.
"Di mana?"
Karena Ahmad terus mendesak, akhirnya mau nggak mau dia cerita juga.
Terlihat Ahmad manggut-manggut.
"Adikku," gumam Ahmad.
"Maafkan aku."
"Tak apa. Naura luar biasa."
"Itu yang aku kagumi darinya. Dan juga keceriannya."
"Kamu!" kata Ahmad sambil menepuk pundak Ulya. Saat dia menangkap bahwa Ulya memiliki perhatian pada adiknya.
"Dia besok menikah."
"Ya."
"Kapan kamu?"
"Belum punya calon, carikan kalau ada."
__ADS_1
"Enak saja, aku saja belum punya."