Mahabbah Rindu

Mahabbah Rindu
BAB 95 : Mengenang Masa Kecil


__ADS_3

Naura tak menyangka dapat kembali ke Indonesia, lengkap dengan seluruh anggota keluarga kecilnya. Tak henti-hentinya dia membulatkan mata, tapi terkadang terlihat menitikkan air mata, saat menatap benda-benda kenangan miliknya. Sampai saat ini masih tertata rapi dan terawat di kamar kecilnya dulu. Bahkan di sana ada lukisan yang masih tertutup kain putih


''Kak, itu lukisan ...?"


"Iya .... buka aja.''


Dengan tersenyum lebar, dia membuka kain penutupan lukisan itu.


''Kak, ini siapa?'' tanya Naura penuh selidik, dengan wajah sedikit muram. Karena melihat dalam kanvas itu, seorang wanita yang sedang membasuh mukanya di sebuah sungai kecil, salah satu sisinya terdapat jejeran pohon pisang yang berbuah hampir masak. Wajahnya tak begitu jelas karena karena banyak percikan air yang menutupinya.


''Seseorang dalam hati mas.'' jawab Ulya menggoda. Sontak membuat Naura diam, cemberut dan memalingkan muka. Membuat Ulya semakin ingin menggoda.


''Dia itu ... gimana ya ... kakak kok nggak bisa cerita. Habis nancep banget sama panah asmaranya. Tapi sayangnya ... dia nggak pernah bilang cinta sama kakak. Sampai sekarang ini."


Jawaban yang membuat wajah Naura makin mendung. Dia melangkah hendak meninggalkan kamar itu. Tapi tangan Ulya lebih sigap, menutup pintu sekaligus menguncinya. Lalu menarik tubuh Naura dalam pelukkannya


''Ada yang mau dikatakan, Sayang.''


''Nggak ....''kata Naura dengan spontan. Ingin berteriak tapi tak bisa.


''Bagaimana mungkin, istriku cemburu pada dirinya sendiri." kata Ulya mesra.


''Diriku, kah?''


''Ya ... sekarang sayang agak kurusan. Aneh ya ... lihat dirimu yang dulu."


Naura benar-benar malu, karena tak mengenali orang yang ada dalam lukisan itu. Terlihat pipinya bersemu merah. Tanpa Ulya sadari, dia memberikan kecupan lembut di pipi suaminya.


''I love you, Kak Ulya.''


''Me too, my little wife.''


Tanpa melepas pelukannya, dia membimbing Naura menghampiri lukisan itu lagi.


''Siapa yang melukisnya.''


''Tak mau aku lihat wajah pacarku dinikmati orang lain ... akhirnya aku lukis sendiri.''


''Kakak ternyata masih suka melukis."


''Sudah jarang, Sayang. Karena orangnya sudah nyata. Untuk apa melukis lagi.''


''Rayuan gombalnya keluar. Pasti ada maunya ....''

__ADS_1


Ulya tertawa lebar sambil melancarkan aksinya ....


๐Ÿ’—cinta yang berbunga-bunga berpadu indah dalam lautan asmara, berbalut kerinduan yang terpendam dalam raga yang mengetuk jiwa akan cinta, ....๐Ÿ’—


lanjutkan sendiri ....


๐Ÿ”ท


Keluar dari kamar itu, ternyata sudah di tunggu anak-anak. Mereka dengan manis duduk mengelilingi meja. Demikian juga dengan Akram dan Akmal. Mereka berdua duduk tenang di atas kursi khususnya. Yang ditemani seorang pelayan.


''Mama ... papa ... lama kali. Kita sudah lapar nich."


''Tuch ... kan, diprotes anak-anak.''


''Nyesel?'' goda Ulya yang membuatnya tersipu.


''Sudah, sekarang makan dulu. mandinya nanti." bisiknya yang membuat mata Naura membulat sempurna.


Ulya balik memelototinya dengan sayang. Sambil menggandeng tangan Naura untuk duduk di kursi yang masih kosong. Akhirnya mereka menikmati makan sore bersama-sama dengan sekali-kali bercanda. Apalagi melihat tingkah si kembar.


''Akram, mama suapi ya ....''kata Naura dengan memegang mangkuk kecil, berisikan menu masakan untuknya.


Tak ada jawaban dari Akram, hanya tangannya menggapai-gapai mangkuk yang dipegang Naura.


''Em ... ma ...'' ucapnya terbata-bata.


Diapun menganggukkan kepala dengan jelas. Naura pun meletakkan mangkuk itu di depannya. Dia tertawa senang. Dan memulai aksi makannya dengan tenang.


Tak demikian dengan Akmal. Dia terlihat ingin bermanja dengan mamanya. Mungkin karena lama tak jumpa. Sewaktu Naura meletak mangkuk makannya, dia hanya memandangnya tak mau menyentuhnya sama sekali.


''Akmal, disuapi mama, Nak?''


Matanya membulat senang. Naura mengambil mangkuk Akmal dan menyuapinya secara berlahan.


Ulya yang menyaksikan kerepotan Naura, merasa kasihan juga. Akhirnya dia menyuapi Naura. Begitu Naura ada di dekatnya. Rupanya tingkah Ulya pada Naura menarik perhatian Akram. Diapun bertingkah sama. Dengan memberikan suapan pada Naura dengan sendok kecilnya.


Naura tertawa, sambil melambaikan tangannya. Membuat Akram tak suka dan sedih.


''Baiklah ... baiklah, mama makan." jawabnya sambil membuka mulut menerima suapan dari Akram dengan tertawa. Terlihat Akram tersenyum lebar.


''Ma ... em .... ma ... em ....''kata Akmal menunjuk-nunjuk mangkuk di tangan Naura. Naura segera menyodorkan sendok ke Akmal. Tapi Akmal geleng-geleng kepala, masih terus menunjuk-nunjuk mangkok itu.


''Oh ... Akmal mau makan sendiri?''

__ADS_1


Diapun mengangguk. Lalu Naura meletakkan mangkuk itu di hadapan Akmal dengan tertawa.


''Adik sekarang sudah besar, pintar , mau makan sendiri.'' pujinya. lalu meninggalkan Akmal menuju tempat duduknya.


Belum sampai duduk dengan sempurna, Akmal sudah melambaikan tangan padanya. Segera Naura mendekatinya.


''Ada apa, Sayang?''


''hak ... hak ...'' ucapnya sambil menunjukkan sendok kecilnya yang berisi menunya pada Naura. Oh ....


Rupanya dia ingin melakukan hal sama seperti papa dan saudara kembarnya. Naura pun melahapnya dengan tertawa.


''Heeemmm .... papa banyak saingan. Nich.'' kata Ulya yang melihat baby kembarnya melakukan seperti yang dia lakukan pada Naura.


''Semua nyuapi mama. Yang nyuapi Devra siapa dong?''protesnya sambil melihat papanya.


''Oke ... oke. Kakak, papa suapi.''kata Ulya sambil menyendok nasi Devra dan menyuapkannya.


''Sekarang makan sendiri-sendiri. Tidak ada yang di suapi. Termasuk mama.'' Kata Ulya tenang, meski sedang menahan tawa dengan sangat.


Duh ... duh ... anak-anak. Di meja makan pun punya acara sendiri. Ulya sampai-sampai geleng-geleng kepala sambil tersenyum lebar, menyaksikan putra-putrinya yang teramat mengemaskan.


Selesai makan sore, Ulya mengajak semuanya ke halaman belakang. Meninggalkan Naura yang beres-beres bersama pelayan, yang memang sudah ada di sana sejak lama. Sebelum berlalu, dia mendekati Naura.


''Sayang, kamu mandi dulu. Tapi jangan lama-lama. Aku tunggu di belakang.''


Naura mengangguk dan meninggalkan meja itu menuju kamar Ulya, untuk mandi.


Setelah hampir 15 menit menikmati kesegaran air yang mengguyurnya. Diapun menuju halaman belakang. Menyaksikan anak-anak yang sedang asyik bermain bebas.


Rumah ini masih tetap sama, setelah kami tinggalkan 20 tahun lalu. Ah ... bukan kami, tapi aku. Karena selama di Indonesia kak Ulya sering tinggal di sini. Hampir tidak ada perubahan sama sekali. Dari depan maupun belakang tetap sama. Halamannya yang luas, dihiasi bunga buggenfill dan juga bunga sakura, menambah kesejukan mata ini, bila memandangnya. Apalagi pohon jambu camplong yang berwarna putih dan juga kelengkeng, semakin ingin menikmati suasana sore ini, dengan keriangan di luar rumah.


Sejenak ku hirup udara yang bersih dan segar, sambil menikmati sore di beranda, dan juga buah jambu dan kelengkeng yang saat ini berbuah lebat, yang dipetik kak Ulya sesaat lalu. Kulihat anak-anak sedang bermain bebas di atas hamparan rumput.


Rupanya ayam kalkun itu masih ada. Naura melihat ada beberapa ayam kalkun yang melintas dekat mereka. Mungkin lepas atau memang dilepas dari kandangnya.


Devra yang terlihat penasaran ayam itu, lalu mendekatinya. Tak disangka ayam itu malah mengejarnya, membuat dia ketakutan. Akram dan Akmal yang ada di dekatnya, segera bangkit membawa ranting yang dia temukan, menghalaunya dengan langkah tertatih-tatih. Beruntung ayam kalkunnya menurut, bahkan mereka duduk sewaktu Akram dan Akmal mengangkat ranting mereka.


Tak membuang kesempatan, keduanya segera naik ke punggung ayam kalkun itu, dan menyuruhnya berjalan. Dengan perpegangan pada sayap, mereka menikmati perjalanan itu dengan tertawa.


Semua itu lolos dari perhatian Naura yang sedang asyik menikmati buah dan juga membaca buku. Sampai akhirnya Ulya keluar dengan rambut yang masih belum kering.


''Masya Allah, ini anak niru siapa. Ayam-ayam dinaiki juga." kata Ulya tak bisa menahan tawa dan keterkejutannya. Naura tersentak dan mengarahkan pandangannya pada putra kembarnya. Mereka tengah asyik di atas punggung ayam kalkun. Membuat ayam itu tampak kelelahan.

__ADS_1


''Astagfirullah hal adzim ... Akmal Akram.''


Segera keduanya mendekati si kembar yang sedang menyuruh ayamnya berlari kencang ....


__ADS_2